
Mrs Robinson kembali berjalan berkeliling di taman belakang rumahnya sembari menggendong Ace untuk menghiburnya. Sesekali Mrs Robinson juga menceritakan mengenai dongeng pada zaman dahulu yang pernah dia dengar sewaktu masih remaja. Mrs Robinson merasa sangat iba sekali kepada menantu serta cucunya karena mereka berdua terlihat sama sekali tidak mempunyai sebuah pillar yang menjaga mereka, sehingga mereka berdua merasa rapuh setelah ditinggalkan oleh putranya.
Di setiap rumah harus mempunyai pillar untuk menjaganya tetap berdiri kokoh serta tahan dari goncangan badai, akan tetapi rumah mereka sepertinya sudah kehilangan pillar tersebut sehingga membuat mereka berdua seperti itu. Mrs Robinson menjadi merasa bahwa sejak awal ini semua adalah salah dirinya yang terlalu memaksakan perjodohan itu, sehingga cucunyalah sekarang yang menjadi korbannya atas semua ini. Waktu itu mereka berdua sudah mengatakan kepada dirinya bahwa mereka berdua sudah sangat mencintai dengan tulus, akan tetapi kenyataannya mungkin tidak seperti itu karena mereka berdua sering sekali bertengkar.
Mereka menyusuri taman tersebut sembari melihat beraneka jenis bunga ataupun tanaman buah - buahan yang dia tanam sejak dulu. Semakin lama langit berubah menjadi abu - abu dan itu pertanda bahwa sebentar lagi hujan akan turun. Mrs Robinson ingin mengajak Ace untuk masuk ke dalam rumah namun Ace menolak karena dia masih ingin melihat bunga yang berada di tamannya. Ace sangat suka sekali melihat bunga - bunga yang tumbuh bermekaran di taman milik Mrs Robinson, dan sesekali Ace memetik bunga itu untuk dimainkan.
Biasanya Mrs Robinson akan marah sekaligus merasa kesal saat ada yang memetik bunga ataupun daun di tanamannya namun karena cucunya yang memetiknya, Mrs Robinson hanya bisa bersabar. Bahkan mungkin saja saat Ace mengacak - acak tamannya juga tidak masalah karena Ace adalah cucu kesayangannya. Pandangan Ace lalu beralih ke buah bewarna hijau yang menggantung di sebuah pohon yang letaknya tak jauh darinya. Buah tersebut sangat banyak serta tampak menggoda sekali.
"Grandmom, Ace ingin memetik itu."
"Memetik apa sayang?" tanya Mrs Robinson menatap Ace.
"Buah yang menggantung di atas itu," ucap Ace menunjuk ke sebuah pohon yang berdiri di depannya.
"Oh buah mangga?"
Ace mengangguk.
"Nee."
"Sebentar ya grandmom akan memetiknya untukmu," ucap Mrs Robinson menurunkan Ace di dekatnya.
"Grandmom bisa memetiknya?"
"Tentu saja grandmom bisa memetiknya, sejak dulu kan selalu grandmom yang memetiknya."
"Oh begitu."
"Ace tunggu di sana dan jangan dekat - dekat."
"Kenapa begitu?" tanya Ace bingung.
"Nanti Ace akan kejatuhan mangga jika Ace berdiri terlalu dekat dengan grandmom."
"Oh okay," ucap Ace berjalan sedikit menjauh dari Mrs Robinson.
Mrs Robinson kemudian mengambil sebuah galah yang biasa dia pakai untuk memetik mangga, dan setalah itu dia memetik beberapa mangga yang terlihat sudah matang untuk dimakan bersama dengan cucu kesayangannya. Mrs Robinson mulai mengangkat galah panjang dan kemudian memetik beberapa buah mangga. Tiba - tiba saja salah satu bodyguardnya datang menghampiri Mrs Robinson.
"Biar saya saja yang memetiknya nyonya," ucap bodyguard itu.
"Oh baiklah, ini galahnya dan hati - hati memetiknya."
"Baik nyonya."
Bodyguard itu mulai memetik mangga, dan mangga - mangga itu mulai berjatuhan ke tanah. Setelah sekiranya cukup, Mrs Robinson lalu memerintahkan bodyguardnya untuk berhenti.
"Ini sudah cukup pak," ucap Mrs Robinson.
__ADS_1
"Baik nyonya, saya akan mengembalikan galah ini ke tempat asalnya."
"Iya, dan ini mangga untukmu."
"Terima kasih nyonya."
"Sama - sama, aku juga berterima kasih kepadamu karena telah membantuku memetik mangga."
"Itu sudah menjadi tugas saya untuk menjaga anda, nyonya. Kalau begitu saya permisi."
"Iya silahkan."
Mrs Robinson lalu memunguti beberapa mangga yang sudah berjatuhan di tanah bersama Ace, dan setelah itu mereka berdua mencucinya terlebih dahulu sebelum dikonsumsi.
"Kenapa semua mangga ini harus dicuci grandmom?" tanya Ace sembari membantu Mrs Robinson mencuci mangga.
"Agar bersih sebelum dimakan, apalagi di kulitnya ini ada getahnya juga."
"Oh begitu, Ace mau mangga yang paling manis."
"Iya sayang, lagipula semua mangga ini rasanya sangat manis kok."
"Darimana grandmom tahu kalau mangga ini memang rasanya sangat manis?"
"Karena setiap mangga ini berbuah, grandmom selalu memakannya bersama - sama."
"Bersama grandpa Jo, uncle Lian, aunty Rosie, eomma Ace dan daddy Ace."
"Daddy suka makan mangga?"
"Suka, bahkan daddy Ace sangat suka memakan mangga bila mangga itu rasanya sangat manis."
"Oh."
Mrs Robinson lalu berjalan membawa sebaskom mangga untuk dimakan di kursi yang berada di tamannya, sedangkan Ace mengikutinya di belakang Mrs Robinson. Setelah itu Mrs Robinson mengupasnya dan meletakkannya di atas piring agar Ace lebih mudah memakannya. Tidak lama kemudian Mr Robinson menghampiri mereka berdua.
"Sedang apa hon?" tanya Mr Robinson.
"Kami berdua sedang memakan mangga."
"Aku juga mau."
"Iya sebentar."
Mr Robinson beralih menatap wajah Ace yang sudah mulai cemong karena memakan mangga.
"Eh kok bisa cemong seperti ini?"
__ADS_1
Ace tertawa.
"Hehe, grandpa Jo mau?"
"Nanti saja."
"Okay."
"Kalau seperti ini rasanya kita jadi kembali ke masa lalu saat anak - anak masih kecil."
"Benar Jo," ucap Mrs Robinson sembari membersihkan wajah Ace.
Disisi lain Ricko saat ini sedang berada di jalan menuju pulang, dan saat di tengah - tengah jalan tiba - tiba saja dia bertemu dengan Liam. Ricko kemudian langsung menyuruh Liam untuk pulang karena hari sudah sore. Liam hanya mengangguk dan setelah itu Ricko langsung melanjutkan perjalanannya menuju ke rumah. 20 menit kemudian Ricko sudah sampai di rumah dan langsung di sambut oleh teriakan dari anaknya yang berlari menuju ke arahnya. Ricko lalu menggendong Ibra dan mencium pipinya. Setelah itu Ricko meminum teh buatan istrinya dan kemudian dia mandi sore. Tidak lama kemudian Liam memarkirkan motornya di depan teras rumah saat Ricko sedang bermain dengan Ibra disana.
"Baru pulang Li?"
"Iya Ric, tadi masih tanggung dan sedang mengantar customer."
"Sini duduk dulu, aku akan meminta Gita untuk membuatkan kamu teh hangat."
"Eh tidak perlu, aku merasa tidak enak dengan Gita."
"Ckckck kan sudah kubilang jangan merasa seperti itu kepada kami berdua," ucap Gita menghampiri mereka sembari membawakan teh hangat untuk Liam.
"Iya, kamu selalu saja seperti itu."
"Ini tehnya, diminum dulu."
"Terima kasih Git."
"Iya sama - sama."
"Anakku sudah sebesar Ibra sekarang," ucap Liam setelah meminum tehnya.
"Sudah bertemu dengan anakmu?"
"Sudah, awalnya aku tidak tahu jika dia adalah anakku."
"Bagaimana wajah anakmu heum?"
"Dia sangat tampan dan masih mirip sekali denganku, mmm mungkin dia juga tukang tanya seperti diriku hahaha."
"Benarkah? lalu kapan kamu akan kembali kepada mereka?"
"Tidak tahu, aku masih malu untuk menemui mereka karena sekarang aku tidak punya apa - apa."
"Hei jangan begitu, pasti mereka akan menerimamu kembali."
__ADS_1
"Hufftt."