
Ricko lalu mengajak Josh untuk pergi dari club tersebut setelah dia berfikir bahwa sepertinya hal itu akan menjadi sia -sia karena tidak mendapatkan informasi apapun dari club itu. Namun Josh menolak ajakan Ricko untuk pergi dan meminta Ricko untuk menunggu sebentar di club itu, siapa tahu tiba - tiba Liam datang ke tempat itu. Ricko kembali duduk di kursinya dan mengiyakan ucapan Josh. Mereka berdua berbincang sembari mengamati keadaan sekitar dengan harapan Liam akan datang ke club itu.
Namun sekitar 1 jam kemudian seseorang yang mereka tunggu tidak kunjung datang, dan akhirnya mereka berdua memutuskan untuk pergi dari club itu serta mencari Liam di tempat lain. Saat diperjalanan Ricko baru teringat sebuah tempat yang juga sering dikunjungi oleh Liam dikala dirinya sedang merasa sedih maupun stress, dan tempat yang dimaksud oleh Ricko adalah sebuah jembatan yang sangat besar. Josh lalu mengendarai mobilnya menuju ke sebuah jembatan yang dimaksud oleh Ricko.
Sesampainya disana jembatan tersebut sangat sepi dan terlihat sangat mengerikan karena Josh teringat sebuah film horor yang dahulu pernah ditonton olehnya, dimana banyak orang yang mengalami kecelakaan karena diganggu oleh makhluk halus. Josh kemudian menepikan mobilnya dan tiba - tiba saja dia merasa merinding saat turun dari mobilnya untuk memastikan apakah ada orang atau tidak.
Josh semakin dibuat merinding saat dia melihat ke bawah jembatan yang merupakan sebuah sungai besar dengan aliran sangat deras karena teringat dengan sebuah jembatan yang terkenal di negaranya karena sebagai tempat untuk mengakhiri hidup. Berulang kali Josh berkata kepada Ricko bahwa dia merasa sangat merinding sekali saat datang ke jembatan tadi, apalagi lampu penerangan jalan yang minim serta ditambah dengan suasana di jembatan tersebut sangat sepi. Mungkin hanya ada satu atau dua mobil yang berlalu - lalang di jembatan tersebut dan itupun mobil box pengiriman barang ataupun mobil truck besar.
"Aku menjadi bernegative thinking saat berada disini," ucap Josh.
"Maksudnya?"
"Bagaimana kalau misalnya Liam sudah meninggal dengan cara lompat dari jembatan ini, dan karena dia tidak ingin lari dari tanggungjawabnya maka dia selalu mengirimkan sejumlah uang bulanan untuk Jane dari alam lain."
Ricko lalu memukul bahu Josh.
"Huss ada - ada saja, mana mungkin di alam lain ada atm."
"Mmm benar juga, tetapi bisa jadi iya."
Ricko tertawa.
"Kamu ini hanya kebanyakan menonton film horor, makanya jadi berfikiran seperti itu."
"Ya habisnya kamu mengajakku kemari sih jadinya aku berfikir seperti itu," ucap Josh menggaruk rambutnya.
"Ada - ada saja kamu ini."
"Mmm apa benar Liam sering datang kemari atau kamu hanya ingin menakutiku saja?"
"Liam dahulu memang sering kemari hanya sekedar untuk duduk menikmati pemandangan sekitar sembari merokok, bahkan dia juga sering melakukannya dimalam hari."
"Dia sangat aneh sekali, melihat pemandangan apa coba? mana mungkin ada orang yang datang kemari untuk menikmati pemandangan sekitar apalagi tempatnya saja sudah sangat mengerikan, dan jembatan ini memang lebih cocok untuk syuting film horor."
"Sudah ada," jawab Ricko.
__ADS_1
"Ha, sudah ada? memangnya apa judulnya?" tanya Josh penasaran.
"Si manis jembatan ancol."
"Lokasi syutingnya ada di jembatan ini?"
"Iya," jawab Ricko berbohong.
"Ceritanya bagaimana?"
"Ada seorang wanita yang selalu menampakkan diri di jembatan ini dan wanita tersebut menggunakan gaun bewarna merah menyala. Konon katanya ada banyak orang yang selalu diganggu oleh penunggu jembatan ini jika tidak membunyikan klakson kendaraan ataupun melempar koin."
Josh semakin merinding mendengar cerita dari Ricko yang merupakan cerita bohongan, dan setelah itu dia masuk ke dalam mobilnya untuk mencari sebuah uang koin di dalam mobilnya. Josh kemudian melempar uang koin tersebut ke sungai agar tidak diganggu oleh penunggu jembatan. Melihat hal tersebut sontak membuat Ricko tertawa terbahak - bahak karena Josh mengira bahwa cerita tersebut adalah cerita asli, padahal sebenarnya itu hanya bohongan saja karena bukan di jembatan itu kejadian yang sebenarnya.
Setelah itu Ricko meminta Josh untuk pergi mencari ke sebelah timur jembatan tersebut dan tanpa fikir panjang Josh langsung pergi ke arah yang ditunjukkan oleh Ricko. Sesampainya disana saat Josh berbalik tiba - tiba saja Ricko pergi meninggalkannya dengan mengendarai mobilnya karena Josh lupa menarik kunci mobilnya. Josh kemudian berlari dengan sangat cepat untuk mengejar Ricko, dan karena merasa kasihan akhirnya Ricko memberhentikan mobil itu. Ricko tertawa melihat Josh yang menangis karena ketakutan.
"Sialan dasar b*jingan," ucap Josh mengumpat.
"Hahaha tidak perlu sampai menangis seperti itu. Eh tetapi kamu tidak sampai mengompol kan?" tanya Ricko mengejek Josh.
"Hahaha ya sudah mari kita pulang saja karena sudah larut malam, dan kita lanjutkan pencariannya besok saja."
Josh mengangguk.
"Baiklah. Hei kamu yang saja yang mengendarai mobil ini," ucap Josh tiba - tiba.
"Memangnya kenapa?" tanya Ricko membalikkan badannya menghadap Josh.
"A-aku masih takut, jadi kamu saja yang mengendarai mobil ini."
"Okay."
Ricko lalu mengendarai mobil Josh menuju ke rumahnya karena Josh masih ketakutan karena kejadian tadi. Saat diperjalanan pulang Ricko dan Josh masih memperhatikan keadaan sekitar untuk mencari keberadaan Liam. Sekitar 30 menit kemudian Ricko telah sampai dirumahnya dan setelah itu Josh berpamitan untuk pulang. Disisi lain Jane sedang belajar menggambar serta mewarnai bersama Ace di ruang tengah. Jane mengajari Ace untuk memilih warna serta mencampurkan warna agar gambarnya terlihat lebih menarik.
"Eomma, kalau yang ini warnanya apa?" tanya Ace menunjuk ke sebuah gambar awan.
__ADS_1
Jane lalu melihat ke arah yang ditunjuk oleh Ace.
"Oh langit? kalau lagit bagusnya bewarna biru muda."
"Biru muda itu yang mana?" tanya Ace bingung.
"Biru muda itu warnanya yang ini," ucap Jane menunjuk sebuah crayon di sampingnya.
Ace kemudian mengambil crayon tersebut dan mewarnai gambar awan dan langit.
"Kenapa bukan warna hijau eomma?"
"Karena warna hijau untuk mewarnai rumput serta tumbuh - tumbuhan. Warna biru muda ini merupakan warna kesukaan daddy sejak dulu bahkan saat dia masih kecil sepertimu."
"Kenapa daddy menyukai warna biru muda?" tanya Ace menatap Jane.
"Karena daddy sangat suka melihat langit, jadi dia sangat menyukai warna langit."
"Oh begitu, kalau eomma?" tanya Ace kembali.
"Warna merah."
"Ace sukanya warna hijau, tidak apa - apa kan?"
"Iya sayang."
"Wah cucu grandma Kim sedang apa ini?" tanya Mrs Kim saat menghampiri mereka berdua.
"Sedang mewarnai," jawab Ace sembari tangannya sibuk menggoreskan crayon miliknya di buku mewarnai.
"Wah pintarnya," ucap Mrs Kim mengusap rambut Ace.
"Jane sengaja mengajari Ace agar dia menjadi anak yang kreatif serta mampu mengembangkan imajinasinya."
"Wah bagus jika seperti itu."
__ADS_1
"Iya eomma."