
Jane meletakkan handphone miliknya di atas meja dan menyusul tidur. Saat tengah malam Jane terbangun karena merasakan ada air yang menetes di tangannya, dan ternyata itu berasal dari Liam. Dia bercucuran keringat hingga membasahi tubuhnya, dan sesekali dia juga menangis namun dalam keadaan matanya masih terpejam. Jane berfikir sejenak dan mengingat - ingat hal yang terjadi kepada suaminya saat ini karena dia pernah mengalami hal ini sebelumnya. Jane berusaha tenang serta mengusap - usap punggung suaminya untuk menenangkannya.
Yupss, Liam kembali diserang dengan mimpi buruk di saat dia tertidur dan entah sejak kapan dia kembali kambuh setelah sekian lama dia tidak pernah kambuh lagi. Tubuhnya terasa dingin namun keringat masih terus bercucuran membasahi tubuhnya, dan sesekali Jane membisikkan kata - kata penenang untuk Liam. Itu belumlah selesai bahkan menurut Jane itu masih awalan saja, karena setelah itu Liam justru malah menangis dengan sangat keras hingga membuat Jane panik apalagi dia belum berhasil membuatnya membuka matanya.
Jane takut jika akan terjadil hal - hal yang tidak diinginkan olehnya saat seperti ini, apalagi saat ini Liam belum kunjung membuka matanya. Jane masih terus menciuminya serta mengusap punggungnya untuk menenangkan Liam, dan satu - satunya cara terakhir adalah dengan menyalakan semua lampu di kamarnya. Liam sangat sensitif oleh cahaya saat dia tengah tertidur di malam hari, jadi semua lampu di ruangannya selalu dimatikan.
Jane meraih sebuah remote control dan menekan sebuah tombol. Alhasil semua lampu langsung menyala dan tinggal menunggu mata Liam bereaksi. Dalam hitungan menit Liam lalu membuka matanya, dan kemudian Jane memeluknya karena merasa khawatir terhadapnya.
"Syukurlah kamu sudah bisa bangun hubby, aku merasa sangat khawatir jika sesuatu buruk menimpamu karena aku sudah berulang kali hampir kehilanganmu."
"I-iya, terima kasih."
"Ini minum dulu hubby," ucap Jane memberikan segelas air untuknya.
"Terima kasih," ucapnya langsung menenggak air putih itu.
Jane kemudian mengambil beberapa helai tissue. Saat air mataku mengalir, aku tak bisa gunakan tissue aku butuh 4 lembar 4 lembar saat air mataku mengalir hiyaa (maap jadi nyanyi). Jane lalu mengelap wajah Liam.
"Memang seharusnya aku pergi dari hidup kalian untuk selamanya saja ya?" tanya Liam dengan tatapan luruh mengarah ke balcony kamarnya.
"Kenapa begitu hubby?" tanyanya masih sibuk mengelap wajah Liam.
"Kenapa kamu masih berharap untuk bersamaku, dan kenapa kamu tidak pergi saja yang jauh? aku tahu bahwa sekarang kamu sudah memiliki pria lain di hatimu namun kenapa kamu masih bertahan denganku?"
"itu karena..."
"Apa karena keluargamu merasa punya hutang budi dengan keluargaku karena perusahaanku sudah membantu perusahaanmu? jangan fikirkan itu karena bagiku semuanya sudah lunas setelah kamu membuat mereka semua bahagia dengan kelahiran Ace. Mulai sekarang kalau kamu ingin pergi maka pergilah! hidup bahagia bersama orang lain."
"Jika aku benar - benar pergi, maka kamu akan bagaimana?"
"Aku akan mulai mengejar karierku sebagai seorang seniman sekaligus seorang penulis, lagipula apa yang kamu harapkan dengan hidup bersama seekor anjing peliharaan keluarga Robinson?"
"Kamu ini manusia, kenapa kamu merasa kalau kamu ini seekor anjing?"
__ADS_1
"Awalnya bukan aku yang memberinya julukan namun beberapa orang yang memberinya julukan karena aku selalu menuruti perintah dari daddy, bukankah itu tidak ada bedanya dengan seekor anjing yang menuruti perintah tuannya sebagai balas budi karena telah diberikan kehidupan yang layak?"
"Itu semua bukan termasuk hutang budi karena awalnya daddy dan mommylah yang menginginkan kamu untuk hidup di dunia ini, sebuah dunia yang sangat menyeramkan."
"Tetapi semenjak kehadiranmu di hidupku, dunia yang terlihat sangat menyeramkan itu berubah menjadi dunia yang sangat indah. Kamulah satu - satunya duniaku."
"Kalau kamu berfikir bahwa aku ini duniamu, lalu kenapa kamu menyuruhku untuk pergi?" tanya Jane sembari berlinang air mata.
"Aku bukan orang yang egois, aku tidak bisa terus - terusan mengurungmu disini bersamaku karena aku takut jika cahayamu yang sangat terang itu akan mati ditelan oleh kegelapan sehingga dunia tidak lagi indah."
Jane lalu menangkup kedua pipi Liam dan menatapnya dengan sangat dalam.
"Hei hubby, jika kamu seperti ini maka kamu bukanlah seperti Liam yang ku kenal. Dahulu Liam yang aku kenal adalah seorang pria yang tangguh dan tidak mudah menyerah, seorang pria yang selalu ceria serta selalu menyemangati orang - orang terdekatnya disaat mereka sedang putus asa."
"Liam yang dulu sudah mati."
Jane berusaha tersenyum dan selalu menyeka air matanya.
"Hei tidak, Liam yang dulu masih ada disini namun sepertinya dia masih tertidur nyenyak jadi aku akan berusaha untuk membangunkannya. Dia memang selalu sulit dibangunkan saat sudah tertidur nyenyak haiss dasar anak pemalas," ucapnya berusaha menghibur hati Liam.
"Hahaha siapa yang kamu bilang anak pemalas itu heum?" tanyanya meraih tubuh mungil Jane untuk dia peluk.
"Ini yang sedang memelukku, dia memang anak yang pemalas karena sukanya bermain game seharian."
"Sekarang aku sudah jarang bermain game karena Ace akan menggangguku hahaha."
"Oh begitu, mari kita tidur!"
"Baiklah, lagipula aku ada janji dengan Ace."
"Benar."
Liam lalu menyeka air mata Jane dan menciumi pipi chubby Jane. Mereka berdua lalu kembali tertidur, dan Liam tertidur di pelukan Jane. Keesokan harinya Jane yang terbangun dari tidurnya langsung meregangkan tubuhnya, dan setelah itu dia memandangi wajah tampan suaminya. Tidak lama kemudian Liam yang terbangun langsung meraih pinggul Jane, dan setelah itu tangannya mulai naik ke atas. Dia hanya tersenyum melihat kelakuan suaminya yang tangannya super jahil itu, dan 1 jam kemudian mereka bertiga sedang berada di perjalanan menuju ke kebun binatang.
__ADS_1
"Daddy, kapan sampainya?" tanya Ace yang sudah mulai bosan di perjalanan.
"Sabar sayang, sebentar lagi kita akan sampai."
"Sejak 30 menit yang lalu daddy terus mengatakan bahwa kita akan segera sampai namun tidak kunjung sampai," ucap Ace cemberut.
Liam hanya tersenyum saja.
"Jalanan sedang macet karena hari ini adalah hari Minggu," ucap Jane tiba - tiba.
"Kalau hari Minggu memangnya kenapa eomma?" tanya Ace bingung.
"Banyak yang liburan juga."
"Kan sudah kubilang kalau pergi ke kebun binatang harusnya hari Sabtu saja agar tidak terjebak macet."
"Tidak apa - apa, lagipula bukankah sangat seru berada di jalanan seperti ini?" tanya Liam sembari fokus menyetir.
"Ini mainanmu, kamu bermain saja selama kita di perjalanan agar tidak merasa bosan."
"Nee eomma. Mmm sepertinya aku ingin pipis."
"Oh di depan ada SPBU hubby," ucap Jane menunjuk ke depan.
"Ah iya, syukurlah."
Liam lalu menepikan mobilnya saat di SPBU, dan Jane langsung membawa Ace ke dalam toilet.
"Sedang makan apa hubby?" tanya Jane.
"Cilok, kamu mau?"
"Boleh."
__ADS_1
Liam lalu meniup cilok yang masih panas dan menyuapi Jane.
"Mmm sangat lezat."