
Saat malam hari Ace sedang bermain dengan ayahnya di ruang tengah. Mereka saat ini sedang memainkan puzzle dan beberapa permainan lainnya yang sudah dipilih oleh Ace. Seperti biasa, saat Ace sudah mulai merasa jenuh pasti dia akan memilih untuk berlarian ataupun berkeliling menaiki mobilnya. Liam sampai dibuat semakin terheran dengan anaknya yang dinilai sangat aktif itu, bahkan melihatnya saja sudah membuatnya merasa lelah.
Jane lalu datang menghampiri mereka sembari membawakan sebotol susu untuknya, dan mengetahui hal tersebut Ace langsung berlari menghampiri Jane untuk mengambil susunya. Setelah mengambil susunya, Ace langsung berjalan - jalan sembari meminumnya. Liam lalu menggendong Ace dan mendudukkannya di atas sofa, dia langsung memperingati Ace jika saat sedang minum ataupun makan harus duduk dengan tenang dan bukannya malah berjalan - jalan seperti tadi. Ace kemudian duduk dengan tenang dan menghabiskan susunya karena takut dimarahi oleh ayahnya.
Liam lalu memijat - mijat kaki Ace dan sesekali mengetuk - ngetuk kakinya secara perlahan untuk mengetahui bahwa anaknya itu manusia biasa ataukah sebuah robot. Liam merasa begitu karena tingkahnya tidak seperti anak seusianya dan terkadang pemikirannya juga seperti orang dewasa. Setelah menghabiskan susunya, Ace kembali melanjutkan menyusun puzzle hingga tersusun sempurna.
Ace langsung bersorak kegirangan saat dia berhasil memyelesaikam puzzle itu, dan tentunya dengan bantuan dari ayahnya juga. Mr dan Mrs Robinson merasa senang karena sekarang rumahnya terasa sangat ramai semenjak kehadiran Ace, jadi mereka berdua mempunyai kegiatan lain yaitu bermain - main dengan Ace.
"Grandpa Jo, Ace ingin salah satu dari banyaknya mobil yang berada di bawah."
"Iya besok saat sudah besar kamu boleh memilih beberapa mobil yang berada disana."
"Tidak mau, maunya sekarang saja!"
"Eh kamu masih kecil dan belum boleh mengendarai mobil," ucapnya sembari membawa Ace ke pangkuannya.
"Kenapa begitu grandpa Jo? apa karena Ace belum punya surat izin mengemudi?"
"Tepat sekali."
"Kalau begitu besok pagi Ace akan membuat suratnya agar bisa mengendarai mobil yang warna putih itu."
"Eh belum bisa cucuku sayang."
"Kenapa begitu?" tanyanya kembali.
"Umur kamu belum boleh untuk membuat SIM."
"Memangnya umur berapa yang boleh?"
"Mulai umur 17 tahun."
"Oh masih lama ya ternyata."
"Iya, maka dari itu sekarang kamu mengendarai mobil yang disana saja okay?"
Ace mengangguk.
"Nee."
"Memangnya Ace ingin mobil yang mana?"
"Mobil putih yang berada di pojok."
Mr Robinson berfikir sejenak.
"Oh mobil itu bukan punya grandpa."
"Lalu punya siapa?"
"Itu punya eomma Ace."
"Oh begitu."
"Iya."
Ace lalu turun dari pangkuan Mr Robinson dan mendekati Jane.
"Hiyat. Eomma mobilnya untukku saja ya?" tanyanya memohon.
"Iya boleh, nanti saat kamu sudah dewasa."
"Yeayyy!!" teriaknya bersorak kegirangan.
"Sudah malam, ayo tidur."
__ADS_1
"Nee eomma, tapi tidurnya bersama daddy dan eomma."
"Baiklah hup," ucap Jane menggendong Ace.
Ace lalu melambaikan tangannya.
"Bye grandpa Jo, bye grandmom."
"Bye Ace," ucap mereka berdua secara serempak.
Jane membawa Ace ke dalam kamarnya sembari sesekali menciumi kepalanya. Hati Jane mengucapkan beberapa kali maaf kepada putranya tersebut karena sudah menyulitkannya. Jane melakukan semua hal itu agar menarik perhatian suaminya yang semakin lama terasa jauh darinya, jadi dia memanfaatkan Ace untuk memngembalikan Liam seperti dulu lagi.
Sesampainya di dalam kamar Jane lalu menidurkan Ace di ranjangnya dan memberinya susu agar cepat tertidur. Sebelum itu Jane mengganti baju Ace terlebih dahulu dan menggosok giginya. Tidak lama kemudian Liam menyusul mereka berdua ke kamar setelah membereskan semua mainan Ace.
"Ternyata jagoan daddy sudah tidur rupanya," ucap Liam mencium pipi chubby Ace dan mengusap rambutnya.
"Iya, Ace sudah tidur."
"Eh kamu belum tidur Jane?"
"Belum, tadi aku hanya memejamkan mataku sebentar saja kok karena terbawa suasana saat memberi Ace susu."
"Oh begitu."
"Entah mengapa tiba - tiba rasanya sangat mengantuk sekali saat memberikan Ace susu."
"Oh, mmm aku ke kamar mandi dulu."
"Oh iya hubby."
Tidak lama kemudian Liam berbaring di samping Ace.
"Jadi mulai sekarang aku harus tidur disini juga?"
"Benar, dan akan selamanya begitu.
"Hei sedang lihat apa?" tanya Jane ketus.
"Ahahaha itu anu, aku sedang melihat mmm..."
"Ckckck dasar, ternyata masih doyan juga dengan asetku ini."
"Ti-tidak juga, kamu salah paham."
"Dih jangan banyak alasan!!"
Beberapa hari kemudian mereka bertiga sudah kembali ke rumah lamanya, dan bahkan Liam sudah mulai bekerja di perusahaannya juga. Saat ini Liam sedang menatap beberapa kumpulan foto yang terpajang di dinding dekat tangga. Foto tersebut merupakan foto mereka berdua saat sedang liburan ke luar negeri termasuk saat honeymoon juga.
Liam sempat lupa bahwa dia pernah berjanji kepada Jane, bahwa suatu saat jika mereka menikah maka Liam akan mengajak Jane berkeliling dunia. Jane lalu mempunyai ide bahwa mereka berdua akan berfoto bersama di salah satu icon wisata negara yang mereka kunjungi, dan menempelkannya di dinding.
"Daddy sedang apa?" tanya Ace yang berada di gendongan Jane.
"Daddy sedang melihat itu semua."
"Itu fotonya daddy dan eomma?"
"Benar."
"Itu dimana dad?" tanya Ace menunjuk ke salah satu foto.
"Itu di Santorini," jawab Liam.
"Santorini itu dimana?"
"Santorini itu berada di Yunani."
__ADS_1
"Oh begitu."
"Sudah waktunya makan malam, mari makan!"
"Daddy ada janji denganku."
"Janji apa?" tanya Liam bingung.
"Janji membuatkan aku steak yang sangat lezat."
"Oh itu ternyata, baiklah mari kita makan malam dengan steak buatanku."
"Yeayyy!! teriak Ace yang sudah berlari ke dapur seperti seekor kelinci.
"Hubby."
"Ya?"
Jane lalu menarik tangan Liam dan mencium bibirnya sekilas.
"I love you."
"Love you more," jawab Liam mengusap rambut Jane.
*1 jam kemudian.*
"Ace dicari Ibra," ucap Jane menghampiri Ace ke dapur.
"Ibraa!!!" teriak Ace berlari menghampiri Ibra.
"Ace!!!" Ibra juga melakukan hal yang sama.
*Lagu india terputar secara otomatis.*
"Tumpah segae, nananana." (maaf nggak hafal).
"Lihat aku sekarang sudah mempunyai daddy," ucap Ace saat bertatapan dengan Ibra.
"Wahh keren, daddy kamu ternyata om Liam?"
"Kamu mengenal daddy aku?"
"Tentu saja, om Liam itu sahabatnya papa."
"Oh begitu."
"Jadi sekarang kamu sudah melakukan apa yang kamu inginkan waktu itu?"
Ace mengangguk.
"Sudah dong, tapi aku ingin pergi ke luar negeri."
"Oh begitu."
"Wuihh begini kan tampan, iya kan Jane?" tanya Ricko bercanda.
"Dih apaan sih, dari dulu aku juga sudah tampan."
"Kalau sudah begini penampilannya, berarti dompetnya sudah tebal lagi dong?" tanyanya mengedipkan sebelah matanya.
"Iya Ric, terima kasih sudah membantuku."
"Hei tidak perlu berterima kasih, dulu kamu juga banyak sekali membantuku."
"Iya, kan itu gunanya sebagai sahabat."
__ADS_1
"Benar hahaha."