
Keesokan harinya Liam berangkat kerja dengan tergesa - gesa karena dia hampir saja terlambat. Akibat pertarungan dengan istrinya semalam, dia jadi tidur terlambat sekaligus telat bangun karena kelelahan. Apalagi badannya yang terasa sakit semua karena keluarnya siluman macan betina istrinya. Liam lalu berlari dan langsung membuka laptopnya begitu dia sampai di dalam ruangannya. Yunna hanya mengedipkan matanya merasa bingung saat melihat Liam berlari seperti dikejar seekor anjing.
Padahal sebenarnya dia berangkat terlambat juga tidak masalah, karena dia adalah presdir di perusahaan tersebut. Seperti biasa Yunna memberitahu Liam mengenai jadwal hariannya, dan setelah itu dia kembali bekerja di ruangannya. Sesekali Liam melirik Yunna yang sedang sibuk menatap layar laptop miliknya. Beberapa jam kemudian setelah makan siang Liam lalu tertidur di sofa ruang kerjanya.
Setelah jam makan siang berakhir, Yunna lalu masuk ke dalam ruangan Liam dan berencana untuk membuka semua jendela ruangannya, alias mengembalikan semuanya seperti sedia kala. Ruangan kerja Liam bisa di atur, jika ingin hari - hari biasa selalu transparant, sedangkan jika ada tamu atau jika ingin beristirahat bisa di tutup semuanya bahkan kedap suara.
Sesaat dia masuk ke dalam, dia mendapati bahwa Liam sedang tertidur nyenyak. Dia lalu mengambil sebuah selimut di dalam lemari dan menyelimuti Liam. Dia memandangi wajah Liam sebentar, dan setelah itu dia keluar dari ruangan agar tidak menjadi bahan gibahan sesama karyawan. Dahulu Yunna sering menjadi buah bibir di antara para karyawan karena dia terlalu diistimewakan oleh Liam, sehingga banyak orang yang mengira bahwa dia salah simpanan bosnya.
"Yunna, tolong berikan file dokumen ini karena tadi pagi Pak Liam yang memintanya."
"Oh baik pak," ucapnya menerima dokumen tersebut.
Setelah itu dia melenggang pergi. Tidak lama kemudian datanglah seorang pria yang menghampiri mejanya.
"Hai Yunna, sudah makan siang tadi?"
"Sudah, bagaimana denganmu?"
"Aku juga sudah, tapi di cafetaria saja sih karena aku sedang berhemat."
"Oh begitu rupanya."
"Maklum aku masih bisa dibilang karyawan baru dan gajiku belum sebesar yang lain."
"Oh hehe."
*Brakkk.*
Liam sudah berdiri di depan pintu ruangannya dan sedang menatap tajam mereka berdua.
"Jam berapa sekarang?" tanyanya tegas.
"Su-sudah jam 1 siang pak," jawab karyawan baru itu.
"Kalau begitu apa yang harus dilakukan?"
"Ke-kembali bekerja pak."
"Jika kamu masih ingin bekerja disini maka pergi ke tempatmu dan kerjakan pekerjaanmu, bukannya malah menggoda sekretaris pribadiku!"
"Ba-baik pak saya permisi," ucapnya ketakutan dan langsung pergi ke ruangannya.
Liam menatap sendu ke arah Yunna dan setelah itu dia kembali masuk ke dalam ruangannya. Yunna lalu mengambil file dokumen tadi dan masuk ke dalam ruangan Liam.
"Ini pak dokumen yang tadi anda minta dari bagian keuangan," ucapnya sembari meletakkan sebuah dokumen di atas meja.
"Ya terima kasih."
__ADS_1
Yunna kemudian berjalan ke sofa dan merapikannya, termasuk melipat selimut yang tadi dipakai oleh Liam.
"Aku masih belum rela kamu dekat dengan pria lain," ucapnya tiba - tiba hingga membuat Yunna berhenti melakukan aktivitasnya.
"Ya?" tanya Yunna menoleh ke arah Liam.
"Sejujurnya perasaanku kepadamu masih sama seperti dulu, maaf jika aku mengatakan hal seperti ini disaat kondisiku sudah seperti ini. A-aku masih mencintaimu."
Yunna menjadi salah tingkah karena terkejut mendengar pernyataan dari Liam.
"Se-sepertinya ini pengaruh dari vitamin yang belum lama ini kamu minum, apa kamu butuh istirahat yang lebih?"
"Tidak, aku tidak butuh istirahat ataupun hal lain karena..."
*Tok tok tok.*
Yunna langsung membuka pintu.
"Oh sudah datang, mari silahkan masuk."
"Haiss sialan," gumam Liam merasa kesal.
"Selamat siang tuan muda, kami membawa beberapa sample barang yang anda minta sebelumnya untuk anda check sendiri."
"Oh letakkan saja disana," ucapnya datar.
"Baik tuan muda."
"Yunna," ucapnya memberikan kode.
Yunna langsung mengangguk.
"Baik pak."
Yunna lalu memeriksa beberapa barang tersebut dengan sedikit berjongkok hingga membuatnya merasa tidak nyaman. Karena dia memakai rok mini dan miliknya sedikit terlihat, Liam lalu berjalan melepas jas yang dipakainya untuk menutupi bagian belakang Yunna.
"Kenapa? mau ku colok mata kalian berdua dengan bollpoint ini ha?" tanyanya saat mengeluarkan sebuah bollpoint dari dalam sakunya.
"Ti-tidak tuan muda," ucap mereka yang langsung menunduk.
Yunna lalu berdiri.
"Sudah, semuanya aman sesuai permintaan anda pak."
"Bagus, barang yang berkualitas seperti inilah yang aku inginkan. Aku ingin kalian memakai barang ini."
"Baik tuan muda."
__ADS_1
"Kalau begitu bawa ini kembali ke tempat kalian!"
"Baik tuan muda."
Mereka berdua lalu membawa semua barang itu keluar dari ruangan Liam. Setelah itu Liam duduk di kursinya dan membaca dokumen tadi.
"Mmm terima kasih Liam," ucapnya tersenyum.
"Sama - sama Yunna. Mmm untuk soal yang tadi aku ucapkan kepadamu, lebih baik kamu lupakan saja dan aku minta maaf."
Yunna tersenyum.
"Iya Liam, tidak apa - apa. Yah sepertinya aku harus menjawabnya bahwa aku sekarang hanya bisa menganggapmu sebagai adikku sekaligus sebagai sahabatku saja, maaf."
"Tidak apa - apa sepertinya ini jauh lebih baik, maksudku akhirnya aku merasa lega karena telah mengutarakan perasaanku kepadamu yang telah lama ku pendam."
"Iya, kalau begitu aku permisi."
Beberapa jam kemudian Liam sedang makan malam bersama istri dan anaknya. Berulang kali Ace juga bercerita kepada kedua orang tuanya mengenai beberapa teman barunya di sekitar rumah. Ace bercerita bahwa mereka semua adalah teman yang baik, dan mendengar hal tersebut Liam langsung memperingatkan Ace agar jangan terlalu percaya kepada orang lain sampai segitunya.
Liam sudah sangat berpengalaman dalam hal tersebut karena berulang kali dia dikhianati oleh beberapa teman dekatnya sendiri. Namun tentunya teman yang lain, dan bukannya keempat sahabatnya itu. Setelah itu mereka bertiga pergi ke sebuah mall untuk menemani Jane mencari susu untuk Ace. Sesampainya di bagian susu, Liam terkejut melihat harga beberapa kaleng susu yang dijual di toko itu.
"Pantas saja orang zaman sekarang rata - rata ingin childfree," gumam Liam setelah melihat harga yang tertera di rak susu.
"Childfree itu apa dad?" tanya Ace yang membuat Jane ikut menoleh ke arahnya.
"Oh itu bebas anak maksudnya ada kawasan yang melarang adanya anak - anak," ucap Liam berbohong.
"Kenapa begitu dad?"
"Karena tempatnya sangat berbahaya."
"Oh begitu."
Liam lupa kalau dia sedang menggendong Ace, jadi mungkin Ace mendengar apa yang dikatakan oleh Liam.
"Hubby menurutmu bagus yang mana ya?" tanya Jane menunjukkan kedua kaleng susu yang berbeda merk.
"Mahal yang mana?"
"Yang kiri," jawab Jane.
"Ya sudah yang kanan saja."
Jane menatap Liam sinis.
"Yang ini saja karena feelingku mengatakan yang kiri."
__ADS_1
"Eh."
"Wlee," ucapnya menjulurkan lidahnya.