
Jane kemudian beristirahat di kamarnya alias kamar milik suaminya, karena dahulu kamar itu memang milik suaminya saat masih bujang. Kondisi kamar tersebut masih rapi serta semua barang - barangnya masih tetap berada di tempatnya seperti semula, bahkan dekorasinya di setiap sudut kamar masih tidak berubah sama sekali. Keluarga suaminya memang tidak ingin merubah posisi barang - barang milik suaminya meskipun hanya menggesernya satu ichi sekalipun, karena suaminya dari dulu tidak suka jika ada yang menyentuh barang - barang pribadinya apalagi merubah posisinya tanpa seizinnya.
Jane dahulu juga pernah dimarahi oleh suaminya karena merubah tata letak beberapa barang dikamarnya, dan alhasil suaminya itu langsung mengembalikan semuanya seperti semula. Setiap dia ingin membeli ataupun mengganti sesuatu seperti dekorasi kamarnya, pasti dia akan mempertimbangkannya terlebih dahulu untuk mencari tempat agar sesuai dengan yang dia inginkan. Terkadang Jane sampai dibuat terheran - heran dengan tingkah suaminya itu yang selalu memperhatikan suatu barang secara mendetail, maklum karena suaminya itu sangat perfeksionis sekali.
Jane kemudian memperhatikan beberapa barang favorite milik suaminya itu untuk mengobati rasa rindunya terhadap dia. Jane kemudian duduk di kursi gaming milik suaminya dan teringat bahwa dulu saat sebelum menikah, pasti Jane selalu menjahilinya saat dia sedang bermain game setiap kali Jane datang ke rumahnya. Jika dia sudah merasa kesal serta merasa bosan karena terus dijahili oleh Jane, pasti suaminya itu akan langsung pergi ke ranjangnya dan tidur.
Jane kemudian berjalan menghampiri lemari baju suaminya dan mengambil salah satu baju milik suaminya yang masih tersimpan rapi. Saat Jane menciumnya, bau khas suaminya itu masih menempel di baju miliknya hingga membuatnya semakin merindukan suaminya. Disisi lain Ace saat ini sedang bermain bersama Rosie dan juga Mr Robinson di ruang tengah, karena tadi Ace ingin sekali berkeliling rumah milik ayahnya yang sangat besar itu. Tiba - tiba saja Lian pulang ke rumah dan seketika dirinya merasa terkejut saat ada anak kecil yang berlari menghampirinya.
"Daddy!!" teriak Ace.
"Eh aku bukan daddymu," jawab Lian.
"Tapi kamu mirip sekali dengan daddy."
"Oh ternyata kamu ini Liam junior ya heum?" tanya Lian menggendong Ace.
"Tapi kamu Liam, wajahmu saja mirip dengan Liam."
"Bukan, aku Lian."
"Lian? mmm apa waktu itu aku salah dengar ya? harusnya Lian dan bukannya Liam," ucap Ace bingung.
"Hei Liam junior dengarkan aku, aku ini kakaknya daddy kamu dan namaku adalah Lian."
"Oh daddy ada dua?"
"Ck bukan seperti itu, aku dan daddy kamu ini saudara kembar."
"Oh begitu, tapi kenapa wajahmu sangat mirip sekali dengan daddy?" tanya Ace kembali.
"Ya karena kita berdua kembar, aku ini uncle kamu dan bukan daddy kamu."
"Oh kamu ini uncle aku?"
"Yupss."
"Uncle, daddy kemana?"
Seketika Lian menatap ke arah kedua orang tuanya.
"Mmm daddy kamu sedang bekerja," ucap Lian berbohong.
"Bekerja dimana?"
"Di... Luar kota, nah daddy kamu sedang bekerja di luar kota."
__ADS_1
"Kapan daddy akan pulang, uncle Li?" tanya Ace menatap Lian.
"Dalam waktu dekat ini daddy kamu pasti akan pulang."
"Oh begitu."
Lian lalu merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah cokelat.
"Ini untukmu," ucap Lian saat memberikan cokelat itu kepada Ace.
Ace lalu menerimanya sembari tersenyum.
"Terima kasih."
"Iya sama - sama."
Lian lalu menggendong Ace dan mengajaknya berkeliling sebentar untuk melihat ke luar rumah, dengan melakukan hal seperti itu mungkin Lian bisa membuat Ace merasakan bagaimana rasanya gendongan ayahnya. Mereka berdua anak kembar, jadi mungkin saja rasanya juga tidak terlalu beda jauh meskipun dahulu badan adiknya itu lebih besar serta kekar daripada miliknya. Setelah itu mereka berdua kembali masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa ruang tengah.
"Aunty Rosie, mau makan ini."
"Eh makan cokelatnya besok siang saja."
"Kenapa begitu?"
"Oh begitu."
"Bagaimana dad?" tanya Lian berbisik.
Mr Robinson menggeleng pelan.
"Daddy juga belum mendapat kabar mengenai adikmu."
"Ya ampun astaga, kasihan Ace yang terus bertanya mengenai ayahnya."
"Ya begitulah."
"Pokoknya daddy harus bertanggung jawab karena dulu daddy yang memecat Liam karena fitnah itu!"
"Iya daddy tahu."
"Daddy ini ada - ada saja, sudah tahu putranya memiliki keluarga yang harus dinafkahi eh malah seenaknya saja main pecat tanpa memeriksanya terlebih dahulu."
"Iya maafkan daddy," ucap Mr Robinson merasa menyesal.
"Ckckck aku selama ini merasa tidak habis fikir dengan jalan pikiran daddy yang sesungguhnya."
__ADS_1
"Maafkan daddy Lian."
"Lalu sekarang Jane dimana?"
"Jane sedang beristirahat di kamarnya, aku merasa kasihan dengannya karena sia tampak frustasi sekali."
"Ya jelaslah dia seperti itu, suaminya saja pergi entah kemana dan sekarang dia menjadi single mother untuk anaknya. Belum lagi anaknya selalu bertanya mengenai ayahnya."
Mr Robinson mengehela nafasnya kasar.
"Hufftt andai waktu bisa diulang, pasti tidak akan terjadi seperti ini."
"Dasar pak tua," ucap Lian mengejek Mr Robinson.
"Hei berani - beraninya kamu mengejek daddy seperti ini!! siapa yang mengajari kamu berbicara seperti itu?"
"Liam yang mengajariku."
"Ckckck dasar punya dua anak laki - laki kelakuannya sama saja seperti ini."
"Cih."
Dibelahan bumi lainnya, saat ini Ricko sedang berjalan - jalan dengan istrinya dan juga anaknya. Mereka bertiga baru saja berbelanja di mall serta bermain di timezone, dan saat ini mereka bertiga sedang berada di jalan menuju pulang ke rumah. Jalanan lumayan padat karena mungkin hari ini hari Sabtu, jadi banyak yang berjalan - jalan ke luar rumah apalagi beberapa anak muda yang sedang berjalan - jalan bersama kekasihnya.
Saat mereka melewati sebuah jembatan, tiba - tiba saja secara sekilas Ricko melihat ada seseorang yang sedang berdiri di pagar jembatan. Seketika Ricko langsung menepikan mobilnya karena dia mempunyai firasat yang buruk terhadap orang itu. Ricko lalu turun dan mendekatinya dengan sangat hati - hati, dan saat orang itu sedang berancang - ancang untuk lompat dari jembatan tiba - tiba saja Ricko langsung menariknya hingga mereka berdua terjatuh di trotoar.
"Hei apa yang kamu lakukan ini? ini bukan cara yang tepat untuk terhindar dari masalah!!" teriak Ricko dengan jantungnya yang berdebar sangat kencang.
Orang itu langsung menangis.
"Lalu bagaimana caranya? sudah tidak ada alasan lagi untukku tetap hidup!!"
Ricko lalu mengamati setiap detai wajah pria itu dan seketika dia menangis sejadi - jadinya.
"Liam!! kamu Liam bukan? Li, kenapa kamu melakukan hal seperti ini dan kemana saja kamu selama ini?"
"Bu-bukan, kamu salah orang."
"Tidak, aku tidak salah orang karena aku sangat mengenal sahabat baikku meskipun kamu sudah merubah penampilanmu sekalipun."
"Tidak, aku bukan Liam."
"Hei bodoh, kamu fikir kamu bisa membodohiku ha? kita berdua kan sering sekamar serta tidur bersama saat kamu menginap di rumahku."
"Hmm baiklah aku mengakuinya."
__ADS_1