Dear Ace

Dear Ace
#103 Mulai Eksekusi?


__ADS_3

Ace menatap sedih punggung Lyn yang sudah mulai perlahan - lahan menghilang dari pandangannya. Melihat putranya yang terlihat sedih ditinggal teman satu - satunya saat ini, Liam lalu memeluk tubuh mungil Ace lalu membawa dia kepangkuannya. Mereka bertiga melanjutkan perbincangan di taman tersebut sembari memakan beberapa snack yang masih tersisa. Ace kembali ceria setelah dia bermain bersama kedua orang tuanya, dan memang seperti inilah yang diinginkan oleh Ace.


Bisa menghabiskan waktu bersama di sebuah taman sembari bercanda ria, dan bukannya sibuk dengan urusannya masing - masing. Tiba - tiba saja Liam mendapatkan telepon dari Arthur yang memintanya untuk menemuinya di kantor, karena dia ingin mengajak Liam untuk menemui mafia itu sesuai yang telah dijadwalkan sebelumnya. Setelah menerima telepon tersebut Liam lalu mengajak anak dan istrinya untuk pulang ke rumah.


Mereka berdua lalu mengangguk dan langsung membereskan beberapa barang yang dibawa olehnya tadi. Begitu sesampainya dirumah, Liam lalu meminta Jane untuk mentiapkan setelan jas miliknya dan mulai bersiap - siap. Setelah selesai mengikat dasi Liam, tidak lupa Jane mendaratkan sebuah ciuman di pipi suaminya itu. Liam kemudian bergegas pergi ke kantor Arthur.


45 menit kemudian Liam telah sampai di kantor Arthur sendirian tanpa ada bodyguard yang menemaninya. Liam disambut oleh beberapa bodyguard Arthur saat dia memasuki ruangan Arthur. Ternyata Ebert juga sudah berada disana dan sedang berdiri disamping Arthur. Mungkin Arthur sudah melatihnya selama beberapa hari ini sebagai persiapan sebelum pergi ke kandang macan.


"Ini untukmu Li," ucap Arthur memberikan sebuah pistol khusus untuk Liam.


"Eh haruskah kita membawa ini juga?" tanya Liam polos.


"Tentu saja, untuk berjaga - jaga karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi selama beberapa jam kedepan."


"Oh baiklah," jawabnya sembari menyimpan pistol tersebut.


"Kamu masih ingat cara menggunakannya bukan?" tanya Arthur mengejek Liam.


"Tentu saja, bahkan aku masih bisa membuat pelurunya bersarang di otakmu!!"


"Hahaha chill brother," ucap Arthur menepuk - nepuk bahu Liam.


"Dasar pria sialan," ucapnya mengumpat.


Setelah itu mereka semua langsung berangkat menuju ke kediaman mafia tersebut. Disisi lain Ace saat ini sedang berada di kamarnya untuk bersiap tidur siang.


"Eomma, sampai kapan kita akan tinggal disini?"


"Entahlah, kita berdua hanya mengikuti daddy kemanapun dia pergi."


"Oh begitu."


"Iya sayang," ucap Jane mengusap rambut Ace.

__ADS_1


"Ace tidak mau daddy pergi lagi, Ace akan selalu mengikuti kemanapun daddy pergi dan kalau perlu aku juga akan bergelantungan di kaki daddy hehe."


"Jangan begitu nanti kamu akan jatuh sayang, daddy selalu melarangmu untuk bergelantungan di kakinya bukan?"


"Nee eomma."


"Jadi jangan melakukan hal itu lagi."


"Tapi Ace suka melakukannya, karena kaki daddy sangat besar dan kuat. Eomma Ace mau susu."


"Iya."


Beberapa menit kemudian Ace sudah tertidur pulas di pelukan Jane, dan setelah itu Jane pergi ke bawah untuk membuat ice lemon tea.


"Eh Jane, sedang apa?" tanya grandma.


"Aku sedang membuat ice lemon tea, grandma."


"Oh begitu."


"Boleh, aku ingin merasakan ice lemon tea buatan cucu menantu kesayangan grandma ini."


Setelah selesai membuat ice lemon tea, grandma lalu mengajak Jane pergi ke halaman belakang rumah untuk berbincang ringan.


"Hmm ice lemon tea buatan kamu sangat menyegarkan sekali Jane."


"Terima kasih grandma," balas Jane tersenyum.


"Kamu ini sangat pandai dalam segala hal, sama seperti Margareth. Dia adalah menantu terbaikku, dan kamu juga tentunya."


"Iya grandma."


"Dahulu awalnya aku tidak merestui pilihan Jonathan yang memilih untuk menikah dengan Margareth daripada menikah dengan wanita pilihanku, akan tetapi setelah melihat kepribadiannya aku jadi merestui pernikahan mereka berdua."

__ADS_1


"Oh begitu, kalau Jane boleh tau mengapa grandma tidak merestui mommy?"


"Karena statusnya yang sebagai janda, aku hanya takut jika nanti anak Margareth dari pernikahan sebelumnya akan mengusik rencana keluarga ini."


"Namun bukankah mommy itu tidak memiliki seorang anak dari pernikahan sebelumnya? itu yang Jane dengar."


"Benar, grandma mengetahui semuanya setelah grandma berbicara empat mata dengannya."


"Oh begitu."


"Namun karena aku bosan karena memiliki cucu laki - laki akhirnya aku memutuskan meminta Jonathan untuk mengadopsi Rosie."


Jane tertawa kecil.


"Eh bukankah itu menyenangkan grandma? rumah pasti selalu ramai bukan?"


"Iya benar namun rasanya kurang lengkap jika tidak ada anak perempuan, dan untungnya Margareth juga berfikiran hal yang sama denganku."


"Oh begitu rupanya."


"Grandma sangat menyayangi Rosie seperti grandma menyayangi Lian dan Liam."


"Tetapi sepertinya grandma malah lebih menyayangi Rosie daripada Lian dan Liam."


"Oh tentu saja hahaha, dia gadis yang sangat cantik meskipun sangat manja sekali. Yah namanya juga anak perempuan pasti sangat manja."


"Benar grandma, Rosie juga sangat manja sekali dengan Liam."


"Kamu tidak keberatan mengenai hal tersebut apalagi Rosie sering menginap dirumah kalian berdua?"


"Tentu saja tidak grandma, justru Jane sangat senang sekali sekarang memiliki adik perempuan."


"Oh baguslah."

__ADS_1


__ADS_2