
Ace lalu memberikan botol susunya kepada Liam saat dia tengah berbicara kepada Leon dan Rosie. Setelah itu dia malah berlarian kesana kemari hingga membuat Liam merasa pusing karena melihat tingkah Ace yang seperti itu. Ace menghampiri kandang hamsternya dan langsung membawanya ke atas meja untuk ditunjukkan kepada Rosie. Ace juga berusaha untuk membuka pintu kandangnya namun dia tidak bisa, dan alhasil dia meminta bantuan Liam untuk mengajarinya.
Saat dia sudah bisa membukanya, dia langsung menangkapnya dan melepaskannya di atas meja. Sontak semua langsung heboh apalagi hamster itu sudah berlari untuk kabur. Dengan cepat Liam dan Leon mencarinya dan menangkapnya untuk memasukkannya kembali ke kandang. Ace hanya terpaku melihat mereka berdua bergerak untuk menangkap hamsternya, karena Ace memang tidak menyangka bahwa akan menjadi seperti ini.
Setelah semuanya tertangkap dan kembali ke dalam kandang, mereka berdua lalu duduk di sofa. Liam kemudian memberitahu Ace bahwa jangan melepaskan hamster ataupun membuka pintunya secara sembarangan agar mereka tidak kabur lagi. Setelah itu Liam meminta Ace untuk mengisi kotak makan milik hamster. Beberapa jam kemudian setelah makan malam, Liam duduk di sofa sembari membaca buku. Liam memang seorang pria yang kutu buku, sehingga dia selalu meluangkan waktunya untuk membaca beberapa lembar halaman.
"Daddy sedang apa?" tanya Ace sembari menggigit jarinya lagi.
"Daddy sedang membaca buku. Eh jangan digigit lagi dong sayang. tadi siang kan sudah diperingatkan oleh eomma."
"Iya daddy."
"Nah anak pintar."
Ace lalu naik ke sofa dan berdiri di sana sembari memperhatikan Liam yang sedang membaca buku. Karena merasa dicueki oleh Liam, Ace lalu bergelantungan di pundak Liam dan juga tiduran di pangkuan Liam. Dia hanya bisa menghela nafasnya ketika melihat tingkah laku anaknya yang seperti itu.
"Daddy baca apa?" tanya Ace kembali.
"Buku cerita horor, tragedi di WC umum."
"Oh."
"Bisa baca tidak heum?"
Ace menggeleng.
"Belum terlalu lancar."
Liam mengajari Ace membaca sedikit demi sedikit hingga dia sudah bisa membaca beberapa kata.
"Daddy, besok kita jadi pergi ke kebun binatang kan?"
"Iya jadi, tapi kamu harus bangun pagi."
"Aku kan selalu bangun pagi, tidak seperti daddy yang selalu bangun siang."
"Oh benar juga."
"Aku mau memberi makan hamster lagi," ucapnya melenggang pergi mendekati kandang hamster.
"Iya."
"Mmmm hubby ku sayang," ucap Jane yang tiba - tiba naik ke pangkuan Liam.
"Apa?" tanya Liam malas.
Tanpa basa - basi Jane langsung mencium bibir Liam.
"Hah kenapa kamu ini?" tanya Liam melepaskannya.
__ADS_1
"Aku merasa rindu kepadamu sayang, masa kamunya cuek sekali."
Tiba - tiba saja Liam teringat akan perjanjian dengan Jane waktu itu, dan dia langsung merubah sikapnya agar Ace baik - baik saja.
"Iya aku juga merindukanmu, sudah turun dari pangkuanku!"
"Tidak mau, aku masih mau disini."
"Hufftt ya sudah. Lihat ke arah sana. apa kamu masih tega untuk berbuat hal seperti waktu itu kepadanya? terserah kamu ingin memerintahku atau menyiksaku bagaimanapun, asalkan jangan pernah menyakiti Ace."
"I-iya hubby."
"Jangan pernah menyakiti anak yang tidak berdosa apalagi dia adalah darah dagingmu yang dulu kamu lahirkan dengan mati - matian, jika aku tahu bahwa kamu akan berbuat seperti itu maka lebih baik dahulu kamu ikhlaskan saja dia untuk kembali kepada Yang Maha Kuasa agar ditempatkan di tempat yang paling indah."
"A-aku melakukan semua ini hanya karena terpaksa, aku hanya ingin kamu kembali memperlakukanku seperti dulu."
"Iya aku sudah berusaha untuk menuruti apa yang kamu katakan, seperti semalam."
"Kalau nanti malam bagaimana?"
"Baiklah, aku akan menuruti semua keinginanmu."
"Daddy, eomma."
"Iya sayang, kenapa?" tanya Liam.
"Eomma sedang manja dengan daddy."
"Oh begitu."
"Sini sayang," ucapnya menarik tangan Ace agar mendekat ke arahnya.
"Besok jadi ke kebun binatang kan daddy?"
"Kamu sudah menanyakan hal itu terus menerus sejak tadi pagi, apa kamu tidak merasa bosan bertanya mengenai hal itu?"
"Tidak, pokoknya aku akan terus menanyakan hal tersebut sampai daddy membawaku ke kebun binatang."
"Iya, daddy kan sudah janji untuk membawamu kesana jadi otomatis kita akan benar - benar pergi."
"Yeayy!!"
"Ace, sudah yuk tidur kan kata daddy besok harus bangun pagi."
"Nee eomma."
Jane lalu menggendong Ace ke kamarnya agar dia segera tidur, sedangkan Liam bersiap - siap tidur di kamarnya. 30 menit kemudian setelah tertidur Jane lalu menyusul Liam ke kamarnya, dan terlihat bahwa Liam tertidur hanya mengenakan celana kolornya saja. Ini saatnya bagi Jane untuk mengganggu Liam tidur. Jane lalu masuk ke dalam selimut untuk melepas celana kolor bewarna kuning dan bergambar spongebob itu. Liam yang menyadari hal tersebut lamgsung terbangun dan membalikkan tubuh Jane hingga menindihnya.
Liam menciumi bibir Jane secara ganas sembari menarik tali piyama itu hingga memperlihatkan hampir seluruh bagian tubuhnya. Liam memandangi setiap inchi tubuh Jane karena memang dia sangat merindukan rasanya. Jari jemarinya dia mainkan hingga membuat Jane merasa sangat gelisah karena sudah hampir berada di puncak kenikmatan. Perlahan - lahan dia mulai memasukkan cacing alaska miliknya ke dalam gua, dan setelah itu dia mendorongnya secara perlahan mengikuti tempo yang sudah dia perhitungkan sebelumnya.
__ADS_1
Kukunya yang panjang itu mencakar punggung Liam hingga memunculkan bekas goresan, dan mengeluarkan sedikit darah. Mungkin itu rasanya perih seperti saat di cakar oleh kucing, akan tetapi sepertinya Liam sudah tidak merasakan hal itu lagi karena dia juga sedang berada di puncak kenikmatan yang dia ciptakan.
"Hubby!!"
"Sstt diam, jangan berisik nanti Ace akan terbangun."
"Ta-tapi bukankah kamar ini sudah kedap suara?"
"Oh ya benar juga."
2 jam kemudian.
"Hos hos rasanya sangat lelah sekali," ucapnya yang masih menindih tubuh Jane.
Tidak lama kemudian Liam tertidur dengan posisi yang masih sama.
"Nah begini dong aku kan jadi suka jika begini," gumam Jane mengusap rambut Liam yang sedikit basah.
"Sejujurnya aku masih selalu merasa nyaman denganmu namun ternyata semua itu rasanya sangat sulit jika harus berjuang sendirian. Aku masih memikirkan apakah aku akan pergi atau tidak, karena sudah ada seseorang yang bisa memperlakukanku seperti yang aku inginkan."
Tiba - tiba handphone Jane berdering.
"Ya kenapa Simon?" tanya Jane melalui telepon.
"Hmm babe, aku sangat merindukanmu."
"Katanya kamu kembali ke Korea Selatan."
"Iya, tapi besok baru berangkat."
"Oh begitu."
"Kenapa belum tidur jam segini heum? apa suamimu sudah tertidur nyenyak saat ini sehingga kamu berani menjawab panggilanku."
"Iya, dia baru saja tertidur."
"Hmm baguslah, mari kita berbincang sebentar untuk melepas rindu."
Jane tersenyum.
"Memangnya kamu sangat merindukanku heum?"
"Tentu saja sayang, bagaimana bisa aku tidak merindukan wanita secantik dirimu hmm."
"Nggg."
Jane langsung mematikan teleponnya.
"Sstt hubby, tidur yang nyenyak."
__ADS_1