
Ace lalu menarik tangan Mr Robinson dan memintanya untuk mengikutinya sembari menuntun sepedanya keluar rumah. Setelah itu dia memintanya untuk menggendongnya naik ke sepeda, dan rupanya Ace sedang ingin diajari naik sepeda oleh grandpanya. Mr Robinson kemudian mengajari Ace naik sepeda, dan sepertinya dia sedang bernostalgia saat dirinya sedang mengajari anak - anaknya mengendarai sepeda.
Tidak lama kemudian Liam yang sedang berjalan menuruni anak tangga, lalu dia bertanya kepada Jane mengenai keberadaan ayah dan juga putranya. Jane lalu memberitahukan kepada Liam jika mereka berdua sedang berlajar naik sepeda di halaman depan rumahnya. Setelah itu Liam mengajak Jane untuk pergi ke teras rumah melihat apa yang dilakukan oleh mereka berdua. Liam merasa senang melihat kedekatan antara ayahnya dan putranya itu.
Liam lalu mendekati mereka berdua untuk gantian mengajari Ace belajar naik sepeda, karena sepertinya Mr Robinson sudah merasa lelah. Mr Robinson lalu duduk di samping Jane dan melihat putranya mengajari cucunya belajar naik sepeda. Liam lalu mendorong sepeda Ace secara perlahan, sedangkan kaki Ace malah dinaikkan ke atas dan bukannya malah di letakkan di pedal sepeda.
"Kakinya di taruh disini, dan setelah itu di pedal secara perlahan - lahan ya?"
"Tidak mau, takut."
"Kenapa takut? kan tidak apa - apa, kalau kamu tidak belajar seperti ini nanti kamu tidak akan bisa naik sepeda."
"Oh begitu," ucapnya lalu menurunkan kakinya ke pedal sepeda.
Liam lalu jongkok dan menggerakkan pedal sepeda agar Ace bisa berlatih mengayuh sepeda.
"Nah bagus, terus lebih cepat!"
Belum ada satu jam belajar naik sepeda, sepertinya Ace sudah mulai lancar mengayuh sepeda bahkan sekarang dia sudah bisa dilepas sendiri.
"Wahh hebat, terus nak terus!!" teriak Liam.
"Daddy lihat aku sudah bisa!!" teriak Ace merasa sangat senang.
"Hei lihat ke depan!! awas nanti kamu menabrak kolam ikan!!" peringat Liam yang mulai berlari mengejar Ace. Setelah itu dia langsung menghentikan laju sepedanya agar dia tidak terjatuh.
"Eh Liam awas!!" teriak Jane dan Mr Robinson.
"Hup, ketangkap."
"Daddy," ucapnya merasa takut.
Liam langsung menggendong Ace.
"Tenang saja, kan ada daddy."
"Nee, gomawo daddy."
"Iya," ucapnya tersenyum.
"Ayo dad, ajari aku lagi."
"Yoshh baiklah, tapi sepertinya daddy harus mengajarimu untuk mengerem sepeda agar tidak terjadi seperti ini lagi."
"Caranya bagaimana dad?"
__ADS_1
Liam lalu meletakkan tangan Ace ke bagian rem sepeda.
"Pegang yang ini untuk menghentikan laju sepedamu agar tidak menabrak sesuatu, tekan ini kuat - kuat."
"Sudah daddy."
"Tidak apa - apa kalau masih susah, nanti kamu juga akan terbiasa. Yang terpenting pelan - pelan saja mengendarainya saat kamu belum bisa menekan rem sepeda."
"Nee daddy."
Disisi lain Mr Robinson juga sedang berbincang dengan menantunya sembari melihat mereka berdua belajar sepeda.
"Aku merasa bersyukur sekali melihat Liam yang bisa tersenyum lebar seperti itu," ucap Mr Robinson tiba - tiba.
"Iya daddy, aku juga merasa senang melihatnya seperti itu."
"Aku yakin bahwa Liam akan menjadi seorang ayah yang lebih baik dariku."
"Daddy juga merupakan ayah yang baik untuk anak - anak daddy, sehingga mereka bertiga sampai bisa seperti ini."
"Hahaha daddy yang baik apanya? aku kerap berbuat kasar kepada mereka bertiga sehingga mereka enggan untuk dekat denganku, dan justru lebih dekat dengan mommy nya."
"Tapi jika bukan karena didikan daddy, mungkin mereka juga tidak sampai menjadi orang yang seperti ini. Mmm maksudku sebagai contohnya Liam, dia mungkin akan menjadi seorang pria yang suka memainkan wanita sana sini jika daddy tidak melarangnya untuk mempunyai anak sebelum menikah."
"Hahaha Liam memang playboy juga Jane."
"Tapi dia sudah berbuat nakal denganmu, aku masih ingat saat appa kamu memberitahuku bahwa malam itu kalian berdua berciuman di kamarmu."
Jane langsung merasa malu.
"Mmm ti-tidak juga, tapi yah meskipun kita berdua seperti itu namun jujur saja bahwa kami berdua tidak melakukan hal apapun selain berciuman."
"Iya daddy percaya, dan daddy masih ingat jika kalian berdua dahulu saling bermusuhan sejak masih kecil. Mungkin hal itulah yang membuatku masih merasa tidak percaya bahwa ternyata kamulah yang merenggut first kiss Liam."
"Ehem ya begitulah dad, maaf telah menggoda putramu yang sangat polos itu."
Mr Robinson langsung tertawa terbahak - bahak mendengar pernyataan menantunya.
"Liam bukan pria yang polos Jane, buktinya saja sekarang dia sudah mempunyai seorang anak dan juga sangat lihai itu ehem."
"Apa daddy juga mengetahui kejadian di dapur pada malam itu?" tanya Jane merasa curiga.
"Ti-tidak tahu juga ya, kejadian apa memangnya?" tanyanya berbohong.
"Tuh kan benar, haiss daddy!!"
__ADS_1
"Hahaha tenang saja, daddy tidak akan membicarakan hal itu kepada yang lainnya."
Entah sejak kapan Mr Robinson menjadi sangat akrab kepada menantunya itu. dan bahkan sekarang dia juga sudah bisa bercanda dengannya seperti seorang teman. Tidak lama kemudian Liam yang sudah lelah mengajari Ace naik sepeda, dia lalu menggendong Ace sembari menuntun sepedanya menuju ke teras rumah. Liam dibuat heran mengenai kedekatan antara ayahnya dan juga istrinya itu, hingga membuatnya merasa bersyukur.
"Eh sudah selesai sesi belajar sepedanya hubby?" tanya Jane.
"Sudah Jane, lagipula ini juga sudah hampir malam dan kata mommy tidak baik melakukan aktivitas di jam segini."
"Benar kata mommy nanti, ora elok (tidak baik) melakukan aktivitas lain saat menjelang malam karena takutnya terjadi hal buruk."
"Benar, maka dari itu sampai sekarang Liam malas pergi kemanapun saat hampir maghrib."
"Ah iya benar, takut kenapa - kenapa dijalan."
"Oh begitu, aku baru tahu mengenai hal seperti itu."
"Jangan bepergian, jangan memegang benda tajam, dan harus duduk diam dirumah saja."
"Oh begitu."
"Ayo dad masuk dulu nanti sekalian kita makan malam bersama saja," ucap Liam.
"Eh baiklah."
"Daddy mau mandi? nanti mandu dibawah saja agar aku meminta Jane untuk menyiapkannya."
"Tidak perlu, begini saja tidak apa - apa."
"Nanti badan daddy gatal jika belum mandi, tidak apa - apa dad lagipula juga dirumah anaknya sendiri kok."
"Benar dad, aku siapkan sebentar."
"Baiklah jika seperti itu."
Liam lalu bermain dengan Ace di ruang tengah, dan dia juga mengajari Ace untuk membaca. Jane merasa senang melihat hal tersebut karena semenjak Ace diasuh oleh daddynya juga, dia sekarang mengalami banyak kemajuan. Semakin lama Ace terlihat menjadi anak yang pandai, dan bukannya anak yang nakal lagi seperti dulu.
"Ini bacanya apa daddy?"
"Ini bacanya kancil, kancil yang pandai mencuri timun."
"Kenapa kancil suka mencuri timun?"
"Karena untuk dimakan."
"Kancil mencuri timunnya dimana?"
__ADS_1
"Di ladang petani."
"Oh begitu."