Dear Ace

Dear Ace
#33 Bertemu


__ADS_3

Liam menutup pintu dengan sangat keras hingga membuat Ace terkejut, karena memang Liam membanting pintu kamarnya tepat di depan Ace. Setelah itu Ace hanya menatap pintu yang tertutup rapat itu dengan tatapan polosnya sembari menggigit jarinya. Tidak lama kemudian air mata Ace mulai menetes membasahi pipinya dan Ace langsung memanggil - manggil namanya dari balik pintu itu, sedangkan Liam hanya terduduk di sisi lain dari pintu itu sembari memegang kepalanya. Liam merasa sangat bersalah sekali karena dia telah meninggalkan anak serta istrinya selama hampir setahun.


Namun jika tidak begitu, dia pasti bingung bagaimana akan menghidupi mereka berdua karena saat ini dia hanyalah sebagai tukang ojek online saja. Liam juga tidak ingin mereka berdua juga hidup susah seperti dirinya, oleh sebab itu dia selalu mentransfer sejumlah uang yang selalu sama seperti dahulu saat dia masih bekerja di perusahaan. Jadi karena hal itulah yang membuat uang di tabungan Liam sudah hampir habis, karena pengeluaran lebih besar daripada pendapatan. Istilah lainnya lebih besar pasak daripada tiang.


Saat itu juga Liam juga ikut menangis saat mendengar Ace yang menangis sembari menggedor - nggedor pintu kamarnya. Sebenarnya dia merasa tidak tega dengan putranya itu namun Liam juga merasa malu untuk menunjukkan wujudnya di depan putranya. Karena semakin lama Ace menangis dengan sangat keras, akhirnya Liam membuka pintunya dan menggendong Ace masuk ke dalam kamarnya karena dia merasa tidak tega dengannya.


Setelah itu Liam duduk di depan komputernya dan memangku Ace karena dia ingin melanjutkan bermain game. Seketika Ace langsung berhenti menangis karena ayahnya sudah tidak marah seperti tadi, dan dia juga memeluk Ace saat dia duduk di pangkuannya. Ace terus memperhatikan wajah ayahnya yang sedang sibuk bermain game bersama teman - temannya, dan sesekali ayahnya juga mencium kepala Ace meskipun dia sedang sibuk bermain game.


"Sudah jangan menangis lagi," ucap Liam mengusap air mata Ace.


"Daddy?" tanya Ace menatap Liam.


Liam menghela nafasnya kasar.


"Iya aku daddymu."


"Daddy kenapa pergi? Ace jadi tidak ada teman bermain dan tidak bisa bermain seperti teman - teman Ace yang lain."


"Banyak hal yang aku pertimbangkan sehingga pergi meninggalkan kalian berdua, maaf."


"Apa sekarang Ace bisa selalu bertemu dengan daddy?" tanya Ace mengigit jarinya.


"Sepertinya begitu, hei jangan mengigit jarimu!"


"Iya daddy."


"Memangnya teman - temanmu bermain apa dengan ayahnya heum?"


"Banyak, mereka bercerita bahwa mereka jalan - jalan di taman bermain sampai dibacakan dongeng sebelum tidur."


"Hmm baiklah, kapan - kapan kita akan melakukan semua hal itu jika aku sempat."


"Benarkah?" tanya Ace tersenyum bahagia.


"Hufftt iya."


"Yeayyy!!!" teriak Ace bersorak gembira."


"Hubby," ucap Jane mengusap rambut Liam.


Seketika Liam langsung menoleh ke arah sumber suara itu, dan setelah itu dia berdiri menghadap Jane.


"Jane," ucap Liam lirih.


Jane langsung memeluk Liam dengan sangat erat serta menangis sejadi - jadinya. Ace lalu diajak keluar sebentar oleh Mrs Robinson.


"Ka-kamu kemana saja selama ini? semuanya terasa berat tanpa kamu berada disisiku, aku sudah terbiasa mengandalkanmu di dalam setiap hal namun kamu pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun hingga membuatku hampir mati gila!!"


"Maaf."

__ADS_1


"Dasar suami bodoh, setelah kamu melakukan semua ini dengan mudahnya kamu mengatakan maaf ha?" tanya Jane penuh emosi.


Bukannya merasa takut ataupun sedih, Liam justru tertawa mendengar Jane berbicara penuh emosi seperti itu.


"Hahaha."


"Dasar sialan, bisa - bisanya kamu tertawa seperti ini."


"Aku kira kamu orang lain namun ternyata istriku sendiri, sudah lama kita tidak bertemu dan kamu tetap sangat cantik serta semakin sexy."


Jane langsung memukul perut Liam dengan sangat keras.


"Dih sialan, menyesal aku mencari orang yang tidak pernah mempunyai rasa bersalah sepertimu."


Liam semakin tertawa sembari memegangi perutnya.


"Hahaha nah ini baru istriku."


"Memangnya kita masih suami istri?"


"Oh sudah bukan ya? lalu siapa suamimu sekarang dan kenapa tidak mengundangku untuk memakan rendang daging di gedung?" tanya Liam bercanda.


"Haisss sialan, asal kamu tahu ya bahwa suamiku sekarang jauh lebih tampan darimu serta sangatlah perhatian apalagi dia juga sangat romantis sekali."


"Dih najis, sudahlah kamu membuang - buang waktuku bermain game."


"Apa kamu tidak merasa cemburu sama sekali?"


"Bukanlah, kami berdua tidak mempunyai hubungan apapun dan hanya sebagai teman saja."


"Oh."


"Sekarang jelaskan kepadaku apa alasanmu meninggalkan kita berdua!!" perintah Jane.


"Aku sudah tidak bekerja di perusahaan karena...."


"Pasti karena oppa kan? haiss dasar oppa sialan!!"


"Sudahlah jangan seperti itu karena aku sudah memaafkannya sedari dulu, tidak baik bermusuhan dalam waktu yang lama."


Jane lalu memeluk Liam dengan sangat erat.


"Hubby tanganku sudah sangat gatal dan ingin segera mencukur kumismu itu."


"Tidak mau, biarkanlah seperti ini saja karena aku sudah nyaman dengan tampilan seperti ini."


"Hubby sayang please," ucap Jane dengan wajah memelas.


"Tidak, sudah pergilah karena aku akan berkencan dengan gameku!"

__ADS_1


"Dasar, apa - apa pasti game terus yang diprioritaskan ckckck."


"Terserah aku, kamu sangat menyebalkan."


"Nanti pulang ke rumah kita, aku sudah merenovasi rumahnya."


"Itukan rumahmu."


"Eh?"


"Aku sudah membalikkan namanya menjadi namamu, jadi rumahku disini."


"Ck bagaimana bisa begitu? itukan rumah hasil jerih payahmu."


"Ya sudah iya."


Jane kemudian membujuk suaminya dengan cara abracadabra agar suaminya itu setuju untuk dicukur kumisnya serta jenggotnya. Tidak membutuhkan waktu lama akhirnya Jane berhasil membujuk suaminya dan sekarang dia sedang berada di kamar mandi bersamanya. Jane mulai mencukur habis kumis serta jenggotnya sembari berbincang bersama. Sesekali Jane merasa sedih karena penampilan suaminya yang sudah berubah drastis, dan setelah itu Jane merapikan rambut suaminya sebagai langkah terakhir untuk merubah penampilannya seperti dulu lagi. Sekarang suaminya sudah tampan dan sudah bersih sekali, jadi tidak ada om kumis lagi.


"Ini baru suamiku yang paling tampan," ucap Jane mencium bibir Liam.


"Hei dasar main cium - cium saja!"


"Bodo amat wlee."


"Dih menyebalkan."


"Apa kamu tidak merindukanku serta jagoanmu itu heum?"


"Aku sangat merindukanmu dan juga Ace, maaf karena aku telah berbuat seperti ini."


"Iya, asalkan sekarang kita sudah bisa berkumpul bersama sekarang."


*Tiba - tiba di ruang tengah.*


"Mom."


"Nah ini baru putra mommy," ucap Mrs Robinson menatap Liam.


"Maafkan Liam."


"Mommy yang seharusnya meminta maaf kepadamu."


Liam lalu memeluk Mrs Robinson.


"Terima kasih."


"Sudah sekarang kamu tinggal disini dan tidak akan terus memakan mie instan lagi."


"Iya mom. Woahh jagoan daddy," ucap Liam saat menggendong Ace.

__ADS_1


"Ayo jalan - jalan dad, dan beli ice cream."


"Baiklah, mari kita pergi."


__ADS_2