
Liam lalu mengambil kunci mobilnya dan langsung bergegas pergi pulang ke rumah. Teman - temannya lalu mencegah Liam untuk pulang apalagi menyetir mobilnya dalam kondisi mabuk berat. Namun karena dia orang yang sangat keras kepala, Liam tetap saja berusaha lari menuju ke parkiran dan langsung pergi pulang. Mereka kemudian ikut mengejar Liam dan membuntutinya karena takut terjadi hal yang tidak diinginkan, apalagi dia menyetir dalam kondisi mabuk.
Beberapa menit kemudian dia sudah sampai di dalam rumahnya dan langsung mengambil sebuah samurai yang terpajang di atas perapian rumahnya. Ricko yang sudah sampai disana lalu berusaha merebut samurai Liam dengan dibantu oleh kedua temannya. Namun ternyata kekuatan Liam saat marah jauh lebih besar dan sangat mengerikan, apalagi perpedaan postur tubuh yang sangat menonjol sehingga membuat mereka bertiga semakin kalah melawan Liam.
Saat itu juga Liam langsung berlari menuju ke kamarnya dan langsung masuk ke dalam kamarnya. Perlahan - lahan Liam mengeluarkan samurainya dan mulai mengayunkan. Namun saat samurai itu akan mengenai leher Jane tiba - tiba saja tangan Liam menjadi sangat kaku sehingga dia tidak bisa melanjutkan aksinya tersebut, dikarenakan seperti ada sesuatu yang menahannya. Sekarang samurai itu hanya berjarak sekitar 5 sentimeter dari leher Jane.
Lalu dipandanginya wajah Jane yang tengah tertidur pulas di atas ranjang dengan posisi membelakanginya, dan seketika air matanya mulai menetes membasahi pipinya saat semua moment indah yang telah mereka lalui bersama mulai memenuhi fikiran Liam.
*Prang.*
Liam yang tengah menangis itu langsung bersimpuh dan dia pergi keluar kamar. Teman - temannya bisa bernafas dengan lega karena Liam tidak jadi melakukan perbuatan sekeji itu.
"Pulang!! aku sedang ingin sendiri!" perintah Liam.
"Okay, tapi jika kamu membutuhkan kita maka hubungi saja karena kita selalu ada untukmu kapanpun dan dimanapun."
"Iya."
Semua temannya langsung pulang, akan tetapi begitu sesampainya di depan kamar Pak Kang.....
"Mmmmm."
*Klik.*
"Sekarang katakan kepada kami, sebenarnya Jane sudah berselingkuh dengan pria lain bukan?" tanya Dio mengintrogasi Pak Kang.
"Si-siapa yang anda maksud?" tanyanya gugup.
"Haiss jangan berbohong!! katakan yang sejujurnya!!" teriak Ricko.
"Asalkan kamu tahu, bahwa sekarang kami ini lebih unggul daripada dirimu meskipun kamu ini seorang bodyguard yang terlatih, karena sampai sekarang kami bertiga adalah anggota geng motor yang tidak segan - segan untuk menghabisi nyawamu jika kamu tidak menuruti apa kemauan kami."
"Ba-baik," ucap Pak Kang pasrah.
Sebenarnya Pak Kang bukan pasrah karena merasa takut namun dia hanya bingung saja. Mereka bertiga adalah sahabat dekat tuannya, jadi akan serba salah juga untuknya jika ingin melawan mereka.
"Sa-saya tidak tahu pasti mengenai hal tersebut, dan saya fikir nona Jane hanya berteman dekat saja dengan pria itu."
"Siapa nama pria itu?" tanya Chicko yang ikut mengintrogasi Pak Kang.
"Simon Song."
"Sudah berapa lama mereka dekat satu sama lain?"
"Saya tidak tahu pasti, tapi sepertinya dia adalah teman dekat nona semenjak mereka sekolah."
"Oh begitu. Aku ingin kamu ikut bekerjasama dengan kita untuk menyingkirkannya dari kehidupan rumah tangga Liam, bagaimana?"
"Ba-bagaimana ya?"
"Ayolah, ini semua demi kebaikan rumah tangga tuanmu. Apa kamu ingin mereka berdua bercerai dan merusak kehidupan Ace ha?"
"Ti-tidak, saya ingin tuan muda Ace bisa hidup bahagia selama bersama kedua orang tuanya."
"Kalau begitu katakan bahwa kamy menyetujuinya!!" teriak Ricko.
"Baik saya setuju."
__ADS_1
"Jadi aku ingin besok kamu sudah memberikan beberapa informasi mengenai Simon si pebinor itu!"
"Baik, katakan saja apa yang kalian butuhkan maka aku akan berusaha untuk memberikannya kepada kalian."
Dio lalu mengambil sebuah pisau dan langsung menggoreskannya di jempol Pak Kang.
"Aww," rintih Pak Kang yang kesakitan.
"Ini sebagai simbol bahwa kamu tidak akan mengingkari janjimu kepada kita bertiga."
"Baik."
Sebenarnya tadi Jane mengetahui bahwa suaminya datang ke kamar serta mengayunkan sebuah samurai ke lehernya. Jujur Jane sangat takut melihat hal tersebut meskipun hanya melalui bayangannya saja, oleh sebab itu dia memutuskan untuk berpura - pura tidur dan bersedia menerima semuanya meskipun nanti lehernya akan dipenggal oleh suaminya sendiri. Jane menduga bahwa suaminya itu sudah mengetahui hubungan gelapnya, dan oleh sebab itu dia melakukan hak seperti itu.
"Hu-hubby," panggilnya lirih saat melihat suaminya terduduk di lantai ruang tengah dan mendapati bahwa dia sedang menangis.
"I-iya," jawab Liam yang bergegas mengusap air matanya.
"Hubby sudah pulang?"
"Sudah, kenapa kamu terbangun heum?"
"Aku khawatir karena hubby belum juga pulang, makanya aku berniat untuk mencarimu."
"Tadi aku duduk sebentar disini karena kepalaku pusing."
"Pasti kamu mabuk lagi kan? sebentar aku buatkan sebuah minuman untuk menghilangkan efek tersebut."
Tidak lama kemudian.
"Ini hubby, diminum dulu."
Jane ikut duduk di lantai bersama Liam, dan setelah itu dia memeluknya dari samping.
"Sekarang aku bisa memelukmu seperti ini karena badanmu yang sudah tidak terlalu besar dan keras," ucap Jane dengan gummy smilenya.
"Haruskah aku kembali rutin berolahraga?"
"Terserah hubby saja, senyamannya dan seinginnya hubby mau bagaimana."
"Oh begitu."
Keesokan harinya sesuai dengan janjinya kemarin, Liam saat ini sedang berjalan di mall dan hendak menemui Jane yang katanya sedang berada di dekat toko susu. Namun sebelum itu Ace sudah dititipkan di tempat ibu mertuanya agar mereka bisa berduaan di mall.
"Hubby," panggil Jane melambaikan tangan.
"Sudah lama?"
"Belum terlalu, ini susu coklat kesukaanmu sebagai ganti yang waktu itu."
"Makasih. Tumben sekali hari ini dandanannya sedikit berbeda, mmm lebih cantik dari biasanya."
"Pasti dong, kan aku ingin pergi berkencan dengan suamimu yang tampan hehe."
"Siapa suamimu?"
Jane lalu menunjuk perut Liam.
__ADS_1
"Ini suamiku yang paling tampan."
"Oh begitu, aku kira ada yang lain."
"Suamiku hanya kamu saja kok," ucap Jane memeluk lengan Liam.
"Pergi sekarang?"
"Okay."
"Jujur aku sedikit nerveous untuk masuk ke dalam sana, masalahnya aku belum pernah masuk ke tempat seperti itu."
"Santai saja hehe."
Sesampainya disana Jane langsung membawa Liam untuk melihat - lihat.
"Bagus yang ini atau yang ini?"
"Dua - duanya bagus, beli saja keduanya."
"Hmm baiklah, kalau yang ini?"
"Jelek, bagus yang dua itu perpaduan antara cute dan sexy."
"Okay."
30 menit kemudian.
"Habis ini mau kemana hubby?"
"Terserah kamu saja."
"Kamu sudah makan?"
Liam menggeleng.
"Belum."
"Kalau begitu mari kita makan, sepertinya steak yang disana kelihatannya sangat lezat."
"Boleh."
"Ada telepon, sebentar ya?"
Melihat Jane yang kerepotan, Liam langsung mengambil kedua paperbag itu dan membawakannya.
"Sini aku bawakan saja."
"Oh terima kasih hubby."
"Siapa yang menghubungimu?"
"Mommy."
"Oh, mungkin mengenai Ace."
"Bisa jadi, semoga saja dia tidak nakal."
__ADS_1
"Ya sudah dijawab."