
Hari demi hari Ace lalu bersama orang tuanya yang lengkap, alias dia sudah bisa bermain dengan daddy nya juga seperti semua temannya. Saat ini Ace sedang berguling - guling di atas ranjang utama milik kedua orang tuanya yang sangat luas, seluas harapan orang tua. Ace lalu turun dari atas ranjang tersebut secara perlahan agar tidak terjatuh, dan setelah itu dia mengambil sebuah remote multifungsi.
Ditekannya tombol yang berlogo televisi di remote tersebut, maka seketika televisi yang berada di kamar langsung menyala. Kemudian kursor di televisi tersebut menekan sebuah logo N yang bewarna hitam merah, dan setelah itu Ace mencari film kartun kesukaannya yaitu sajangnim bread. Sebuah film yang menceritakan tentang seorang roti yang berprofesi sebagai tukang cukur serta perubah penampilan sebuah roti.
Sejak di Korea Selatan dia memang sangat menyukai film kartun tersebut, apalagi itu berseri layaknya sebuah sinetron namun dengan alur berbeda - beda di setiap episodenya. Ace memanggil sajangnim bread karena Ace selalu menontonnya dengan dubbing Korea, dan mereka memanggilnya dengan sajangnim. Mungkin kalau menonton dengan Liam barulah subtitle Indonesianya dinyalakan, karena ayahnya itu tidak terlalu paham dengan bahasanya.
Ace lalu menekan kembali remote tersebut, dan dia membuka gorden jendela kamar. Ace memang sudah pandai menggunakan remote tersebut serta mengoperasikan perangkat canggih di rumahnya, setelah dia melihat ayahnya.
"Daddy dan eomma kemana ya?" tanyanya dalam hati ketika kedua orang tuanya tidak kunjung datang ke kamar.
Ace lalu menghampiri telepon rumah yang terletak di atas meja, dan mulai menghubungi ruang tengah.
"Halo daddy," ucapnya sesaat setelah telepon dijawab.
"Kenapa Ace?" tanya Liam dari seberang telepon.
"Daddy dan eomma dimana?"
"Daddy dan eomma sedang berbincang sebentar, nanti kalau sudah selesai baru kami menghampirimu di kamar."
"Nee dad, ya sudah aku mau menonton sajangnim bread."
"Eh kamu menyalakan televisi sendiri?"
"Nee."
"Oh begitu, jangan nakal di atas ataupun mengacak - ngacak kamar daddy!"
"Nee dad, aku hanya menonton sajangnim bread saja kok."
"Kamu menonton sajangnim bread saja dan jangan coba - coba menonton yang lain apalagi membuka history tontonan kami berdua."
"Nee."
*Disisi lain.*
"Besok Minggu Ibra berulang tahun, kamu ingin memberikan kado apa untuknya?" tanya Liam meminum teh hijau buatan mesin seharga 5 jutaan.
"Terserah kamu, bagusnya apa kira - kira? maklum aku sudah lama tidak memberi kado kepada anak kecil."
"Dahulu kamu tidak memberikan kado kepada anakmu sendiri ya berarti?"
"Ah kalau itu kan aku membiarkannya dia memilih sendiri apa yang dia inginkan."
"Hmm."
"Jadi, rencananya kamu akan memberikan apa hubby?" tanya Jane bersandar di bahu Liam.
"Alat tulis dan mainan, aku akan berencana untuk memberikan itu lalu bagaimana denganmu?" tanya Liam mulai menjaga jarak dengan Jane.
"Aku akan ikut denganmu saja hubby, mmm bagaimana kalau kita jadi satu saja hadiahnya?" tanyanya memberikan saran.
"Aku tidak enak dengan Ricko jika aku melakukan hal tersebut, maka lebih baik kita masing - masing saja."
"Aku harap kamu juga tidak akan mengatakan hal tersebut mengenai hubungan kita berdua," gumam Jane dalam hati."
"Aku setelah ini akan pergi bersama teman, jadi jangan menungguku pulang."
__ADS_1
"Eh kenapa harus sekarang hubby? ini sudah malam."
"Memang aku sempat perginya malam hari karena saat pagi sampai sore aku kan pergi bekerja."
"Oh begitu."
"Ya sudah aku akan pergi berpamitan dengan Ace terlebih dahulu," ucapnya melenggang pergi.
Liam kemudian berjalan pergi ke kamarnya untuk bersiap - siap serta berpamitan kepada putranya sebelum dia pergi.
"Daddy!!" teriak Ace dari ata ranjangnya.
"Sedang menonton sajangnim bread ya?"
Ace mengangguk.
"Nee dad."
Liam duduk di sebelah Ace.
"Daddy setelah ini mau pergi."
Ace lalu menatap sendu wajah Liam.
"Daddy mau kemana? jangan pergi!! huwaa!!"
Liam lalu menggendong Ace.
"Sebentar saja, daddy mau pergi bertemu dengan teman - teman daddy."
"Huwaa!! tidak mau, daddy tidak boleh pergi!"
"Takut daddy tidak kembali seperti dulu."
"Daddy kan hanya pergi sebentar, lalu setelah urusan daddy selesai baru pulang."
"Daddy pasti bohong!! Ace sudah janji tidak akan nakal lagi, jadi daddy jangan pergi!"
Jane lalu menghampiri mereka berdua.
"Ace biarkan daddy pergi menemui temannya ya sayang," ucap Jane yang hendak menggendong Ace namun Ace memeluk Liam dengan sangat erat.
Ace menggeleng.
"Aniyo, daddy nanti pasti tidak akan pulang!!"
"Sayang, daddy pasti pulang kok kan hanya sebentar saja."
"Tidak mau!! daddy huwaa!!"
"Bagaimana kalau aku mengajaknya saja Jane?"
"Eh memangnya tidak merepotkanmu? Ace nanti pasti tidak mau diam jika diajak ke suatu tempat."
"Tidak apa - apa, daripada aku tidak jadi pergi."
"Ya sudah, jangan pulang kemalaman ya?"
__ADS_1
"Iya."
Ace langsung tersenyum tipis saat mengetahui bahwa ayahnya akan mengajaknya pergi. Liam lalu bersiap - siap, sedangkan Jane membantu Ace berganti baju yang lebih hangat agar tidak sakit terkena angin malam. Setelah itu barulah Liam pergi dengan mengendarai mobilnya bersama Ace, padahal niatnya tadi pergi ke cafe mengendarai motor namun karena Ace ikut akhirnya dia mengurungkan niatnya itu.
Liam takut jika nanti Ace akan kembali sakit jika terkena angin malam. Sesampainya disana Liam langsung menggendong Ace masuk ke dalam cafe, dan justru malah berpapasan dengan Ricko yang juga sedang menggendong anaknya. Mereka berdua justru langsung tertawa menertawakan satu sama lain.
"Lah bawa ekor juga kamu Li?" tanya Ricko yang masih tertawa.
Liam semakin tertawa terbahak - bahak.
"Hahaha pastilah, apalagi tadi sudah ada drama sebelum pergi."
"Oh ya sama saja, sekarang dia tidak mau ditinggal selain bekerja."
"Lah sama dong hahaha. Kamu mau pulang?"
"Tidak, Ibra sedang ingin pergi ke kamar mandi."
"Oh begitu."
"Papa cepat! aku sudah ingin mengompol."
"Iya sabar."
Ricko lalu pergi ke kamar mandi, sedangkan Liam pergi ke kasir untuk memesan makanan dan minuman. Setelah itu mereka berdua duduk di meja yang sudah ditempati oleh teman - temannya.
"Hai Ace," sapa Dio dan Chicko.
"Hai om."
"Pasti Ace menangis ingin ikut kamu ya Li?" tanya Dio.
"Ya begitulah jika sudah menjadi seorang bapak."
"Hahaha semua itu dinikmati saja, nanti kalau Ace sudah sibuk dengan urusannya sendiri pasti kamu merasa rindu."
"Benar juga sih."
"Sniff, daddy ini milikku?" tanya Ace yang melihat waiters datang menghampiri meja mereka.
"Iya."
"Aku boleh memankannya?"
"Boleh, mau daddy suapi?"
Ace mengangguk.
"Mau."
Liam lalu menyuapi Ace sedikit demi sedikit.
"Dia sedang rewel karena baru saja sakit."
"Eh Ace baru saja sakit, sakit apa memangnya?" tanya Chicko.
"Sakit panas biasa dan setelah dibelikan sepeda besoknya langsung sembuh."
__ADS_1
"Hahaha begitu rupanya."