
Tidak lama kemudian Jane datang menghampiri kedua saudara kembar itu sembari menggendong Ace yang sudah terlihat semakin tampan karena sudah mandi. Setelah itu Ace beralih digendong oleh Liam dan dia langsung mencium rambut anaknya yang wangi karena sehabis keramas. Liam sangat sayang sekali dengan Ace, karena dahulu dia sudah menantikan kehadiran Ace selama 1 tahun lebih.
Mereka berdua dahulu belum punya anak setelah 1 tahun menikah bukan karena ada sesuatu yang membuatnya sulit mendapatkan anak, akan tetapi karena Liam menuruti keinginan Jane yang ingin menunda memiliki anak setelah menikah. Jane melakukan hal tersebut bukan tanpa alasan, melaikan dia ingin mempelajari beberapa cara parenting sekaligus mempersiapkan mentalnya terlebih dahulu. Jane paham jika tugas menjadi seorang ibu tidaklah mudah, jadi dia ingin belajar dan lain sebagainya agar kelak anaknya menjadi seperti yang diharapkan.
Liam dari dulu sangatlah ingin sekali memiliki seorang anak meskipun dahulu dia berniat ingin melajang seumur hidupnya, dan keinginannya itu timbul saat dia sering mengurus Seojun bersama Jane. Namun dia tidak bisa memaksa Jane untuk menuruti keinginannya, dan alhasil dia hanya bisa diam sampai menunggu Jane siap memiliki anak. Pernah waktu itu Liam beberapa kali mencoba membuatnya terlihat seperti kecelakaan agar dia bisa mempunyai anak, akan tetapi ternyata Jane selalu selangkah lebih maju darinya.
Jadi Liam baru bisa memiliki seorang anak setelah menunggu satu tahun lebih, dan saat proses persalinan Liam malah diminta memilih antara istrinya ataukah anaknya. Saat itu seketika perasaan Liam menjadi sangat hancur namun untungnya Tuhan berkehendak lain, karena dua - duanya selamat tanpa kekurangan suatu apapun.
"Daddy kenapa kerjanya lama sekali?" tanya Ace yang duduk di pangkuan Liam.
"Daddy kan bekerja dari pagi sampai sore.'
"Sorenya sampai jam berapa?"
"Jam 4 sayang."
"Oh begitu. Dad, aku ingin ice cream."
"Ice cream apa?"
"Yang seperti kemarin."
"Baiklah, nanti kita beli ice cream."
"Yeayy beli ice cream!!" teriak Ace bersorak gembira.
"Sekarang kamu terlihat sangat sayang sekali dengannya, sebagai kembaranmu aku tidak menyangka jika ternyata kamu bisa bersikap seperti ini."
"Masalahnya dari dulu aku sangat ingin mempunyai anak sendiri, masa begitu saja tidak paham."
"Paham sih, tapi bukankah dari dulu kamu tidak ingin menikah dan justru ingin melajang sumur hidupmu?"
"Benar, tapi semakin lama keinginanku itu berubah apalagi setelah menikah. Orang bodoh mana yang tidak menginginkan seorang anak setelah menikah dengan orang yang dicintainya, apalagi dari rahim wanita yang dicintainya?"
"Ucapanmu benar juga sih hahaha, sekarang sepertinya ada yang tambah dewasa pemikirannya."
"Hahaha tidak juga, terkadang aku juga masih berfikiran seperti anak kecil."
"Namun lebih mendingan sekarang sih daripada yang dulu. Sekarang diam saja disini dan jangan pergi meninggalkan keluarga kecilmu lagi, aku sebagai kakakmu tidak suka jika kamu seperti itu lagi."
"Iya Lian, lagipula dulu aku meninggalkan mereka juga karena terpaksa."
"Itulah salah satu hal jelek dari Liam yang sangat aku benci, yaitu selalu memendam apapun yang dia rasakan. Padahal aku sebagai istrimu juga akan mengerti jika kamu membicarakannya kepadaku, eh malah ditinggalkan begitu saja."
Lian tertawa.
"Benar tuh, lagipula kamu ini juga apa - apaan bersikap seperti itu!"
"Aku hanya tidak ingin merepotkan kamu saja Jane," ucap Liam.
"Kalau dari awal kamu jujur denganku kan kita bisa mencari solusinya secara bersama - sama, dan bukannya dengan cara seperti ini sayang."
"Iya maaf."
__ADS_1
"Aku pulang!!" teriak Rosie sembari membawa dua box pizza.
"Wah apa itu yang kamu bawa?" tanya Lian penasaran.
"Aku membawa pizza untuk dimakan bersama - sama."
"Haisa dasar anak ini, bisa - bisa kita semua akan terkena masalah."
"Memangnya kenapa Liam?"
"Mommy sudah memasak banyak untuk makan malam," jawab Liam merasa takut.
"Ihh kenapa kamu tidak bilang kepadaku?" tanya Rosie yang juga ikut merasa takut.
"Aku juga tidak menyangka jika kamu akan membeli pizza."
"Wah aunty Rosie membeli pizza!" teriak Ace.
Seketika Liam langsung membungkam mulut Ace.
"Ssstt jangan berteriak, kita semua harus merahasiakan ini."
"Kenapa dad?" tanya Ace penasaran.
"Nanti kamu tidak jadi makan pizza jika kamu berteriak mengucapkannya, karena nanti monster pizza akan mengambilnya dari kita semua."
"Oh begitu," jawab Ace yang percaya dengan ucapan Liam.
"Sudah sembunyikan saja pizza itu sebelum mommy mengetahuinya!" perintah Lian.
"Anak - anak mommy, ayo makan malam bersama."
"Baik mom," ucap mereka serempak.
"Lho Rosie belum pulang?"
"Dia sedang mandi di kamarnya mom," jawab Lian.
"Oh begitu, ya sudah ayo semuanya makan malam dulu."
"Ace tidak boleh makan malam ya grandmom?" tanya Ace sedih.
"Eh boleh dong sayang, memangnya kenapa tidak boleh makan malam?"
"Ace kan cucu grandmom, bukan anaknya grandmom."
Seketika semua orang langsung tertawa kecil mendengar pernyataan Ace.
"Dikatakan benar juga tidak namun dikatakan salah juga tidak," ucap Liam.
"Bukan begitu, maksud grandmom semua anggota keluarga mommy."
"Oh begitu, jadi Ace boleh ikut makan malam?"
__ADS_1
"Tentu boleh dong, sini grandmom gendong."
"Nee."
Mereka semua langsung makan malam bersama. Mrs Robinson sudah memasak banyak sekali makanan untuk menyambut kepulangan Liam, sekalian untuk semakin merekatkan keharmonisan keluarga mereka yang hampir merenggang. Selesai makan malam mereka semua berkumpul di ruang tengah untuk menonton film bersama sembari menemani Ace bermain. Rosie merasa sedih karena pizza yang dia beli sudah dingin, jadi Liam langsung mengambil pizza itu untuk dipanaskan kembali secara diam - diam. Setelah dirasa cukup Liam lalu meletakkannya di atas meja untuk dimakan bersama.
"Jadi bagaimana Liam?" tanya Mr Robinson.
"Bagaimana apanya dad?"
"Liam katanya sudah berencana untuk membuatkan Ace adik," ucap Lian tertawa.
"Hei aku tidak berkata seperti itu, lagipula Ace masih kecil jadi belum pantas untuk dibuatkan seorang adik."
"Tapi planning kedepannya ada kan?"
"Hmm tidak tahu, tanya saja dengan Jane."
"Eh tidak tahu," jawab Jane.
"Eomma aku ingin itu," ucap Ace menunjuk ke arah pizza.
"Iya ini eomma ambilkan."
"Ace itu anaknya sangat pintar sekali," ucap Mr Robinson.
"Benar mom," jawab Liam.
"Daddy kapan beli ice creamnya?"
"Astaga daddy lupa, besok saja ya?"
"Tidak mau, maunya sekarang!"
"Sana belikan dulu Liam," ucap Mr Robinson.
"Baik dad."
Lian lalu pergi membelikan Ace ice cream, dan beberapa menit kemudian Ace sudah memegang ice cream tersebut dengan perasaan bahagia.
"Enak ice creamnya?" tanya Mr Robinson.
"Sangat enak grandpa Jo."
"Habiskan dan nanti kalau kurang tambah lagi punya grandpa Jo," ucapnya mengusap rambut Ace.
"Memangnya boleh?" tanya Ace ragu.
"Boleh dong."
Ace menoleh ke arah Jane.
"Tapi grandpa Jo..."
__ADS_1
"Sudah nanti biar grandpa Jo yang memarahi eomma jika kamu dimarahi olehnya."
"Nee."