
Dua Minggu berlalu. Rendy dengan marahnya melempar semua barang-barang yang ada di kantornya setelah mendengar keputusan sang papah mertua yang memindahkannya ke cabang perusahaan karena Dito mengetahui aliran dana yang ia selewengkan ke rekening pribadinya.
Tanto yang ada bersama dengannya hanya terdiam melihat kegusaran Rendy. Dengan cepat ia merapihkan setiap dokumen yang berserakan setelah melihat Rendy sedikit mereda.
Rendy berdiri di dekat jendela sambil menatap ke bawah gedung. Matanya memerah dan tangannya tak henti-hentinya mengacak-acak rambutnya yang sekarang berantakan.
"Semua ini gara-gara Kahfi yang mulai ikut campur dengan urusan gue. Mana mungkin mertua gue tau tentang masa lalu gue dengan Kia kalau bukan ponakannya itu buka mulut. Gue harus buat perhitungan sama itu orang biar tau siapa Rendy yang dia hadapi." Tangannya mengepal seraya memukul-mukul kaca jendela.
Tanto diam sambil mencerna perkataan sang bos. Ia tau Rendy pasti akan melakukan sesuatu yang bisa memuaskan hatinya untuk membalas ketidak sukanya hari ini.
Rendy pergi meninggalkan ruangan dengan cepat di ikuti Tanto. Seketika ia terdiam ketika di lihatnya sang istri yang sudah pulang dari luar negri tanpa memberi tahu dia.
Sonya menarik tangan Rendy untuk masuk ke dalam lift. Tanto melirik sekilas perlakuan Sonya.
Rendy hendak memeluk Sonya namun Sonya menolaknya dengan memajukan tangannya ke wajah Rendy.
Pintu lift terbuka ketika mereka susah sampai di lantai dasar. Rendy menarik tangan Sonya dengan kasar ke arah parkiran mobil. Sambil memerintahkan Tanto untuk pergi terlebih dulu.
Sonya mencoba berontak. "Gak usah kasar begini, aku gak suka!" ucap Sonya menarik paksa tangannya.
"Aku tau apa yang kamu lakukan di belakangku?" Rendy memasukan Sonya ke mobil dengan paksa. "Pa yang membuatmu cepat pulang?" sorot mata Rendy tajam hingga membuat Sonya tak berani menatapnya.
"Apa pedulimu, selama ini dirimu hanya peduli dengan harta orangtua ku, bukan aku ?" Sonya dengan tegas menantang Rendy
Rendy tertawa dengan puas. Setelah melepaskan tangan Sonya. Ia menyalakan mesin mobil. Dengan kecepatan ia meninggalkan gedung tersebut. Sonya menatap dengan sinis ke arah rendy.
"Diaman kau menyembunyikan **** anak kita!" Ucap Sonya melirik ke arah rendy
"Apa pedulimu dengan anak itu, kau hanya mencari kesenangan diri sendiri tanpa memikirkan dia. Sekarang kau pura-pura peduli terhadapnya setelah beberapa bulan kau pergi dengan bajingan itu." Rendy mengemudi dengan brutal. Hingga membuat Sonya ketakutan dan menutup matanya dengan kedua tangannya.
"Aku belum ingin mati konyol, Rendy!" Teriaknya ketika mobil Rendy hampir menabrak pembatas jalan
"Hahaha, aku pikir kau tak takut mati! Karena ketika kau pergi dengan pria itu kau sama sekali berperasaan dengan membohongi kami semua bahwa kau pergi ke negara A untuk pemotretan dan audisi palsu yang kau rencanakan." Rendy masih mengemudi dengan kecepatan tinggi.
"Aku... aku minta maaf untuk semua itu. Mari kita perbaiki kesalahan itu dengan baik. Aku janji akan menjadi istri dan ibu yang baik asal kau tidak membicarakan hal itu kepada papah dan mamah!"
"Apa kau yakin?" Mobil Rendy terhenti ketika ia sudah sampai di sebuah rumah sang mertua.
Sonya tidak sadar kalau Rendy membawanya ke rumah kedua orangtuanya. Ia tak tau apa yang harus ia lakukan ketika orangtuanya tahu kalau ia sudah kembali sebelum waktu yang telah ia katakan kepada orangtuanya.
Rendy bersikap biasa-biasa saja ketika masuk ke dalam rumah sambil menggandeng tangan Sonya. Lalu keduanya masuk dan melepas kerinduan kepada sang putra.
***
Di tempat yang berbeda. Semua calon mahasiswa baru telah berkumpul di aula universitas M. Dengan senyum sumringah Kia mengikuti setiap kegiatan sebagai calon mahasiswa baru. Kia tampak cantik hari ini dengan stelan rok berwarna pastel dengan kerudung hitam instannya. Tak ada yang tahu kalau Kia adalah istri Kahfi. Hanya bebrapa rekan dosen Kahfi yang akrab dengan Kahfi yang mengetahuinya.
Nama Kia di panggil karena hari ini Kia sedikit telat mengikuti kegiatan. Ketua senat menjejerkan orang-orang yang telat di depan calon mahasiswa dan bebrapa dosen yang ikut terlibat menjadi penyelenggara begitu juga Kahfi.
Ketua senat bernama Bima menghitung orang-orang yang ada di depan sambil menyebutkan nama-nama pada nametag yang mereka gunakan. Semua yang telat diperintahkan menyanyikan lagu balonku yang diganti dengan huruf O pada setiap huruf U. Semuanya bernyanyi dengan lantang terkecuali Kia yang tidak bisa mengeluarkan suara lantangnya seperti teman-temannya yang lain karena suara Kia seperti tidak terdengar. Hingga akhirnya Bima memintanya untuk mengulang sendirian dengan menggunakan mix.
Dengan gugup Kia memegang mix tersebut. Matanya tertuju pada pria berkacamata yang sedang melihatnya dari gedung lantai dua.
Kahfi diam namun dalam hatinya ia merasa kasihan kepada sang istri karena ia tau Kia tidak bisa bersuara keras karena akan membuat suaranya serak bila ia memaksakan. Kia masih terdiam menatap Kahfi. Sampai suara Bima mengagetkannya.
"Hei, kenapa malah bengong. Hayokk mulai menyanyikan. Apa perlu saya yang menegangkan mix nya untuk anda.!" Ucap sang ketua senat hingga membuat semua mahasiswi meneriaki Kia dengan gemuruh.
Kia menyanyikan lagu balonku dengan suaranya yang hampir habis sampai lagu itu selesai. Kia hendak melangkah kembali ke barisannya semula. Namun Bima menyodorkan sebotol air mineral kepadanya hingga semua para wanita berteriak dengan kencang. Karena Bima merupakan mahasiswa yang paling diidolakan oleh para mahasiswi di kampus. Bukan hanya parasnya yang tampan saja namun ia juga adalah sang mahasiswa dengan segudang prestasi.
__ADS_1
"Saya memberikan air untuknya karena rasa keprikemanusiaan karena ia tidak bisa berteriak hingga membuat suaranya hampir hilang, kasian kan cantik-cantik tapi nanti pas ditanya namanya tidak bisa bersuara ." Bima menjelaskan mengapa ia memberikan air minum kepada Kia.
Di lantai dua ada seseorang yang menahan rasa cemburu karena ada lelaki lain memuji kecantikan sang istri di depan banyak orang. Kahfi melangkah ke ruangannya. Sambil mondar mandir ia merasa gemas dengan tindakan Bima di depan semua orang .
***
Kegiatanpun terjeda dengan waktunya istirahat karna setengah jam lagi akan memasuki waktu sholat Dzuhur.
Kia hendak menuju ke toilet. Namun dua orang wanita dengan sengaja memajukan kakinya ketika Kia lewat dihadapanya. Kia terjatuh hingga botol yang ia pegang berguling ke arah teman yang mebuat Kia jatuh.
Dua wanita itu adalah Tasya dan Maya. Kakak kelas yang ditakuti mahasiswi karena ia terobsesi dengan Bima sang bintang di universitas M. Seseorang datang membantu Kia untuk bangun.
"Jangan mentang-mentang kakak kelas bisa menindas mahasiswa baru, ya!" Ucap wanita berjilbab navy kepada Maya dan Tasya.
"Heh, siapa elo yang mau ikut campur sama urusan gue, hah!"
"Saya tidak melakukan apa-apa kepada kalian!" dengan suara sedikit serak Kia mencoba untuk bertanya kepada dua wanita tersebut.
"Inget loe ya, Nakia. Bima itu milik gue jangan sekali-kali elo deket-deket dan menggoda dia. Tau elo!" Ucap Tasya sambil menoyor ke lengan Kia dengan telunjuknya.
Keduanya meninggalkan Kia setelah ia memperingati Kia tentang Bima.
Gadis berjilbab navy itu bernama Anya. Anya memperkenalkan diri kepada Kia. Kia pun memperkenalkan namanya.
Selsai dengan urusannya di toilet Kia dan Anya menuju kantin. Banyak mahasiswa dan para dosen yang sedang makan siang.
Kahfi melihat kedatangan Kia dengan teman barunya. Ia mengirim pesan singkat kepada Kia agar duduk dengannya. Namun Kia menolak karena ia tidak mau orang-orang berfikiran kalau ia mendekati dosen. Karena orang-orang belum tahu kalau dia dan Kahfi adalah suami istri. Kahfi menghela nafas dengan pelan.
Kia dan Anya duduk bersebrangan dengan Bima. Dimana Bima dengan beberapa temannya sedang makan mie ayam.
Bima diam-diam memperhatikan Kia, yang sedang asik mengobrol dengan Anya.
Kahfi melihat ke arah meja Kia. Dan mengirim pesan hati yang patah dua. Kia membalas dengan icon orang bingung.
Kahfi membalas "Nanti mas perhitungkan ketika sudah sampai di rumah"
Kia membalas dengan tanda tanya besar. Anya yang melihat Kia sibuk membalas chat hingga senyum-senyum sendiri.
"Kayanya lagi ngebales chat dari pacar ya, Kia. Seru banget!" Ucap Anya yang menyedot es teh manis di hadapannya.
Sekilas Bima mendengar ucapan Anya. Hingga salam hatinya bergumam. "Ternyata dia sudah punya pacar! Hemm... tapi gak ada kata terlambat buat usaha!"
Bima terenyum kepada Kia ketika Kia melihat Kahfi yang sudah menghilang dari hadapannya. yang kebetulan Kahfi duduk di belakang meja Bima.
Kia dan Anya sudah selesai dan hendak menuju ke masjid yang ada di dalam universitas M. yang tak jauh dari arah kantin. Diikuti Bima dan dua temannya (Rangga dan Fajar) yang mengikuti Kia dari belakang.
"Kalau gak salah tadi kamu yang sempet kehilangan suara ya? Ucap Bima basa basi.
Kia mengangguk tanpa memandang orang yang berbicara padanya. Langkah kaki Kia dipercepat karena sudah terdengar suara khomat Anya pun mengejar langkah Kia.
Sedikit berteriak Bima ingin mengenal Kia lebih dekat.
***
Mobil Kahfi berada di ujung gerbang pintu keluar. Sambil menunggu sang istri yang belum kelihatan batang hidungnya ia mencoba menelponnya.
Batrai hp Kia habis karena semalam ia lupa mencargernya. Kahfi kehilangan kesabaran karena sudah hampir setengah sejam ia menunggu Kia di mobil. Pikirannya melanglang buana karena takut Kia digoda oleh Bima atau mahasiswa lainnya. Hingga ia memutuskan untuk turun mencari Kia ke dalam gedung. Baru saja Kahfi hendak membuka pintu mobilnya Kia susah datang.
__ADS_1
Kia masuk ke dalam mobil. Mencium tangan Kahfi dan Kahfi mencium kening Kia.
Seseorang melihat Kia masuk ke dalam mobil. Baru saja ia hendak mengajak Kia untuk ikut dengannya ternyata Kia sudah di jemput. Bima mengira ia dijemput oleh kakaknya. Bima tidak begitu hafal dengan flat nomer Kahfi. jadi dia tidak mengetahui bahwa Kia bersama dengan Kahfi.
"Yang udah jadi idola ketua senat. Kayanya seneng bener nih!" Ucap Kahfi yang melirik pada Kia.
"Apa sih, mas. Kayanya dek mencium wangi-wangi cemburu nih!" Ledek Kia duduk sedikit menyamping ke arah Kahfi.
"Ya lah cemburu. Siapa juga yang rela istrinya di puji cantik di depan semua orang!" Kahfi yang mengemudi sambil memegang tangan Kia dan menciumnya.
"Ya kan dek juga gak tau kalau Bima langsung bilang gitu. Kan siapa juga gak bisa mencegah hal-hal yang diluar dugaan, sayang. Ucap Kia yang mencium sekilas pipi Kahfi.
"Kurang, pipi sebelah sini belum!"
"Fokus aja dulu berkendaranya biar selamat dan cepat sampe rumah. Kalau sudah sampe rumah tar dek kasih deh." Ucap Kia yang mulai menguap karena ngatuk.
****
Malam pukul 8 Kia sedang berkeliling dunia di medsosnya. Di lihatnya satu permintaan pertemanan baru dari pengguna bernama Bima Wicaksono. Di lihatnya foto profil tersebut untuk memastikan apakah ia mengenalnya. Jari telunjuknya mengetuk foto tersebut dilihatnya wajah Bima sang ketua senat.
Perlahan Kahfi mendekat ketika melihat sang istri yang bermain hp di ruang tengah. Sambil mengendap-ngendap Kahfi melihat sang istri sedang melihat foto di media sosialnya. Dengan cepat ia duduk disebelah Kia. "Hemmm... mulai kepo kan dengan media sosialnya. Lama-lama tar cari tahu terus dan chatingan. Sudah banyak kejadian seperti itu dalam rumah tangga." Ucap Kahfi sambil menyilang kan kedua tangannya ke dada.
"Gak, mas. Dek cuma liat siapa orang yang minta pertemanan dengan, dek. Kan di hati dek cuma ada mas Kahfi yang tampan, yang baik hati dan pengertian." Kia menolak pertemanan tersebut. Lalu memperlihatkannya kepada Kahfi.
Kahfi tersenyum dan memeluk Kia dengan satu tangan dan menciumnya. "Dek harus bisa jaga jarak ya dengan laki-laki yang ingin deket sama, dek. Dan inget jangan pernah memberi cela kepada laki-laki, ya sayang."
Kia mendongak dan tersenyum. "Gak akan, mas. Lihat nih cincin pernikahan gak dek lepas kan?" Ucap Kia yang bersandar pada bahu Kahfi.
Kahfi mencium jari jemari Kia yang terdapat cincin pernikahan mereka. Di hatinya ia hanya bisa merasakan kehangatan dan rasa sayang penuh cinta kepada Kia. Karena hanya Kia wanita yang membuatnya jatuh hati pada pandangan pertama walau banyak wanita yang pernah ingin berta'aruf dengannya waktu itu.
"Mas!" Kia memutar-mutar kancing baju milik Kahfi.
"Kenapa, sayang?" Kahfi membelai kepala Kia yang tanpa hijab.
"Kalau sementara waktu kita tinggal di rumah ibu dulu gimana, mas. Selama dek mengikuti masa orientasi mahasiswa baru!" Saran Kia ketika merasakan kelelahan hari ini.
"Hemmm... sabar aja ya sayang. Nanti mas pikirkan lagi. Karena urusan mas disini masih ada beberapa yang belum terselesaikan. Mas janji insyaa Allah gak lama lagi kita akan menempati rumah baru." Ucap Kahfi keceplosan .
"Apa, rumah baru?" Jawab Kia terkejut dengan perkataan Kahfi karena ia sama sekali belum tahu mengenai rumah baru mereka.
"Hemmm... keceplosan deh. Mas sudah membeli rumah yang pernah Brayen tawarkan tapi rumah itu masih tahap renopasi karena mas mau rumah itu di sesuai dengan keinginan, dek? Ucap Kahfi yang akhirnya tidak bisa menutupi rencananya kepada Kia.
"Oohh gitu ya, pantes aja waktu itu mas minta dek buat sketsa rumah impian, dek. Terus nunjukin foto-foto rumah yang sesuai keinginan, dek. jadi maksudnya ini, ya?" Kia pura-pura marah.
Kahfi menangkupkan kedua tangannya ke pipi Kia dan menjelaskan alasan mengapa ia menyembunyikannya kepada sang istri.
Dengan cepat Kia membelakangi Kahfi mencoba aktingnya dengan baik.
Kahfi masih mencoba membujuk Kia agar mengerti akan maksud nya melakukkan hal demikian kepada nya. Kahfi merangkul Kia dari belakang, sambil terus meminta maaf kepada nya. "Jangan marah gini doang, sayang!"
Kia merasa kasihan kepada sang suami hingga akhirnya ia menyudahi kepura-puraanya. "Terimakasih ya suamiku, sayang!" Dek gak marah kok justru dek sangat bersyukur memiliki suami yang sangat pengertian dan perhatian dan sebaik, mas Kahfi!" Kia mencium Kahfi.
Kahfi merasa sudah dikerjai sang istri dengan sikap Kia yang drastis memaafkannya. Kahfi mengkelitiki Kia sampai Kia tertawa geli. "Awwww .. ampun... ampun, mas!"
"Rasain ya pembalasan mas. Ini akibatnya kalau istri ngerjain suaminya, yang udah serius-serius." tangan Kahfi tidak berhenti mengkelitiki Kia sampai akhirnya ia berada di atas Kia sambil menatap wajah sang istri yang membuatnya tak pernah bosan.
Suara riuh itu terhenti ketika keduanya saling menatap dengan begitu dekat. Kahfi mencium bibir Kia dengan cepat dan bangkit dari tubuh Kia, ketika suara dering panggilan telpon.
__ADS_1