Diakah Jodoh Pilihan Allah?

Diakah Jodoh Pilihan Allah?
77. Siapa?


__ADS_3

Pagi hari Kia sudah sibuk membuatkan bubur untuk sang suami tercinta yang masih sakit. Dirasa bubur yang ia masak sudah matang Kia segera menyiapkannya dan membawanya ke kamar. Pintu kamar yang masih terbuka lebar membuat Kia tidak terlalu kerepotan untuk membawa apa yang sudah ia siapakan untuk sang suami.


Dering dari arah telepon Kahfi terdengar begitu nayring namun tidak membuat sang empu terbangun dari tidurnya. Kia yang baru meletakan semangkuk bubur, air dan obat obatan di atas meja. Seketika meraih benda pipih itu dan dilihatnya id dari Paman Dito.


"Wa'alaikum salam, paman?


Mohon maaf paman sepertinya mas Kahfi belum bisa ke kantor paman hari ini, karena ia sedang sakit. Ucap Kia menerima telepon yang ia terima dari pamamanya Kahafi.


Bebrapa menit ia berbicara pada pamannya Kahfi seketika ia letakan kembali benda tersebut di atas nakas.


"Sayang, telepon dari siapa? Tanya Kahfi dengan ciri khas suara orang yang baru bangun tidur.


"Maaf. Tadi dek mau bangunin mas, tapi dek.gak.mau ganggu istirahat mas jadi dek berinisiatif mengangkatnya. Maaf ya, mas.


Ucap Kia yang kini sudah duduk di tepian tempat tidur mendekati Kahfi. Wajahnya sedikit menunduk karena rasa tak enak hati telah lancang menerima telepon sang suami.


"Sayanggg. Gak apa apa, malah mas sangat berterima kasih karena dek sudah berinisiatif untuk mengangkatnya. Terimakasih ya, sayang!" Ucap Kahfi mengulas senyum dan mengelus lembut tangan sang istri tercinta.


"Sama sama, mas!" Jawabnya sambil hendak menyuapi bubur kepada Kahfi.


Sambil menikmati suapan demi suapan dari sang istri, Kahafi menanyakan hal apa yang dibicarakan pamannl Dito kepada Kia. Habis sudah bubur yang sudah Kia berikan kepada sang suami tercinta. Selang beberpa menit Kia memberikan obat yang biasa Kahfi minum setiap ia mengalami demam seperti ini. Kahfi begitu bersyukur memiliki istri yang begitu telaten dalam merawatnya. Biasanya kalau ia sakit Yazid yang sering menemaninya dan kadang kadang ia merawat dirinya sendiri.


"Sayangnya mas gak ngajar hari ini?" Tanya Kahfi yang hendak turun dari tempat tidur.


"Dek sudah minta tolong Feby untuk menggantikannya. Masa sumi sakit dek tetap ngajar. Apa kata netizen nanti?"

__ADS_1


Jawabnya sambil menyentuh hidung Kahfi. Seketika Kahfi meraih tangak Kia hingga membuat Kia membualatkan matanya karena wajahnya kini tepat ada di dekat Kahfi, hingga hidung keduanya bertemu. Pandangan keduanya tidak bisa di elakan lagi. Kia yang terdiam mematung melihat dengan jelas indah bola mata sang saumi, dengan bulu mata yang sedikit lentik, hidung yang mancung dan alis yang hitam snagat tebal.


"Kenapa menantap mas sampe segitunya? wajah mas jelek ya kalau lagi sakit?" Tanya Kahfi sambil merapihkan anak rambut Kia dan tangan yang kanan mencoba menahan badan snag istri.


Sedikit menggelengkan kepalanya, Kia menjawab pertanyaan sang suami. Baginya Kahfi begitu tampan walau dalam keadaan sakitpun. Hal tersebut membuat Kahfi semakin gemas dengan istri kecilnya.


"Benarkah? jadi dek mengakui dong kalau suami dek ini sangat tampan?" Ucap Kahfi semakin menggoda


"Masss. Ihhh lagi sakit juga sempet sempetnya menggoda istrinya. Ucap Kia yang tersadar akan perkataan sang suami.


"Loh. Emangnya gal boleh mas kaya gini. Justru kalau lagi sakit kaya gini, hal ini akan jadi moodbosternya mas. Apalagi sambil cium ini,


ini,


ini,


"Ya sudah kalau begitu."


Tak di duga Kia langsung mengabulkan permintaan sang suami. Kahfi kaget dan sangat senang ternyata sang istri begitu penurut. Dengan sedikit kejailannya Kahfi sedikit melamakan ciuman pada bibir ranum Kia dengan mengahan tengkuk leher Kia dari belakang.


"Massss...!


Sudah cukup ya!


Seketika Kiaendorong pelan tubuh Kia. Dari balik pintu luar terdengar seseorang sudah mngetuk pintu namun tak terdengar orang tersebut mengucapkan salam.

__ADS_1


"Sayang, sepertinya ada yang datang!" Ucap Kahfi sambil duduk mundur dari hadapan Kia.


"Sebentar ya, mas. Dek lihat dulu siapa yang datang!" Ucap Kia sambil meraih jilbab instannya Kia pun menuju pintu depan rumah.


Sambil terus bertanya tanya dalam hati siapa orang yang datang ke rumahnya tanpa mengucapkan salam Kia sedikit mempercepat langkah kakinya. Tangan Kia seketika meraih hendel pintu di bukakannya pintu tersebut yang terlihat seorang pria berdiiri membelakanganinya. Kia seolah tidak asing dengan postur tubuh pria tersebut. Sedikit memberanikan diri Kia mengucapkan salam dan bertanya pada pria tersebut namun tangannya belum melepaskan hendel pintu yang ia pegang.


"Maaf mau cari siapa ya, pak?" Ucap Kia pelan. Namun orang tersebut belum juga menoleh ke arah suara Kia.


Kia mencoba sekali lagi.


"Maaf bapak cari siapa? Ucap Kia dengan suara agak sedikit lantang.


Seketika pria tersebut tersadar dari lamunannya dan menoleh ke arah suara Kia.


"Kia. Maaf pagi pagi aku sudah bertamu." Ucapnya sambil mencoba mendekat kepada Kia dan mengukurkan tangannya.


"Kak Rendy, ada perlu apa datang kesini? Ucap Kia sedikit gugup.


Dari dalam Kahfi sedikit berteriak bertanya kepada Kia.


"Sayang, siapa yang datang?"


"Kebetulan aku sedang ada urusan kantoe di daerah sini. Dan papah mertuaku menyuruh aku untuk mengambil berkas yang ada di mas Kahfi. Jadi... Kata kata Rendy terhenti seketika karena Kahfi datang menghampiri mereka. Karena teriakannya tak digubris oleh Kia karena Kia terlalu kaget akan kedatangan Rendy ke rumahnya.


"Ooh Pak Rendy. Silahkan duduk!" Ucapnya pelan sambil meraih tangan sang istri karena ia melihat Kia sedikit pucat. Kahfi bisa tau akan suasana hati sang istri yang pasti ada sedikit rasa takut kepada Rendy karena Kia pernah bercerita tentang apa yang pernah Rendy lakukan kepada Kia waktu itu.

__ADS_1


__ADS_2