
Kia menatap Huda. Sepertinya dia tau apa yang ingin dikatakan Huda dari sikapnya. Laki-laki itu sedikit lebih pendiam dari adiknya Prama, jadi kelihatan sekali ketika rasa gugup menyelimuti dirinya.
Perlahan Kia mulai angkat bicara dengan nada rendah. Ia mencoba menetralkan situasi agar tidak menegangkan dari pria yang ada di hadapnnya.
"Apa yang ingin mas Huda sampaikan kepadaku?" Tanya Kia, saat orang yang ada di hadapan Kia yang telah melepas sedotan dari mulut yang habis melegakan tengorokannya.
"Maaf, bila mas Huda membuatmu tak nyaman dengan bertemu di tempat seperti ini!" ucapnya sedikit menundukan kepalanya agar tak menatap mata Kia yang sudah menanti pembicaraan yang akan di bahasnya.
"Katakanlah, mas! Karena, Tari gak bisa menemaniku lebih lama!" desak Kia kepada Huda yang seperti orang bingung.
"Apa yang akan kamu lakukan setelah berhenti dari sini?" Tanyanya
Kia mencoba memberi tahu akan niatnya kepada Huda.
"Kia akan tinggal bersama nenek di daerah x, setidaknya Kia bisa memulai kehidupan yang baru tanpa di bayang-bayangi masalaku yang selalu menyesakan dada ini." ucap Kia yang berusaha untuk tidak terlihat sedih di hadapan calon kak ipar tidak jadi itu.
Sedikit menggeserkan bobot tubuhnya yang merasa tak nyaman dengan posisi duduknya Huda menatap ke arah Kia.
"Apakah hal itu bisa membuatmu melupakan adikku?" Ucap Huda seolah ingin mencari lebih informasi yang akan Kia sampaikan kepadanya.
"Kia tau, Kia takan bisa melupakan kak Prama sampai kapanpun, tapi setidaknya Kia bisa menata hati ini walau, butuh waktu lama untuk semua itu." Jawab Kia sambil memegang jari-jemari Tari yang ada di sampingnya. Dan Tari mencoba mengelus punggung tangan Kia seolah memberikan ketenangan dalam hati Kia.
"Sebesar itukah cintamu pada adikku?
Tanya Huda kepada Kia yang membuat diri Kia sontak kaget dengan pertanyaan Huda.
Kia mencoba untuk mengatur nafas dan menjawab pertanyaan dari Huda, tanpa menunjukan ekspresi sedihnya.
" Bila aku tidak mencintainya, tidak mungkin aku merasa sangat kehilangannya, mas?"
"Aku tau itu, Kia" tapi tidak kah kau ingat sebenarnya almarhumah mamahku pernah memintamu untukku?
Pertanyaan Huda membuat Kia semakin tak mengerti apa yang dimaksud dengan Huda mengungkit permintaan almarhumah bu Meta. Rasanya ia ingin marah namun, ada sedikit rasa yang mengganjal hatinya selama ini. Haruskah dia menunaikan permintaan bu Meta sewaktu hidupnya? sedangkan Kia baru saja merasa kehilangan akan laki-laki yang ia sangat cintai.
Tari yang sedari tadi hanya diam menyimak pembicaraan mereka berdua akhirnya angkat bicara, karena melihat raut wajah Kia yang sudah menahan sesak di dadanya.
"Maaf, maaf kan saya. Bila saya ikut campur dalam masalah kalian berdua. " Maaf Pak Huda, anda seharuanya bisa membahas ini ketika hati Kia sudah benar-benar tentram dan tidak merasakan kesedihannya!" Saya sebagai seorang wanita bisa merasakan apa yang Kia rasakan. "Tidak 'kah anda lihat, Kia yang sekarang?, dia menjadi sedih kembali ketika bapak melontarkan pertanyaan itu!" ucap Tari yang berdiri tegas memandang Huda yang seolah tak suka dengan perkataan Tari.
"Saya tau, Tari." Memang belum pantas saya menanyakan hal ini kepada Kia dalam kondisi seperti ini. Tapi tak ada kesempatan bagi saya untuk mempertanyakan masalah ini kepadanya! apa lagi sebentar lagi, dia akan meninggalkan kota ini dan akan tinggal jauh di daerah yang saya tidak tau sama sekali. Tandasnya menjelaskan isi hati yang selama ini menyelimutinya.
__ADS_1
Kia terdiam dengan mata yang sudah dibasahi bulir bening di matanya. Ia mengusap pelan air mata itu dengan tisu yang ada di meja.
" Aku tak pernah lupa akan perkataan bu Meta kepadaku" tapi harus kah aku memenuhi permintaanya, dikala akupun tak tau anak laki-laki yang ingin beliau kenalkan kepadaku? Ucapnya dengan kebingungan dengan situasi ini.
"Kia, jujur aku menyukaimu ketika mamah menceritakan tentang dirimu kepadaku" walau aku belum pernah melihat wajahmu karena ketika itu, aku berniat menyelesaikan kuliahku hingga selesai, dan akan pulang segera menemuimu. Namun, ketika aku sudah pulang dan selesai dari kuliahku, aku harus menerima kenyataan bahwa adiku sudah melamarmu terlebih dahulu. Jelasnya tanpa menatap Kia yang sudah banjir dengan air mata.
Tari mengelus pungung belakang Kia dengan lembut seolah menenangkan Kia yang terisak.
Deg ...
Kia seolah kaget dengan pernyataan Huda yang sudah menyukainya sedari awal. Dan mencoba untuk menjelaskan kepada Huda.
" Kia tidak pernah tau sekenario yang Allah berikan untuk Kia, mas!" Ketika itu Kia pun belum tau kalau kak Prama itu anak dari bu Meta, seperti yang pernah Kia beritahu ketika itu. Bu Meta sama sekali belum pernah memperlihatkan foto-foto dari Mas Huda ataupun kak Prama. Ucap Kia menjelaskan.
"Lalu apakah salah, bila hari ini aku meminta kamu memenuhi permintaan dari mamahku? karena, jujur aku merasa kecewa ketika melihatmu dan Prama bertunangan di pesta itu. " Berikan 'lah aku sedikit ruang di hatimu, Kia. Agar aku bisa menyembuhkan rasa kehilangan itu, dan mencoba untuk memperbaiki hatimu, Kia. Ucap Huda yang semakin memelankan ucapannya dengan penuh harapan.
Gemuruh di hati Kia semakin keras dari permintaan yang Huda berikan kepadanya. "Hatiku tak semudah itu, untuk bisa menerima lelaki lain!" Walaupun, laki-laki itu kakak dari seorang laki-laki yang sangat aku cintai.
"Berikan aku kesempatan Kia!" agar aku bisa menggantikan adikku di hatimu!" Walau, aku tau, itu takkan mudah untukmu."
Aku baru merasakan namanya 'jatuh cinta' ketika sekian lamanya aku tak pernah perduli dengan wanita-wanita yang selalu mengejar diriku.
Dan aku tak pernah ambil pusing akan pilihan mamah yang membuatku merasa tertarik dengan dirimu, setiap kali mamah menelponku ketika itu. Aku semakin jatuh cinta ketika aku melihat wanita seperti apa dirimu, ketika ku lihat dirimu di pesta perayaan perusahaan kala itu. Dan aku tak pernah menyangka akan kenyataan yang sering mamah katakan kepadaku tentang kepribadianmu, Kia." ucap Huda yang kini berdiri menatap pemandangan dari dalam kantin kantor tersebut.
"Pak Huda, sebaiknya memberikan kesempatan kepada Kia agar ia bisa memahami semua ini? Kita tidak pernah tau akan rencana Allah, mungkin di kedepan nanti, bapak bisa menemukan wanita yang lebih baik dari Kia. Tidak semua permintaan orangtua bapak, bisa bapak penuhi walau kini beliau sudah tak ada di dunia ini. Terkecuali bila itu permintaan terakhir sewaktu hayatnya. Ucap Tari mencari jalan tengah untuk masalah dan perdebatan masalah hati ini.
Huda yang mendengar akan perkataan Tari seolah memahami betapa egois hatinya yang memita Kia untuk memenuhi permintaan mendiang mamahnya kala itu.
Ia mencoba untuk duduk kembali pada kursi yang beberapa menit ia tinggalkan, dan meminum sisa jus yang ada di hadapannya.
" Mas biarkalah mentari bersinar di
pagi hari, tanpa harus meminta hujan yang turun untuk membasahi tanah yang sudah lembab."
Ketika Allah meridhoi kita bisa bersama, Dia (Allah) akan mempermudah semuanya agar kita bisa bersama. Namun, bila Allah belum meridhoi itu, Kia yakin mas Huda pasti akan mendapatkan jodoh yang terbaik yang telah Allah persiapkan untuk menemani hidup mas Huda. Ucap Kia yang menatap laki-laki yang tertunduk diam dengan ucapannya, yang mungkin sulit untuk menerima itu.
"Tapi, Kia___"
Ucap Huda yang di potong oleh Kia.
__ADS_1
"Izinkan dan ridhoi Kia untuk bisa menata hati dan kehidupan Kia, yang mengkihlaskan kepergian kak Prama. Agar suatu saat nanti bila Allah berkehendak mas Huda berjodoh dengan Kia, hati Kia sudah bisa menerima cinta mas Huda untuk Kia!" namun, bila sebaliknya, bila Allah mempertmukan jodoh Kia dengan orang lain maka mas Huda harus mengikhlaskan Kia dengan pria yang sudah Allah pilihkan untuk Kia ya, mas?"
"Baiklah, mas Huda akan mencoba untuk semua ini!" Walau mas Huda sedikit merasakan kecewa akan penolakanmu secara halus ini. Jawabnya dengan wajah sedikit masam.
" Ini namanya bukan peolakan mas Huda!" namun Kia tidak mau memberikan harapan palsu untuk mas Huda. Tandas Kia agar Huda memahami yang ia sampaikan.
Tari yang seolah semakin ruet dengan dua insan ini, ia mencoba bangkit untuk meninggalkan mereka berdua. Karena ia sudah melihat jam di tanganya menunjukan pukul 2 siang.
"Kia, aku masuk ke kantor ya!" aku sudah korupsi waktu 1 jam untuk menemani kalian. jadi kalau aku kena teguran dari pak Handoko, aku akan beritahu kalau ini semua karena pak Huda dan Kamu. Ucap
Tari memasang wajah marahnya dan mengerucutkan bibirnya. Padahal ia sengaja hanya mengerjai Kia karena sebelumnya dia sudah minta izin kepada Sasa sang asisten kepercayaan pak Handoko.
" Ia ... ia maaf" Tapi aku kan sudah berhenti dari kantor ini, jadi nanti kau nanti minta tanggung jawabanya sama mas Huda saja, ya!" Ucap Kia mencoba memberi senyum kepada calon kakak iparnya.
Tari yang melihat espresi Kia, hatinya merasa lega, karena Kia tidak lagi terlalu bersedih. Huda yang menyadari itu, ia hanya bersyukur karena Kia selalu dikelilingi orang-orang yang baik di dekatnya.
"Tenang saja, saya akan bertanggung jawab bila kamu di tegur oleh Pak Handoko, kok." ucap Huda yang memberikan wajah tanpa ekspresi kepada kedua wanita berhijab lebar yang ada di hadapannya.
"Baiklah." jaga Kia dan jangan bapak buat adik saya ini menangis! Ucapnya sambil menepuk bahu kiri Kia.
Tari pun beranjak dari duduknya dan berjalan menuju lift yang akan mengatarkannya ke lantai 2 tempat kerjanya.
"Kia, boleh mas Huda mengantarkanmu pulang?" tanya Huda menatap mata Kia meminta persetujuan dari wanita yang berhijab warna pink tersebut.
.
.
.
.
**Bersambung
\=(-.-)\= Maaf ya sudah 2 hari aku gak up, karena aku sedang kurang vit jadi agak pusing kalau mau ngetik. Aku pikir kalian akan mencariku dan bertanya-tanya, tapi ternyata gak. hiks... hiks
Tapi hari ini aku akan tetap up kok, buat kalian yang menunggu kelanjutan cinta Nakia alias Kia.
Terimakasih untuk kalain yang setia kasih komen, like & votenya dari karyaku yang abal-abalan ini**. \=( ~ )\=
__ADS_1