Diakah Jodoh Pilihan Allah?

Diakah Jodoh Pilihan Allah?
62. Di Dalam Kamar


__ADS_3

Brak ...


Brak ...


Suara puntu terbuka dengan lebarnya. Seketika hal itu membuat Kia dan Kahfi tersentak karena kaget mendengar suara pintu yang terbating dengan kencangnya. Setelah mereka berdua melihat siapa yang datang dengan mengagetkanya dua pasangan pengatin baru itupun mengulas senyum manis kepada seseorang yang sudah berdiri di depan pintu. Dengan senyum bahagia dan seikat bunga ditanganya ia mendekat ke tempa Kahfi dan Kia berada seraya memberikan seikat bunga yang ia ambil dari ke bebun.


Hos ... Hos ... Suara buangan napas yang kelelahan mengejar sang gadis kecil yang telah memaksakan diri untuk berlari menemui Kia dan Kahfi yang sedang beristirahat.


" Maaf ... Maaf, Kania sudah saya larang untuk ke sini tapi dia memaksakan diri" ucapnya ketika melihat Kahfi yang duduk di di dekat Kia sambil menatapnya aneh.


" Seharunya aku yang menjadi pendamping kak Kahfi, bukan kamu Kia?" gumamnya dalam hati.


" Kakak cantik dan kakak tampan ... Kania bahagia sekali akhirnya Kania bisa melihat kakak tampan dan kakak cantik bagaikan sepasang pangeran dan putri seperti di dongeng-dongeng!" ucapnya tanpa rasa berdosa seraya memeluk Kia yang masih dalam posisi duduknya.


Dengan cepat Kia menerima pelukan kecil Kania dengan kecupan hangat di kedua pipinya.


Dora yang sedari tadi mematung melihat pemandangan yang ada di depannya kini berdiri memunggungi pintu kamar Kia. Kahfi yang menyadari itu menyuruhnya untuk masuk karena dia pikir Dora akan mengucapkan kata selamat kepada Kia.


" Kania, kakak ke luar ya? karena bebrapa menit lagi waktu dzuhur akan tiba!" terima kasih untuk bunga dan do'anya, ya!" ucap Kahfi seraya mengusap lembut kepala Kania yang di balut hijab berwarna pink dengan gamis model gaun yang sangat indah.


" Kakak tampan mengapa meninggalkan putri cantiknya? Sholat saja di sini tidak perlu ke luar, Kania hanya sebentar kok menemui putri cantik!" jawbanya sambil memegang tangan Kahfi seraya menatap wajah Kia yang masih memberikan senyum kepada gadis kecil itu.


" Tidak sayang, kakak tidak meninggalkan kak Aulia kok! Kakak hanya mau ke masjid dan kewajiban setiap laki-laki adalah sholat di mesjid kecuali ada hal mendesak yang membuatnya harus sholat di rumah, ya sayang!"


" Baiklah jangan lama-lama ya kakak, tampan!" ucap Kania yang di ikuti anggukan kepala oleh Kahfi.


" Dek, mas ke mesjid dulu ya!". Kamu juga jangan lupa sholat!" ucap Kahfi sambil menatap Kia.


" Kebetulan dari kemarin Kia sedang halangan, mas!" ucapnya pelan.


Kaki Kahfi melangkah ke luar yang masih lengkap mengenakan jas berwarna hitam nya melewati Dora yang masih setia menunggu Kania yang ada di dalam kamar Kia.


🌻🌻🌻


Yazid, Razi yang ada di luar melihat Kahfi yang berada di dekat mereka dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Dengan sengaja Yazid datang menghampiri ketika melihat wajah Kahfi sudah basah dengan air.


" Widihhh ... Mas bro! Masih siang udah tancap gas aja. Seger bener nih keliatannya! Goda Yazid yang berpikir Kahfi habis mandi.


" Apaan si antum!" jangan berpikiran yang engak-enggak deh. Ana itu habis wudhu." Yukk kita ke mesjid beberapa menit lagi akan masuk waktu dzuhur!" jawab Kahfi sambil menarik tangan Yazid.


" Gak sholat di kamar aja, akh!" tanya Razi.


" Gak, Zi!" ane sholat di mesjid aja lebih leluasa kebetulan ada Kania juga di dalam."


" Ya udah kita sama-sama aja ke mesjid biar lebih enak pakai motor jadi lebih cepat sampai ke masjid! Saran Razi.


💕💕💕


Jam menunjukan pukul 2 siang tamu-tamu udanganpun sudah datang memenuhi tenda yang terhampar luas. Sebuah mobil dengan merek ternama telah terpakir dengan mulusnya. Dua pria menurunkan kakinya seraya membawa kotak besar yang ada di tangannya.

__ADS_1


Pak Hasbi yang mengetahui siapa yang datang segera menghampiri dua pria tersebut dengan senyum yang begitu mengembang. Dengan ucapan salam dari keduanya mereka saling berpelukan menandakan kerinduan yang sudah lama tak bersua dengan pria paruh baya yang kini semakin mengurus. Selesai memeluknya kini pak Hasbi memeluk pria berwajah cool dengan baju batik yang terkesan mewah namun sederhana.


" Alhamdulillah, nak Huda sampai juga ke sini!" ucap pak Hasbi mengawali percakapan.


" Alhamdulillah, om!" Selamat ya om, akhirnya Kia menemukan pria pengganti dari adik saya yang mungkin lebih baik darinya dan dapat memberikan kebahagiaan dalam hidup Kia!" ucapnya lirih.


" Aamiin, aamiin. Semoga nak Hudapun segera mendapatkan pendamping hidup yang sholihah, ya!" ucap Pak Hasbi seraya menyuruh Huda dan pak Prayoga untuk duduk beristirhat sambil menikmati hidangan yang tersedia.


" Huda menghampiri Kia, dulu ya om!" nanti Huda akan menemui om kembali!"


" Silahkan ... Silahkan ...!"


Dengan langkah kaki yang sedikit berat dan mengatur suasana di hatinya, Huda naik ke pelaminan untuk mengucapkan kata selamat kepada Kahfi dan Kia wanita yang gagal ia persunting.


Kia yang menyadari keberadaan Huda yang mulai mendekat ke pelaminannya. Seketika matanya menatap wajah pria yang selalu mengutarkan isi hatinya kepadanya. Ia melihat Huda lebih terlihat kurus namun ada sedikit semangat pada wajahnya tidak seperti terakir ia melihat Huda sebelumnya.


" Selamat ya bro" semoga kalian selalu bahagia sampai akhir hayat dan saya titip Kia jangan pernah anda sakiti hatinya apalagi membuatnya menangis!" bisik Huda pada telinga Kahfi.


Dengan sedikit terkejut Kahfi menyambutnya dengan hangat dan memelukan pada pria yang tubuhnya sedikit lebih tinggi dari tubuhnya beberapa centi. Hingga tangan kiri Kahfi memegang erat tangan Kia yang ada di sebelahnya. Kia yang terkejut akan hal itu ia hanya menoleh sedikit pada kedua pria yang sudah melepaskan pelukannya.


" Inshaa Allah, semoga Allah memberikan jodoh yang terbaik untuk anda juga pak Huda!" ucap Kahfi yang tak melepaskan pegangan tanganya kepada Kia, seolah tau bahwa pria yang ada di hadapanya ini masih menaruh hati pada wanita yang kini resmi menjadi istrinya.


Dengan menelungkupkan ke dua tangan di dadanya Huda seolah terbiasa dengan hal itu karena Kia pasti akan melakukan hal yang sama.


" Selamat ya Kia, akhirnya kamu bersanding dengan pria pilihan Allah berkat kesabaranmu dalam menghadapi setiap ujian dalam hidupmu selama ini!" ucap Huda dengan sedikit nada beratnya menahan sesak di dadanya ketika menatap paras cantik Kia dengan hiasan mahkota kecil di atas kepalanya.


Kahfi yang melihat istri dan pria yang ada di hadapanya seketika melepas gengaman tangannya kepada Kia. Ia tau bagaimana rasanya mengucapkan kata-kata yang ke luar dari mulut Kia yang ia rasa tak mudah menlontrkannya di hadapan sang suami yang kini ada di sebelahnya . Kia yang menyadari Kahfi melepaskan tangannya seketika ia meraih tangan yang tadi sudah memberikan energi yang kuat hingga ia dapat berucap kepada Huda dengan mudahnya.


Kini Huda turun dari taman pengantin itu, ia mencoba mendongakan wajahnya ke atas berharap air matanya tak tumpah di hadapan semua orang. Ketika ia berjalan tak sengaja ia menyenggol minuman yang sedang di pegang oleh Brayen yang sedang asik mengobrol dengan Ulan dan juga Naura.


Bruk ...


" Asih ... Basah deh bajuku!" ucapnya setengah berteriak.


Huda yang tak sadar dirinya telah menyenggol tubuh Brayen dengan cepat ia menoleh asal suara yang sudah ia hafal sekali.


" Brayen?" ucapnya kaget.


" Mas Huda!" kapan mas Huda sampai sini? Akhirnya calon kakak ipar gak jadi datang ke acara nikahan Kia!" celetuk Brayen yang tak sadar akan perubahan wajah Huda.


Naura dan Ulan yang sadar akan wajah Huda yang sedikit mendingin memainkan kaki mereka dengan menginjak kaki Brayen yang beralaskan sepatu hitam yang sedikit mengkilap.


" Awww ... !" kalian ini kenapa sih menginjak kakiku! Sakit tau! Teriaknya kesakitan.


Ulan dan Naura hanya menyengir kuda ke arah Hudan dan Brayen. Berharap kakaknya sadar akan perkata yang baru saja Brayen lontrkan sudah mengusik hati Huda yang sedang bersedih.


Dengan menarik baju batik Brayen, Ulan sedikit menjauhkan Brayen dari sisi Huda dan mengatakan maksud dari injakan kakinya dan Naura terhadap pria yang kini resmi menjadi kekasih Ulan dalam beberapa bulan yang lalu.


Huda yang di temani Naura berbincang-bincang seketika mengulas senyum di wajahnya. Entah ia merasa Naura sosok yang bisa menghibur hatinya yang saat ini sedang tidak bersahabat. Ulan serta Brayen yang menyadari keakraban adiknya dengan sang pemilik perusahaan. Menatap dan berpikir nya aneh. Karena yang bisa membuat huda tersenyum selama ini hanyalah Kia dan mengapa Huda begitu kelihatan akrab dengan adiknya yang disangkanya mereka jarang sekali bertemu selain ketika kejadian di waktu itu.

__ADS_1


💕💕💕💕


Pestapun selesai sebagian orang sudah pulang ke rumah masing-masing begitu juga dengan Huda dan pak Prayoga yang langsung menuju hotel untuk beristirahat.


Di ruang tamu masih banyak yang berkumpul seperti Ulan, Brayen, Naura, Razi, Rahma dan Yazid. Mereka terlihat sangat akrab walau baru pertama kali bertemu. Sesekali mereka tertawa dengan lantangnya mendengar lelucon yang ke luar dari mulut Yazid dan Brayen yang cocok sekali kedua laki-laki itu dalam melawak dan mengocok perut orang-orang yang ada di ruangan tersebut.


💕💕💕


Kia dan Kahfi masih di dalam kamar melepas lelahnya hanya terdiam ketika mereka berdua di dekatkan pada posisi yang tubuh mereka merasa lengket karena beberapa jam berdiri menyambut tamu yang datang.


" Mas, mandi duluan ya dek!" rasanya lengket mengenakan baju ini walau hanya beberapa jam!" ucap Kahfi yang melihat keraguan Kia hendak melepas pernak pernik yang ada di kepalanya.


" Ya! mas duluan saja kebetulan abah membuatkan kamar mandi di dalam kamar ini bebebrapa minggu lalu!" ucap Kia sambil menunjukan kamar mandi yang setengahnya tertutup gorden hiasan kamar pengantin.


" Mas tidak tahu kalau di dalam kamar ini ada kamar mandi, jadi mas tadi ke kamar mandi yang dekat dapur!" ucap Kahfi yang mengurungkan niatnya karena melihat Kia yang kesulitan melepas mahkota yang ada di kepalanya karena begitu banyaknya jarum pentul yang tersembunyi.


" Kalau kesulitan jangan malu untuk meminta bantuan suami!" ucap Kahfi yang bangkit dari duduknya di tepi tempat tidur.


Kia yang sadar akan sindiran dari Kahfi hanya terdiam malu.


" Kia hanya tidak mau menyuruh mas untuk pertama kalinya kita baru saja resmi menjadi suami istri, masa istri sudah menyuruh-nyuruh!" ucapnya yang merasa gugup ketika tubuh Kahfi mulai mendekat dengannya.


" Sini mas bantu untuk melepaskanya satu persatu!" gunanya suami dan istri itu adalah saling membantu kesulitan pasangan." ucap Kahfi yang dengan telaten melepas mahkota yang ada di kepala Kia.


Dengan tatapan hangat Kia menatap wajah pria yang kini sudah menajdi suaminya di balik cermin. Kahfi yang sadar dirinya dipandang dari pantulan cermin kini membalikan tubuh Kia agar menghadap padanya. Perlahan tubuh Kia kini dekat dengan tubuh Kahfi yang kini kedua mata mereka sudah menatap mata masing-masing dengan tatapan yang sulit diartikan.


Jantung keduanya semakin berdegup kencang aliran darah yang mengalir begitu cepat mengalir dengan hangat di tubuh masing-masing. Perlahan Kahfi meletakan tanganya di atas ubun-ubun Kia seraya berdo'a untuk kebaikan masing-masing dalam mengarungi bahtera rumahtangga dan akhlak serta kepribadian yang di miliki dari keduanya.


Kia semakin tak karuan jantungnya berdegup semakin kencang ketika ia mulai memejamkan matanya dan sebuah kecupan lembut melesat di keningnya dari bibir Kahfi.


Cup ...


Bersamaan dengan itu bulir bening mengalir dari kedua mata Kia. Hatinya bahagia bercampur sedih ketika mendengar do'a yang diucapkan Kahfi serta ciuman hangat yang ia rasakan dari pria yang belum lama ia kenalnya. Kahfi yang selesai dengan ritualnya ia menatap Kia dengan sedikit keheranan dan mengusap lembut air mata Kia yang sudah membasahi kedua pipinya.


" Kenapa! Kok menangis?" tanyanya lembut.


Kia hanya menjawab dengan gelengan kepala dan meraih tangan Kahfi seraya mencium pungung tangan kahfi dengan begitu lama dan lembut.


.


.


.


.


.


Bersambung-----

__ADS_1


__ADS_2