Diakah Jodoh Pilihan Allah?

Diakah Jodoh Pilihan Allah?
94. Mounera


__ADS_3

Keseokan hari.


Kia yang sedang asyik menggendong Momo (anak dari Abang Razi dan Tari) hingga tertawa hal itu membuat Kia dan Kahfi kegirangan karena Momo sudah bisa merespon apa yang diucapkan Kia, dengan suaranya yang dibuat menirukan suara anak kecil oleh Kia. "Liat mas anak bayi lucu ya walau belum ada gigi senyumnya tetap membuat gemes." Kia yang mencoba memberikan Momo ke hadapan Kahfi.


Kahfi menggelengkan kepala karena belum terbiasa untuk menggendong anak bayi. "Mas belum berani, dek. Takut dede Mounera nya nanti jatuh." Kahfi menyentuh tangan mungil Momo dan menciumnya. Tiba-tiba seseorang angkat suara ketika mendengar Kahfi.


"Justru itu antum harus belajar untuk menggendong bayi, siapa tahu kan kabar bahagia itu datang." Razi yang sekarang ikut gabung dengan mereka bertiga sambil mengajak anakknya berbicara di gendongan Kia. "Kenapa om Kahfi gak mau gendong Dede ya, takut jatuh katanya." dengan memanggut-manggutkan kepalanya Razi mengajak Momo berbicara dan Momo merespon dengan tertawa lebar.


"Aamiin" jawab Kia dan Kahfi bersamaan. Mata Kia berkedip mengisyarkan kepada Kahfi untuk mencobanya. Kahfi mencoba dengan sedikit kikuk dan pada akhirnya Kia memberikan Momo dengan perlahan ke tangan Kahfi. Momo yang d sedang aktif-aktifnya meraih kacamata yang Kahhfi gunakan dan membuat kacamata itu akan terlepas dari hidungnya.


"Dek, dek. Tanggan dedek Momo coba liat. Kahfi yang berusaha untuk tetap tenang namun Momo malah tertawa dengan senangnya ketika tanganya mendapatkan kacamata Kahfi. Kia langsung mendekat ke arah tangan Momo dan dengan cepat Momo melempar kacamata Kahfi kelantai sehingga kaca matanya pecah dan patah.


Semua mata tertuju pada suara bantingan kacamata yang di lakukan tangan mungil Momo. Kahfi dan Kia hanya tersenyum melihat kelakuan Momo. "Yaa ampun anaknya abi Razi pinter banget nih." Kia mencium tangan mungil Momo yang tadi melempar kacamata Kahfi. Lalu mengambil serpihan-serpihan kaca dengan sapi kecil yang sudah di berikan Bu Aisyah.


"Yaa ampun dedek. Kok kacamata om Kahfi dibikin rusak sih sayang" Tari yang sudah membawa MPAsi untuk Momo.


Kia langsung mengambil Momo dari tangan Kahfi ketika melihat sang kakak ipar meletakan makanan yang akan di santap Momo di kursi bayi. "Gak apa-apa ummi, nanti om Kahfi bisa beli lagi kacamata yang baru pakai uang Abi!" ledek Kia yang kini membarikan Momo kepada Tari. Momo terenyum melihat muka Tari dan antusias dengan makanan yang sudah tersedia dikursi bayinya.


"Om Kahfi bisa beli sendiri ya, dek Momo. Kalau uang Abi buat beli popok dedek Momo, aunti." Razi menoyor tangan Kia dengan telunjuknya dan mensejajarkan tubuhnya di hadapan Momo dan Tari. Tari yang menyuapi dan Razi yang mengajak bicara Momo agar mulutnya terbuka ketika Tari memasukan sendok demi sendok makanan ke mulut Momo.


Kia dan Kahfi melihat pemandangan yang ada di hapannya dengan harapan semoga mereka bisa merasakan hal demikian. Kia mengelus perutnya yang datar dengan wajah sedikit sendu. Kahfi mendekat dan melihat apa yang dilihatnya barusan. "Semalam kan udah nyicil bikin adonan, dek. Sabar ya sayang." Bisik Kahfi sambil memegang kedua bahu Kia. Kia menoleh dan mencubit kecil perut Kahfi. Kahfi mengaduh pelan dan berjalan.


"Maaf ya om Kahfi baru gendong Momo. Dek Momo malah bikin kacamata om Kahfi pecah." ucap tari sambil terus menyuapi Momo.


Kia dan Kahfi berncana hari ini akan membeli sesuatu ke mall dan keduanya masuk ke kamar untuk berganti pakaian setelah menjawab ucapan dari Tari.


***


"Ibu, ayah, Kia dan mas Kahfi pamit ke mall Anggrek dulu ya!" Keduanya mencium tangan pak Hasbby dan Bu Aisyah. "Ibu atau ayah ada yang mau di titip tidak?" Kia yang mengekor di belakang Kahfi ketika Kahfi hendak menuju ke motor metik milik Rahma.


Rahma yang dari dalam kamar meneriaki Kia. "Kak bensinya tinggal sedikit. Sore Rahma lupa mau isi bensin!" Rahma langsung ke luar dan mengingatkan Kia untuk tidak lupa mampir ke toko cemilan yang ada di mall tersebut. Syukur-syukur dibelikan juga barang yang lainnya.


Kia hanya mengangkat jempolnya ke atas tanda setuju. Rahma beriyes ria dalam hati. Kia dan Kahfi pun berlalu dari hadapan mereka bertiga.


Bu Aisyah tersenyum sambil melambaikan tangan, dan mencubit tangan Rahma yang ada di sebelahnya. "Kebiasaan kalau kakakmu kemana-mana selalu titip cemilan oleh-oleh yang kakak mu belikan masih ada di lemari." Bu Aisyah masuk ke dalam dan Rahma mengekor.


"Gak apa-apa, Bu. Kan kak Kia juga jarang-jarang kesininya jadi gak setiap hari juga Rahma minta belikan." Rahma terkekeh sambil bergelayut ditangan Bu Aisyah.


***


Jam 11 siang.

__ADS_1


"Kak Tari hari ini jadi mau bawa dek Momo main ke rumah temannya aa Razi?" Rahma yang sedang mengunyel-ngunyel wajah Momo yang membuat Momo tertawa geli. "Yaahh, anteu kesepian doang. Aunti Kia pergi dan sekarang Momo juga mau OTW." Rahma memanyunkan mulutnya dan menempelkan kedua tangan Momo ke pipinya.


Razi yang baru masuk ke kamarnya dan mendengar celotehan sang adik Rahma langsung menoyor badan gimbal Rahma ke kasur. "Ante mau ikut? tapi ante harus jadi baby siter nya dek Momo ya!" ledek Razi mendekat kepada Momonya ditidurkan di atas kasur. "Biar abi sama umminya bisa pacaran dulu."


Tari mencubit perut Razi dan membuat Razi kaget dan kesakitan. " Ummi ya nih dek lagi kangen sama Abi dari tadi abinya di cubitin terus."


Rahma melihat aa dan kakak iparnya yang sedang bercanda romantis meninggalkan mereka berdua dan membawa Momo ke luar. "Ya sudah Momo gak usah ikut aja. Tinggal di rumah sama Rahma dan ibu di rumah ya, aa ?" Rahma berbicara menuju ke luar dan Razi menyetujui saran dari Rahma dengan mata berbinar


Dengan kedipan mata genit Razi kepada sang istri dan menutup pintu dengan rapat. " Mau ya sayang, hari ini kita kencan lagi. Kan pas ada Momo sayangnya aa fokus terus sama dedek Momo abinya di nomer dua kan!" Razi merangkul Tari yang sedang mempertimbangkan perkataan sang suami. Setelah berberpa detik Tari menyetujuinya.


Tinggal Rahma dan Bu Aisyah yang kini ada di rumah setelah Razi dan Tari berpamitan. Pak Hasbby yang kebetulan hari ini masih ada acara di luar.


Bu Aisyah memuji Rahma yang memberikan saran kepada kakak ipar dan abangnya agar mereka bisa berdua dan menjelaskan kepada Rahma. Bahwa setelah memiliki anak waktu berdua pasangan itu sedikit berkurang karena sebagai seorang ibu akan fokus memainkan perannya dan membagi waktu yang sama untuk pasangan itu tak mudah. Karena ketika ingin mengistirahatkan tubuh saja terkadang sulit mencari celah. Dari itu Bu Aisyah mengizinkan Razi dan Tari untuk menghabiskan hari ini berdua.


***


Di mall Anggrek. Kahfi masih memilih-milih frem untuk kacamata barunya. Kia menyarankan agar Kahfi memilih yang sedikit simpel. Setelah beberapa menit mereka berdua memutuskan untuk membeli frem yang berwana hitam. Pelayan apotik pun membuat nota dan membukusnya. Dengan cepat Kia mencegah sang pelayan. "Gak usah di masukan, mba. Kacamatanya mau langsung dipakai sama suami saya." Dengan lembut dan sopan Kia berbicara dan pelayan itupun tersenyum.


"Dek mau cari apa? Kahfi menggandeng tangan Kia. Kia menoleh sebentar lalu mengeratkan genggamannya sambil berjalan. "Apa dek mau cari makan dulu, habis itu kita cari musholah untuk sholat Dzuhur?"


Kia melangkah mundur sambil melihat ke arah Kahfi. "Dek belum terlalu lapar, kalau gitu kita sholat aja ya, mas!"


"Baiklah bidadari ku!" Kahfi dengan senang melihat wajah sang istri yang terus berseri-seri melukis senyum di hadapannya.


Kia menoleh dan tersenyum ketika menatap sang suami yang sudah ada di hadapannya. Kahfi memberikan tangannya dan mereka melangkah bersama.


"Mas!" Kia bergelayut di lengan Kahfi sedikit mendongakkan wajahnya.


"Ya. Kenapa, dek? Kahfi menyentuh hidung Kia dan mencium pucuk kepalanya.


"Dek lagi mau makan ramen yang pedes, boleh? Sambil menunjukan wajah memelasnya.


"Hemmm, gimana ya?" Dengan tangan yang Kahfi tempelkan ke dagunya berpura-pura berfikir. "Boleh sih tapi gak pedes-pedes amat ya, sayang!"


"Beneran, mas. Boleh!" Kia bergembira seraya hendak melompat-lompat. Dan kakinya sedikit berlari dan menarik tangan Kahfi menuju eskalator untuk menuju kelantai 4 di mall tersebut.


Kahfi terhuyung ke depan karena tarikan dari sang istri. "Pelan-pelan sayang, restorannya gak akan pindah kok."


"Bukan malah pindah, mas. Tapi kalau kelamaan nanti kita bisa ngantri."


Keduanya menuju tempat ramen yang diceritakan Rahma semalam. Kia antusias dan ketika sampai disana ada dua meja yang masih belum berpenghuni. Kia langsung menuju meja tersebut dengan cepat sang pelayan menyodorkan menu makanan. Dan ketika mereka sedang memilih menu makanan tiba-tiba seorang wanita datang menegur Kia.

__ADS_1


"Kiaaa." ucap Ulan sang sahabat lama yang tak lama tak bertemu semenjak hari pernikahannya dengan Brayen.


Kia terhenti. Matanya tertuju pada Ulan yang berdiri di dekat kursinya. Kia bangkit dan langsung memeluk Ulan dengan senyum yang mengembang. "Yaa ampun Ulan, aku kangen banget udah lama kita gak ketemu."


Kahfi menarikan satu kursi untuk Ulan. Dan mempersilahkan Brayen untuk ikut gabung bersama mereka.


Kahfi membuka pembicaraan ketika sang istri sedang asik bercuap-cuap dengan sahabat lamanya. "Gimana kabarnya, pak Brayen?" Kahfi menyalami.


"Alhamdulillah baik, ustadz." Balas Brayen yang sedikit canggung dipanggil bapak. "Panggil aja Brayen bair sedikit natural dan santai." celetuknya


"Baiklah. Kahfi tersenyum. Dan demikian juga dengan saya panggil saja Kahfi. Tinggal dimana sekarang, Yen?"


Pelayan menyodorkan kembali buku menu untuk Brayen. "Terimakasih, ucap Brayen ketika menerimanya. "Saya masih tinggal disini, kebetulan sebulan yang lalu baru menempati rumah di daerah timur kota B.


"Kalau ada lahan kosong di daerah sana bisa kasih info ke saya, Kahfi menyodorkan hp nya dan Brayen mengetik nomer lalu Kahfi menesavenya.


"Bukanya di desa lebih asri dan nyaman ya, dan mas Kahfi juga punya panti asuhan. Kenapa tertarik untuk tinggal di kota?"


Kahfi tersenyum dan sedikit memberikan alasan ingin tinggal di kota B, karena agar Kia dekat dengan orang tua dan saudara-saudaranya. Kahfi juga beralasan karena ia mengajar di Universitas kota tersebut.


Brayen memahami dan secepat mungkin akan memberikan informasi bila ada lokasi yang akan dijual.


Setelah dua pasangan itu berbicara dengan masing-masih pembahasan yang berbeda, makanan yang mereka pesan pun tiba. Kahfi menyodorkan pesanan yang dipesan Kia. Dan begitu juga Ulan menyodorkan makanan yang dipesan oleh sang suami.


Ulan melirik mangkuk yang ada di hadapan Kia. "Kia, aku gak salah liat? kamu bisa makan pedes-pedes gitu, gak takut lambung kamu kambuh? Sederet pertanyaan terlontar dari mulut Ulan. Karena yang dia tau sahabatnya itu tidak kuat dengan yang namanya rasa pedas tapi melihat mangkuk yang ada di hadan Kia membuat seribu pertanyaan di otak Ulan.


Kahfi melirik dan mencoba untuk mencicipi ramen pesanan Kia sebelum Kia memakannya. "Dek ini pedes bangat loh!" dek yakin?"


Kia menatap Kahfi dengan ekspresi sedikit ragu. "Dek coba dulu ya, mas. Kalau sekiranya pedasnya agak ekstrim, dek ganti level!" Satu suapan masuk ke mulut Kia. Dengan cepat tangannya mengambil segelas es lemon tea pesanannya.


"Bener kan kata Ulan, elo itu gak akan bisa makan pedes gitu, Kia. Dari SMP aja kalau lagi di kantin suka kena Prank sama Feby karena suka di jalilin cabe hantu di kuah bakso elo." Sambil memakan Brayen mengingatkan kejadian ketika mereka di bangku SMP dulu.


Kahfi mengganti makuknya dengan mangkuk Kia. Sambil terus mendengarkan cerita Brayen Kahfi memasukan suap demi suap hingga kini wajahnya sedikit memerah karena kepedasan.


"Mas, kalau gak kuat jangan dihabiskan kasian muka mas udah merah gitu pasti pedes banget kan!" Kia mengambilkan minum milik Kahfi dan Kahfi menerimanya.


"Kamu sih Kia, mesen gak kira-kira pake level 5 gitu. aku yang doyan pedes aja cuma berani sampe level 4." Oceh Ulan yang kasihan melihat wajah Kahfi. Lalu menyarankan untuk memberikan minum Kia karena Kahfi masih sedikit kepedasan.


Kahfi bangkit dari kursinya dan menuju toilet. Kia merasa bersalah karena pasti Kahfi tidak akan mau memesan makanan lagi kalau nantinya bisa membuat mubajir.


Kia memesan susu hangat kepada pelayan untuk meredakan rasa pedas yang Kahfi rasakan. Menunggu Kahfi belum juga muncul dari toilet. Kia langsung menyusul Kahfi. Baru saja Kia akan sampai di toilet sosok yang ia cari sudah ada di hadapannya. Wajah Kahfi masih begitu merona dan kacamatanya agak basah karena Kahfi memasuk wajahnya agar bisa mengurangi rasa panas pada wajahnya.

__ADS_1


"Maafin dek ya, mas!" Kia mengelap wajah Kahfi dengan jilbabnya. Kahfi hanya tersenyum tak mampu berbicara karena rasa pedas. "Dek udah pesan susu hangat buat ngilangin pedas, mas."


Keduanya menuju meja. Ulan yang sudah menghabiskan satu mangkuk ramen dan sepiring sushi. Brayen menanyakan kepada Ulan apakah Kia sedang mengadung. Karena Brayen ingat kejadian ketika Ulan yang mengidam makanan yang biasanya tidak bisa dia makan. Ulan menjawab dengan gelengan kepala. Karena ia belum tau kabar dari mulut Kia langsung.


__ADS_2