Diakah Jodoh Pilihan Allah?

Diakah Jodoh Pilihan Allah?
65. Dicium Olehnya


__ADS_3

Seketika Kia langsung melihat dan matanya membulat sempurna. Dengan cepat ia ambil baju itu dari tangan Kahfi sehingga membuat Kahfi terheran.


" Bukan, ini bukan baju, dek!" jawab Kia sedikit gugup dan malu.


" Pasti ini perbuatan ibu yang sengaja memasukan baju pemberian dari Ulan untuk di masukan ke dalam koper padahal tadi aku sudah menyembunyikannya di dalam lemari." Gumam Kia


Kahfi yang melihat itu hanya tersenyum kecil dan mencoba menggoda Kia yang sudah tersipu malu.


" Baju itu bila dek yang pake, akan membuat mas tidak berhenti menatap dan jiwa kelelakian mas akan merinta!" melihat punggung dek aja keimanan mas sudah goyah apa lagi melihat dek pakai baju itu!" senyum Kahfi ketika melihat wajah Kia mulai bersemu merah menahan malu.


" Ihhh ... Mas Kahfiii ! Teriak Kia hendak memukul Kahfi.


Namun dengan cepat Kahfi memegang kedua tangan Kia hingga mata mereka berdua saling bertemu dan kedua jantung mereka saling berpacu cepat bak habis lari maraton.


Kia yang menyadari pandangan Kahfi begitu penuh makna dirinya hanya bisa menundukan pandanganya ke bawah. Seketika tangan Kahfi melepas satu pegangannya dan meraih dagu Kia dengan lembut hingga wajah Kia mendongak dan menatap Kahfi kembali.


" Kenapa harus malu dengan suami sendiri, Hem?


Dengan kedipan mata Kia tak bisa berucap lagi, karena jantungnya kini semakin tak karuan karena ia berfikir Kahfi akan melakukan sesuatu di luar dugaannya.


" Bukan kah dek tau kewajiban sebagai seorang istri terhadap suaminya?"


Dengan gelengan kepala Kia menjawab pertanyaan dari Kahfi.


" Ya sudah sekarang kita istirahat dulu sebentar!" sambil mas menunggu waktu ashar setelah itu mas akan beritahu tentang kewajiban seorang istri terhadap suaminya" Ucap Kahfi seraya mengecup kening Kia dengan lembutnya.


Cup ...


Kia yang mendapatkan kecupan itu hanya terdiam tanpa bergerak sambil mendekap baju yang sudah membuatnya salah tingkah di depan Kahfi.


Kahfi yang melihat istrinya terdiam tanpa suara dan pergerakan membuatnya berbalik badan dan mengulurkan tanganya seraya menarik Kia untuk bangkit dari duduknya di atas lantai.


" Dek pasti lelahkan?" tidurlah sebentar biar dek gak kelelahan dan sakit!" ucap Kahfi sambil memapah Kia untuk naik ke tempat tidur yang sudah Kahfi rapihan dan di sapu dengan sapu lidi sambil membacakan do'a dan suroh 3 Qul.


" Sini bajunya biar mas yang simpan!"


" Gak usah disimpan, buang saja atau jadikan lap bila memang di butuhkan di dapur! Ucap Kia sambil memberikan baju itu kepada Kahfi dengan sedikit berat hati.


Kahfi yang mendengar ucapan sang istri hanya tersenyum kecil lalu menyimpan baju tersebut di laci bawah meja yang ada di dekat kasur.


💕💕💕


Malampun tiba, Kahfi yang belum pulang dari mesjid hingga membuat Kia harus mengirim pesan dan menanyakan Kahfi kepada Yazid.


Pesanpun diterima oleh Yazid ketika dirinya melihat Kahfi yang akan menaiki motor.


" Mas bro!" cepetan pulang bidadari sudah lama menanti sang pangeran pulang!" teriaknya dari teras rumah yang tak jauh dari masjid.


" Memang Kia menayakan mas sama antum, ya?"


" Ya" barusan kakak ipar chat ana "mengapa mas Kahfi belum pulang juga!" ciee ... Yang udah punya istri sekarang gak bisa lama-lama ni yee kalau ngisi kajian, langsung ada yang kangen, euyyy?" ucap Yazid menggoda.


" Makanya anta cepet nikah biar ada yang kangen sama anta, Zid!"


💕💕💕


Tibalah Kahfi di rumah. Sambi mengucapkan salam ia mencium bau masakan dari arah dapur yang membuatnya mempercepat jalannya untuk sampai ke aroma masakan Kia yang sudah membuat cacing dalam perutnya meronta.


" Masyaa Allah, wanginya masakan istriku yang cantik dan sholihah ini!" ucap Kahfi sambil mencari keberadaan Kia yang sedang menunggu Kahfi pulang dan duduk di dekat jendela dapur yang di luarnya ada sedikit lahan yang Kahfi tanami dengan beraneka macam bunga.


Kia yang tak sadar dengan keberadaan Kahfi di dekatnya dengan cepat Kahfi memegang pinggang ramping Kia dan menyandarkan dagunya di atas bahu kiri Kia. Kia yang baru sadar dengan keberadaan Kahfi dengan sedikit terkejut langsung menoleh ke arah samping kirinya sehingga membuat pipi Kahfi secara tidak sengaja di cium oleh bibir ranum Kia.


Sentuhan bibir Kia yang sudah menempel pada pipi Kahfi membuat Kahfi tersenyum dan beriyes ria dalam hati.


" Masyaa Allah, kalau setiap hari dapat kecupan manis dari dek seperti ini, bikin mas tambah semangat untuk pulang cepat ke rumah!" ucapnya hingga membuat Kia malu dan mencoba untuk bangkit dari duduknya.


" Masss ... Bikin Kia kaget aja!" ucapnya gugup seraya hendak menghapus bekas ciumannya dari pipi Kahfi.


" Jadi ciuman tadi gak ikhlas dan gak tulus ni?"

__ADS_1


" Bukan gitu, mas!"


Sebuah sentuhan halus melesat pada ujung kerudung Kia yang dari kemarin belum memperlihatakan wajahnya kepada sang suami tanpa jilbab.


" Ya sudah sekarang kita makan dulu ya! Seperti nya cacing dalam perut mas sudah berdemo ingin mendapatkan haknya!" ucap Kahfi yang kini duduk di kursi meja makan.


" Nasinya segini sudah cukup apa mau di tambah lagi? Tanya Kia ketika mengambilkan nasi ke piring Kahfi.


" Tambah sedikit lagi!" kalau makan berdua dengan nasi segitu itu akan terasa kurang!" ucap Kahfi yang ingin makan sepiring berdua dengan Kia.


Merekapun akhirnya makan sepiring berdua tanpa ada penolakan dari Kia sama sekali. Ketika Kahfi menyuapinya seperti waktu pertama kali. Kahfi selalu menyuapi Kia tanpa sendok karena baginya itu akan menambah rasa kasih sayang diantara keduanya.


Tanpa henti Kahfi memuji masakan Kia hingga membuat wanita yang ada di hadapannya terenyum kecil sambil menikmati setiap suapan yang masuk dalam mulutnya.


Beberapa menit setelah mereka makan malam. Kahfi pun mengajak Kia untuk masuk ke dalam kamar dan mengajaknya untuk beristirahat sambil membaca buku.


" Dek, tidurlah di sini!" pinta Kahfi sambil menepuk kasur yang akan Kia tiduri.


Kia menurut dan duduk di sisi kanan Kahfi dengan satu bantal di paha Kahfi seolah Kahfi ingin Kia tidur di pangkuannya seraya mendengarkan buku bacaan yang akan Kahfi bacakan untuk Kia.


Kia yang tau akan hal itu hanya menggelengkan kepala seolah menolak permintaan suaminya.


" Beneran gak mau tidur dipangkuan, mas?" katanya minta bimbingan agar menjadi lebih baik lagi dan menjadi istri yang sholiha? Ucapnya mengingatkan ucapan Kia sehari yang lalau.


Mendengar hal itu Kia akhirnya meletakan kepalanya di pangkuan Kahfi walau masih sedikit malu Kia akhirnya menurut.


Perlahan Kia mendengarkan penjelasan tentang buku yang Kahfi baca. Dengan sedikit berfikir ia merasa bersalah terhadap Kahfi yang belum melihat dirinya secara utuh. Sedikit mendongakan wajahnya ke atas. Ia pandang wajah teduh sang suami yang masih khusu membacakan buku untuknya dengan kacamata yang memoel sempurna di hudung mancung Kahfi.


Kahfi yang menyadari istrinya kini menatapnya dengan diam-diam. Akhirnya ia sudahi bacaan bukunya dan meletakan buku itu di atas meja dan melepaskan kacamatanya serta menaruhnya persis di samping buku tersebut.


" Kenapa, sayang!" ucapnya lembut


Kia langsung bangkit ketika mengetahui Kahfi telah selesai dari buku bacaannya.


" Mas, maafin Kia, ya!" Kia yang sampai sekarang belum juga memperlihatkan wajah Kia tanpa kerudung!" ucapnya lirih sambil menahan air mata.


" Tak apa, sayang!" bila dek belum rela mas melihat kecantikan dek itu tidak masalah!" asal dek tidak menyembunyikan sesuatu dibalik kerudung tersebut. Ucap Kahfi meyakinkan.


" Ya, siapa tau dek menyembunyikan kebotakan de dengan kerudung itu! Atau mungkin hal lain yang membuat dek merasa kekurangan bila dek tidak menggunakan kerudung itu!"


Mendengar jawaban Kahfi hatinya seolah ingin melontrkan kata-kata yang menyangkal dari tutur kata Kahfi. Namun dengan cepat Kia membenarkan ucapan Kahfi dalam hati.


" Gimana mas Kahfi gak su'udzon gitu sama aku kalu dari kemarin aku gak mengizinkannya untuk melihatku tanpa jilbab. " huh, Kia-Kia. Pasti laki-laki lainpun akan berfikiran seperti itu kalau akunya masih seperti i ini." Batin Kia.


" Kia gak botak kok!" kalu gak percaya mas boleh buka kerudung Kia malam ini!" ucapnya sedikit ketus.


" Kalau belum rela, tak apa dek! Mas akan menunggu sampai dek mau membukanya sendiri!" ucap Kahfi yang hendak mematikan lampu kamar.


Seketika Kia langsung membuka kerudungnya sehingga membuat rambut hitam tebalnya tergerai dengan indah. Kahfi yang melihat hal tak terduga hanya terkejut dan tak menyangka Kia akan membuka kerudungnya malam ini.


Perlahan ia menatap istrinya yang kini tanpa hijab. Ia tersenyum menatap wajah cantik Kia dan menyentuh lembut rambut Kia yang begitu hitam dan tebal.


" Masyaa Allah cantiknya istriku!" pujinya seraya menyelipkan anak rambut Kia ke belakang telinga istrinya.


" Benarkan Kia gak botak?"


Bukanya menjawab pertanyaan istrinya. Kahfi malah memberikan pertanyaan kepada Kia.


" Dek, boleh mas memelukmu?"


Dengan anggukan kepala Kia menjawabanya malau.


" Terimakasih ya, sayang!" mas bahagia bila dek mau melakukannya tanpa mas harus meminta nya!


Mereka pun berpelukan dengan suasana hati yang begitu bahagia walau banyak debaran dijantung mereka masing-masing mereka berdua mencoba untuk menetralkannya.


" Kita tidur ya, sayang?" tapi mas mau whudu dan sholat dulu sebentar!"


" Ya, mas!"

__ADS_1


Beberapa menit kemudian Kia mulai memejamkan matanya ketika Kahfi baru saja selesai melaksanakan sholat dua rokaat sebelum ia tidur.


Kia yang sudah teridur pulas sambil memeluk guling tidak menyadari bahwa kancing bajunya terbuka satu kancing hingga membuat bentuk sigunung kembarnya terlihat oleh Kahfi.


Perlahan Kahfi menaikan selimut Kia sampai bentuk si gunung kemabar itu tertutupi. Kia yang belum terlelap dengan sempurna akhirnya membuka mata.


" Kenapa, mas?" tanyanya tanpa sadar


" Tidak apa-apa!" mas cuma takut dek kedinginan makanya mas pakai kan selimut sampai ke dada." ucapnya menutupi apa yang barusan ia lihat.


" Oooh ... Jawab Kia yang langsung memejamkan mata lagi.


" Sayang, boleh mas bobonya sambil meluk, dek?"


Tanya Kahfi hingga membuat Kia terbangun kembali dan mendekatan dirinya kepada Kahfi.


" Kenapa? Mas kedinginan?" tanyanya aneh seraya memberikan guling untuk bisa Kahfi peluk.


" Bukan!" kan sekarang dek sudah jadi istri mas!" jadi mas gak perlu guling lagi. Jadi yang mas perlukan guling hidup yang bisa lebih menghangatkan tubuh mas!"


Kia yang menedengarkan jawaban dari Kahfi hanya bisa menyeringitkan keningnya dan mengangguk pelan.


Setelah mendapatkan persetujuan dari Kia. Kini Kahfipun tidur memeluk guling hidupnya. Kia yang merasa nyaman dengan pelukan Kahfi akhirnya keduanyapun tertidur dengan lelapnya sampai waktu azan shubuh yang beberapa menit lagi akan berkumandang.


Perlahan Kia membuka matanya terlebih dahulu. Perlahan ia buka sempurna matanya dan dengan sedikit kaget ia menemukan wajah Kahfi begitu dekatnya dengan tangan Kahfi yang masih melingkar di perut ramping Kia.


Setelah membaca do'a bangun tidur Kia memperhatikan wajah tanpan sang pria yang kini sudah menjadi suaminya. Perlahan tangan Kia mengelus lembut rambut Kahfi sedikit menurunkan jari telunjuknya Kia menyetuh setiap ukiran pada wajah Kahfi.


" Dua halis yang tebal juga hitam, hidung yang mancung, dua pipi tanpa jerwat dan sedikit janggut di dagu. Membuatmu begitu sempurna suamiku!" Ucap Kia pelan yang hendak mencium pipi Kahfi.


Namun sang pemilik wajah akhirnya buka suara walau matanya masih terpejam drngan suara khas orang bangun tidur.


" Kalau mau cium jangan ragu-ragu sayang, mas sangat siap kok!"


Ucap Kahfi yang membuat Kia salah tingkah mendengar suara Kahfi yang sebenarnya Kahfi sudah terbangun ketika Kia mengelus lembut rambutnya. namun Kahfi ingin tau apa yang akan di lakukan Kia ketika ia sedang tertidur.


" Mas! mas mengigau apa sudah bangun? Tanya Kia seketika Kahfi menekan tengkuk Kia sehingga wajah Kia begitu dekat dengan wajah Kahfi membuat mereka berdua dapat merasakan hembusan nafas mereka masing-masing.


Dengan cepatnya bibir Kahfi melesat menyetuh bibir ranum Kia yang masih wangi. Kia yang kaget dengan pergerakan Kahfi yang begitu cepat membuatnya menarik selimutnya dengan erat dan matanya yang tadi membulat sempurna kini menjadi teroejam seolah menikamati sentuhan lembut bibir Kahfi yang menyosornya dengan sebuah lum atan kecil di bagian bibir Kia yang basah dengan air dari mulut Kahfi.


Kia yang seakan nafasnya sedikit tersengal atas perbuatan Kahfi dengan pelan Kahfi melepaskan sosorannya. Dengan ibu jarinya Kahfi menghapus air yang ada di bibir Kia.


" Maafkan mas ya?" bila hal ini membuat dek tak nyaman? pertanyaan itu melesat ketika melihat Kia yang masih terpejam.


sedikit gelengan kepala Kia seolah merelakan apa yang sudah dilakukan suaminya. Toh sekarang Kia tau apa yang sudah menjadi kewajibannya sebagai seorang istri setelah Kahfi memberi tahu dan menjelaskan kewajiban seorang istri terhadap suaminya.


Suara azan shubuhpun berkumandang dari mesjid asrama Al Aamiin. Kahfi langsung bangkit dari perbuatanya barusan.


" Dek kalau mau tidur lagi tak apa! mas, pergi ke masjid dulu ya?"


Gelengan kepala menjadi jawaban Kia saat ini. Hingga iapun menurunkan tubuhnya dan menuju lemari untuk mempersiapkan baju koko dan kain sarung untuk Kahfi gunakan. Sambil terus menyetuh bibirnya Kia mengulas senyum masih merasakan hangatnya sentuhan bibir suaminya.


Kahfipun ke luar dari kamar mandi dan langsung mengenakan koko yang sudah Kia siapkan. Perlahan Kia mendekat pada Kahfi dan memasangkan kancing koko Kahfi satu persatu tak lupa ia pakaikan peci kesukaan Kahfi yang ada di atas meja.


" Terima kasih ya, sayang!" ucap Kahfi senang dengan perlakuan istrinya kepadanya sekarang.


" Tidak perlu berterimakasih ini sudah jadi kewajiban, dek sebagai seorang istri untuk melayani suami!" Ucapnya serya memberikan senyum termanisnya kepada Kahfi.


Kahfipun melangkah ke luar untuk melaksanakan sholat shubuh Kia mengatarkannya sampai pintu luar sampai pungung suaminya tak terlihat lagi.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung----


__ADS_2