
Setelah kepulangan Rendy, Kahfi diam diam mencuri padang melihat raut wajah sang istri yang sedikit termenung.
"Sayang!"
Ucap Kahfi memanggil istri tercintanya. Namun Kia masih asik dengan lamunannya di depan kompor yang sedang memanaskan minyak untuk menggoreng ikan. Kahfi berusaha untuk memanggilnya kembali dan mendekatkan diri kepada Kia.
"Sayang, kok malah bengong?" Tanya Kahfi.
Sontak tangan Kia malah memegang wajan yang panas hingga membuatnya mengaduh karena kepanasan.
"Awww!"
Dengan cepat Kahfi meraih tangan Kia dan menuntunnya untuk ke tempat keran cuci piring. Kahfi sedikit panik karena melihat tangan kiri Kia yang sedikit memerah. Setelah selesai Kahfi langsung meraih tempat P3K dan mencari salep pereda luka bakar. Kahfi mendudukan Kia di kursi ruang tv.
"Yaa Allah, dek. Apa sih yang dek pikirkan. Sampe gak sadar kalau di depannya ada wajan panas, hem?" Tanya Kahfi sambil sibuk mengolesi salep pada tangan Kia.
"Maaf, mas!" Ucap Kia sendu. Mengira Kahfi marah padanya.
"Sayang, lain kali lebih hati hati jangan melamun kalau sedang masak, ya!"
Ucap Kahfi sambil menciumi punggung tangan Kia yang sakit. Dan tangan kananya memegang dagu Kia sambil menatap mata sang istri.
"Maafin dek ya, mas. Gara gara keteledoran dek udah bikin mas panik." Maaf ya, mas!" Ucap Kia menyelusupkan kepalanya ke dada Kahfi.
"Gak ada yang perlu dimaafkan, sayang. Kenapa dek bisa bengong gitu. Apa yang udah mengganggu pikiran dek.
Hmmm?"
Ucap Kahfi sambil mengelus elus rambut hitam Kia tanpa hijab. Kia yang merasa pertemuan dia dengan Rendy hingga mengganggu pikirannya. Karena Kia takut bila Rendy sudah tau rumah yang Kia dan Kahfi tempati Rendy akan datang kembali bila Kahfi tidak ada di rumah.
"Mas!" Dek coba masak lagi ya buat kita makan siang." Bukannya menjawab Kia malah mengalihkan pertanyaan sang suami.
"Sayang. Kok gak jawab pertanyaan mas tadi!" Cegah Kahfi ketika Kia hendak bangkit dari kursinya.
"Dek...
"Dek...
cuma takut kalau Kak Rendy bisa kembali lagi dan mencari kesempatan ketika mas lagi gak ada di rumah."
Ucap Kia sendu sambil menundukan padanganya ke arah kancing baju yang ia putar putar dengan jari telunjuknya.
Kahfi memeluk sang istri layaknya anak kecil yang ketakutan. Lalu ia sambil memberikan pengertian dan memastikan bahwa Rendy takan berani singgah ke rumahnya lagi. Karena disini ada beberapa orang yang bisa mengawasi dan melindungi Kia saat di rumah.
"Nanti kalau mas lagi ada di luar kota, dek bisa menginap di rumah abah Dahlan. Kan disana dek bisa di temenin sama nek Rumi. Udah ya sayang jangan dibawa khawatir seprti ini, mas masih butuh perawatan dek nih!" Ucap Kahfi sambil menaruh tangan Kia kekeningnya.
Dengan senyum manis yang mengembang Kia tersadar bahwa suaminya belum sehat benar.
"Yaa Allah, cuma gara gara memikirkan hal ini, aku sampe lupa kalau suamiku belum sembuh benar." Gumamnya dalam hati.
"Sayang!" Kok malah bengong?
Ucap Kahfi yang malah bermanja manja ria kepada sang istri.
"Ya sudah kalau gitu sekarang mas boboan lagi ya, sambil nunggu dek selesai masak di kamar." Ucap Kia sambil mencubit hidung Kahfi yang mancung hingga memerah.
"Baik
Baiklah Dokter cintaku.
Tapi mas nunggu dek disini ya di depan tv. Bete kalau nunggu dek di dalam kamar, gak bisa memandang wajah bidadarinya, mas!" Ucap Kahfi menyelusupkan kepalanya ke perut Kia, hingga membuat Kia kegelian dan tertawa.
**********
Sore hari di rumah bu Aisyah (ibu Nakia)
"Ayahh"
"Ayah"
"Ayahhhh"
"Ayo, yah kita harus ke rumah sakit!"
Teriak bu Aisyah setelah menerima telepon dari sekolah Rahma.
"Ke rumah sakit, siapa yang sakit, bu?. Tanya Pak Hasby bingung.
"Rahma, yah.
Rahma tadi pingsan di kelas. Ibu barusan terima telepon dari wali kelasnya Rahma. Hayo, yahh!
Ucap bu Aisyah panik sambil menarik tangan pak Hasbi yang sedang memegang buku yang baru saja beliau baca. Dengan cepat pak Hasbi menaruh buku itu di atas meja. Tanpa sadar pak Hasby mengikuti langkah kaki sang istri tanpa memperhatikan bahwa dirinya masih memakai kain sarung dan baju koko.
Sesampainya ia di teras depan, ada mobil Razi yang baru saja terparkir di halaman rumah pak Hasby. Razi dan Tari yang baru turun menatap bingung kedua orangtuanya yang seolah kerepotan dan panik.
__ADS_1
Kaki pak Hasbi terhenti ketika mendengar suara salam dari Razi dan Tari bersamaan. Bu Aisyah yang baru hendak menduduki motor seketika menghentikan gerakannya dan menoleh pada asal suara sang menatu dan anak laki lakinya.
"Wa'alaikum salam!" Ucap bu Aisyah dan pak Hasby bersamaan.
"Ayah sama ibu mau kemana, kok kayanya buru buru banget? kaya orang mau ambil duit undian aja. Ucap Razi sambil mencium tangan kedua orangtuanya bergantian.
"Ini, Zi. Ibu tadi dapat telepon dari wali kelasnya Rahma, Rahma pingsan di kelas katanya. Sempat di bawa ke UKS tapi gak sadar sadar akhirnya gurunya membawa Rahma ke Rumah sakit." Jawab bu Aisyah sedikit sedih.
"Pingsan?"
Razi baru tau kalau Rahma bisa pingsan juga. Kan dia doayan makan, bu?
Canda Razi untuk mencairkan suasana agar kedua orangtuanya tidak panik.
Tari yang memperhatikan pak Hasby dari atas ampe bawah akhirnya angkat bicara.
"Ayah, mau ke Rumah sakit pake sarung dan baju kokok begini?" ucap Tari sambil menahan tawa karena melihat pak Hasby memakai sendal kanan semua itupun yang sebelahnya sendal wanita milik Rahma.
Razi yang melihat itupun langsung memerintahkan pak Hasby untuk mengganti pakaian dulu dan menggunakan sendal yang sudah Tari siapkan di depan pintu.
***
Lima belas menit kemudian pak Hasby, bu Aisyah, Razi dan Tari pun kini sudah ada di dalam mobil untuk menuju rumah sakit yang tadi guru Rahma beritahukam kepada bu Aisyah.
Pak Hasby yang masih mempermasalahkan kepanikan bu Aisyah hingga membuatnya ikutan panik menjadikan ia lupa dengan baju dan sendal yang ia gunakan.
Tibalah mereka berempat di rumah sakit Bina Insan. Pak Hasby dan bu Aisyah yang sedikit berlari langsung menuju ruang yang sudah diberi tahulan oleh gurunya Rahma yaitu pak Davin. Disana sudah ada teman Rahma Izza dan Rani yang menemani pak Davi membawa Rahma.
Izza yang melihat kedatangan orangtua Rahma langsung menghampiri dan menyalami keduanya. Lalu lima menit kemudian diikuti Razi yang masih menuntun Tari karena sudah sedikit kepayahan karena hamilnya sudah mulai besar.
"Assalamu'alaikum pak Davin?" Ucap Pak Hasby yang sudah tau wali kelas dari Rahma.
Pak Davin adalah guru yang terbilang masih muda di sekolah tersebut pak Hasby sudah mengenal Davin karena orangtua Davin adalah teman sepengajian pak Hasby.
Davinpun menyicum tangan pak Hasby dan Razi. Sambil mempersilahkan keluarga Rahma masuk ke dalam ruangan dimana Rahma sudah di infus.
"Yaa Allah. Rahma, Rahma. Apa yang kamu rasakan, nak? Tanya bu Aisyah sambil menciumi pipi Rahma yang sedikit pucat.
"Ternyata adik aa yang satu ini bisa sakit juga ya, padahal makan gak pernah kurang, bahkan lebih malah!" Ucap Razi meledek Rahma sambil mengelus elus kepala Rahma.
Tangan Tari dengan langsung mencubit pinggang Razi, karena kejailan suaminya meledek sang adik ipar.
"Awww!" Teriak Razi kesakitan
"Mas. Bukannya menghibur adiknya malah ngeledekin!" Ucap Tari yang langsung duduk di kursi yang ada di ruangan tersebut.
"Kata dokter kenapa nak Davin?" Tanya pak Hasby yang berdiri dekat Davin.
"Dokter bilang Rahma kena maag dan hampir dehidrasi juga!" Pas saya tanya sama Rahma katanya beberapa hari ini dia sedang saum. Tukas Davin menjelaskan.
"Saum?" Ucap Razi dan pak Hasby bersamaan.
"Saum apa kamu, de? Tanya Razi
Lalu bu Aisyah pun menjelaskan memang betul Rahma bebrapa hari ini sedang melaksanakan saum niatnya sih ingin mengkhodo dan diet alami. Namu Selama seminggu itu Rahma tidak makan nasi ketika sahur dan sehabis berbuka puasa.
Semua orang yang di dalam ruangan tersebut berooh ria mendengar penjelasan dari bu Aisyah dan Rahma. Karena Rahma merasa minder dengan ejekan ejekan teman teman di kelasnya yang sering mengatainya seperti gajah di kebun binatang. Walaupun kadang Rahma sering tak menggubris perkataan mereka namun setelah ia memiliki rasa ketertarikan kepada lawan jenisnya Rahma seolah ingin berusaha untuk kurus.
***
Setengah jam kemudian Izza, Rani dan Pak Davin pun pulang karena kini sudah ada keluarga Rahma yang menemaninya.
Setelah Razi mengirimkan kabar kepada Kia lewat chat di whatsahapp beberapa menit yang lalu. Kia langsung melakukan video call ke hand phone Tari.
"Duuhh beruang maduku kok bisa sakit!" Ucap Kia di sebrang sana yang di sebelah kanannya ada Kahfi yang sambil merebahkan badannya dengan wajah yang masih agak pucat.
"Apa tikus dapur"
Rahma juga manusia kak jadi bisa sakit juga"
Jawab Rahma ketus namun dengan nada yang sedikit lesu.
"Kasian. Cepet sehat ya adikku yang paling cantik dan bohay!" Kasian ibu kalau kamu sakit, nanti gak ada yang minta bikinin bekel double lagi dech"
"Aku udah gak bawa bekel lagi kalau sekolah. Malu karena Rahma udah SMA, emangnya Rahma anak SD apa?" Jawab Rahma seolah wajahnya sudah di tekuk tekuk.
Pak Hasby, Bu Aisyah dan Tari hanya bisa tersenyum senyum melihat kakak beradik tersebut sedang adu argumen. Razi yang tak mau kalah meraih hand phone yang di pegang Kia. Tak sengaja melihat wajah Kahfi yang sedikit pucat.
"Kia, gimana nih udah ada kabar baik belum buat ayah dan ibu, nyusul kaya kak Tari gitu"
Ucapnya yang kini duduk di tepian tempat tidur bersama Rahma dan bu Aisyah. Sengaja beda pipih itu ia perlihatkan kepada ibunya.
Seketika bu Aisyah langsung memegangi tangan Razi agar melihat jelas wajah Kia dan Kahfi.
"Sayang.
__ADS_1
Nak suamimu sedang sakit, ya. Mukanya sedkit pucat?
"Kamu disana gimana?"
Tanya bu Aisyah menahan tangis karena rindu dengan sang putri.
"Gak apa apa, bu. Mas Kahfi hanya kecapean aja jadi butuh istirahat!"
Kia Alhamdulillah sehat sehat, bu. Ayah dan ibu sehat sehat juga ya." Suara Kia di sebrang sana.
"Aa tau kenapa Kahfi bisa kecapean. Makanya jangan kebanyakan bergadang!" Ucap Razi asal.
Hingga mendapat pukulan kecil dari bu Aisyah.
Dua puluh lima menit Kia berbicara di telepon dengan keluarganya berbagi cerita canda dan tawa yang diselingi kejailan Razi kepada adik adiknya.
Razi dan Taripun pamit untuk pulang sedangkan bu Aisyah dan pak Hasby harus bermalam di rumah sakit untuk menemani Rahma. Karena dokter tak mengizinkan Rahma untuk pulang hari ini.
********
Di rumah Kahfi.
Kia yang sedang membujuk sang suami untuk mau dibawa ke klinik. Namun Kahfi tetap dengan pendiriannya. Sampai sampai Kia meminta tolong kepasa Yazid untuk membujuk Kahfi agar mau di bawa ke klinik namun hasilnya nihil. Sampai Yazidpun meminta Kiyai Mansur untuk membujuknya.
Kiyai Mansur yang susah tau watak dari sang anak angkat yang dari dulu sangat jarang sekali diajak untuk berobat ke rumah sakit. Dia lebih memilih untuk meminum obat herbal dari pada harus ke dokter karena Kahfi sempat ada trauma dengan jarum suntik ketika kecil.
Akhirnya Kia pun menyerah dan mengikuti kemauan suami. Yazid yang datang ke rumah Kahfi hanya memberikan obat herbal yang sudah dibelikan oleh kiyai Mansur.
"Terimakasih ya, Zid!" Ucap Kia yang sudah menerima keresek yang berisi madu, habatussaudah dan suplemen yang biasa Kiyai Mansur berikan kepada Kahfi ketika sakit.
Setelah Yazid pulang. Kiapun mentup pintu dan menguncinya serta membawa bawaanya ke dalam kamar. Dimana sang suami sudah duduk sambil bersandaran di tempat tidur.
Senyum Kahfi merekah setelah melihat sang istri kembali. Kia yang raut wajahnya sedikit lelah dan terus sambil menguap menghampiri sang suami berniat untuk memberikan madu tersebut kepada Kahfi.
"Sayang. Cape ya? semalaman dan seharian ini merawat mas?"
Ucap Kahfi sambil meraih tangan Kia yang hendak duduk di sampingnya.
"Gak apa apa, mas. Sudah jadi kewajiban istri untuk merawat suami.
Selama dek bisa melakukannya dek gak merasa cape kok."
Jawab Kia sambil memutar tutup botol yang berisi madu yang sudah ia tuangkan ke dalam gelas kecil yang berisi air hangat lalu ia campurkan 3 kapsul habatussaudah ke dalamnya.
"Terimakasih ya, sayang udah merawat mas dengan tulus."
Ucap Kahfi yang sudah menghabiskan minumannya sampai tandas.
Lalu Kahfipun berinisiatif untuk memberikan madu tersebut kepada Kia dalam sendok. Kia pun menerima dengan pasrah namun beberapa menit kemudian tenggorokannya tidak bisa menerima madu tersebut hingga Kia ingin memuntahkannya di hadapan Kahfi. Dengan cepat Kia berlari ke kamar mandi.
"Uwek"
"Uwek"
"Uwek"
Madu pemberian Kahfipun tak tersisa di tenggorokan Kia. Kahfi yang mendengar itu langsung mengahampiri sang istri.
"Sayang"
"Dek, gak apa apa, kan?" Tanya Kahfi khwatir
Dari dalam kamar mandi Kia menjawab
"Gak apa apa, mas!"
Setelah menjawab suara sang suami, Dorongan dari dalampun ingin keluar lagi.
Sampai Kahfi berfikir tepat satu bulan pernikahannya waktu itu Kia sedang datang bulan. Namun bulan ini Kia sepertinya belum datang bulan.
"Jangan, jangan istriku sedang?
Ucap Kahfi dalam hati, yang dibibirnya terlukis senyuman yang merekah.
*******
Mohon maaf saya baru bisa up lagi. Karena tepat tanggal satu kemarin saya baru saja kehilangan ibunda tercinta saya untuk selama lamanya. Jadi saya baru bisa up lagi hari ini. Berharap hal ini juga bisa menghibur diri saya agar tidak larut dalam kesedihan.
Mohon doanya dari teman teman pembaca setia "Diakah Jodoh Pilihan Allah" kiranya sudi untuk mendoakan ibu saya almarhumah ibu Suparti binti Sudarmo ... Al Fatihah. Semoga yang mendoakan Allah berikan pahala dan amal kebaikan kepada kalian semua.
Kehilangaan atau kepergian orang yang kita cintai selama lamanya itu sulit untuk diartikan dan diungkapkan.
*"Sayangi dan patuhilah kedua orangtua kita selama itu dalam kebaikan karena ketika.mereka telah tiada kita akan rindu dengan senyuman, nasehatnya, cerita ceritanya, curhatan2annya, orang yang setia yang selalu mendoakan anak anaknya dengan tulus. "**Jangan sakiti hati orangtua kita walau kadang sering berbeda pendapat dan pandangan."
Doa penyambung komunikasi kita kepadanya yang telah tiada.
__ADS_1
Semoga Allah senantiasa menjaga kita dan orang2 yang kita sanyang dengan Rahmat dan Ridhonya. Aamiin Yaa Robbal'alamiin**