
Dalam perjalanan pulang hati Kia dibuat bertanya tanya. Karena arah jalan ini bukan ke arah rumah orangtuanya.
Kahfi terus menggenggam tangan Kia sepanjang perjalanan. Kia hanya terdiam sesekali matanya melihat ke arah kiri menikmati pemandangan. "Mas sepertinya ini bukan ke arah rumah ibu?" Suara Kia menghentikan obrolan Yazid dan Kahfi.
"Kak Kia pokoknya duduk tenang aja, nanti juga bakalan tau!" Yazid menjawab pertanyaan yang ditujukan oleh Kahfi kepada kia.
Kahfi melihat ke arah duduk Kia, mengulas senyum yang indah yang kini wajahnya sudah bersih dari hutan lebat dan Kia menyisakan sedikit di bagian bawah dagunya. Kia menoleh ke arah Kahfi ketika tangan Kahfi mencium punggung tangan Kia. "Hari ini kita akan menempati rumah baru kita ya, sayang!" Kahfi menatap manik mata Kia yang kecoklatan dengan senyum bahagia.
Kia hampir lupa bahwa sebelum kejadian itu menimpa mereka Kahfi pernah mengajaknya untuk melihat rumah yang ketika itu belum rapih di renovasi. Kini ia baru teringat bahwa jalan ini menuju rumah yang akan ia tempati di kota B.
Mobil yang Yazid kendarai sudah memasuki perumahan elit di kota tersebut. Sapaan ramah datang dari scurity yang berjaga di pintu masuk. Kahfi memberikan kartu untuk di secand pada alat di pos penjaga tersebut. Penjaga mempersilahkan mobil masuk. Salah satu Scurity sudah kenal dengan Kahfi ketika melihat wajah Kahfi. Karena Kahfi sering bolak balik untuk melihat pekerja yang merenovasi rumahnya ketika itu.
Lima menit kemudian mobil yang Yazid kendarai terpakir. Ada beberapa mobil yang sudah terpakir rapih di halaman luas rumah Kahfi.
Yazid membuka kan pintu untuk Kahfi dan kak Fatimah hendak memapah Kahfi namun Kahfi menolak karena ia ingin Kia yang membantunya. Kia yang baru menurunkan kakinya ke tanah langsung melihat ke arak kak Fatimah yang memberikan isyarat bahwa Kahfi menunggunya.
Kia berjalan ke arah Kahfi dan membantu Kahfi berjalan dengan pelan. Perban pada kening Kahfi masih menempel.
Kahfi mulai sedikit pusing dan menghentikan langkahnya sejenak. "Kenapa, mas?" Kia melihat ke arah wajah Kahfi yang masih pucat. "Pake kursi roda aja ya!"
Kahfi memijit keningnya pelan. "Gak apa apa, dek. Mungkin ini efek dari mas tiduran terus jadi ketika dibawa jalan agak sedikit pusing." Kahfi memberikan senyum kecil agar tidak membuat sang istri khawatir.
"Kenapa mas, bro. Apa perlu ana gendong? Yazid tersenyum menggoda sang kakak angkat yang sudah ia anggap seperti kakak kandungnya.
Kahfi mengerutkan keningnya mendengar perkataan konyol Yazid. "kakakmu ini masih mampu untuk berjalan, Zid. Lagian antum gak bakalan kuat kalau mau gendong ana!" Kahfi dengan pelan melanjutkan langkahnya menuju pintu rumah dengan satu tangan ia rangkulkan ke pundak Kia.
"Pelan pelan, mas!" Kia mencoba menahan tubuh Kahfi sebisa mungkin.
__ADS_1
"Mas bro cuma akal akalan tuh kak, biar dimanjakan sama kakak ipar." Ledek Yazid yang langsung berlari ke dalam teras rumah dan mendudukkan tubuhnya di kursi.
Kahfi hanya bisa tersenyum getir pada Yazid dan mengumpatnya di dalam hati.
Kia dan Kahfi membuka pintu dengan perlahan sambil mengucapkan salam. "Assalamu'alaikum warohmatullahi wa barokatuh" ucapnya bersamaan.
Dan seketika mata Kia terbelalak dengan sambutan yang begitu membuatnya terharu. Matanya berkeliling melihat hiasan yang ada di dalam rumah dan begitu banyak orang yang sudah ada di dalam.
Matanya tertuju pada tulisan "happy anniversary" dan senyum indah dari orang orang yang menyayanginya. Bu Aisyah memberikan buket bunga mawar merah kepada Kia. Kia menyambutnya dengan senyum indah diiringi air mata haru. Kia mendekap erat sang ibu dan mencium punggung tangan Bu Aisyah dan bergantian kepada sang ayah. Begitu juga dengan Kahfi.
Tari, Rahma, dan Ulan langsung memeluk Kia bersamaan. Mereka bersyukur akhirnya Kia bisa kembali dengan selamat. Hari ini hati Kia begitu bahagia dengan perlakuan dari orang orang tercinta.
"Semua ini ide dari suamimu, dek!" Suara Razi memecah pelukan hangat dari keempat wanita tersebut.
Kia berlari memeluk sang kakak mengingat kejadian ketika itu. Ia tak tau bagaimana dengan dirinya bila Tanto dan sang kakak tidak menemukan dirinya.
Razi mengingat jelas baju Kia yang disobek paksa oleh Rendy. Jilbab Kia yang sudah tidak karuan letaknya. Dan paha Kia yang terekspos. Razi masih teringat jelas ketika ia meminta Tanto untuk membawanya ke rumah sakit dengan balutan selimut seadanya dan memberikan jaket yang ia kenakan untuk menutupi tubuh Kia yang sebagian terlihat.
Razi tak pernah membagikan cerita itu kepada orangtuanya bahkan istrinya sendiri. Cukup ia yang menyimpannya sendiri.
"Barokallah AA, atas semua yang aa berikan selama ini kepada Kia." Kia membenamkan wajahnya di dada Razi dengan Isak tangis yang tertahan.
Razi mendorong tubuh Kia dengan pelan. Dan memintanya untuk melihat ke arah sang suami yang sedari tadi hanya melihat istrinya memeluk orang orang yang ada di dalam satu persatu tanpa menyadari Kahfi sudah lama menunggu ingin mendapatkan perlakuan yang sama seperti yang lain dari sang istri.
"Kia orang yang sangat tersiksa ketika kamu gak ada adalah suami mu. Dimana ia melawan hidup dan matinya untuk menunggumu kembali. Ia yang berkorban untuk menjaga dan melindungi dirimu sampai ia kini ada di hadapan kita semua." Pak Hasbi menyadarkan Kia.
Kia mencoba melangkah mendekat pada sang suami tercinta. Perlahan ia menghapus air matanya dan tersenyum pada sosok yang kini bertubuh kurus dengan perban yang masih menghiasi keningnya.
__ADS_1
"Terimakasih, mas!" Kia langsung memeluk Kahfi dan tubuh Kahfi belum begitu stabil dengan pergerakan Kia yang tiba tiba memeluknya dengan begitu cepat tanpa persiapan.
Kahfi hampir terjatuh. Dan rasa sakit di kepalanya mulai terasa kembali. Hingga membuat keseimbangan tubuhnya tidak stabil. Dengan cepat Brayen menopang tubuh Kahfi agar tidak terjatuh.
"Sudah sebaiknya nak Kahfi dan Kia istirahat dulu! Walau bagaiman pun nak Kahfi ini masih belum pulih benar." Pak Hasbi mencoba memapah sang menantu yang dibantu oleh Brayen.
"Mas, mas gak apa apa, kan? Kita istirahat dulu ya!" Ajak Kia dan Rahma membantu menunjukan kamar utama yang sudah ia persiapkan karena permintaan sang kakak ipar.
Kahfi meminta untuk tidak ke kamar atas karena ia belum bisa melangkah dengan seimbang bila ia ke kamar atas.
Akhirnya Kahfi di bawa ke kamar bagian bawah. Pak Hasbi dan Brayen memapah Kahfi sampai tempat tidur. Dan bergegas langsung keluar agar Kahfi bisa istirahat.
Kia membantu merebahkan tubuh Kahfi. Kahfi menatap wajah Kia yang terlihat panik. "Mas gak apa apa, sayang. Ini cuma sakit kepala biasa!" Kahfi mengehentikan pergerakan Kia. Yang hendak mengambil air ke luar.
"Jangan pergi!" Lagi lagi tangan Kahfi dengan cepat meraih tubuh mungil Kia.
Kia terkejut hingga membuatnya jatuh di atas tubuh Kahfi dengan posisi miring. "Masss!" Kia mencoba untuk bangkit. Namun kedua tangan Kahfi mengukung tubuh Kia.
Kahfi menatap wajah Kia yang tersipu malu. Tangannya kini mendorong tengkuk Kia hingga hidung keduanya bersentuhan.
Kia tidak bisa mengindari tatapan mata Kahfi yang sayu. Jantungnya berdebar sangat jelas terdengar oleh Kahfi. Kia mulai memejamkan matanya tak sanggup melihat kedua mata Kahfi dengan penuh kehangatan karena rasa cintanya.
Kedua ceri itu bersentuhan. Kia mencoba untuk menahan apa yang ada di dalam dirinya. Mencoba untu menstabilkan pikirannya dan melupkan kejadian itu. Lagi lagi tekadnya yang kuat untuk mengindari adegan tersebut membuat Kahfi melepaskan dekapannya.
"Maaf. Maaf, mas?" Kia menghapus air matanya dan meninggalkan Kahfi yang terdiam melihat kepergian Kia dari dalam kamar.
"Apa yang sebenarnya terjadi sama kamu Kia? Setiap kali mas melakukan hal demikian pasti tubuhmu berontak dan menolaknya!" Kahfi merasa sedih dan ia bermain main dengan perasaan dan pikirannya.
__ADS_1