
Ku lepas gaun sedari malam mempel di badanku, ku letakan kembali pada kotak besar dan ku simpan di dalam lemari bawahku. Perlahan ku langkahkan kakiku menuju kamar mandi.
Selesai dari kegiatanku di kamar mandi kuraih sajadah dan mukena berwarna mint yang seringku gunakan.
Ritual shalat tahajudku selesai ketika ku dengar suara tilawah di mesjid sebrang rumahku yang lumayan terdengar.
Ku tutup al-Qur'an yang baru ku baca 2 lembar, ku dengarkan suara adzan sampai selesai dan ku lakasanakan sholat shubuh.
***
"Udah rapih banget, dek" kamu mau kemana, memangnya? Tanya aa Razi padaku.
Sambil membantu ibu meletakan susu untuk Rahma aku meraih satu kursi dekat aa ku. "Hari ini Kia mau ke kantor, a!" jawabku sambil mengedarkan penglihatanku pada kursi yang kosong yang biasa ayah duduki.
"Ayah kemana, bu? Kok gak ikut sarapan dengan kita? Tanyaku heran.
" Ayah tadi pagi-pagi sekali sudah berangkat?" katanya mau ikut kajian bersama ustadz Subekti di kota sebelah. Jawab ibu yang sambil meletakan nasi goreng pada piring.
"Kia, memang kamu sudah tidak mengapa bila ke kantor?" Kan kondisimu masih lemas lihat wajahmu masih pucat dan lingkaran hitam di matamu masih terlihat jelas. Ditambahan lagi matamu sedikit membengkak, apa semalam kamu tidak langsung tidur dan menangis lagi, Huh?
Tanya aa Razi yang sudah meletakan satu ceplok telor di atas nasi goreng yang akan di santapnya.
"Jadi ayah pergi bersama ustadz Subekti?, niat Kia ingin minta antarkan ayah ke kantor, kan aa Razi hari ini sudah mulai ngajar mahasiswa di kampus x. Ucapku sambil mengaduk-aduk nasi goreng mencoba mengalihkan pertanyaan dari aaku.
"Nanti aa bisa kok anter kamu dulu ke kantor." Setelah itu aa baru ke kampus karena, jadwal aa memang agak siang. Kalau sudah selesai urusanmu di kantor kabari aa, ya? Biar aa jemput.
"Gak usah jemput aku, a!" aku bisa naik ojek oneline karena, niat Kia mau ngobrol bareng Tari dulu setelah semuanya selesai.
Aa Razi seolah kaget ketika aku bilang akan ngobrol bareng Tari sehingga menghentikan suapan terakhir ke dalam mululutnya.
"Ehem . . . apa kamu mau membicarakan tentang gaun pengantin itu? Tanyanya sbil minum air yang sudah tandas ia habiskan yang menatapku seolah mengingikan jawaban.
" Sedikit banyaknya seperti itu" tapi Kia gak akan memaksa Tari bila dia tidak mau. Mungkin gaun itu akan Kia kembalikan ke butik tante Renata. Ucapku.
"Dikembalikan?" Ucap ibu, Rahma dan aa Razi, kompak.
"Kalau kakak gak mau memakainya lagi, biarlah aku yang menyimpankan kak, siapa tau aku bisa mengenakannya dikemudian hari" Ucap Rahma yang mengedip-ngedipkan matanya.
"Rahma ... Tegur bu Aisyah untuk menghentikan ocehan anak bungsunya itu.
****
" Kalau kamu sudah selesai, kabari aa biar aa jemput kamu ya, dek!" perintahnya sambil menunggu Kia masuk ke dalam gedung yang telah lama ia tinggalkan.
Ketika Kia baru saja melangkahkan kakinya ke dalam gedung tersebut seorang wanita menyapanya.
__ADS_1
"Kia!"
Ucapnya sambil menyentuh bahu kanan Kia.
"Sasa, aku pikir siapa?" Jawab Kia seraya menoleh pada Sasa yang sudah mensejajarkan langkah kakinya dengan Kia.
"Kamu yankin kalau hari ini akan masuk kerja? Tanyanya.
" Inshaa Allah," aku mau sekalian pamit, Sa.
"Pamit?, kamu mau mengundurkan diri dari kantor ini, huh?
Sambil terus melangkah ke dalam lift Sasa terus saja bertanya tentang Kia yang akan berhenti dari kantor.
Setelah pintu lift tebuka Sasa dan Kia melangkah ke ruangan dan meja masing-masing.
Semua mata seolah tertuju pada Kia yang kini sudah semakin kurus dan meninggalkan bekas kesedihan pada wajahnya.
Kia menunduk dan tersenyum seolah menyapa orang-orang yang ada di sekilingnya.
"Kia, akhirnya kamu masuk kantor juga. Sapa Tari seketika Kia akan menduduki kursi di meja kerjanya.
" Ehh, calon kakak ipar!" Canda Kia seraya memeluk Tari yang ada di depannya.
"Kamu bisa aja, Kia" aku jadi malu!"
"Pas jam istirahat aku bisa minta waktu agar kita bisa bicara 4 mata. Ada hal penting yang ingin aku sampaikan kepada mu, Tar!"
"Ihhh, kaya orang penting aja segala pake bicara 4 mata!" Kia, ke lihatanya kamu belum begitu membaik. Kenapa kamu harus masuk kantor secepat ini?
Harusnya kamu itu istirahat dulu di rumah kalau sudah agak membaik baru kamu aktifitas lagi!"
"Siapa bilang, aku belum membaik?" lihat aku sudah bisa tersenyum 'kan!
Aku kesini mau pamit kepada kalian semua, aku akan tinggal ikut dengan nenekku yang ada di daerah x. Setidaknya aku bisa memulai kehidupanku yang baru tanpa dibayangi masalalu yang membuatku akan merasa sedih dan tidak bisa move on dari situasi ini, tempat kerja ini saja seolah mengembalikan ingatanku tentangnya. Ucap Kia sambil mengelus bonek kecik Jerapah dan Tikus yg ada di mejanya.
"Benarkah?"
Ucap Tari kaget mendengar keputusan Kia yang ingin tinggal bersama nenenknya.
"Do'akan aku, ya calon kakak ipar! Ucap Kia sambil menghanyutkan tubuhnya dalam pelukan Tari.
" Pasti aku akan selalu mendo'akanmu, Kia!"
sambil mengelus tubuh Kia, Tari melihat jam yang ada di meja kerja Kia.
__ADS_1
"Obrolanya nanti kita sambung lagi ya!" ini waktunya kita kerja dulu. Sabar ya, Kia! Allah pasti akan memberikan yang terbaik untuk hidupmu."Jangan sedih lagi karena sebentar lagi aku akan selalu menjadi pendengar yang baik.
"Terimakasih, Tari."
Ucapnya melihat ke arah orang yang sudah bangkit dari kursinya dan melangkah ke salah aatu ruangan tempat ia berkerja sampai orang itu tak terlihat lagi dari tatapan matanya.
****
Huda Yang ngetahui bahwa Kia hari ini sudah masuk kantor ia langsung bergegas meninggalkan ruangan kerjanya dan menuju kantor pemasaran yang lumayan memakan waktu hampir 35 menit.
"Pak Huda mau kemana? tanya Brayen ketika mengetahui Huda yang terlihat buru-buru.
" Saya mau ke kantor pak Handoko, nanti jadwal meeting hari ini di undur besok saja ya. Saya ada perlu sebentar. Ucapnya yang langsung bergegas cepat dengan langkah yang sedikit hendak berlari.
"Baiklah, pak Huda."
Ucap Brayen yang sedikit mengacak-ngacak rambutnya dengan tangan kiri dan tangan kananya memegang berkas yang akan ia serahkan kepada Huda.
Gue yakin ini pasti ada apa-apanya, gak mungkin mas Huda segitu terburu-burunya. Apa jangan-jangan Kia udah masuk kantor, ya? batin Brayen.
"Hah, sudahlah itu urusan dia." Kalu aja elo masih hidup Pram, mungkin situasi kantor gak semenegangkan ini. Secara kan mas Huda itu orangnya susah di tebak. Gumamnya sambil kembali ke ruang kerjanya.
***
Suasana kantin yang sudah penuh dengan para pekerja di kantor tersebut. Mata Kia tertuju pada sosok laki-laki yang bertubuh tegap yang sedang menikmati segal Jus di mejanya. Kia mulai mendekatinya yang di temani olehTari.
" Assalamu'alaikum... maaf kalau mas Huda menungguku agak lama, karena kita tadi ke musholah dulu" ucap Kia yang duduk yang bersebrangan dengan Huda.
"Wa'alaikumsalam. Tidak ... tidak terlalu lama, kok!" Mas juga baru memesan minuman saja. Ucapnya sedikit gugup.
"Ada apa mas ingin bicara denganku?, dan maaf aku membawa Tari dalam obrolan ini, karena, Kia gak mau orang-orang salah paham dengan kita berdua.
" Tidak jadi masalah, kok!
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung-----