Diakah Jodoh Pilihan Allah?

Diakah Jodoh Pilihan Allah?
48. Sosok Muhammad Kahfi Al Kausar


__ADS_3

Malam semakin larut, tidak ada cahaya bintang dilangit yang gelap. Yang ada hanya hembusan angin yang masuk ke dalam kamar sang pemilik tubuh kekar yang matanya tak lepas pada benda pipih yang sedari tadi ia pegang sambil terus menyalakan dan mematikan mengurungkan niatnya untuk menelpon seseorang yang sudah ia buat sedih waktu siang tadi.


" Hmmm ... fiuh ..." tarikan nafas yang ia ke luarkan dengan sedikit berat.


" Telpon ... jangan? ... telpon ... jangan?!" ucapnya sambil terus menatap nomer kontak yang sudah tinggal ia sentuh. Namun hal itu masih di urungkannya ketika wajah sedih gadis itu menari-nari dalam benaknya.


" Hhh, sudahlah biar besok saja aku bicarakan hal ini kepadanya" Umpatanya ketika ingin mengusir rasa ragu dalam dirinya.


"Huda, kamu belum tidur?" pertanyaan itu melesat begitu saja, membuat sang pemilik kamar menoleh kaget ke harah pria paruh baya yang kini kesehatannya mulai menurun.


" Papah" ini sudah malam kenapa papah belum tidur, papah sudah minum obatnya belum?. Ucapnya tanpa menjawab pertanyaan papahnya yang sudah duduk di kursi yang berada dekat jendela yang baru Huda duduki.


" Papah belum begitu mengatuk dan papah lihat lampu kamarmu masih menyalah jadi papah masuk ke kamarmu karen pintu kamarmu terbuka lebar. "Kamu ini, sedang memikirkan apa? kelihatan gelisa gitu?


" Tidak pah, Huda hanya sedang rindu saja akan sosok mamah dan Prama." Bohong Huda.


" Besok kita kemakam!" papah juga rindu, sudah hampir 3 minggu belum kemakam mamahmu dan adikmu Prama. Sudah kamu lekas tidur, jangan memikirkan hal yang tidak penting!" Ucap pak Prayoga seraya menepuk bahu anak semata wayangnya yang kini menemaninya di rumah.


" Ya, pah" Jawab Huda singkat.


Lalu melnajutkan lamunannya di balkon depan kamarnya.


***


Di kediaman pak Hasbi. Satu persatu sanak saudara bu Aisyah dan pak Hasbi pulang ke rumah masing-masing. Di ruang tamu ada pak Hasbi dan abah Dahlan yang sedang berbincang-bincang.


" Hasbi, kamu lihat kan pemuda berkacamata tadi? abah rasa dia cocok dengan Kia, dan sepertinya Razipun mengenal baik nak Kahfi. Ucap abah Dahlan sambil menyeruput kopi hitam yang tinggal sedikit lagi ia habiskan.


" Hasbi, belum tau, bah" sepertinya cucu abah yang satu itu belum bisa melupakan Prama laki-laki yang sangat ia cintai.


Hasbi tidak mau memaksakan kehendak kita, takut-takut Nakia malah tambah sedih.


Jawab pak Hasbi yang memijit keningnya yang terasa pusing.


" Ya kita gak langsung menjodohkan atau mendekatkan mereka dengan begitu cepat!" Kan Kia mengajar di pantinya nak Kahfi, mungkin lama kelamaan mereka akan saling mengenal. "Abah yakin nak Kahfi bisa membimbing Kia dan mengobati luka hati yang ia alami saat ini."


Tutut abah memberi saran.


" Pemilik panti?" ujar pak Hasbi kaget.


" Ia namanya Muhammad Kahfi Al Kausar. Kahfi itu adalah seorang anak kota yang di bawa kiyai besar asrama Al Amiin yang memiliki kisah hidup tak seberuntung anak-anak lainnya.


Sejak kecil ia sudah di tinggal oleh kedua orang tuanya yang terkena musibah 'kecelakan tunggal' yang membuat dia harus kehilangan kedua orangtuanya sejak usia 5 tahun.


Kiyai Mansur yang kala itu sedang melintas di jalan raya melihat Kahfi kecil sedang menangisi jasad kedua orangtuanya yang sudah tiada.


Hingga beberapa bulan beliau sering berkunjung ke rumah orangtua nak Kahfi dan selalu di temuinnya Kahfi dalam ke adaan menangis.

__ADS_1


Anak itu hanya di urus oleh dua pekerja di rumahnya. Hingga akhirnya kiyai Mansur memutuskan untuk membawa Kahfi ke asramanya, tanpa membawa harta peninggalan orangtua nak Kahfi sema sekali.


Hingga suatu hari saudara dari ayah Kahfi mencari keberadaan nak Kahfi dan mereka bertemu Kahfi setelah Kahfi berusia remaja. Omnya Kahfi memberikan berkas harta warisan peninggalan orang tuanya.


Yang Kahfi pergunakan harta warisan itu untuk memakmurkan asrama kiyai Mansur dan membangun sebuah panti yang sekarang ia kelola sendiri.


Karena ia merasa bahwa dirinya masih beruntung karena diurus oleh keluarga kiyai Mansur, yang kala itu habis menikahkan putrinya di kota dimana beliau menemukan Kahfi.


Menurut Kahfi dirinya tidak seperti anak-anak lain yang terlantar di jalan. Maka dari itu nak Kahfi ingin memberikan tempat tinggal untuk anak-anak jalanan agar bisa tinggal layak di panti yang ia bangun dari hasil warisan orngtuanya.


Berharap agar pahalanya terus mengalir kepada kedua orang tuanya.


Ucap abah Dahlan yang menceritakan kisah kehidupan Kahfi yang pernah kiyai Mansur ceritakan disela-sela beliau habis mengisi tausiyah di masjid dekat asrama.


Abah Dahlan adalah salah satu sahabat dari kiayi Mansur yang kala itu melihat Kahfi kecil menangisi jasad kedua orang tuanya yang mengalami kecelakaan tunggal, maka dari itu abah Dahlan dan nek Rumi sediikit banyaknya tau tentang Kahfi yang belakangan ini jarang ia temu di masjid karena kesibukannya mencari dana untuk pantiasuhan yang ia kelola.


Kia yang matanya belum terpejam sekilas mendengarkan cerita abah Dahlan tentang pria yang baru ia kenal namanya, di dalam dapur ia sedang mengisi air untuk ia bawa ke dalam kamarnya.


" Jadi mas Kahfi itu pemilik panti asuhan 'Al Kausar' tempat dimana aku mengajar saat ini?"


Ucap Kia sambil menuangkan air mineral ke dalam gelasnya, lalu menuju kamar dan beberapa menit kemudian langsung membaringkan tubuhnya dekat Rahma adiknya.


Abah Dahlan dan pak Hasbipun selesai berbincang-bicang, lalu mengecek semua pintu dan jendela takut-takut ada yang belum terkuci. Setelah itu pak Hasbi langsung masuk ke kamar dan beristirahat.


***


" Kak Razi, sepertinya akrab sekali dengan kolega abi? tanya Tari yang baru saja ke luar dari kamar mandi yang masih menggunakan kerudung instan yang menutupi dadanya.


" Kahfi itu teman kakak waktu KKN dulu, jiwa sosialnya begitu tinggi jadi ketika ia melihat teman di sekelilingnya kesusahan Kahfi pasti datang untuk membantu. Kala itu kakak sedang kekurangan dana karena uang saku yang diberikan ayah tidak cukup untuk memenuhi kegiatan KKN, kakak. Ucap Razi yang menerima handuk dari tangan Tari.


Tari yang masih malu-malu menghidari tatapan Razi ketika Razi mengambil handuk dari tangannya.


" Lihatlah ke sini, dek! emangnya suamimu ini jin apa sampe-sampe gak mau lihat suami sendiri" Ucap Razi menggoda sang istri.


" Bukan begitu, kak. Tari belum terbiasa dengan seorang laki-laki di kamar ini. Jawab Tari yang wajahnya sudah merona di hadapan Razi.


Razi yang mengetahui bahwa istrinya masih terlihat malu-malu. Mencoba untuk meraih dagu Tari dengan perlahan dan mendekap tubuh Tari dengan satu tangannya. Nyaris Tari ingin menghindar namun sialnya tangan Razi begitu kuat dan cepat. Hingga tatapan itu terlihat begitu dekat membuat jantung Tari berdegup kencang hingga Razi bisa merasakan getaran jantungnya.


" Sekarang kita sudah halal. Kamu tau kan pahlanya suami dan istri dalam sebuah ikatan pernikahan? Kakak menatapmu itu bukanlah satu kesalahan tapi, akan menjadi keberkahan untukmu bila yang sudah menjadi halal merelakan dan membalasnya." Ucap Razi menatap indah mata Tari.


" Ya maafkan,Tari ya, kak!" Sekarang kakak mandi dulu malam sudah semakin larut besok kita akan mengatarkan Kia, abah dan nenek pulang. Ucap Tari sedikit mendorong tubuh Razi darinya.


" Bukanya Kia pulangnya nanti kalau sudah seminggu disini?". Tanya Razi kaget, sekilas mencium pipi Tari yang semakin memerah akibat hidung Razi semakin mendekat dengan hidung Tari.


Tari yang mendapatkan ciuman kecil dari Razi hanya diam tersipu malu. Dan memandang pria tampan yang kini sudah jadi suaminya.


" Kakak sudah minta cuti selama satu minggu, dan setelah kita mengatarkan Kia bersama abah dan nenek. Kita akan berbulan madu ke Bali. Karena kakak sudah beli tiket pesawat dan membooking hotel. Ucap Razi yang tubuhnya seketika hendak masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


Yaa ampun seantusias inikah dirinya? benar kata Kia, kakaknya ini akan melakukan hal-hal di luar dugaan. Rasanya aku ingin mengadukan hal ini kepada Kia. Batin Tari sambil meraih baju yang ingin ia siapkan untuk suaminya.


Setelah Razi selesai dengan urusannya di kamar mandi, ia langsung memakai baju yang sudah disiapkan Tari di atas tempat tidurnya. Melihat Tari yang sudah tidak ada di kamar membuat Razi ingin menelpon adiknya yang sewaktu tadi jarang terlihat di acara resepsinya. Berniat ingin mengenalkan Kahfi kepada Kia.


Kini Razi duduk di tepian tempat tidur mencoba meraih benda pipih yang tadi ia letakan di nakas dekat tempat tidur. Jarinya mulai meluncur dan menyentuh tiap nomer kontak yang ada di ponselnya. Benda itu ia tempelkan dekat telinganya, sialnya nomer yang ia hubungui sedang tidak aktif menandakan orang yang ingin Razi hubungi sudah tidur.


" Mas habis telpon siapa? Tanya Tari ketika dirinya sudah masuk ke dalam kamar sambil membawa air minum dan sepiring buah mangga yang sudah ia potong kecil-kecil.


" Mau telpon Kia, tapi sepertinya dia sudah tidur karena nomernya sudah tidak aktif? Jawab Razi sambil memandang lembut wajah Tari yang masih berkerudung.


" Oooh, Kia? bukanya nomer itu memang sudah tidak aktif lagi ya? Karena waktu seminggu lalu dek hubungi tidak pernah bisa. Ujar Tari yang duduk sedikit berjauhan dari Razi.


" Nomernya kalau di kampung memang tidak bisa di hubungi karena disana yang bisa hanya simerah. Jadi kemungkinan Kia akan mengganti nomer baru. Sinilah dek, dekat dengan kakak, kaya sama siapa aja!" Imbuhnya.


" Tari ambilkan mangganya ya, kak? biar isi pertut sebelum tidur karena seharian ini kan kita jadi raja dan ratu. Hidar Tari sambil memberikan senyum manis untuk suaminya Razi dan tanganya langsung mengambil sepiring buah yang ada di atas nakas.


.


.


.


.


.


.


**Bersambung----


Jangan lupa


VOTE


LIKE


KOMEN


TIP


dan


BINTANG nya


terimakasih


Maaf ya kalau sering menemukan typo. Padahal mata udah celi bgt buat baca n koreksi lagi, namun apalah daya kalau nulis tengah malem jadi matanya agak lima watt gitu**.

__ADS_1


__ADS_2