
Lima hari sudah Kia dan Kahfi terpisahkan jarak dan waktu. Dalam lima hari tersebut Kahfi belum juga memberikan kabar kepada sang istri hingga membuat Kia semakin sedih.
Setiap hari Kahfi disibukan dengan berkas berkas seminar dan pelatihan pelatihan untuk meningkatkan kwalitasnya. Hingga ia tak sempat untuk memberikan kabar kepada Kia. Niat Kahfi seperti itu karena ia ingin segera menyelsaikan tugasnya agar bisa mempersingkat waktu hingga ia bisa segera mungkin bisa menjemput sang istri dan menyelesaikan masalahnya beberapa hari yang lalau.
Sore ini Kahfi sangat kelelahan hingga ia memutuskan untuk langsung ke penginapan yang sudah di sediakan oleh pihak kampus setelah acara pelatihan hari terakhir selesai. Ia letakan semua berkas berkas hasil dari seharian ini. Benda pipih yang sudah berhari hari tak ia sentuh sampai ia lupa untuk mencarger benda tersebut.
Setelah ia selesai dengan urusannya di kamar mandi, dengan tubuh yang terasa segar dan penuh semangat ia mencoba membereskan map demi map. Dan ia hampir terlupa dengan maaf yang sudah limah hari lalu ingin ia lihat. Entah apa isi dari map tersebut yang sepertinya itu map milik sang istri yang ketika itu tertinggal di mobilnya, selepas kejadian yang tak bisa ia lupakan.
"Map apa sebenarnya ini, sudah bebrapa hari ini aku terlupa untuk melihatnya." Ucapnya pelan.
Ia buka perlahan map tersebut dimana tertera tulisan "Sertifikat Rumah" . Hati Kahfi makin penasaran ia lihat nama dalam sertifikat tersebut nama sang istri. Pikirannya makin penuh tanda tanya hingga ia melihat amplop putih besar yang sudah tertera surat dari seseorang yang sudah menjadi kenangan untuk sang istri.
"Apa? Jadi ini sertifikat Vila di daerah X dari Prama yang diberikan atas nama Kia?" Kahfi seolah kaget melihat semua itu bathinnya makin bertanya tanya.
"Kenapa selama ini Kia tidak terus terang dengan ku?' Bathin Kahfi yang seolah ingin segera mungkin menanyakan hal tersebut kepada sang istri.
Hingga ia lupa niatnya untuk mengistirahatkan tubuhnya. Akhirnya Kahfi segera mungkin mengemasi barang barang yang ada di dalam kamar hotelnya tak lupa ia letakan map berwarna biru itu beada dalam urutan pertama. Kakinya melesat dengan cepat sampai tak menghiraukan perutnya yang belum terisi sejak siang tadi.
*****
Disisi lain Kia yang masih penasaran dengan pesan yang sudah masuk tak disangka suaminya sekejam itu tak memberikan kabar sedikitpun kepada dirinya hingga membuatnya memutuskan untuk pulang sendiri ke rumah walau tanpa dijemput oleh sang suami.
Perlahan ia buka setatus dari Mesi yang memajang foto penutupan seminar dan pelatihan dimana Kia bisa melihat wajah sang suami yang terlihat lelah dan sedikit kurus.
"Sampai hati dirimu, mas. Tak mengabari istrimu hanya karena kesalahanku malam itu. Kamu gak tau rasanya hati dan perasaan ku saat bebrapa hari tanpa sapaanmu, rayuanmu, manjamu, perhatianmu, kelembutanmu. Hari hari ini ku lalui begitu berat, mas? Bathin Kia.
Kia mencoba berkomentar pada setatus Mesi. Sambil basa basi menanyakan kabar Mesi dan bertanya apakah semua peserta seminar dan pelatihan tersebut telah pulang semua. Hatinya menjadi sendu lagi ketika mendengar kabar bahwa semua peserta telah pulang sejak dua jam yang lalau.
Mata Kia menitikan air bening lagi. Walau sedikit mengiris hati rasa rindu itu tak berbalas dengan sebuah kehangatan. Namun yang ada selalu ia jumpai kekecewaan pada benda yang biasa Kahfi memberikan kabar padanya.
Satupun chat yang Kia kirimkan belum di baca oleh sang suami. Padahal ia berharap walaupun Kahfi tak mengabarinya tapi bila ia membaca chatnya itu tak mengapa hatinya akan terasa senang.
Ia lihat lagi pesan pesan sebelumnya yang pernah ia kiirmkan sebelum peristiwa itu terjadi.
"Ternyata pesan enam hari yang lalupun mas Kahfi tak membacanya. Apakah handphone mas Kahfi rusak atau tertinggal sampai sampai sudah enah hari ini ia belum juga terlihat online. Ucap Kia bicara pada dirinya sendiri.
Kia sudah merapihkan barang barangnya ke dalam koper. Satu persatu ia rapihkan pula isi kamarnya agar kembali rapih. Sontak ia kaget dengan map yang telah ia terima dari pak Prayoga hari itu. Ia cari dan mencari benda itu.
"Dimana map itu? bukan kan waktu itu sudah aku bawa? Tanyanya pada diri sendiri. Setelah beberapa kali ia mengecek setiap laci dan lemari yang ada di dalam kamarnya.
Ia baru ingat ketika malam itu ia lupa map itu di letakan di kursi depan mobil yang ia duduki. Perasaannya semakin tak karuan khawatir bila suaminya yang akan melihatnya sebelum ia menjelaskannya kepada Kahfi.
"Yaa Allah, Kia... Kia... kenapa kamu bodoh dan ceroboh banget sih!" Gerutunya dalam kamar.
Seketika ocehan Kia terhenti ketika ia mendengar suara salam dari balik pintu kamarnya. Suara seseorang yang sangat lama ia rindukan. Hatinya merasa senang karena orang yang ia rindukan telah kembali pulang. Dengan cepat Kia membalikan tubuhnya dan berjalan sedikit berlari menghapiri sang suami ketika sudah menutup pintu kamar mereka. Dengan senyum bahagia Kia memyambut sang suami dengan langsung memeluk erat tubuh Kahfi.
"Wa'alaikum salam, Masss. Dek kangen banget sama mas Kahfi." Peluknya erat sambil menitikan air mata kerinduan yang mendalam.
__ADS_1
Kahfi menyambut pelukan Kia dengan hangat, tak bisa dibohongi bahwa dirinya pun sangat meridukan sang istri. Dengan mengelus pucuk kepala Kia ia mencium dan mengeratkan pelukannya dan mengespingkan rasa keingin tahuannya tentang isi dari map tersebut.
"Mas juga kangen sama, dek!" Ucapnya sambil meraup wajah sang istri dan mengusap airmata Kia dengan kedua ibujarimya.
"Kanapa mas tega banget bikin dek tersiksa menahan rindu dengan cuekin semua chat dari, dek?!"
"Maaf, sayang. Bukan begitu mas selama seminar dan pelatihan gak pegang handphone sama sekali sampai mas juga lupa buat charger hp" Kahfi yang menuntun Kia untuk duduk di tepian tempat tidur sambil terus memeluknya.
"Oooh, begitu? Kiarin dek mas masih marah dengan kejadian yang... Ucapan Kia terpotong ketika Kahfi dengan cepatnya melum at bibir Kia dengan cepat. Karena ia tak ingin membahas masalah itu. Kia hanya terdiam dan membulatkan matanya sambil menatap mata sang suami yang begitu kelihatan lelah.
Beberapa detik kemudian Kia membelai rambut dang suami dan melepaskan kacamata Kahfi setelah Kahfi melepaskan bibirnya.
"Mas cape ya! mas kelihatan kurus seperti orang yang gak terurus." Ucap Kia sambil terus menatap wajah Kahfi.
"Emang mas gak terurus semenjak kita jauh, ya kan? jawab Kahfi sambil menyentuh hidung Kia dengan jari telunjuknya.
"Mas gak makan emangnya disana sampai kurus begini?
"Mas gak selera makan karena mikirin dek terus. Takut takut dek ke luar dengan lelaki lain tanpa sepengetahuan, mas!
"Astagfirullah. Mas kok mikir sampe sehitunya?
"Gak, sayang. Mas cuma bercanda. Mas tau isitri mas ini gak akan mengulangi kesalahan yang kedua kalinya. Ya, kan? Tanya Kahfi yang kini berdiri untuk membuka kemeja yang masih menempel di tubuhnya.
Seketika Kia membantu sang suami melepaskan satu persatu kancing kemaja. Lagi lagi Kia memeluk sang suami yang ia rasa belum bisa ia melepaskan rasa rindunya setelah lima hari ia memendam rindu.
Kia langsung menatap wajah Kahfi. Dan kepalanya langsung bergodeg mengisyaratkan agar Kahfi tak protes.
"Dek masih kangen sama, mas. Biarin dek melukin mas. Dek kangen aroma tubuh mas. Dek kangen manja manjaan sama mas. Dek, kangen perhatian dari mas. Pokoknya mas Kahfi harus bayar lunas semua kerinduan ini. Ucap Kia yang mengeratkan pelukannya seperti anak kecil yang tak mau kehilangan ibunya.
"Yaa Allah, kalau kaya gini terus kapan aku bisa menanyakan apa maksud dariap tersebut!, Salah aku juga sudah begitu membuatnya rindu. Dan tak ku pungkiri akupun sangat merindukannya. Bathin Kahfi
"Ya sudah kita siap siap buat pulang ya. Kangen kangenanya bisa kita lanjutkan di rumah kita. Disana lebih aman, dan mas janji akan bayar lunas semua kerinduan, dek." Seloroh Kahfi yang menautkan dagunya kekepala Kia sambil memeluk erat sang istri.
*****
Ibu, Ayah. Kahfi dan Kia pamit ya. Maaf sudah merpitkan ayah sama ibu karena Kahfi meninggalkan Kia sendiri di rumah ayah dan ibu. Ucap Kahfi yang sudah memasukan barang barang bawaan Kia ke dalam mobil.
"Gak apa apa nak, Kahfi. Kami kan orangtuanya Kia walau dia sudah menikah tetap masih tanggung jawab kami sebagai orangtua ketia nak Kahfi sedang ada tugas.
Kini giliran Kia yang berpamitan kepada ayah dan ibunya.
"Ayah, ibu jaga kesehatan ya. Do'in Kia semoga Kia bisa menjadi anak dan istri yang sholihah. Kia akan selalu kangen sama ayah dan ibu." Ucapnya sambil memeluk pak Hasby dan bu Aisyah bergantian.
"Ya sayang, Kamu juga sama nak Kahfi baik baik ya. Ketika ada masalah selesaikanlah dengan baik baik. Jangan pernah ceritakan masalah rumah tangga kita kepada orang lain ya, nak!" Ucap Pak Hasby.
"Ibu akan selalu kangen sama kamu, sayang. Semoga akan ada kabar baik dari kalian."Tambah bu Aisyah sambil mengelus perut Kia.
__ADS_1
"Salam buat Rahama ya, bu, Yah. Maaf gak nungguin dia pulang karena Kia sama mas Kahfi mengejar waktu biar gak kemalaman sampe di rumah.
Kini Kia dan Kahfipun sudah masuk ke dalam mobil. Kahfi sudah mengendarai mobinya dan meninggalkan rumah orangtua Kia.
Pak Hasby dan bu Aisyahpun langsung masuk ke dalam rumah. Melanjutkan aktifitas mereka setelah kepulangan anak dan menantunya.
"Rumah ini jadi sepi lagi ya, yah! Ibu seneng liat Kia dan nak Kahfi rukun lagi." Ucap Bu Aisyah yang sudah duduk di ruang Tv.
"Emang kata siapa mereka gak akur, bu? Ayah liat mereka biasa biasa saja. Mereka itu sudah pada dewasa kita jangan sekali kali menanyakan maslah rumah tangga mereka, gak baik. Kalau mereka meminta masukan dari kita itu gak apa apa.Tapi ibu jangan sekali kali bertanya sama Kia ya tentang masalah rumah tangga mereka. Ucap Pak Hasby yang hendak masuk ke dalam kamar.
*****
Dua jam sudah dilalui Kia dan Kahfi dengan jalan yang masih sengang di jam sesore ini. Mobil merka menepi ketika Kahfi tau bahwa sang istri sedang dilanda lapar.
"Dek udah laper ya? Tuh si cacaing caing dalam perut dek udah protes." Tanya Kahfi yang mendengar suara riuk dari perut Kia.
Kia hanya tersenyum di balik wajah yang ia tutupi oleh kedua tangannya ketika sang suami menggodanya dengan memegang perut Kia dan mencontohkan bunyi dari perut Kia.
"Masss... jangan gitu dong. Kan dek jadi malu." Ucap Kia yang kini mobil Kahfi sudah terparkir di depan rumah makan lesehan sederhana.
Mata Kahfi memandang setiap saung yang ada di rumah makan tersebut. Matanya langsung tertuju pasa saung yang ada di atas air. Ia langsung mengajak Kia ke tempat tersebut. Yang ia rasa itu tempat yang indah dan nyaman karena banyak tanaman dan bunga bunga disisi saung tersebut walau di atas air.
Mereka memesan beberapa menu dari rumah makan tersebut. Lima belas menit kemudian pesanan yang mereka pesanpun tersaji di hadapan mereka.
Kahfi sengaja mengambil hanya satu piring untuk mereka berdua.
"Kok piringnya cuma satu mas?" Tanya Kia
"Mas mau suapin dek dan kita makan sepiring berdua. Mas akan mengobati kerinduan, dek!" Jawab Kahfi yang sudah mengisi piringngnya dengan beberapa lauk yang Kia suka.
Dengan telaten Kahfi menyuapi sang istri penuh senyum Kia menerima makanan dari tangan suami.Kia yang ingin bergantian menyuapi Kahfi namun dilarang oleh Kahfi.
"Gak apa apa, mas makan sediri. Yang penting bidadari mas kenyang dan bahagia." Ucap Kahfi yang tak sengaja di dalam suapan itu ada cabe yang membuat Kia kepedesan.
Kia berusaha untuk meraih gelas yang berisi jus jeruk hangat yang dipesan Kahfi. Namun minuman itu malah tumpah karena Kia yang tak tahan pedas membuat tangannya tak bisa menyimbangi. Kahfi yang melihat baju Kia yang ketumpahan langsung repleks mendekat pada Kia.
"Sayang. Kepedesan ya. Maaf mas gak tau kalau di dalamnya ada cabai. Yaa Allah dek. Pasti air jeruknya masih hangat ya. Tanya Kahfi yang memebrikan minum pada sang istri hingga ada beberapa mata yang dekat dengan mereka melihat ke arah mereka diantaranya Mesi dan sang suami yang kebetulan sedang makan juga di rumah makan tersebut.
Mata Mesi menatap Kia dan Kahfi dari kejauhan. Ia merasa sangat iri dengan Kia begitu istimewanya Kahfi memperlalukan Kia. Hingga ia tak menyadari bahwa sang suami (Akrom) sedang melihat raut wajahnya dan pandangan sang istri kepada satu pasangan tersebut.
"Sampai kapan kamu akan memandangi mereka? Belum bisa melupakan laki laki itu? Tanya Akrom tegas.
Mesi yang tak mendengarkan ucapan sang suami hanya terdiam dengan lamunannya menatap Kia dan Kahfi. Dengan deheman yang sedikit keras Akrom mencoba menyadarkan sang istri dari lamunannya. Sejurus kemudian Mesi menjadi kikuk karena kedapatan dirinya memandang mereka berdua.
"Maaf... Maaf, mas!"
"Sudah selsaikan? Ayo kita pulang. Sebelum kamu terpesona dengan laki laki dimasa lalumu." ucap Akrom yang berlalu meninggalkan Mesi tanpa menunggunya.
__ADS_1