
Perlahan ku buka mataku dan ku lihat, tubuhku berada di sebuah ruangan dengan wangi ciri khas dari tempat ini. Perlahan ku rasakan ada benda yang menpel pada tangan kiriku, ku dengar suara isak tangis yang ada di sebalahku. Aku hafal betul isak tangis itu. Ku arahkan mataku pada sumber suara itu.
"Ibu... Ucapku pelan dengan ciri khas suara orang yang baru bangun tidur. Kulihat di sebalah ibu ada Rahma dan juga Tari dan aa Razi yang juga menangis tersedu. Ragaku belum tersadar dan ingatanku mulai muncul ketika ku lihat noda darah pada baju yang ku kenakan. Perlahan ku lepaskan benda yang menempel pada tangan kirimu. Ku coba untuk menguatkan tubuhku untuk turun dari brangkar. Ibu dan Tari mencoba menahanku. Namun entah kekuatan dari mana aku mendorong mereka semua... Aku teringat seseorang yang aku cintai banyak bersimbah darah, kulangkahkan kakiku ke arah luar kamar. Selangkah demi selangkah aku melihat banyak orang yang sedang menangis di ruangan IGD yang tak jauh dari tempatku tadi.
Ku lihat ayah yang tak pernah sedikitpun menangis ia menangis dengan tersedu, apa lagi om Prayoga yang berdiri sambil memukul-mukul tempbok yang tak bersalah, ku lihat lagi di pintu masuk sebelah kiri ada mas Huda menangis tersedu, dan di bangku panjang pula ku lihat Brayen yang di temani Ulan manis sama seperti mas Huda.
Ku coba untuk terus berjalan melewati mereka dengan satu tangan kanan ku angkat ke atas mengisyaratkan bahwa tak ada yang bisa melarangku untuk masuk ke dalam. Dan ketika aku hendak masuk ke dalam seorang suster keluar dari balik pintu dan menyebut namaku.
"Maaf... Apa ada pihak keluarga yang bernama Kia atau Nakia. Ucap suster yang berhijan putih.
Aku langsung menghampiri suster itu dan melangkah cepat.
" Saya... Saya suster. Ucapku yang ingin cepat masuk ke dalam ruangan tersebut untuk mengetahui kedaan orang yang dua minggu lagi akan menjadi suamiku.
Perlahan ku mendekati seseorang yang sedang tertidur dengan tenang dengan banyak alat di hidung, kaki, di dadanya yang penuh dengan kabel-kabel entah apalah aku tak tau benda beda-benda itu, ku dengar sebuah alat yang merekam denyut jantung dan suaranya sangat berisik bagiku. Perlahan dokter sedikit mundur ketika melihat aku yang sedikit mendekat pada orang yang aku sayangi. Seoalah tau akan banyak hal yang ingin aku sampaikan dokter dan suster sedikit menjauh dari keberadaanku.
Ku pegang tanganya yang masih ada sedikit noda darah. Ku elus lembut pungung tangannya dan sedikit ku kecup tangannya, ini hal pertama aku lakukan selama aku bersamanya. Ku atur nafasku agar tidak mengeluarkan lelehan berlian namun sialnya lelehan itu tetap menetes.
"Assalamu'alaykum... Calon imamku! Ucapku masih dalam suara agak bergemetar menahan gemuruh dalam dadaku.
" Hai... Jerapah cungkringku, lihat sekarang kita bisa lebih dekat? Kakak tau, kakak baru saja beberapa jam yang lalau berjanji tidak akan membuatku menangis dan kecewa, bukan?
Terus kenapa sekarang kakak pura-pura tidur dengan nyenyaknya? Kakak masih marah ya sama aa Razi si raja minya. Karena dia tidak mengizinkan kita untuk bertemu dalam seminggu kemarin? Apa marah karena aku belum membuatkan makanan kesukaan kakak?, karena aku kan sudah janji akan membuatkannya setiap hari ketika kita sudah resmi menjadi suami istri. Ucapku dengan memaksakan tersenyum dan menahan tangis namun cairan bening itu tetap menetes tepat di tangannya.
"Kakak jangan ngerjain aku lagi ya? dengan berpura-pura tidur seperti ini. Ingat loh, janji kakak masih banyak sama aku?... Kakak ingat kata-kata kakak" yang kakak sampaikan waktu di vila itu? Ingat ya, kak! Aku akan selalu menagih janji itu sampai kapanpun. Ucapku yang terus menyerocos di hadapannya dengan sebuah isakan dari hidungku. Kubelai halus rambutnya dan ku usap keningnya yang sudah di balut dengan kain kasa dan ada sedikit noda darah pada kain itu.
Aku terus membicarakan sesuatu hal yang membuatku seolah memutar setiap episode-episode bersamanya, dari pertama kali bertemu dan sampai akhirnya memutuskan untuk menikah dengannya.
" Kak bangun ya!...Kakak apa gak kasian sama aku? Yang harus terus mengoceh di depan kakak? Kasihan tuh gaun yang nanti akan aku gunakan, gaun itu tidak akan berguna bila tidak ada kakak di samping aku. Kakak kan tadi bilang ingin seperti boneka jerapah dan tikus yang selalu aku ciumi setiap hari? Dan aku sudah janji kalau aku akan setiap hari meniciumi kakak bila kita sudah resmi menjadi suami istri? Kakak gak mau menagih janji itu kepadaku??? Ayoo jerapah cungkringku bangun lah!!, ucapku yang semakin lemah. Karena sesak didadaku semakin kuat ketika aku melihat seseorang yang aku cintai tidak merespon ucapanku yang panjang itu.
Perlahan aku merasakan jari tanganku tersentuh oleh jarinya. Dalam hatiku tersorak kegirangan karena ia merspon ucapnku.
"Dok... Dok... Tanganya bergerak dok... Ucapku bertriak dan menengok ke belakang dimana dokter itu sedang mengamati aku dan respon dari orang yang aku sayangi, ku hapus air mataku yang sudah banjir di pipi.
"Kak... Kakak mendengar semua ucapanku? Tanyaku yang terus menatap mata yang masih tertutup rapat.
" Mbanya berhasil membuat dia kembali ke alam sadarnya. Terus bicara ya mba untuk merespon si pasien! Ucap dokter yang menyuntikan obat pada cairan yang ada di atas kepala ku.
"Baik dokter, ucapku pelan.
Perlahan ku usap air mata yang tersus mengalir di pipiku. Ku buka lagi suara untuknya namun ketika lidahlu akan mengecap sesorang menyodorkan air minum untukku.
" Minumlah, Ucapnya pelan dan aku tau suara itu. Perlahan ia mendekat pada pira yang sedang tak berdaya, ku gelengkan kepala karena aku merasa tak haus sekarang.
"Hai... Adikku yang selalu menjadi sainganku! kau tidak boleh tertidur lebih pulas disini, tapi jangan kau lakukan disini ya, nanti saja kau lanjutkan tidurmu di rumah. Ucapnya sambil mengusap air mata yang keluar dari mata sipitnya.
" Kamu tau Prama? Aku sempat kecewa dan ingin marah kepadamu ketika aku tau wanita yang mamah jodohkan denganku malah engkau yang mendapatkannya. Aku memang selalu kalah darimu untuk masalah cinta dan wanita. Tapi tidak dengan prestasi pendidikan. Kau selalu kalah denganku" Ucap Huda yang berusaha sekuat hatinya untuk tidak lemah didepan adiknya.
__ADS_1
"Kalau kau mau bersaing lagi denganku, ayoo cepat bangun dari mimpi panjangmu! Jangan kau pura-pura tidur seperti ini untuk menghidari tugas besarmu sebagai CEO!. Aku gak mau ya, menggantikanmu! Karena mas ingin menjadi diri mas sendiri.
Jangan tidur terlalu lama kalau kamu gak ingin calon istrimu mas yang merebutnya!. Ucapnya yang membuat aku sontak kaget dengan kata-kata yang mas Huda sampaikan!.
Apakah dia diam-diam mencintaiku juga? Batinku.
Hampir satu jam mas Huda mengoceh di hadapan calon imamku. Tapi masih tak ada respon yang baik darinya.
Perlahan suara mesin yang ada di sebelah kanan mas Huda berbunyi dengan kuat. Ku lihat gambar di monitor yang tadinya banyak gelombang-gelombang seketika berubah menjadi garis panjang.
Hatiku mulai hancur kembali, aku tidak ingin sesuatu terjadi pada kekasihku. Pelahan mas Huda memencet bel yang ada di atas kepalaku.
Tak lama kemudian dokter datang bersama suster yang membawa papan dan sebuah kertas ditanganya.
Ku coba ingin mendekati orang yangku sayangi, namun dokter mendorongku untuk menjauh. Mas Huda yang melihat aku di dorong sedikit kencang oleh dokter sekerika menghampiriku yang terbentur meja yang ada di sebelah kiriku.
Suster meminta agar cukup satu orang yang ada di dalam dan mataku mengisyartkan kepada mas Huda agar aku saja yang ada di dalam.
Dokter dan suster berusaha untuk mengbalikan kondisi orang yang aku sayangi stabil seperti tadi. Lalu dokter menyuntikan kembali cairan pada botol infusan.
"Jangan buat si pasien mendengar kata-kata yang membuatnya marah, kecewa atau hal yang tidak dia suka. Karena dia mendengar di dalam bawah sadarnya, mendengar semua apa yang kita ucap kan. Tukas dokter menjelaskan.
Setelah bebrapa menit kondisinyapun stabil kembali. Aku tau pasti kata-kata mas Huda yang mengatakan ingin merebut aku darinya itu membuatkanya marah dan kecewa. Sebegitu besarkah cinta kak Prama padaku?. Yaa ampun aku tidak tau bagai mana aku melewati hari-hariku bila ia pergi untuk selama-lamanya.
Perlahan ku lihat jam pada ponselku menunjukan pukul dua pagi. Ku mainkan jari-jariku dan terhenti ketika ku lihat galeri pada ponselku, dan ku lihat foto-foto yang secara tak sengaja aku ambil tanpa sepengetahuannya pasa waktu kami liburan ke pantai.
" Makanya kalau kakak ingin tahu panggilan itu kakak cepat bangun ya, aku janjiiiii.... Janji akan memanggil kakak dengan lebih mesra lagi dan selalu memanjakan jerapah cungkringku yang sangat- sangat aku sayangi!. Ucapku seraya meletakan kepalaku pada pungung tangannya yang ada alat penjepit seperti jepitan jemuran. Entahlah benda apa itu.
Kupandangi jari jemari yang sangat panjang itu, kukunya berwarna ping namun agak sesikit pucat. Dan mataku terbelalak ketika jari itu menyentuh lembut pipiku.
Ku sentu jemarinya dan ku tegakkan kepalaku untuk menoleh pada wajahnya namun tanganku tak lepas dari gengaman tanganya. "Ia... Dia bisa menggengam tanganku dengan hangat! Perlahan ia membuka matanya walau masih terasa bersat
"Sayang...!" Ucapku yang melihat matanya sedikit terbuka. Ku usap keningnya sambil menciumi pungung tangan yang sudah ia gengam erat.
Ia tersenyum padaku, aku bahagia dan sangat bahagia melihatnya tersenyum dan menatapku penuh cinta walau tatapan itu sedikit sayup.
" Ayy... Ucapnya lemah dan sangat pelan. Ku taruh jari telunjuk pada bibirnya.
"Suuttt,...! Jangan banyak bicara ya sayang. Kakak cukup melihatku saja, aku sudah paham... Sedikit ku tarik sudut bibirku walu itu bersat. dan aku menagis sejadi jadinya ketika bibirnya sedikit bergetar ketika ingin menyampaikan sesuatu.
" Kenapa kakak mau minum? Ucapku menawarkan. Dengan sedikit gelengan kepala ia menjawab pertanyaanku.
"Istirahat lagi ya sayang!, biar besok lebih baik lagi" Ucapku membujuknya namun dengan gelengan kepala ia menjawab bujukanku.
" Matanya mengisyartakan pada jam dingding yang ada di depan atasnya. Seolah memberitahu kalau ini Sudah malam, dan sesekali ia mengisyaratkan matanya terpejam seperti menyuruhku untuk tidur.
__ADS_1
"Aku gak akan tidur kalau kakak juga gak tidur..." Mataku akan terus terjaga untuk menjaga jerapah cungkring yang aku sayangi. Ucapku seraya memberikan senyum terindah untuk orang yang sangat aku sayangi.
Dengan senyuman yang mengembang ia pamerkan gigi putihnya walau dengan bibir yang pucat dan sedikit mengering.
"Aku tau kakak tadi sempat marah pada mas Huda kan? Karena mas Huda mengatakan yang tidak baik kepada kakak?. Kakak tau hal itu membuatku panik setengah mati, karena melihat gelombang yang ada di monitor itu berubah menjadi gari lurus. Hal itu menjadikan pikiranku berprasangka yang tidak-tidak bila suatu hal terburu terjadi.
Ia hanya bisa menjawab semua pertkataanku dengan anggukan dan gelengan kepala atau dengan isyarat kedipan mata. Hal itu sudah sangat membuatku senang dan bahagia. Karena Allah mengizinkan aku dan kak Prama untuk bisa selalu bersama.
" Aaakuu, aakaan... selalu cintaaa kepadamu, aay? ucapnya dengan suara pelan sangat pelan.
"Aku juga sayang dan sangat mencintai kakak. Ucapku sambil menatap matanya tanpa berkedip.
Tanganya mengisyartkan agar telingaku lebih dekat denganya, seperti ada hal yang ingin ia sampaikan lagi kepadaku.
"Bila aku tiada, menikahlah dengan orang yang bisa menjaga dan membahagiakanmu, aay! Kata-kata itu seolah menusuk hatiku, bagaimana tidak aku hanya mengharapkan dia yang menjadi imamku. Perlahan ku mengelengkan kepalaku.
" Aku gak mau cari yang lain, aku akan selalu menunggu kakak. Jangan bicara seperti itu, karena aku yakin kakak akan sembuh dan kita akan menikah, sayang? ucapku mengecup keningnya.
"Sedikit sesak dan nafasnya mulai tak teratur ia menggengam tanganku dengan erat. aku bisa merasakan kalau dia merasa kesakitan.
" Kak... kakak... kenapa ini, kenapa? dokter... dokter... suster... kuteriak sekuat tenanga melihat keadaan orang yang aku cintai mengguncangkan badannya dengan kuay seolah merasakan kesakitan. ku teriak sekuat tenaga. Dan orang-orang yang ada di luar pun mendadak panik dengan suara teriakkanku.
"Kakak... jangan... jangan tinggalkan aku kak, kamu udah janji sama aku, kakak jangan hancurkan harapan itu. Teriakku dan ku tuntun ia untuk mengucapkan kaliamat Allah.
" Laillahaillallah...! ucapku di telinganya dan ia seolah mengikuti ucapanku walau hanya tanpa suara.
"Selesai lafaz itu ia hembuskan nafas terakhirnya. " innalillahi wa innalillahi rojiun. ucspku pelan.
Aku menejerit... menejerit dan menangis sekuat tenaga.. tubuhku jatuh tepat disisi kanan tempat tidurnya. Aku menyaksikan kesakitan yang ia rasakan dan aku menyaksiakan orang yang aku cintai di ambil oleh sang pemilik keidupan.
" Tangisku semakin menjadi ketika dokter datang dan menutup wajahnya dengan kain putih.
Ku dengar suster melangkah keluar dan memberitahu orang-orang yang ada di depan. Tubuhku lemah dan penglihatanku kabur.
.
.
.
.
.
.
Bersambung------
__ADS_1