
Razi membopong tubuh lemah adiknya. Tak menyangka bila hati adiknya akan kembali hancur bahkan lebih hancur dari yang tahun lalu. Isak tangis mengiringi langkah Razi setelah membaringkan tubuh Kia di atas brangar.
"Yaa Allah, Kia... kenapa kamu harus merasakan kehancuran ini kembali. Ucap bu Aisyah sambil memeluk anaknya yang tak sadarkan diri. Hatinya hancur melihat harapan anaknya kembali hancur berkeping-keping. Dua minggu acara itu akan berlangsung namun Allah berkehendak lain mengambil calon menantunya untuk selama-lamanya.
" Sudahlah bu..." jangan terlalu terpuruk seperti ini, ibu harus lebih kuat agar Kia bisa menerima ini dengan lapang dada. Allah lebih sayang Prama, ini sudah kehendaknya. Ucap Razi mengelus lembut tubuh ibunya yang menangis tersedu meratapi nasib putrinya.
****
Jenazah Prama pun di bawa ke kediaman pak Prayoga, semua keluarga, kerabat, sahabat dan pekerja di perusahaan sang CEO pun datang untuk berbela sungkawa. Hanya Kia, bu Aisyah dan Rahma yang masih ada di Rumah Sakit karena menemani Kia yang belum sadarkan diri.
"Kenapa kamu yang lebih dulu menyusul mamahmu, nak? Ucap pak Prayoga diiringi tangis yang begitu berat. Baru saja dia berbahagia karena anak laki-lakinya yang satu ini akan melepaskan masa lajangnya dengan wanita yang iapun bersyukur karena Kia dapat memberikan hal yang positif pada kehidulan Prama.
Huda pun seraya memeluk tubuh papahnya dan ikut duduk di samping jenazah Prama yang akan segera di sholatkan.
" Maafkan mas Huda, Prama yang telah lama tak bersamamu tahun-tahun yang lalu. Semoga kau tenang dan bahagia di sana!"
Ucapnya sambil menghapus titik cairan bening yang ada di sudut matanya.
Pak Hasbi, Razi, Darka dan Brayenpun ikut berbaris di belakang jenazah Prama, sholat jenazah pun di lakukan di ruang tamu yang cukup besar di ruamh pak Prayoga.
Selesai sholat jenazah semua berhamburan ke luar untuk mengiring kepemakaman terakir tempat Prama di kebumikan.
Isak tangis terus terdengar dari wanita paruh baya yang sudah lama tidak datang ke rumah itu, namun kedatanganya kini bukan untuk bercengkrama dengan keluarga besarnya namun untuk menyaksikan keponakan yang ia sayangi pergi untuk selama-lamanya.
"Baru beberapa bulan kamu memegang kendali perusahan ini lalu kenapa kamu meninggalkan tugasmu, Prama? Ucap tante Meta yang terus menahan cairan dalam hidungnya.
***
Jenazahpun sampai di sebuah pemakaman umum yang tidak jauh dengan perumahan mewah kediaman Prayoga.
__ADS_1
Gundukan tanah itu sudah penuh dengan banyak bunga, persis dengan makam mamahnya, Huda terus mengusap lembut batu nisan yang sudah tertera nama Prama Purnama. Ketika semuanya akan berajak pergi meninggalkan pemakaman itu tiba-tiba wanita yang masih mengunakan baju dari salah satu rumah sakit berjalan lemah dengan dua tangan di pegangi bu Aisyah dan adiknya Rahma. Perlahan ia lepaskan kedua tangan yang sudah mengantarkannya ke tempat peristirahatan orang yang ia cintai.
"Assalamu'alaykum... Ucapnya yang menahan sesak di dada diiringi tangis yang tidak henti-hentinya sehingga matanya sudah sangat bengkak akibat sehari semalam menangis.
Huda terdiam ketika melihat Kia mendekati tanah merah yang sudah penuh dengan bunga-bunga dan botol bunga mawar.
" Kia... Seharusnya kamu istirahat, lihat matamu sudah bengkak dan wajahmu sangat pucat. Ucapnya seraya beridi dan hendak memapah wanita yang sudah mencuri hatinya.
"Tidak... Aku tidak butuh itu... Mas Huda tidak merasakan apa yang aku rasakan! Jadi jangan banyak bicara! aku ingin orang yang aku cintai ini tahu bahwa aku lemah tanpanya, semangatku menghilang bersama kepergiannya. Ucapnya lemah dan penuh penekanan pada kata aku cintai.
" Kakak jahat... Sangat jahat sama aku kak..." Bahkan ini lebih sakit dari pada pembatalan pernikahanku waktu itu. Dengan sekuat tenaga ia mengelus lembut batu nisa dan ia cium batu itu dengan lembut. "Baru kemarin kita piting baju pengantin! Lalu sekarang kakak ninggalin aku gitu aja! Lalu untuk siapa baju pengantin yang kakak pilahkan dengan indahnya. Kalu bukan dikenakan di hari pernikahan kita, kak? Kalau saja aku tau kalau kakak akan pergi secepat ini! mungkin aku akan meminta ayah dan ibu dari bulan kemarin untuk menikah denganmu?. Ucapnya yang menidurkan kepalanya di atas batu nisan.
Bu Aisyah, Rahma, Razi, Huda dan pak Prayoga seolah tak kuat menyaksikan apa yang di lakukan dan dikatakan Kia. Perlahan pak Prayoga mengdekat pada posisi duduk Kia seraya menyentuh bahunya.
" Nak Kia..., sudah jangan berlaku seperti ini! karena ini akan membuat Prama semakin sedih meihat keadaan nak Kia? Ucapnya yang sambil mengelus pungung calon menatunya.
"Tidak... Tidak om... Om tidak merasakan apa yang aku rasakan? Seharusnya om biarkan Kia mengatakan semuanya pada calon suami Kia? Ucapnya yang masih belum bergeming dari posisinya tadi.
"Apa... Om bilang aku akan mempunya masa depan yang panajang? Tidak om... Tidak..?. Masa depanku telah hilang" karena orang yang aku cintai dan mencintaiku dengan tulus sudah diambil oleh-Nya? Sekarang taqdir sedang mempermainkan hidupku, om? Baru saja aku merasakan sangat di cintai dan akan menjadi orang yang sangat bahagia! tapi kebahgiaan itu Dia ambil dari sisiku. Apa ini yang dinamakan masa depan yang oanjang untukku? Lalu bagai mana aku bisa menata hati kembali sedang dia yang sudah mengisi hati ini pergi untuk selama-lamanya. Tidak... Tidak akan ada yang menggantikan masa depanku, om?
Kata-kata itu keluar dari mulut Kia yang keadaanya sedang depresi dan belum bisa menerima keadannya sekarang.
Prayoga seolah kehilangan kata-kata atas ucapan Kia yang begitu memilukan hatinya. Perlahan ia berdiri dan menagis lalu meninggalkan Kia, yang membuatnya merasa bersalah.
Razipun mendekatkan diri pada adiknya.
Perlahan ia raih bahu adiknya yang begitu lemah, ia sandarkan kepala Kia pada dada bidangnya, seraya mengusap pucuk kepala dan menciumnya dengan sebuah tangisan.
" Dek... Kamu percaya akan adanya raqdir, bukan? Hari ini mungkin kamu menangis karena rasa kecewamu pada taqri yang kamu terima hari ini, tapi suatu saat nanti kamu akan menagis kembali karena taqdir akan memberikanmu kebahagiaan. "Jangan tangisi apa yang bukan menjadi milik kita, karena sesungguhnya kita ini milik Allah, dan akan kembali kepada Allah tanpa permisi? tanpa bertanya apakah kita sedang bahagia atau sedang berduka? Sekarang tugas kita memperbanyak do'a dan mendekat pada Allah, agar Allah memberikan kebahagiaan yang lebih dari yang kita pernah rasaakan. Ucap Razi lemah dan terus mencium pucuk kepala adiknya yang tertutup hijab.
__ADS_1
Kia masih diam tak bersuara. alampun seakan ikut sedih perlahan air hujan turun membasahi tubuh gadis yang masih saja memeluk gundukan tanah yang sudah mengotori bajunya akibat hujan behitu lebat. Razi yang masih setia menemai adiknya yang terlihat sangat terpukul. Perlahan ia menarik tubuh gadis itu untuk bangun.
" Ayo dek, kamu harus jaga kesehatanmu jangan buat Prama lebih sedih melihat kamu seperti ini! Prama masih butuh denganmu dengan cara berdo'a kepada Allah untuknya. kasian orang-orang yang menyayangimu, merekapun sedih atas kepergian Prama dan akan tambah sesih lagi kalau melihat kamu seperti i ini, dek. Ucap Razi yang ingin memaksa adiknya untuk ikut dalam pelukannya.
namun Kia meronta sekuat tenaga dan menangis sejadi-jadinya.
"Kak ayoo kita pulang, ikut aku kak... bangun jerapah cungkringku. jangan biarkan aku sakit dan kecewa lagi. ucapnya sambil berterak dan mencoba untuk menghampiri gundukan tanah itu dengan menyeret tubuhnya di atas tanah merah yang sudah basa dengan air hujan.
" KIA... KAMU GAK BOLEH SEPERTI INI" JANGAN SAKITI DIRI KAMU, JANGAN BUAT PRAMA BERAT DI DALAM SANA AKIBAT PERBUATANMU! Ucap Razi yang sudah kehilangan akal karena adiknya tak juga mau meninggalkan pemakaman itu.
"Tiba tiba Kia menutup matanya sambil yerus menyebut nama Prama. Kakhirnya Razi pun membawa adiknya yang sudah dalam keadaan pingsan dan bajunya sudah motor dengan tanah merah, wajahnya sudah penuh dengan tanah merah.
Sekuat tenanga Razi membawa Kia ke rumah Prayoga untuk sementara waktu menunggu Kia yang sadar dari pingsanya.
Bu Meta, Bu Aisyah dan Pak Hasbi kaget ketika Razi sudah membawa kia dalam keadaan yang sangat kotor.
" Yaa Allah, Kia!... hiks... hiks... tangis bu Aisyah yang tak tega melihat putrinya seperti sekarang.
"Bawa Kia ke kamar tamu! Ucap Huda yang melihat Razi kelelahan membawa Kia yang ada di tangannya.
.
.
.
.
**Bersambung---
__ADS_1
Jujur aku nulis ini sambil beleber. kisah ini sedikit banyaknya ada kisah nyata namun dikemas sedemikin rupa oleh author agar pembaca ikut merasakan apa yang author rasakan**.