Diakah Jodoh Pilihan Allah?

Diakah Jodoh Pilihan Allah?
81. Sebuah Sertifikat


__ADS_3

Satu jam lalu Kia dan Kahfi tiba di kediaman orangtua Kia. Disambut senyum manis sang ibu cinta dan Rahma. Kini Kia dan Kahfi pun masuk kedalam kamar, Kahfi yang duduk di kursi dekat jendela sambil menatap pemandangan di luar.


Kia meletakan secangkir teh untuk Kahfi sambil terus mandang raut wajah sang suami yang masih memendam sesuatu di hatinya.


"Mas, ini teh nya!" Ucap Kia sambil berdiri di hadapan sang suami tercinta.


Kahfi ya masih sangat menikmati pemandangan seketika menoleh ke arah suara sang istri.


"Ya. Timakasih, sayang!" Ucapnya tak seperti biasanya dengan penuh semangat namun kali ini sedikit agak lesu.


"Mas, masih marah sama dek, ya?


"Marah? dalam hal apa, mas harus marah!" Ooh ya besok dek jadi ke rumah oramgtuanya pak Huda itu?" Tanya Kahfi mengalihkan


"Kan besok kita ke acara pesta pernikahannya Brayan dan Ulan!" Kalu mas keberatan antar dek kesana gak apa apa dek gak akan datang. Dek mau menjaga perasaan dan hati sumi tercinta, dek? Jawab Kia sambil mengelus rambut Kahfi dengan lembut dan mengulas senyum.


"Gak apa apa, kalu dek mau kesana mas gak akan melarang. Tapi ingat tetap jaga pandangan dan hati, dek. Dan kebetulan mas besok ada rapat mendadak di kampus. Jadi dek bisa kesana di temani aa Razi atau Rahma, ya!" Ucap Kahfi sambil memegang kedua tangan Kia.


"Kok dadakan banget, mas!" terus dek ke acara nikahan Ulan juga tanpa mas, dong?


"Insyaa Allah untuk acara nikahan mas masih bisa nemenin, dek. Tapi hanya bisa sampe jam sebelasan. Gak apa apa ya, sayang!"


Suara ketukan pintu kamar telah memembuat keduanya saling padang ketika Kahfi hendak mencium Kia. Hingga membuat keduanya saling melempar senyuman. Namun dengan ciuman bak kilat Kahfi telah melesatkan bibirnya pada pipi Kia dan Kia langsung membuka pintu kamarnya.


"Kia ada nak Huda mencari kamu dan nak Kahfi!" Ucap bu Aisyah setelah Kia membuka pintu kamarnya.


"Mas Huda? ada apa ya bu kok sampe datang ke sini dan tau Kia ada di sini?" Tanya Kia binung.

__ADS_1


"Huda. Ada apalagi dia cari Kia sampe datang ke sini?


Bathin Kahfi.


"Ya sudah nanti Kia dan mas Kahfi akan datang menemuinya, bu! Sebentar Kia ganti baju dulu. Ucap Kia setelah itu bu Aisyah langsung pergi ke arah dapur untuk membuatkan minum.


Seketika Kahfi menghampiri Kia dengan bahasa tubuh ia bertanya mengapa Kia harus mengganti baju segala.


"Hemmm. Yang mau ketemu pak Huda sampe ganti baju!" Ledek Kahfi


Kia yang mendapat sindiran dari sang suami mencoba mendekat sambil membawa baju gamis warna army yang hendak ia gunakan.


"Emanganya mas rela ada laki laki lain liat istrinya pake baju tidur kaya gini?" Jawab Kia yang masih menggunakan baju tidur tangan pendek. Jawabnya sambil menunjukan tangannya ke arah hadapan Kahfi.


Sejurus kemudian Kahfi malah mencium lengan Kia yang putih dan merangkul tubuh sang istri.


****


Sepuluh menit kemudian Kia dan Kahfipun menemui Huda yang sudah ditemani pak Hasbi di ruang tamu. Sedikit mengedarkan senyuman Kahfi terus memegang tangan sang istri sampai mereka duduk berdua di hadapan Huda.


"Asslamu'alaikum pak Huda. Gimana kabarnya? Ucap Kahfi sambil menyalami Huda.


"Alhamdulillah saya baik!" Ucap Huda cangung.


Pak Hasbi berdiri dan izin untuk masuk ke dalam karena ia mengerti ada hal yang penting yang ingin Huda sampaikan namun mungkin Huda sedikit cangung bila ada pak Hasby ditengah tengah mereka.


Sedikit basa basi Kahfi dan Huda memulai percakapan sehingga akhirnya Huda memutuskan untuk bicara inti dari ia sampai mendatangi Kia di rumah oarangtua Kia.

__ADS_1


"Saya mohon maaf bila sudah mengganggu waktu istirahat Kia dan pak Kahfi. Karena ini ada hal penting yang harus saya sampaikan mengenai papah saya." Ucap Huda sambil memandang ke arah Kia dan Kahfi.


"Tidak apa apa. Kita tidak merasa terganggu kok." Ucap Kia sambil menoleh ke arah Kahfi yanga da di sebelah kanannya.


"Tenang saja pak Huda. Memangnya kenapa dengan orangtua pak Huda?" Tanya Kahfi penasaran


"Ya sudah sebulan ini papah saya sakit dan dua minggu yang lalu sempat di rawat di ruamh sakit. Dan seminggu yang lalu papah saya menanyakan Kia kepada saya. Kebetulan saya tidak tau nomer Kia jadi saya sampai mencari tau ke Brayen dan Brayenpun tidak tahu katanya. Hingga ia menyarankan agae saya bertanya kepada Rahma. Hingga akhirnya saya datang ke sekolahan Rahma hanya minta nomer hand phone Kia. Karena papah saya bersikeras ingin bertemu dengan Kia. Entah ada hal apa yang ingin papah saya sampaikan kepada Kia."


Ucap Huda menjelaskan maksud kedatangannya.


"Hemmm. Beneran papahnya pak Huda apa pak Huda yang mencari istri saya?" Jawab Kahfi penuh penekanan


Seketika Kia langsung menekan tangan Kahfi tang ada disampingnya


"Tidak. Benar ini memang papah saya yang ingin bertemu dengan Kia. Kalu saya gak mungkin kan menanyakan wanita yang sudah bersuami." Jawab Huda yang tahu bahwa Kahfi mencurigainya sejak ia menjawab telepon darinya.


Kia hanya terdiam ketika dua orang laki laki di hadapannya sedang membahas sesuatu yang menurutnya hanya memakan waktu. Hingga akhirnya Kia mulai angkat bicara.


"Pak Prayoga memang sakit apa, mas?"


Seketika Kahfi berdehem setelah mendengar snag istri memanggil Huda dengan panggilan mas.


"Ehemmm"


"Papah sudah lama kena ginjal. Jadi fungsi ginjalnya hanya tinggal empat puluh persen. Semenjak kepergian adik saya Prama, papah saya agak menurun kesehatannya."


"Ooh begitu!" Semoga Allah berikan kesembuhan yang sempurna untuk papah anda." Ucap Kahfi

__ADS_1


"Sudah lama ya mas pak Prayoga tidak cek cek lagi ke dokter?


__ADS_2