
Setelah berpamitan dengan bu Aisyah dan pak Hasbi yang sudah pulang dari pasar, Kia dan Kahfipun melakukan perjalanannya ke rumah paman Dito. Di tengah perjalanan Kahfi menepikan mobilnya di sebuah pemakaman yang tak asing bagi Kia.
" Mas, kenapa berhenti di sini? tanya Kia bingung.
Perlahan Kahfi membuka pintu mobil untuk sang istri yang kini mengunakan gamis yang pernah Kahfi belikan untuknya. Kia pun bingung karena Kahfi belum memberikan jawaban akan pertanyaannya.
" Kita kemakam orang tua mas dulu ya!" jawab Kahfi ketika Kia sudah melangkahkan kakinya ke pintu gerbang pemakaman dimana pemakaman Prama pun berada di sana.
🌻🌻🌻
Kia dan Kahfipun melangkah menyusuri gundukan tanah dimana makam orang tua Kahfi di kebumikan. Beberapa menit mereka menyusuri setiap gundukan tanah tepat di dua gundukan tanah yang berdempetan Kahfi menghentikan langkahnya.
Perlahan Kahfi menaburkan bunga-bunga yang sudah ia beli di tempat pemakaman. Air matanya mulai menggenang beriringan dengan setiap do'a-do'a yang ia panjatkan untuk ke dua orang tuanya. Kia yang menyadari kesedihan sang suami hanya bisa mengelus lembut pungung sang suami. Kahfi tak henti-hentinya membagi cerita kepada kedua orang tuanya akan sosok sang istri yang kini menemaninya. Kia hanya mendengarkan mulut Kahfi yang bercerita walau sesekali ia membuka suaranya untuk menimpali cerita sang suami. Selesai dengan ritualnya di pemakaman ke dua orang tua sang suami, kaki Kia terhenti ketika melewati gundukan tanah pemakaman Prama.
" Mas, boleh de kesini dulu untuk mendo'akannya?" tanya Kia kepada sang suami yang masih berusaha mengelap sisa air matanya.
Perlahan Kahfi melihat nama yang ada di atas gundukan tanah terebut ' Prama Purnama' hatinya sedikit tersontak ketika melihat nama tersebut ketika tangan Kia menunjuknya. Walau sebenarnya ia merasa berat untuk mengiyakan namun hatinya tak mungkin setega itu kepada sang istri.
" Haruskah aku cemburu kepada orang yang sudah tiada? Rasanya ini tak adil bila aku berada di posisinya!" batin Kahfi.
Perlahan Kahfi menganggukan kepalanya menandakan ia setuju akan permintaan sang istri. Kia yang mendapat persetujuan dari Kahfi ia langsung berjongkok di depan pemakaman Prama sambil mengkomat kamitkan mulutnya setelah selesai berdo'a perlahan Kia membuka suara untuk mengenalkan pria yang kini ada disampingnya.
" Assalamu'alaikum ... Kak. Maaf Kia baru ke sini lagi setelah sekian bulan Kia tak pernah menginjakan kaki Kia ke tempat peristirahatan kakak!" Kenalkan kak ini suami Kia namanya mas Muhammad Kahfi Al Kautsar bisa orang-orang memanggilnya dengan mas Kahfi, yang sekarang menemani hidup Kia setiap harinya, mulai Kia akan memejamkan mata sampai Kia terbangun lagi beliau selalu ada di sisi Kia." cerita Kia sambil terisak tangis.
Mulut Kia tak henti-hentinya menceritakan sosok Kahfi yang pernah ia lihat dan bertemu di sebuah toko buku di mall dimana ia dan Prama pernah bertemu Kahfi kali pertamanya. Dan banyak hal yang Kia ceritakan selama ia tinggal dengan abah Dahlan sesekali ia membuka certia masa lalunya bersama Prama.
Kahfi yang melihat sang istri menangis begitu sedihnya, seolah ada sedikit luka di hatinya ketika ia mendengarkan setiap nada suara yang Kia ke luarkan. Ia tau sang istri begitu sangat merindukan lelaki yang kini sudah beristirahat di dalam tanah tersebut. Seolah tak ingin lagi mendengarkan cerita sang istri kepada lelaki yang sudah tiada itu perlahan Kahfi meninggalkan sang istri sendirian.
" Yaa Robb, mengapa aku merasakan sakit di hati ini walau aku tau lelaki itu telah tiada tapi mengapa aku tak rela mendengar cerita masa lalu dari istriku dengan pria yang sudah menghadapMu terlebih dahulu. Apakah cemburu ini wajar? Apakah rasa sakit ini wajar hamba rasakan, Yaa Robb?" ucap Kahfi lirih sambil menuju ke pintu gerbang pemakaman untuk pulang.
Langkahnya terhenti ketika ia tau tangan lembut sang istri sudah melingkar di bagian perutnya. Perlahan Kahfi melepaskan tangan itu dengan cepat. Entah kenapa hatinya begitu tak terima akan perlakuan Kia kepada seorang yang sudah tiada. Ia tau mungkin cinta Kia terlalu besar kepada Prama hingga membuatnya tak sadar bahwa perkataannya di pemakaman itu telah menggores luka hati pada sang suami yang begitu mencintainya.
" Mas, maafin de!" ucap Kia yang kaget akan perlakuan Kahfi kepadanya barusan.
Kahfi tak menghiraukan perkataan Kia, ia langsung duduk ke dalam mobil tanpa suara yang tak lama kemudia Kia pun sudah menjatuhkan bobot tubuhnya di samping Kahfi. Perlahan Kia mengelus lembut tangan Kahfi dan mencium punggung tangan sang suami dengan lembutnya.
" Maafin de ya, mas!" ucap Kia menatap wajah Kahfi yang begitu dingin kepadanya.
Tanpa suara Kahfi hanya menjawab dengan satu anggukan pelan dan langsung melajukan mobilnya untuk melanjutkan perjalanan ke rumah pamannya. Suasana di dalam mobil tak ceria seperti tadi yang terdengar hanya suara murotal yang Kahfi putar dengan nada yang sedikit pelan.
🌻🌻🌻
Kia yang tau akan suasana hati suaminya yang mungkin tak sebaik tadi, hanya terdiam sambil memainkan ujung jilbabnya sambil memikirkan harus apa dirinya agar sang suami tak marah lagi padanya.
Kahfi yang fokus ke depan sedikitpun tak melirik pada Kia yang mulai menjatuhkan air matanya. Hampir 30 menit mereka terdiam tanpan suara.
Mobil Kahfipun terhenti ketika melihat lampu merah. Kia yang mencoba mengambil kesempatan itupun meraih tangan kiri Kahfi dan menempelkannya kepada pipinya.
" Mas, marah ya sama dek? De minta maaf mas, bila dipemakaman tadi ada kata-kata de yang sudah membuat hati mas terluka!" ucapnya lirih diiringi air mata, dan tangan Kahfi pun merasakan hangatnya air mata sang istri yang terjatuh.
__ADS_1
Perlahan wajahnya tertuju ke wajah sang Istri. Dengan nada yang berat Kahfi berkata, " entahlah, ada sedikit rasa sakit di hati mas, ketika de berkisah kepada laki-laki yang ada di dalam tanah tersebut!" ucap Kahfi sambil mengusap lembut air mata yang membasahi pipi wanita yang sangat ia cintai.
" Maafin de ya, mas!" de tidak tau bila hal itu akan membuat hati mas menjadi sakit!" ujar Kia yang terus menciumi pungung tangan Kahfi.
" Sudah ya! Mas juga minta maaf akan sikap mas yang pencemburu ini." Mas cuma gak mau istri kecil mas ini, masih hidup di dalam masa lalunya. Sekarangkan ada mas Kahfi yang nyata di depan mata, dek!" ucap Kahfi seraya menarik tengkuk leher Kia dan mencium kening sang istri dengan lembut.
" Makasih ya, Mas!" mas selalu membuat dek nyaman di sisi mas dan tak berlama-lama marah sama, dek!" ucapnya sembari memberikan senyum manis untuk sang suamu.
Lampu merahpun telah berganti menjadi hijau, perlahan Kahfi melanjutkan perjalanannya. 35 menit kemudian mobil Kahfi sudah terparkir di sebuah rumah berlantai dua yang cukup besar dengan taman depan yang sangat banyak dengan bunga-bunga dan tanan hijau.
Kia dan Kahfi pun melangkah dengan bergandengan tangan. Kedatanganya pun langsung disambut oleh paman Dito yang sudah menunggu di depan teras rumah. Senyum manis dan pelukan hangat dari sang paman menandakan bahwa ia begitu meridukan keponakan satu-satunya dari sang kakak.
" Assalamu'alaikum, paman ini istri Kahfi namanya Nakia." ucap Kahfi mengenalka, dan Kia pun menangkupkan kedua tangannya ke dada. Senyum manis di sambut oleh sang paman dengan sebuah sapaan.
" Cantiknya istrimu, Kahfi!" maaf ya paman tidak bisa datang ke acara pernikahan kalian karena, paman ada tugas ke luar." ucap paman Dito seraya menyuruh Kahfi dan Kia untuk masuk ke dalam rumah.
" Tante Merry kemana paman, kok gak kelihatan?" Tanya Kahfi tidak melihat keberadaan sang tante.
" Tante mu sedang menidurkan anaknya Sonya karena Sonya sedang ada tugas mendadak ke luar kota dari kantornya beberapa bulan inu." jawab paman Dito menjelaskan.
Sonya? Nama itu tak asing bagiku." batin Kia, dan matanya tertuju pada foto keluarga yang terpasang di ruang tamu, hingga Kahfi menyadarkan lamunan Kia dan mengajaknya untuk duduk di ruang tamu.
" Kenapa, sayangnya mas ngeliatin foto keluarga paman Dito sampe segitunya? Tanya Kahfi.
" Ahhh tidak, mas! De hanya senang melihat foto keluarga paman Dito saja seperti keluarga de yang memiliki kakak dan adik karena kita sama-sama 3 bersaudara." Jawab Kia.
" Ya ampunnn, keponakan tante sudah lama banget tante gak liat kamu Kahfi!" maaf ya tante waktu kamu nikah gak datang karena, nemenin om kamu di luar." ucapnya bahagia akan ke datangan Kahfi.
" Gak apa-apa tante, Kahfi juga ngertiin kok dan terima kasih atas hadiah yang tante dan paman berikan buat Kahfi dan Nakia. Ini istri Kahfi tante!"
" Ihhh cantiknya kamu, nak. Beruntungnya Kahfi menikahi kamu, sudah cantik sholihah lagi!" ucapnya sambil mencium Kia.
" Tante bisa aja!"
" Sebelum kita ngobrol-ngobrol mending kita makan siang dulu yukk!" tante masak banyak loh, dan masakin kesukaan nak Kahfi juga, yukkk makan siang dulu!" ajak tante Merry sambil menggandeng tangan Kia.
Akhirnya mereka pun makan siang sebelum melanjutkan perbincangan yang akan Kahfi sampaikan kepada pamannya. Ketika semuanya sedang asik menikmati makan siang bersama datanglah seorang pria dari lantai atas menuju ruang makan sambil menggendong bayi laki-laki di tangannya. Tanpa melihat siapa yang datang tante Merry tau akan suara tangisan kecil tersebut.
" Nuga, kenpa lagi, Ren? Bukanya tadi dia sedang pulas tidur ya!" Tanya tante Merry yang membuat Kia menoleh pada pria yang sudah mulai mendekat pada mertuanya.
" Gak tau, mah!" pas Rendy mau ke luar kamar Nuga sudah menangis duluan! Kenapa ya, mah! Jawab Rendy yang tak menyadari keberadaan Kia di rumah sang mertua.
" Kenalkan ini namanya Rendy menantu paman yang beberapa bulan baru tinggal di rumah ini karena, Sonya ibunya Nuga sedang ada tugas di luar jadi cucu paman dibawa ke sini biar, neneknya gak repot bolak balik liat cucunya ke kota x buat nengokin Nuga di rumah mamahnya nak Rendy!" ucap paman Dito menjelaskan kepada Kia dan Kahfi.
Rendypun baru menyadari ketika papah mertuanya mengenalkan dirinya kepada Kahfi dan Kia, wanita yang tak asing lagi bagi dirinya. Dimana ia pernah mempermainkan hati wanita yang kini menatapnya dingin. Rendy pun mengulurkan tanganya kepada Kahfi dan Kia, namun Kia hanya menyambutnya dengan menangkupkan kedua tanganya di depan dadanya. Rendy yang melihat tatapan Kia kepadanya tak bersahabat hanya memberikan senyum kecil menghilangkan kegugupannya karena merasa malu akan perbuatanya kepada Kia ketika di restoran waktu itu.
" Rendy makan bareng sama kita ya!" ujar paman Dito kepada menantunya.
" Baik, pah! Jawab Rendy sambil menuangkan nasi ke piring yang sudah tersedia di depannya.
__ADS_1
Kahfi yang duduk bersebrangan dengan Rendy seolah melirik ke arah Rendy yang matanya sesekali melirik ke arah Kia yang kebetulan duduk di samping kiri Kahfi dengan tatapan pernuh arti bagi seorang laki-laki.
" Kenapa Rendy menatap Kia seperti itu, apakah mereka berdua sudah saling mengenal sebelumnya?" batin Kahfi.
🌻🌻🌻
Makan siangpun selesai Kahfi yang langsung masuk ke ruang kerja paman Dito meninggalkan Kia yang sudah ditemani tante Merry di ruang tv sambil mengajak main sang cucu yang duduk anteng di bawah permadani yang sudah banyak terhampar mainan sang cucu.
" Nuga usia berapa bulan tante? Sudah pintar dengan mainan-mainannya." ucap Kia memecah keheningan.
" Usianya memasuki 8 bulan, sejak usia 4 bulan Nuga sudah tante rawat di sini. Habis tante kawatit kalau Nuga di usu sama baby sister di rumah orang tua nak Rendy. Lagian tante juga gak ngapa-ngapain di rumah karena, kedua anak tante yang lain sibuk dengan dunia mereka masing-masing. Jadi tante putuskan biar tante yang urus Nuga di rumah tante." ucapnya sambil memberikan mainan ke tangan Nuga kecil.
Ketika Kia dan tante Merry sedang asik berbincang-bicang membahas baby Nuga Rendy datang menghampiri Nuga lalu mengunyel-ngunyel Nuga sampai tertawa gelinya terdengar lantang.
" Ya ampun cucu uti sampe geli gitu ketawanya, liat tuh Ren kepala kamu basah sama air liur Nuga!" ucap tante Merry yang senang melihat Nuga dekat sekali dengan Rendy.
" Gak apa-apa, mah! ilernya Nuga kan wangi, uti!" ucap Rendy yang sudah mengangkat Nuga ke atas kepalanya seraya menirukan suara anak kecil.
" Mamah ambil baju Nuga dulu di atas ya, baju Nuga basah tuh akibat pipinya yang jail menggoda, Nuga ya sayang." ujarnya berlalu dari Kia dan Rendy yang kini duduk di dekat Kia dengan cepat Kia menggeserkan tubuhnya untuk menjauh. Dan Rendy pun mendudukan Nuga di depan mainan-mainnanya agar Nuga bermain dengan anteng.
" Kia, maafkan atas perlaukuanku waktu itu! aku hilang kendali ketika melihatmu menghidariku kala itu! ucap Rendy pelan tanpa menoleh ke samping kanannya.
" Bukanya waktu itu kamu bilang Sonya sudah meninggalkanmu? lalu kenapa sekarang kamu bisa tinggal di rumah orang tua Sonya?" tanyanya mengintrogasi tanpa menjawab permintaan maaf dari Rendy.
" Bila aku ceritakan itu takan cukup waktunya!" kenapa kamu bisa menikah dengan Kahfi bukankah kamu pacaran dengan pria yang sudah memukulku waktu kejadian itu?"
" Akupu tak punya banyak waktu untuk menceritakan semuanya kepadamu." ucap Kia sedikit ketus.
" Baiklah, maafkan aku yang sudah menghancurkan harapanmu dan harapan kedua orang tua mu ketika itu, dan aku malah memilih menikah dengan Sonya."
" Sudahlah jangan di bahas lagi, itu hanya masa lalu yang harus kita kubur dan tak perlu di ungkit lagi!" jawab Kia seraya memberikan mainan kepada Nuga yang ada di dekatnya.
Perlahan Rendy mendekat pada Kia, hingga hendak meraih tangan Kia yang akan memberikan mainan bola kecil kepada Nuga. Dengan cepat Kia menepisnya dan dari arah sebelah kiri ruang tv, seseorang yang melihat kejadian itu langsung melangkah cepat ke arah mereka. Hatinya memanas ketika tangan Rendy akan menyentuh tangan Kia. Sedikit berlari kecil ia langsung berada di dekat dua orang yang memiliki masa lalu.
.
.
.
.
.
.
**Bersambung----
Jangan luapa berikan penghargaan untuk author bila kalian ingin aurhor tetap semangat dalam berkarya... terima kasih babyak untuk lembaca setia DIAKAH JODOH PILIHAN ALLAH? sehat-sehat selalu untuk kalian**.
__ADS_1