Diakah Jodoh Pilihan Allah?

Diakah Jodoh Pilihan Allah?
92. Saran


__ADS_3

Jam sembilan pagi.


Di ruang tamu sudah ada kak Fatimah dan Yazid. Mereka langsung bergegas ketika mendengar kabar Kia dianiaya oleh orang yang belum jelas keteranganya karena Yazid hanya mendengar sedikit cerita dari pak Karim.


Kahfi yang baru selesai menjemur baju langsung ikut bergabung di ruang tamu. Dimana Kia sudah duduk berdua dengan kak Fatimah sedangkan Yazid duduk di seberangnya. Kahfi duduk dan menjelaskan prihal kejadian kemarin namun ia tidak bisa menceritakan semuanya karena ia tau bagaimana kia tidak ingin orang-orang tau hal tersebut.


Hati Yazid mulai terusik ketika mendengar perlakuan orang itu kepada Kia. Seketika Kahfi menekan tangan Yazid mengisyaratkan untuk ia tidak mengoceh dan memaki-maki orang tersebut di hadapan Kia.


"Sudah biar semua ini nanti mas yang urus. Semoga kedepannya hal ini tidak terjadi lagi kepada Kia. Sedikit melihat ke arah sang istri yang ada di seberangnya. Kahfi mengisyaratkan kepada kak Fatimah untuk membawa Kia ke kamarnya.


Kak Fatimah memegangi tangan Kia, ia bisa merasakan bagaimana sikis yang Kia alami saat ini. Kia hanya terdiam ketika mereka bertiga berbicara membahas kejadian kemarin. "Kak balurkan obat gosok ya Kia, biar badan kamu gak terlalu sakit. Ajak kak Fatimah dengan lembut. "Ooh ya Zid, kakak lupa ada lauk di motor yang tadi Kakak masak untuk kalian berdua." sebelum menutup pintu kamar ka Fatimah memerintah kepada Yazid.


"Baik kakak. Akan ane ambil." Yazid melangkah ke depan untuk mengambil rantang yang berisi semur ayam dan urab yang Fatimah masak sebelum ia berkunjung ke rumah Kahfi.


Kahfi memijat pelipisnya yang tak pusing. Memikirkan tindakan apa yang bisa membuat Rendy tidak lagi mengganggu Kia. Bila ia memberi tahu masalah ini kepada paman Dito pasti akan menjadi runyam. Tapi setidaknya paman Dito harus tahu bahwa Rendy masih berusaha untuk mendekati Kia kembali.


Yazid datang dan mengagetkannya dengan hentakan rantang di atas meja di hadapannya. "Kenapa si mas bro? ane tau pasti lagi mikirin gimana ngasih pelajaran sama orang biadab itu" Yazid duduk di dekat Kahfi.


"Astagfirullah, dasar sembrul. Dateng-dateng bikin kaget orang aja. Kahfi yang kesal karena kaget dan menoyor kepala Yazid.


Muka Yazid ditekuk dan menggerutu. "Lebay bangat mas bro gitu aja sampe kaget. jangan mikirin orang itu, tar biar ane yang urus sama temen-temen ane, mas bro tinggal terima beres aja. biar ane kasih pelajaran itu orang. Dengan nada kesal Yazid menyesap teh manis Yang ada di hadapannya.


***


Di kediaman Rendy. Ia masih kesal atas perbuatan Kahfi yang memukulinya sampe babak belur. hingga pada hari ini ia tidak bisa pergi ke kantor seperti biasanya. Mukanya penuh dengan memar karena tinjuan Kahfi yang begitu keras.


"Sial.. " umpatnya ketika ia menatap wajahnya di cermin. "Bagaimana pun aku tidak akan membiarkan Kia bahagia dengan laki-laki itu, aku harus bisa mendapatkan Kia lagi bagaimana pun caranya." Ia keluar dari kamar mandi. Dan ketika ia ke luar sudah ada paman Dito.


"Rendy kenapa kamu masih di rumah jam segini. Papah menunggu mu di ruang rapat tapi tidak kunjung datang." Dito menatap wajah Rendy yang penuh memar. "Kenapa wajahmu sampe memar begitu? habis berkelahi dengan siapa? tanyanya dengan bingung.


"Maaf, maaf pah. Tadi Rendy sudah kasih kabar ke Tanto kalau hari ini Rendy gak bisa datang ke meeting, semalam Rendy jatuh dari motor." Bohongnya agar sang mertua tidak mencurigainya.


"Jatuh dari motor? kok bisa?" Dito belum yakin. Rendy duduk di dekat mertuanya. Dito melihat hanya bagian wajah saja yang lebam. "Kamu bukannya habis berkelahi kan? karena tidak ada luka di kaki atau tanganmu? Dito semakin curiga ketika ia melihat jelas pada Rendy.


"Beneran, pah. Semalam Rendy jatuh dr motor karena ada mobil yang tiba-tiba ngerem mendadak dan bagian muka dan perut aja yang sakit. yang lainnya tidak" sambil meyakinkan sang mertua Rendy mengangakat kaosnya dan ada luka lebam pula di perutnya.

__ADS_1


"Sudahlah. Besok kita ada meeting dengan perusahaan yang dari Taiwan, papah berharap kamu bisa datang. tidak ada alasan lagi untuk tidak meeting." Dito bangun dari duduknya dan bergegas pergi.


"Sial si tua Bangka itu senaknya bilang begitu, gak ngerasain apa muka babak belur gini gimana sakitnya. Belum lagi malu ketika semua orang ngeliatin muka gue yang babak belur gini". Umpatnya dalam hati ketika sang mertua sudah tidak terlihat.


***


Satu jam kak Fatimah menemani dan membaluri tubuh Kia dengan obat gosok andalan keluarga besar kiyai Mansur. Kak Fatimah menutup pintu kamar dengan perlahan. Seketika Kahfi bertanya.


"Bagaimana kak apa Kia mau cerita sama kakak kejadian sebelumya? Kahfi penasaran sebelum kejadian yang ia lihat kemarin apakah ada kejadian sebelumnya yang ia tidak mendengar langsung dari Kia.


Kak Fatimah melangkah ke luar dengan gelengan kepala menjawab pertanyaan Kahfi. "Sudah jangan terlalu terburu-buru suatu saat Kia pasti akan bercerita kepadamu. Sekarang dia sedang berusaha untuk bisa melupakan kejadian itu. Kak Fatimah sudah memakai sendal dan hendak duduk di bagian belakang motor. Yazid yang sudah menyala'kan mesin motor langsung berpamitan kepada Kahfi. "Sepertinya Kia semalam tidak bisa tidur. Kamu harus bawa dia berlibur agar dia cepat kembali dengan suasana hatinya yang baik. Saran kak Fatimah sebelum berlalu dari hadapan Kahfi.


"Insyaa Allah, kak. terima kasih sudah menemani Kia dan merawatnya. Salamun mengakhiri pembicaraan mereka.


Kahfi hendak melangkah ke dalam untuk melihat Kia di kamar. Namun bi Asih menghentikannya dan menyodorkan paper bag kepada Kahfi yang diterimanya dari Adam sore kemarin. Karena ketika Adam datang kerumahnya Kahfi dan Kia tidak ada di rumah jadi Adam menitipkannya kepada bi Asih.


Setelah Kahfi menerima paper bag tersebut, ia langsung menutup pintu membawanya ke dalam kamar. Dan di lihatnya sang istri tidur dengan nyenyak tanpa pergerakan. "Maafin, mas ya dek." Lirihnya ketika menatap wajah sang istri yang terlihat pucat dan ada pilu dalam hatinya melihat sang istri yang biasanya ceria tapi hari ini seperti orang tak memiliki semangat.


Ia letakan paper bag di atas meja kerjanya, tak berniat untuk melihat isi dari tas tersebut. Ia mendekat kembali di dekat Kia. Sambil terus membelai pucuk kepala Kia yang terlihat betapa hitam dan berkilaunya rambut yang Kia miliki. Sesekali ia mencium kening Kia. Kia tetap tenang dalam tidurnya. "Dek pasti semalam gak tidur jadi sekarang tidur nyenyak banget tanpa terusik dengan tindakan, mas." Kahfi berbicara sendiri. Dengan tangan yang kini menyentuh hidung Kia.


"Dek udah bangun? mau kemana, sayang? kalau ada yang dek butuhkan tar mas ambilkan ya!" Kia yang berusaha mendekat ke lemari baju.


Kia membuka lemari baju, berusaha mencari baju Koko untuk sang suami. Yang rutinitas bila Kahfi ada di rumah untuk melaksanakan sholat Kia pasti menyiapkan baju Koko yang akan Kahfi gunakan. "Maaf ya mas, dek tidurnya kelamaan jadi belum menyiapkan baju Koko buat mas!" Lirihnya sambil menyodorkan baju Koko berwarna abu-abu ke hadapan Kahfi.


Kahfi menerimanya disertai senyum yang mengembang. "Mas sholat di masjid pondok ya, sayang?" dek gak apa-apa kan mas tinggal?" Kahfi melirik ke wajah Kia yang kini keduanya duduk di tepian tempat tidur.


Kia diam tanpa menjawab. Ingin rasanya ia mengatakan agar Kahfi tidak pergi dari sisinya karena ia masih merasa takut sendirian. Matanya seolah tak ingin menatap Kahfi karena Kahfi pasti bisa membaca akan apa yang ada di pikirannya. Kia hanya memainkan jari jemarinya dan menundukkan kepalanya.


Kahfi langsung melirik ke arah Kia dan menyentuh dagu Kia agar menatapnya, Kini mata keduanya bertemu Kahfi yang tau akan rasa takut pada Kia langsung mengerti. "Dek ambil wudhu sana, kita jama'ah di rumah yah." Sambil melihat perubahan di wajah sang istri Kahfi tersenyum dan mengakar kedua tangannya menyentuh bahu sang istri lalu mengantarkannya untuk berwudhu.


Sambil menunggu Kia berwudhu Kahfi menyiapkan tempat untuk mereka berdua sholat. Beberapa menit kemudian Kia ke luar dari kamar mandi dengan perlahan ia mengenakan mukenanya. Kahfi pun memulai sholat berjamaah ketika Kia sudah siap di belakangnya.


Selesai sholat keduanya berdoa dan di akhir dengan tilawah bersama. Selesai tilawah tak lupa Kahfi mengecup kening Kia setelah Kia mencium tangan Kahfi. Kahfi memeluk Kia sambil bertanya apa yang ingin Kia makan malam ini. Kia yang masih menyelusup di dada Kahfi seraya mendongakkan wajahnya. "Dek mau makan mie Ramen yang di dekat taman tapi mas gak boleh jauh-jauh dari, dek!" Tangan Kia menyentuh dagu Kahfi yang ada sedikit rambut.


"Baiklah bidadariku, kalau perlu kita beli borgol dulu biar kita takkan terlepaskan." Ledeknya sambil mengunyel-ngunyel muka Kia dengan hidungnya. Kia kegelian karena terkena jengot Kahfi. Senyumnya lepas dan Kahfi bahagia melihat sang istri saat ini.

__ADS_1


,***


Sampailah mereka di sebuah toko yang tak begitu luas namun selalu banyak pengunjung yang datang. Selain ramen di toko tersebut enak, tempat disana sangat nyaman dan tentu saja terjaga kehalalnya. Kia dan Kahfi terdiam sejenak melihat-lihat tepat yang kosong yang akan mereka tempati. Setelah mata mereka berdua mencari-cari ternyata belum ada tempat yang kosong. Ketika mereka hendak berbalik untuk menunggu di luar seseorang memanggil mereka berdua.


"Ustadz Kahfi" teriak orang tersebut ketika hendak mendekati Kahfi dan Kia. Kahfi melihat ketika namanya di panggil. Dilihatnya orang yang memanggilnya itu adalah Adam. "Ustadz ikut gaung aja sama ana dan istri, kebetulan kita berdua sudah reservasi terlebih dahulu. Ajak Adam. Mereka bertiga pun berjalan menuju tempat yang Adam tunjukan di tempat yang ia tunjukan. Dan disana sudah ada Febby yang sedang menunggu kehadiran mereka.


"Yaa Allah udah lama banget kita gak ketemu ya, Kia?" Ketika kedua wanita itu bersalaman dan cipka cipiki. "Sepertinya kamu kurusan, Kia, Jangan-jangan lagi isi nih ? ledek Febby. Kia hanya mengulas senyum. "Nanti kita bahas masalah itu lain waktu ya Kia, ada hal penting yang aku akan kasih tau tapi ini hanya apa akhwat aja." Febby tersenyum sambil memegang tangan Kia yang ada di atas meja .


Adam menyodorkan menu Yang ada di toko ramen tersebut. Dan meminta Febby untuk memilihkan menu yang cocok untuknya. Kahfi dan Kia memilih menu dan rasa yang sama yang membedakan hanya jenis minuman.


"Ooh ya, ustadz sudah terima titipan yang ane kasih ke bi Asih, kan?" Adam yang berhadap-hadapan dengan Kahfi.


"Subhanallah, ane lupa. Belum sempet ane buka, akhi. Btw kalau di luar panggil aja ane dengan sebutan nama, gak usah formal gitu kalau di luar."


Adam pun mengangguk tanda setuju. Adam Yanga syik.mengobtol dengan Kahfi dan Kia pun asyik mengobrol dengan Febby sahabat lamanya. Kahfi sekilas melihat kepada Kia, dalam hatinya bergumam bersyukur Kia bisa berbagi dengan sahabatnya dan tak terlalu terlihat wajah muram ketika ia sering mengulas senyum kepada Febby.


Lima belas menit kemudian makanan yang mereka pesan pun sudah tiba. Dua pasangan suami istri tersebut khusuk menyantap ramen yang mereka pesan. Sesekali mereka berbagi cerita tentang aktifitas mereka masing-masing. Febby yang melihat ada yang beda pada perangai Kia yang biasanya selalu ceria, mengajak Kia untuk bisa datang ke acara kajian di daerah M. Namun Kia menolaknya karena selalu ada rasa takut untuk pergi jauh dari rumah. Kahfi yang tau akan hal tersebut memberikan penjelasan kepada Febby karena untuk beberapa waktu Kia belum bisa melakukan aktifitas yang tidak menyertai sang suami.


Setelah mereka semua memutuskan untuk pulang dan menuju Ke tempat masing-masing. "Kia bila kamu mau pulang ke kota B, kabari aku ya! aku pengen banget pulta bareng-bareng sama kamu, biar di perjalanan gak bete" Febby yang sudah menaiki motor metik Adam.


"Insyaa Allah, aku nunggu mas Kahfi libur ngajar ya, Febb. Kapan-kapan main ke panti anak-anak kangen sama kamu, Febby." Sambil mengucapkan salam Kia memasuki mobil.


"Siapp... Insyaa Allah. Wa'alaikum salam." Jawab Febby sambil melambaikan tangan kepada Kia. Diperjalanan Febby membahas tentang Kia yang dirasa beda dilihatnya. Adam yang merasa tidak ada perubahan pada Kia, merasa sang istri terlalu mengada-ngada.


Di dalam mobil, sambil menyetir Kahfi sesekali selalu melirik pada sang istri yang ada di samping kirinya. Matanya fokus ke depan namun tangan kirinya meraba tangan Kia yang kanan menjadikan Kia yang sedang melihat-lihat ke arah jendela sampai menoleh kepada Kahfi.


Matanya menatap bagian samping Kahfi dan membalas sentuhan tangan Kahfi dengan meletakan tangan kekar Kahfi ke stiran mobil. "Kalau berkendara harus fokus ke depan, mas. Tangan juga jangan pegi-pegian gini. Kia menatap ke depan. Kahfi hanya tersenyum dan menghentikan mobilnya ke tepian. "Kok berhenti, mas?" Bingung Kia.


"Katanya kalau lagi mengemudi harus fokus. Mas lagi gak fokus jadi mas menepi dulu. Kia langsung menoleh kepada Kahfi. "Mas bersyukur dek ngajakin mas ke luar, dannnn, setelah ke luar mas gak terlalu khawatir karena mas bahagia liat dek cerita lagi. Tangan Kahfi meraih kedua tangan Kia sesekali mencium tangan sang istri. "Dua hari kemarin mas khawatir banget sama dek, dek yang murung, dek yang keliatan kuyuh. Tapi setelah dek bisa ketemu dengan Febby dek bisa ceria lagi. Alhamdulillah mas senenggg pake banget.


Kia hanya terdiam sambil mencerna perkataan dari Kahfi. Sebenarnya dia juga tidak ingin membuat sang suami khawatir namun ia mencoba untuk menjalanin sepeti biasanya itu dirasakan sulit. karena banyang-bayang kejadian itu masih teringat jelas di pikirannya. Hari ini ia memberanikan diri untuk mengajak ke luar karena ia mengikuti saran dari kak Fatimah. Bagaimana pun ia harus bisa melawan semua itu agar tidak menjadi beban untuk dirinya dan sang suami. Kia memberanikan diri untuk mencium pipi Kahfi secepat kilat.


"Ihhh kok cepet banget." Kahfi yang mendapatkan ciuman dadakan hanya bisa perotes karena dirinya belum merasakan lebih jelas ciuman tersebut. Kia hanya diam karena malu sambil menatap ke depan ia tak berani lagi menatap sang suami yang ada di sebelahnya. "Dekk, mau lagi, pipi sebelah kanan belum nih." Tujuknya pada pipinya sambil memainkan ke dua matanya yang tertambal kacamata.


Kia tersenyum malu. "Yang sebelah situ nanti aja di rumah sekarang dek pengen cepet-cepet sampai rumah, mas!" Baru saja Kia mengakhiri ucapannya. Bibir Kahfi sudah mendarat ke pipi Kia dan langsung mengendarai mobilnya kembali.

__ADS_1


__ADS_2