
🪻Pagi hari 🪻
Brayen sudah membereskan permintaan dari Kahfi. Untuk merapihkan rumah baru yang akan Kahfi dan Kia huni hari ini.
Kahfi meminta bantuan Brayen untuk menyuruh orang membersihkan rumah baru yang akan ia tempati selepas ia pulang dari rumah sakit.
Kebetulan siang ini Kahfi sudah boleh pulang. Beberapa persiapan sudah dikerjakan oleh Brayen. Tak lupa Rahma membantu menata rumah baru Kahfi dan Kia menurut selera sang kakak tercinta.
Tempat tidur dengan ukuran king size di kamar utama di lantai dua untuk Kahfi dan Kia, ruang khusus untuk berganti baju dan beberapa koleksi gamis baru yang Kahfi pesan khusus untuk sang istri.
Ruang tamu sudah di hias dengan bunga bunga segar dan beberapa balon huruf yang bertuliskan "Selamat ulang tahun pernikahan yang pertama "
Di atas meja tertata beberapa bingkisan dan kado. Sedangkan di meja makan sudah tertata beraneka ragam kue kue dan cemilan serta buah yang Tari persiapkan.
Semua anggota keluarga mempersiapkan tugasnya masing masing. Senyum indah terpancar dari mereka yang terlibat menghias rumah Kia dan Kahfi, senyum indah itu tak luput dari pembagian tugas sang kakak tercinta Razi.
Semua anggota keluarga pak Hasby berkumpul di rumah baru Kia dan Kahfi, tak lupa teman dekat Kia dan Kahfi yang ikut berkumpul menyambut ke pulangan Kahfi dan Kia dari rumah sakit. Sedangkan keluarga dari pak Mansyur menjemput Kia dan Kahfi di rumah sakit ada Yazid dan kak Fatimah.
Di rumah sakit.
Kia sudah memasukan barang barang ke dalam tas. Kahfi hanya menatap dari sisi sebelah kanannya. Kia dengan begitu kusuk mengerjakan pekerjaannya hingga tak sadar Kahfi terus menatapnya sedari tadi.
Wajah Kahfi kadang tersenyum melihat istrinya yang begitu telaten melakukan setiap pekerjaan. Namun terkadang ia merasa sedih mengingat kejadian semalam.
__ADS_1
Kia meraih baju yang ada di ranjang tempat tidur Kahfi yang masih dilipat rapih. Ketika pulang Kahfi akan memakainya. Dengan cepat Kahfi menangkap tubuh mungil Kia. "Baju itu mau mas pake jadi gak usah di masukin ke tas ya, dek!" Seketika Kia terdiam dan menatap tangan Kahfi yang mendarat dipunggung tangan Kia.
Kia hendak menarik tangannya namun ia urungkan. " Ya, mas." Kini tatapan itu beralih ke wajah Kahfi. Dari kemarin Kia berniat ingin mencukur bersih kumis dan jenggot yang sudah membuat wajah Kahfi sebagian tertutup.
Kahfi menyadari tatapan Kia. "Hutan di wajah mas sudah lebat ya, dek!" Kia membalas dengan senyum kecil atas perkataan Kahfi.
Mata Kia berkeliling mencari benda yang sempat ia letakan di nakas namun ia tak menemukan benda kecil berwana biru tersebut. Tangan Kahfi membalikan telapak tangan Kia dan meletakan benda tersebut ke tangan sang istri. Seolah ia tau apa yang Kia cari. " Dek cari ini, kan?" Kahfi tersenyum. "Boleh mas minta tolong untuk membabat hutan ini dengan bersih!" Kahfi memainkan kedua manik matanya ke atas kebawah mengisyaratakan agar Kia membersihkan hutan penisnya yang lebat.
Kia tersenyum kecil dan mengedipkan kedua matanya tanda setuju. Kia menarik pelan tangannya yang tadi di pegang oleh sang suami. Tubuhnya ia dudukkan di samping kanan tempat tidur Kahfi. Perlahan ia mengambil beberapa lembar tisu kering untuk menjadikannya tatakan agar bulu bulu yang akan dipangkas tidak mengenai pakaian Kahfi.
Kahfi diam dengan siap ia menerima pelayanan sang istri tercinta. Senyum mengembang di wajahnya. Perlahan Kia meraih air di wadah dan menyelipkan waslap lalu mengusapnya lembut ke wajah Kahfi, tak lupa Kia mengoleskan krim untuk mencukur bulu bulu di wajah Kahfi. Kahfi pasrah dan selalu menyungingkan senyum kecilnya di hadapan Kia.
Tangan kecil Kia perlahan memulai memotong kumis Kahfi. Kahfi diam tanpa suara. "Kalau ada yang terasa gak nyaman bilang ya, mas!" Kia terus melakukannya dengan telaten tanpa melihat ekspresi dari wajah sang suami.
Kini benda biru tersebut menuju hutan bagian jenggot Kahfi. "Jangan dibabat semua ya, sayang!" Kepala Kia bergerak ke atas dan ke bawah tanda setuju.
"Jangan banyak bergerak , mas!" Ucapan Kia belum sempat selesai namun pisau kecil itu melukai bagian bawah dagunya.
"Awa" Kahfi mengaduh kesakitan, sedikit darah keluar dari goresan pisau cukur tersebut.
Kia panik karena tangannya tidak sengaja melukai bagian wajah sang suami. "Maaf... Maaf mas." Kia mencari tisu dan hendak menyeka darah.
Namun dengan cepat Kahfi memegang tangan Kia. Dan membuat Kia terdiam dan detak jantungnya terasa tak beraturan. Begitu juga dengan Kahfi yang sedari tadi menahan rasa ingin mencium wajah sang istri yang sudah lama ia rindukan. "Jangan bergerak, dek! Biarkan mas menyentuh kulit pipi dek yang halus. Desir darah pada tubuh Kahfi mengalir menggelitik kesekujur tubuhnya.
__ADS_1
Kia terdiam mematung dan kedua matanya membulat ketika ceri merahnya tersentuh oleh ceri yang Kahfi miliki. Kahfi ******* ceri Kia dengan lembut tak menghiraukan rasa perih bekas dari cukuran pisau tersebut.
Mata Kia terpejam, namun tubuhnya lagi lagi bergetar menahan rasa ketakutannya. Tangan Kahfi masih memegang kedua pipi Kia dan perlahan ia melepaskannya ketika merasakan ada air yang membasahi pipi sang istri.
"Dek kenapa!" Pertanyaan Kahfi membuat Kia tersadar dari ingatannya akan kejadian yang membuatnya jijik pada dirinya sendiri.
Kia terdiam tanpa menjawab. Kini ia mendekap tubuh Kia dengan erat. Ingin memberikan kehangatan dan kenyamanan untuk sang istri. Dimana ketika Kia merasa takut pasti Kia meminta agar Kahfi memeluknya erat. Kini tanpa permintaan dari mulut Kia, Kahfi dengan pekanya memeluk erat dan meletakan kepala Kia ke dada bidangnya.
Kia merasakan jantung Kahfi yang berdebar tak beraturan. Isak tangis Kia pecah dalam dekapan sang suami. "Menangislah sayang! Maafin mas yang belum menjadi suami yang baik dan melindungi dek dari sesuatu yang membuat dek ketakutan!" Lirih Kahfi sambil mencium pucuk kepala Kia.
Tanpa permisi seseorang masuk dan melihat pemandangan di depan matanya. Yazid langsung beristigfar dan menutup kembali pintu kamar tersebut. Berniat ingin melihat apakah Kia dan Kahfi sudah rapih dan ingin mengajaknya untuk keluar dari rumah sakit. Karena Yazid sudah mengurus semua administrasi dan segala urusan di rumah sakit.
Kahfi menyadari ke datangan Yazid dan memintanya untuk langsung ke luar dengan isyarat dari mimik bibirnya. Yazid langsung menutup pintu.
"Yaa Allah pagi pagi mataku sudah ternodai, jiwa jombloku meronta ini!" Oceh Yazid ketika sudah menutup rapat pintu tersebut. Dan duduk dengan begitu saja di kursi tunggu.
Kak Fatimah yang datang dari arah pengambilan obat, langsung dibuat heran atas tingkah laku sang adik bungsu yang terlihat aneh. "Kenapa kamu, Zid? Kaya abis liat hantu aja!" Kak Fatimah hendak membuka hendel pintu namun dilarang oleh Yazid.
"Jangan. Jangan masuk dulu kak. Ada adegang yang gak bisa diganggu!" Ucap Yazid asal.
"Adegan yang gak bisa diganggu?" Kak Fatimah mengerutkan keningnya.
"Udah kakak jangan ganggu mas bro sama kak Kia" Yazid merobohkan tubuhnya di kursi.
__ADS_1
"Oooh! Emang kamu liat mereka ya? Makanya cepatan selesain kuliah kamu dan nanti langsung cari bidadari pujaan hati biar jiwa zomblo mu gak meronta ronta." Kak Fatimah duduk di sebelah Yazid sambil tersenyum puas.