
"Yang bernama Mawar dan Kinanti keluar kalian!" Teriak Prama ketika kami sudah sampai di sebuah ruangan kariyawan.
Dua wanita itupun langsung ke luar dari ruangan Devisi. Semua mata tertuju pada teriakan kemarahan Prama. Banyak suara sumbang yang ku dengar.
"Apa maksud kalian menganiaya Kia waktu di parkiran bawah tadi? Apa kalian tidak berpikir atas tindak 'kan kalian dapat mengancam nyawanya, hah?.
Dua wanita itupun terdiam mendunduk dengan melihat kemarahan kak Prama padanya.
" Sa... sa... saya hanya mencoba mengertaknya, pak? Ucap Mawar yang gugup.
"Saya tidak percaya dengan kata-kata kalian, saya sudah melihat langsung percakapan kalian dengan Kia. " Jangan kamu harap saya akan mau dengan kamu, sudah cukup bagi saya mengenal sepupumu itu. Ucap Prama dengan wajah penuh kebencian.
"Tap... tapi saya tidak ada hubunganya dengan itu semua, pak! saya memang sudah menyukai bapak sejak lama. Kata-kata itu terlontar dari mulut Mawar yang seolah tidak tau malu mengungkapkan isi hatinya di depan karyawan banyak.
" Saya tidak mau dengar alasan kamu!, sekarang juga silahkan kalian bereskan barang-barang kalian dan kalian jangan lagi perlihatkan wajah kalian di kantor ini lagi! Ucap Prama kesal dan penuh kemarahan.
"Jangan... jangan pecat saya pak..!/saya tidak bersalah, saya hanya kena hasutan Mawar... tolong pak jangan pecat saya! saya masih punya adik-adik yang harus saya biayai, pak!" Ucap Kinanti yang memohon kepada Prama sambil berlutut.
"Saya tidak perduli apa alasan kalian, karena kalian sudah mencelakai calon istri saya dan saya tau kalian tidak sekali ini saja menganiaya Kia." Sekarang juga saya minta kalian ke luar dari kantor saya. Ucap Prama yang berlalu pergi dari tempat itu tanpa memperdukikan Kinanti yang menangis memohon.
Kinanti bangun dan mencoba mendekati Mawar. "Semua ini ulah elo, dan gue yang kena getahnya? elo harus bertanggung jawab atas semuanya ini! Seharusnya dari awal gue udah gak ikut campur sama ini semua. Ucapnya yang berlalu sambil menyengol bahu Mawar dengan marahnya.
Mawar berlalu pergi setelah berlalunya Kinanti di hadapannya dan mereka berdua masuk ke dalam ruangan tempat mereka bekerja dan memberskan barang-barangnya.
****
Aku yang hanya diam tak menyangka kalu Kak Prama benar-benar menepati ucapannya. " Bagai mana dengan Kinanti dan adik-adiknya bila ia tidak berkerja lagi disini?. Gumamku dalam hati.
Ku langkahkan kakiku dengan sedikit berpikir dan menundukan kepalaku, aku kepikiran dengan keadaan Kinanti yang tadi relala bersujud ke kaki kak Prama. Kakiku terhenti ketika aku menabrak tubuh kekar mas Huda.
"Kalu jalan jangan sambil menunduk jadi kamu gak akan tahu kalau di depan ada jurang atau tembok yang akan membuatmu celaka. Ucapnya yang membuat aku melihat ke arah orang yang bersuara di depanku.
" Maaf... maafkan aku! Aku tidak sengaja! Ucapku pelan dan tak bersemangat atas semua yang terjadi tadi.
"Apa yang kamu pikirkan? Jangan menjadi orang yang bersalah atas kejadian ini, karena memang mereka pantas mendapatkan ini semua! jadi tidak ada lagi orang yang akan mencelakaimu lagi, Kia!
" Hemm.. aku tidak menjamin dengan semua ini mereka tidak akan menggangguku lagi, bila mereka nekat dan bertindak lebih dari ini, bagaimana dengan nasibku ke depan. Batihin ku.
"Tapi bukankah dengan semua ini mereka akan bisa bertidak yang lebih di luar sana? "Huuhhh.. entahlah apa lagi yang akan mereka perbuat setelah ini?, karena hanya kebencian yang terpancar dari wajah Mawar kepadaku, mas?! Kataku yang membuat mas Huda seolah berfikir keras.
"Aku ke ruangan mba Sasa dulu ya, mas! Ujarku yang berlalu dari hadapan mas Huda yang masih berdiri mematung.
****
"Apa kamu yakin atas apa yang kamu katakan tadi, Kia? Pertanyaan itu muncul dari gadis yang sekarang duduk bersamaku sambil melihat-lihat berkas yang ada di mejanya.
"Aku juga tidak yakin mba, apakah pak Prama akan mengizinkan Kinanti bisa masuk ke kantor ini bila aku yang memintanya.
Ucapku yang menumpukan wajahku ke atas meja kerja mba Sasa.
Perlahan dari belakang sudah ada yang mengusap lembut belakang punggungku. " Kenapa kamu masih peduli kepada orang yang sudah berbuat jahat kepadamu, ayy?
Aku kaget dengan suara kak Prama yang sudah ada di belakangku. Kucoba menegakkan badanku yang sedikit lemas karena siang tadi aku tidak sempat makan siang. "Kak Prama? bikin kaget aku aja!
" Kalu kamu seperti ini? yukk aku antar kamu pulang! aku yakin kalau keadaanmu seperti ini kamu gak akan konsentrasi dalam bekerja, ayy? Ajaknya seraya meraih tanganku yang masih lemas.
"Kia kamu tadi siangkan tidak jadi makan? isilah perutmu biar gak sakit! Ucap Sasa yang membuat kak Prama yang seolah menatapku dengan seribu pertanyaan yang penuh arti.
" Apa-apaan sih kamu, ayy! jam segini kamu belum makan siang? Dia langsung menarik tanganku tanpa permisi dan mengajaku keluar dari ruangan Sasa.
"Hati-hati pak Prama jangan perlakukan Kia seperti itu kasian dia pasti lemas dengan semua yang terjadi hari ini! Sasa yang kini sudah melepas paksa tanganku yang di pegang erat oleh kak Prama.
__ADS_1
Tiba-tiba badanku serasa lemas tak bertenaga, penglihatanku kabur.
" Ayy... ayy.. bangun ayy...! Yaa ampun, dia pingsan! Ucap Prama panik yang melihat Kia yang terkulai lemas di lantai.
"Cepat bawa dia keruangan pak Handoko dulu! biar aku hubungi dokter untuk memeriksanya. Teriak mas Huda yang kaget melihat Kia terjatuh pingsan.
" Yaa Allah, Kia kamu ini terlalu mementingkan oranglain ketimbang dirimu sendiri. Ujar Prama yang sudah membawa Kia ke ruangan Pak Handoko. Sasa yang melihatnya langsung menghampiri Kia dan mencari minyak kayu putih untuk di berikan kepada Kia.
"Yaa ampun, Kia! Hal ini pasti membuatmu tidak berselera makan! Ucap Sasa yang kini sudah membaluri minyak kayu putih ke badannya dan sesekali tanganya ia dekatkan ke indra penciuman Kia.
Prama yang sedikit panik terus menelpon Huda agar lebih cepat mendatangkan dokter. Dengan dua jarinya sambil memijat lembut keningnya Prama terus mencoba untuk melihat Kia yang belum terbangun.
" Maaf... maafkan aku ayy, yang selama ini tidak tau kalau kamu sering diperlakukan tidak baik oleh Mawar dan temannya.
"Saa... kenapa kamu gak pernah bilang kalau Kia sering di perlakukan seperti ini oleh Mawar? Kalu saja aku tau pasti sedari dulu aku sudah memecat Mawar dari kantor ini! Ucapnya yang kini sambil memegang tangan Kia.
Belum sempat Sasa menjawab pertanyaan Prama dua orang susah masuk ruangan tersebut.
" Silahkan dokter cek keadaannya!" Ucap Huda yang sudah mendatangkan dokter Erik keruangan pak Handoko yang terdapat sofa panjang di dalamnya.
"Maaf ya saya coba periksa keadaannya dulu!
Beberapa menit dokter Erik memeriksa Kia dengan alat-alatnya pemeriksapun selesai.
" Bagaimana dokter keadaan tuangan saya?Tanya Prama yang tak ingin dokter salah paham karena Huda yang telah memanggilnya untuk kesini.
"Mbanya kena dehidrasi dan agak stres, mungkin dia merasa banyak tekanan yang memicunya stres berat. Ketika dia sadar nanti tolong masnya berikan obat ini dan berikan lebih banyak sayuran dan buah-buahan ketika makan. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan nanti berapa menit lagi dia akan sadar kok. Jangan lupa paksa dia untuk makan lebih banyak dan minum air hangat jangan membebani dia dengan sedikit masalah, karena ini akan membuatnya semakin stres. Ucap dokter yang memberikan resep vitamin dan obat kepada Prama.
" Baik, terimakasih dokter. Ucap Prama dan Huda bersamaan.
Dan ketika Prama hendak duduk di samping Kia, ponsel disaku celananya berdering.
"Baik...baik gue akan langsung ke sana. Bilang untuk tunggu dulu sebentar ya, cegah mereka dulu. Ucap Prama yang akan menghadiri meeting dari salah satu perusahaan besar hari ini.
****
Sudah hampir 20 menitan Kia belum juga tersadar, Huda yang ada di sebelah bangku yang Kia tiduri, ia memandang wajah Kia yang terlihat pucat dan mata yang terpejam. Perlahan ia mendekati wajah Kia dengan tetap duduk di kursi sebelahnya, dengan kedua tangan yang di topangkan kes
dagunya, ia terus menelusuri wajah Kia, ia tatap matanya tertutup rapat, halis hitam yang mengikuti lengkungan mata, hidung mancung dan sedikit bibir yang masih pucat.
"Seandainya waktu itu aku pulang lebih awal mungkin aku yang akan hidup bersamamu, Kia! Dan mungkin mamahku pun masih hidup dan melihat aku bersamamu! Mamah tidak salah waktu itu memintaku untuk cepat pulang dan mengenalkanmu kepadaku. Tapi sekarang kau telah dengan adikku. Aku pernah berharap ketika aku pulang aku akan menemuimu. Bathin Huda.
Pelahan mata Kia mulai terbuka menyesuaikan cahaya pada ruangan tersebut. Pertama kali ia lihat wajah Huda yang terlihat jelas menatapnya penuh arti. Huda yang asyik dengan lamunan dan suara hatinya tak sadar kalau Kia kini sudah membuka matanya lebar.
" Mas Huda!" Ucap Kia lirih dan pelan ketika melihat Huda yang begitu dekat dengan wajahnya. Huda masih belum sadar dengan sapaan Kia, sampai akhirnya Kia menepuk pelan tanganya.
"Mas??...
" Ahh... ia... ucapnya gugup dan replek memegang tangan Kia seraya berkata. "Kamu sudah sadar Kia? Kamu minum dulu ya! apa mau makan buah atau makan nasi dulu?. Tanyanya yang membuat Kia bingung dengan tingkah Huda yang sedikit seperti orang tua yang kegirangan melihat anaknya terbangun dari tidurnya.
" Aku mau minum dulu saja, mas! Ucap Kia lemah.
Hudapun langsung mengambilkan minum yang sudah tersedia di meja dan membantu Kia untuk minum.
"Terimakasih mas! Ucap Kia pelan yang sudah menghabiskan setengah gelas air yang Huda berikan.
" Sama-sama! Sekarang kamu makan dulu ya!, karena dokter bilang, kalau kamu sudah sadar harus banyak makan buah dan sayur-sayuran. Ujarnya yang meraih piring yang sudah berisi nasi, sepotong daging dan semangkuk sop ayam.
"Aku bisa makan sendiri mas! " Apakah mas Huda menunggui aku sedari tadi? dan kemana kak Prama? kok tidak ada di sini? Tanyaku yang heran hanya ada kami berdua di ruangan ini.
"Baiklah, tapi tanganmu masih lemah" biarkan aku yang menyuapi ya? Dan Prama sedang ada meeting penting, jadi dia menyuruhku untuk menemanimu disini. Kalu kamu ingin pulang biar mas yang antarkan, ya? Ucap mas Huda yang menatapku seolah ingin sekali memperlakukanku lebih.
__ADS_1
" Kia kamu sudah sadar? Pertanyaan Sasa mengagetkanku ketika sendok yang ada di tangan mas Huda hendak menyentuh bibirku.
"Ya Sa..., Alhamdulillah aku sudah membaik. Ucapku.
"Biar saya saja yang menyuapi Kia pak Huda! Pinta Sasa yang mulai meraih piring dan sendok yang ada ditangan Huda.
" Baik... baiklah" Huda sedikit gugup ketika melihat Sasa yang sudah memergokinya yang akan menyuapi Kia.
"Makan yang banyak ya Kia! Kamu jangan banyak pikiran dan bila besok kamu belum baikan jangan paksakan diri untuk datang kekantor! Sasa yang kini menyuapiku dengan pelan dan berada di sebalah kananku.
" Ya, Sa" Balasku yang menatap wajah mas Huda dengan penuh tanda tanya.
"Kenapa mas Huda tadi menatapku aneh? dan kenapa perlakuannya seolah dia menaruh hati padaku? Apa jangan-jangan mash Huda??... Ahh.. itu cuma perasaanku saja mungkin. Ingat Kia kamu itu sudah di lamar sama jerapah cungkring, jadi gak mungkin kamu memenuhi janjimu pada almarhumah Bu Melinda yang menintamu menjadi istrinya mas Huda ketika dia sudah pulang. Bathin Kia yang penuh dengan kebingungan.
" Alhamdulillah, tak terasa kamu sudah menghabiskan makanmu, Kia! Ucap Sasa yang membuatku sadar dari berbagai macam pertanyaan di otakku.
"Habis ini kamu minum obat dan vitaminya ya, Kia! Kalau kamu udah segeran pulanglah dengan Pak Huda! Biar kamu bisa langsung istirahat yang cukup di rumah. Ucap Sasa yang berlalu membawa mangkok dan piring ke luar ruangan.
Kini suasana hening pun terjadi. Mas Huda hanya diam tanpa suara.
Dan suara pintu pun terdengar ada yang membukanya. " Syangggg... kamu sudah sadar? Pertanyaan itu muncul dari orang yang aku cintai.
"Alhamdulillah... Ucapku pelan dan sedikit melirik ke tempat duduk mas Huda yang sedikit berbeda dari raut wajahnya ketika adiknya menyapaku dengan lembut, seketika mas Huda berdiri dan meninggalkan kami berdua.
" Mas Huda mau kemana? Disini saja! Pinta Prama yang tak sadar dengan tatapan kakaknya yang tidak bisa di artikan.
"Mas mau pulang, karena papah minta temani ke perkebunan. Ucapnya bohong.
"Baiklah hati-hati ya, mas! Terima kasih sudah menjaga tunanganku. Ucap Prama yang mempertegas kata tunangan kepada Huda.
" Ya sama-sama. Ucapnya yang langsung berlalu.
"Sayang... kamu sudah makan belum? obatnya sudah di minum?. Pertanyaan itu tidak ada titik koma dari mulut Prama.
" Aku baru selesai makan dan tinggal minum obat, sayang. Jawabku agar orang yang kini sudah ada di hadapanku tidak banyak bertanya lagi.
"Ya sudah sekarang ayo minum obatnya ya! Seraya ia meraih kantong kresek yang berlogokan nama apotik yang di dalamnya sudah ada beberapa obat yang bentuknya seperti permen.
" Aku gak mau minum obat itu!, nanti saja biar aku minum ramuan dari ibu dari pada aku harus minum obat itu. Ucapku yang sudah menutup mulutku dengan kedua tangan ketika tangan Prama hendak memasukan obat itu ke dalam mulutku.
"Ishhh... isshhh... tak betul... tak betul kalau kamu berbuat macam tu (logatnya kaya upin ipin ya). Ayoo buka mulutmu, ayy! Jangan sampai aku paksa, memasukan obat ini ke dalama mulutmu, ya ayy! Ucap Prama yang sudah melepas paksa tangan Kia dari mulutnya. Yang membuat tatapan mereka kini begitu dekat.
Dan ketika Prama hendak memasukan obat itu ke dalam mulut Kia. Huda datang melihat adegan mesra adiknya dan Kia.
" Maaf...! mas hanya mengambil ponsel yang ketinggalan. Ucapnya sambil meraih ponsel yang ada di atas meja dekat Kia dan Prama duduk. Mata Huda seolah ingin menghindar pemandangan yang ada di hadapannya, namun sialnya hal itu tidak bisa ia hindari.
Dengan cepat pula Kia menjauh dari hadapan Prama dan berhasil menghindari obat yang akan diminumnya. "Ya ampun, ayy! cepetan minum obatnya! Bujuk Prama seperti membujuk anak kecil yang takut dengan orang tuanya.
"Jangan seperti anak kecil kalau kamu gak mau bikin orang yang kamu sayangi khawatir. Ucap Huda yang sudah berlalu dari hadapannya.
.
.
.
.
**Bersambung....
Aku berterma kasih sekali kepada pembaca setia Diakah Jodoh Pilihan Allah? yang dengan rela memberikan like, komen dan votenya untuk author...
__ADS_1
Terimakasih sebesar-besarnya kapada semua author yang selalu saling mendukung. sehat-sehat selalu buat kalian semua**.