
Kahfi yang segera mungkin untuk membereskan berkas berkas secepat mungkin ingin meninggalkan ruangan tersebut untuk menghidari agar ia tidak berduaan dalam satu ruangan dengan wanita yang bukan makhromnya.
Setelah semuanya masuk ke dalam tas langkah Kahfi secepat mungkin menuju pintu keluar. Namun tiba tiba lampu dalam ruangan itu mendadak mati.
Jeritan Mesi pun terdengar. Kahfi menghidupkan center yang ada di handphonenya yang kebetulan ia pegang namun masih dalam mode pesawat. Kakinya yang telah mantap untuk menuju ke luar akhirnya terhenti ketika menyadari masih ada Mesi di dalam ruangab tersebut.
"Tolong, tolong saya takut dengan kegelapan!" Teriak Mesi yang ketakutan.
Segera mungkin Kahfi kembali ke ruangan tersebut dan melihat Mesi yang berjongkok di bawah meja dengan tangan diletakan di atas kepalanya sambil menutupi mukanya dengan tas yang ia pegang.
"Jangan khawatir saya masih ada di sini." Ucap Kahfi sambil mengedarkan pencahayaan ke arah Mesi dan mencoba untuk memeritahkan Mesi keluar dengan tangan kirinya memegang handphone dan tangan kanannya memgang tas laptopnya.
"Hiks, hiks. Terimakasih mas sudah mau kembali menolong saya di sini." Ucap Mesi yang mencoba mendekatkan dirinya kepada Kahfi namun secepar mungkin Kahfi mendorong tasnya kearah tubuh Mesi yang ingin memeluknya.
"Maaf ukhti, kita bukan makhrom. Ukhti sudah bersuami dan ana pun sudah memiliki istri. Tolong tempatkan diri ukhti sebagaimana mestinya muslimah menjaga izzah dan marwahnya sang suami. Ucap Kahfi penuh penekanan.
Tanpa mereka sadari ada seorang laki laki yang sedang mendekati mereka. Setengah engos engosan ia mencoba menarik nafas dan mendengar apa yang baru saja Kahfi ucapkan. Ia dia adalah Akrom suami Mesi yang hendak menjemput sang istri dan ia tau bahwa Mesi sangat takut dengan ruangan yang gelap.
"Maaf. Maafkan saya mas." Ucap Mesi dengan setitik airmata di sudut matanya.
"Tolonglah ukhti, jaga pandangan ukhti dimanapun jangan pernah memaksakan hati ukhti untuk larut dalam masa lalu. Kita sudah memiliki kehidupan rumah tangga masing masing. Dan jagalah hati suami ukhti yang sudah sangat baik menerima ukhti dengan tulus. Karena ana tau betul siapa suami ukhti beliau adalah satu kampus dengan anak dulu ketika di Kairo." Ucap Kahfi yang baru sadar ada Akrom yang sudah mendengarkan percakapan mereka berdua.
Kahfipun meninggalkan Mesi dan sang suami (Akrom) dimana ia pasti mendengarkan perkataan Kahfi barusan. Mesi yang masih terisak tangis merasa malu atas perkataan Kahfi barusan. Akrom yang baru tau seseorang yang pernah ia dengan ceritanya dari sahabat sang istri tak disangka bahwa laki laki yang menjadi pujaan hati snag istri adalah Kahfi. Ia tau betul bagaimana Kahfi. Perkataan Kahfi seolah mengenang bagaimana ia bisa menerima Mesi dengan apa adanya.
****
Suasana di dalam pernikahan Ulan dan Brayen pun begitu sangat ramai ketika semua teman teman Brayen semasa kecilnya berkumpul dan saling mengenang peristiwa peristiwa yang menajdi sejarah antara mereka. Brayen yang mengenalkan Kia kepada sahabat kecilnya mendaptkan ejekan dari teman temannya..
"Guwe kira elo bakalan sama si Kia, Yen. Secara gitu elo sama Kia kan udah kaya kertas sama perangko. Diaman ada Kia pasti disitu ada elo." Ucap Dudi.
"Gak lah, guwe ama Kia itu udah kaya sodara jadi gak mungki ada rasa rasa kaya gitu. Secara Kia itu tomboy abis. Kan dia peminim pas dapetin laki dosen plus ustadz." Celetuk Brayen diringin tawa oleh temen temennya.
"Ihhh. Gak lucu banget ngatain begitu." Balas Kia berlalu pergi dari mereka.
Kia melihat handphone nya sudah mebunjukan pukul setengah delapan malam Kahfipun belum juga menjemputnya. Chat WA sore tadipun belum ia baca. Ketika dirinya berpamitan untuk bertemu dengan pak Prayoga di rumahnya. Yang kebetulan rumah pak Prayogoa dengan gedung pesta Ulan tidak jauh kurang lebih empat puluh menit sudah sampai.
Kia menuju pintu utama gedung dilihatnya Naura berama Huda yang baru saja turun dari mobil. Naura melihat keberadaan Kia di depan pintu utama. Secepat meungkim ia menghampiri dengan sebuah kado besar ditangannya yang akan ia berikan kepasa Ulan.
__ADS_1
"Kak Kia. Belum di jemput juga? Tanya Naura mendekati Kia.
"Belum. Sepertinya mas Kahfi kejebak macet, handphonenya pun dari sore gak aktif mungkin kehabisan batrai." Ucap Kia yang wajahnya sudah terlihat lelah.
"Ya udah kak Kia diantar sama mas Huda aja. Kasian liat kakak seharian disini pasti capek banget kak" Bujuk Naura.
"Gak apa apa mungkin sebentar lagi mas Kahfi datang!"
"Lagian kamu kenapa nungguin suami kamu di luar sini. Buakannya di dalam kan bisa sambil duduk. Kaian tuh kaki kamu pasti udah lelah banget." Ucap Huda memberi saran.
"Mas Huda temenin kak Kia dulu ya disini. Nanti Naura balik lagi setelah memberikan ini sama kakak ipar." Ucap Naura sedikit kepayahan membawa kado untuk Ulan.
Kia akhirnya menunggu Kahfi sampai duduk di lantai bawah. Rasa lelah telah menyapanya. Rasa kantuk yang ia tahan hingga membuat ia hendak berdiripun agak kesulian karena haq sepatu yang tak biasa ia gunakan. Ia mencoba untuk berdiri lagi namun tubuhnya sudah terasa lelah hingga keseimbangan tubuhnya tak terkendali. Dan ketika ia hendak berdiri menjadikannya setengah sadar.
"Awww. Teriak Kia yang kesakitan kakinya terklir hingga membuat mata yang tadinya sudah lima whatt menjadi segar karena rasa sakit yang ia rasakan.
Huda yang melihat Kia akan terjatuh replek memegangi tubuh Kia hingga keduanya seperti orang berpelukan.
"Kamu tidak apa apa, Kia?" Tanya Huda panik.
" Gak apa apa mas, sepetinya kaki Kia terkilir!" Ucap Kia yang belum sadar tubuhnya ada di tangan kanan Huda.
"Ehemmm."
Dehem Kahhfi
Kia yang baru sadar tubuhnya di pegangi Huda setelah mendengar suara deheman sang suami.
"Jadi seperti ini ketika suaminya jauh dengan sang istri, ya? bapak dengan senang hati mencari kesempatan untuk mendekati istri saya?" Ucap Kahfi yang menarik Kia dengan begitu cepatnya. Tanpa memperdulikan kaki Kia yang sakit karena terkilir.
"Mas."
"Mas."
"Ini gak seperti yang mas lihat dan mas fikirkan" Ucap Kia yang melihat raut wajah sang suami yang memerah karena menahan amarah. Air mata Kia keluar karena menahan sakit pada kakinya karena Kahfi memegang tangan Kia dengan begitu kuat dan langkah kaki Kia terhenti ketika ia merasa sudah tak sanggup untuk berjalan.
Huda yang melihat Kia seperti itu seolah tak tega hingga mendekati mereka berdua kembali.
__ADS_1
"Pak. Pak Kahfi. Kasian Kia kakinya terkeilir jangan paksa dia untuk berjalan!" Ucap Huda sedikir bertetiak sehingga bebrapa orang melihat ke arah mereka bertiga.
Kahfinyang baru sadar sang istri berjalan secara tertatih tatih dan menahan sakit secepat mungkin ia membopong tubuh Kia ke dalam mobil. Namun ia kesulitan ketika ia hendak membuka pintu mobil. Lalu Feby yang baru saja datang dengan Adam dengan cepat menolong Kahfi membukakan pintu mobilnya.
"Ada apa dengan Kia, ustadza?" Tanya Feby ketika membukakan pintu mobil.
"Hanya terkilir" Ucap Kahfi singkat
Kahfi dengan cepat menaruh Kia ke dalam mobil. Dan berlalu menuju kursi mengemudi sambil mengucapkan terimakasih dan salam kepada Adam dan Feby. Huda hanya terdiam melihat kemarahan Kahfi kali ini. Ia tidak bisa menjelaskan apapun kepada Kahafi karena suasana hati Kahfi sedang terbakar cembur jadi percuma kalaupun ia menjelaskan kejadian sebenarnya.
****
Di dalam mobil. Kia yang masih menahan sakit dan tangis hanya terdiam melihat kemarahan sang suami. Suasana di dalam mobilpun menjadi sangat dingin karena Kahfi tanpa sepatah katapun bicara kepada Kia. Kia terus menggigit bibir bawahnya karena menahan sakit pada kakinya. Sesekali ia menoleh untuk melihat taut wajah sang suami.
"Mas. Maafi Kia, ya!" Ucap Kia yang berusaha memegang tangan Kahfi yang sedang memegang pedal rem.
Kahfi hanya terdiam tanpa suara. Tanganya langsung ia tarik dan memegang setir mobil sambil menghentakan tangan kanannya pada setir. Matanya tertuju pada kaca depan dengan sedikit kecepatan pada mobilnya yang kebetulan suasana jalan sudah sedikit senggang.
Kia menundukan kepalanya setelah ia mencoba untuk meminta maaf kepada sang suami namun Kahfi teteap diam seribu bahasa. Kia bisa mengerti akan rasa cemburu yang Kahfi rasakan saat ini. Apalagi Kahfi dengan jelas melihat Huda memegang tububnya dengan pelukan yang begitu sempurna.
Mata Kia mulai mengeluarkan cairan bening setetes demi setetes. Rasa kantuk dan lelah yang ia rasakn tadi kini semua hilang yang ada hanya rasa takut kehilang seseorang yang ia susah sangat ia cintai.
Tidak dengan sesorang di sebelahnya. Kahfi masih terbayang dengan kejadian yang tadi ia lihat. Berharap ia dapat menghilangkan rasa pusing dan stresnya setelah rapat tadi karena bisa bertemu dengan snag istri tercinta. Berharap ada yang memberikan cuman mesra dan pijatan lembut untuk menghilangkan kepenatannya. Namun semua sirna setelah melihat adegan yang tidak ia sangka.
Mobil pun telah tiba di kediaman pak Hasby. Kia mencoba menghapus air matanya untuk menutupi kesedihanya di hadapan orangtuanya. Kahfi membukakan pintu mobil dan membantu Kia untuk turun. Namun lagi lagi Kia mengaduh kesakitan ketika kakinya hendak menginjak tanah.
"Awww!" Teriaknya hingga membuat pak Hasby yang masih duduk diteras langsung berdiri dan menghampiri.
"Kenapa Kia, nak Kahfi?" Tanya pak Hasby yang melihat Kia sedikit kesulitan berjalan.
"Kakinya sepetinya terkilir, ya?" Jawab Kahfi sambil memegang tangan Kia.
"Jangan dikasih jalan, nak. Kia pasti kesakitan sekali itu. Digendong saja." Ucap pak Hasbi memberi saran.
Kahfipun menggendong Kia kembali dimana tamgan Kia sudah mengalung ke leher Kahfi. Kia dengan begitu jelas memandang wajah marah sang suami di balik kacamatanya. Ia tak melihat mata yang berbinar penuh dengan kehangatan dan kasih sayang.
Kahfi menidurkan Kia ke kasur, melepaskan sendal yang Kia gunakan. Ketika tangan Kahfi hendak menaruh sendal tinggi itu tangan Kahfi terhenti karena Kia sudah mengalungkan tangannya keperut Kahfi dengan erat. Kahfi hanya mematung tanpa ada pergerakan sedikitpun. Kia mencoba meminta maaf lagi kepada Kahfi.
__ADS_1
"Mas. Dek tau, dek salah. Dek minta maaf bila sudah melukai hati mas Kahfi. Tapi kejadian tadi benar tidak seperti yang masa lihat. Kaki Kia terkilir ketika Kia hendak berdiri karena rasa kantuk dan lelah Dek kehilangan keseimbangan." Ucap Kia sambil mendongakan kepalanya ke arah wajah Kahfi. Namun Kahfi masih belum bergeming.