
Dua hari kemudian.
Kahfi yang masih di ruang ICU karena belum sadarkan diri. Alat alat medis masih menempel di tubuhnya begitu pula selang oksigen yang masih ada pada lobang hidung Kahfi. Matanya tertutup rapat namun mulutnya tak pernah berhenti memanggil nama Kia.
Dokter yang sedang obserpasi pun sampai menanyakan kepada suster yang mendampingi sang dokter hari ini, prihal orang yang sering dipanggilnya namun suster berkata bahwa anggota keluarga si pasien belum menemukan seseorang yang sering Kahfi panggil panggil namanya.
Di luar ruangan Yazid sedang menunggu sang dokter keluar dari ruangan. Dengan bibir yang tak berhenti berdzikir dan mendoakan sang kakak angkat yang sudah lama ia anggap seperti kakak sendiri. Ia merasa sedih dengan ke adaan Kahfi ditambah lagi Kia yang tak ada di sisinya saat ini, karena Kia belum di temukan. Semua orang mencari keberadaan Kia, namun sampai saat ini Kia belum juga di temukan. keluarga besar Ustadz Mansur sampai minta bantuan kepada semua kenalannya dan ada beberapa teman beliau yang merupakan polisi dan TNI. Begitu juga keluarga Kia yang masih sibuk mencari informasi tentang Rendy. Karena Razi dan Brayen tau pasti semua hal tersebut dilakukan oleh Rendy. penculikan terebut ada sangkut pautnya dengan Rendy.
Dokter pun keluar, Yazid seketika bangkit dari duduknya ketika melihat pintu ruangan tersebut sudah terbuka. Ia langsung menyodorkan beberapa pertanyaan kepada sang dokter, mengenai keadaan sang kakak saat ini.
"Bagai mana keadaan kakak saya, dok? apakah ada perkembangan? Tanya Yazid dengan wajah cemas dan diselimuti rasa sedih di dalam hatinya.
"Keadaanya sudah agak lebih baik, karena sudah melewati masa kritis. Saya sarankan agar pasien tidak mendengarkan berita yang tidak baik. jadi, walaupun pasien belum sadarkan diri namun sebenarnya dia bisa merespon apa yang ada di sekelilingnya." Jawab dokter sambil memberi saran kepada Yazid.
"Baik, dok. Terimakasih. Yazid berbagai lega karena Kahfi sudah melewati masa kritisnya.
"Semoga istrinya cepat ditemukan, karena sepertinya ia mengkhawatirkan sang istri jadi dalam bawah sadarnya ia selalu memanggil manggil nama Kia." Dokterpun berlalu dari hadapan Yazid setelah mengucapkan itu semua kepadanya diringi sang asiten di belakangnya.
"Aamiin. Sekali lagi terimakasih, dok!"
Yazid hanya bisa melihat sang kakak dari sebuah kaca yang dekat dengan tempat dimana Kahfi masih dalam ruang steril. Ari matanya tak terasa menetes setiap kali ia melihat Kahfi yang masih terbaring tak bergerak dengan banyak alat di tubuhnya. Kepalanya , tangan dan dadanya masih terbalut dengan kain kasa karena banyak goresan dari serpihan kaca mobil yang mengenai sebagian tubuhnya dan bebrapa bagian wajahnya.
__ADS_1
"Mas bro. mas bro pasti kuat dan bisa melewati ini semua. Semua orang sedang mencari keberadaan kak Kia, Yazid yakin hari ini pasti kak Kia bisa ditemukan dan mas bro bisa bersama lagi dengan kak Kia." Ucap Yazid lirih.
Dan tak disadari seseorang sudah ada di belakangnya yang ikut menangis. Orang itu mengelus punggung Yazid seketika Yazid membalikan badannya dan setelah melihat pria paruhbaya tersebut Yazid langsung memeluknya dengan erat.
"Maaf om baru bisa kesini, karena menenangkan hati Tante Aisyah yang saat ini pun sedang tidak enak badan jadi belum bisa menjenguk nak Kahfi." Ucap Pak Hasby yang baru sampai.
Yazid sedikit memberikan senyum dan langsung mencium punggung tangan pak Hasby. "Tidak apa-apa om. Abi dan keluarga juga mengerti dan memaklumi hal itu." Ucap Yazid dan memapah pak Hasby untuk duduk di kursi tunggu di depan ruangan Kahfi di rawat.
"Kamu sendirian? tanya pak Hasby matanya sambil beredar kesetiap sudut.
"Gak, om. Ada kak Fatimah dan suaminya. Dan Abi juga tadi baru pulang dari sini. Katanya ada informasi dari temannya Abi yang kebetulan polisi di daerah ini." Jawab Yazid.
Ponsel Yazid berdering. Dilihatnya nama kontak pada ponselnya dengan id Razi. Yazid langsung mengangkat teleponnya sambil menunjukan kepada pak Hasby bahwa Razi menelponnya. Setelah menjawab salam dari Razi, Yazid mendengarkan kata demi kata dari sebrang sana. Matanya berbinar seketika dan mulutnya tak henti hentinya mengucapkan syukur dan ia langsung bersujud syukur di hadapan pak Hasby yang terbengong melihat tingkah Yazid di hadapannya.
Yazid mendekat pada Pak Hasby. Rasa bahagianya mendengar Kia yang sudah ditemukan dengan serta Merta Yazid langsung memeluk pak Hasby dan mengatakan bahwa putrinya sudah ditemukan. Pak Hasby tersenyum diiringi titik air mata dikedua sudut matanya. Pak Hasby pun langsung bersujud syukur.
****
Di waktu yang sama dan di tempat yang berbeda. Brayan, Razi, Tanto serta Sonya masih berada dalam rumah kosong tersebut dimana Kia di sandra. Razi dan Brayen yang masih mengatur nafas karena kelelahan habis berkelahi dengan anak buah Rendy yang begitu bringas dan kuat. Sonya sedang menangis karena Rendy kabur dalam keadaan kaki yang tertembak oleh tembakan polisi. Sedangkan Tanto sudah membawa Kia ke rumah sakit terdekat karena Kia pingsan dan ada bebrapa luka di bagian lengan dan wajahnya akibat kia selalu memberontak ketika Rendy hendak membawanya pergi. Dan dalam dua hari itu Kia tidak mau makan hingga mengakibatkan tubuhnya menjadi lemas.
Dalam perjalanan Tanto terus melihat ke arah belakang karena Kia belum juga sadarkan diri. Dengan kecepatan tinggi Tanto mengendarai mobil tersebut.
__ADS_1
Empat puluh menit Tanto mengendarai mobil tersebut yang biasanya perjalanan tersebut bisa di tempuh kurang lebih satu jam setengah agar bisa sampai dengan selamat. Tanpa pikir panjang Tanto langsung meminta suster untuk membawa Kia langsung ke ruang UGD. Suster pun langsung membawa brangkar dan mendorong Kia ke ruang UGD.
Tanto bernafas lega ketika Kia langsung ditangani oleh suster penjaga di rumah sakit tersebut. Setelah ia melihat nama rumah sakit yang ada dekat mobilnya Tanto baru tersadar bahwa ia membawa Kia ke rumah sakit dimana Kahfi di rawat.
Tanto langsung menelpon Razi dan memberi tahu bahwa ia membawa Kia ke rumah sakit dimana Kahfi di rawat. Tanto duduk di kursi sambil menunggu Kia yang sedang di tangani oleh suster. Beberapa mata menatap ke arah Tanto dimana sebagian bajunya ada bercak darah dan wajah Tanto begitu kusut. Menyadari dirinya yang di tatap banyak mata Tanto bergegas mencari toilet untuk membersihkan dirinya.
Lima belas menit kemudian Tanto telah keluar dari toilet dan langsung ketempat semula ia menunggu Kia. Dokter baru saja keluar dari ruangan tersebut dan Tanto langsung bertanya tentang keadaan Kia. "Bagaimana keadaannya, dok?" Tanya Tanto dengan nada tegasnya.
"Istri anda belum sadarkan diri, sepertinya ia kekurangan cairan dan kami sudah memberikan infusan dan vitamin agar istri anda cepat pulih." Jawab dokter yang asal mengira bahwa Kia itu istri nya Tanto.
"Dia bukan istri saya, dok. Saya hanya teman dari suaminya yang kebetulan juga di rawat di rumah sakit ini, yang dua hari lalu mengalami musibah pengeroyokan akibat penculikan istrinya. Dan istrinya baru hari ini ditemukan." Jelas Tanto kepada dokter tersebut.
"Oohh, kalau begitu saya minta maaf. Apakah wanita itu bernama Kia?" Tanya dokter kembali.
"Benar. Dari mana dokter tau? padahal saya belum memberi tahunya."
"Kebetulan saya dokter yang merawat suami dari Kia, yang selalu memanggil manggil nama istrinya dua hari ini. Saya dokter Abraham. Bila istrinya sudah sadar, saya akan membawanya agar bisa melihat keadaan suaminya. Karena suaminya sepertinya sangat mengkhawatirkan dirinya." Jelas dokter dan berlalu dari hadapan Tanto.
"Baik, dok. Terimakasih banyak!"
Dua jam berlalu, Razi dan Brayen sudah ada menemani Tanto dan Razi pun memberitahu keadaan Kia kepada keluarga ustadza Mansyur.
__ADS_1
Razi masih sangat mengkhawatirkan kesehatan Bu Aisyah yang sekarang sedang sakit di rumah, karena memikirkan keadaan putrinya. Sebelum Kahfi mengabarkan orang orang Razi terlebih dahulu memberikan kabar kepada Tari agar hati Bu Aisyah menjadi tenang karena Kia sudah di temukan dalam keadaan baik baik saja. Bu Aisyah ditemani Rahma dan juga Tari. Bu Aisyah sangat bersyukur akhirnya Kia di temukan. Dan ia memakasa agar Tari dan Rahma bisa membawanya ke rumah sakit dimana Kia di rawat. Namun Razi belum mengizinkannya.