Diakah Jodoh Pilihan Allah?

Diakah Jodoh Pilihan Allah?
76. Heboh


__ADS_3

Sampailah Kia dan Kahfi di rumah. Kahfi yang sudah membaringkan Kia di kamar dengan sibuknya ia mencopotkan peniti penti yang ada di kerudung Kia. Kahfi ingin istrinya tidur nyaman tanpa kerdung. Ia lepaskan sepatu yang Kia kenakan. Namun tak diduga Kia mengeliat dan meluruskan kakinya hingga wajah Kahfi tertendang olehnya.


"Astagfirullah!" Ucap Kahfi kaget.


Seketika Kia terbangun karena kaget dengan suara Kahfi yang sedikit berteriak. Matanya langsung tertuju pada Kahfi yang sudah menahan sakit pada wajahnya.


"Mas. Mas Kahfi kenapa?" Unjarnya tanpa berdosa.


Seketika Kahfi bangun sambil menunjukkan sepatu Kia yang sudah ia lepas tadi dan kini ada ditanganya.


Sepontan Kia menutup mulut o nya karena merasa bersalah karena telah menyakiti sang suami. Lalu Kia pun menurunkan kakinya ke tempat tidur dan mendekat kepada Kahfi


"Maaf, Maafin dek ya, mas!" sini dek obati. Ucap Kia sambil bangkit dari tempat tidur dan hendak mengambil salep penahan rasa sakit berniat mengobati Kahfi.


Namun dengan cepatnya Kahfi meraih tangan Kia dan menariknya hingga Kia terjatuh di badan Kahfi.


"Mas gak butuh obat. Cukup ini yang mengobatinya. Ucap Kahfi yang menunjuk kepada bibir Kia. Dan seketika Kahfi mendorong tengkuk Kia sampai akhirnya bibi Kia mendarat ke pipinya yang sedikit memerah.


Kia yang kaget dengan apa yang Kahfi lakukan hanya terbengong dan pasrah. Beberapa detik bibir itu menyapa pipi Kahfi. Kia mencoba bangkit dari atas tubuh Kahfi. Namun kedua tangan Kahfi sudah mengalung ke bagian panggul Kia.


"Masss. Udah dong dari tadi bikin jantung Kia kaget kagetan terus. Gak takut apa istrinya sakit jantung. Ucap Kia sambil memanyunkan bibirnya.


Bukanya melepaskan sang istri Kahfi malah semakin tergoda dengan tingakah sang istri yang seperti itu. Dengan cepat Kahfi melu mat bibir Kia hingga membuat Kia sulit untuk menolak dan bebrapa detik kesulitan bernafas.


"Ihhhh... Mas Kahafi genit! Ucap Kia yang sedikit kesal dengan hal spontan Kahfi.


"Gak apa apa genit sama istri sendiri, dari pada genit sama wanita lain. Emangnya dek mau?


Ujar Kahfi yang belum melepaskan pelukanya dan malah seneng ngerajin istrinya.


"Coba aja genit genit sama wanita lain. Gak akan dek izinkan mas ke luar rumah. Jawab Kia asal


"Beneran ni, dek mau kurung mas? Berarti kalau masnya di kurung mas dapet sevicean full seharian dong dari dek, buat kita cicil cicil adonan dede bayi.


Ucap Kahfi yang mengunyel ngunyel wajah Kia dengan gemasnya seperti seorang ayah pada bayinya.


"Ihhh, mas udah dong!" Dari tadi seneng banget godain istrinya. Lama lama abis deh nih muka dek.


Ucap Kia yang mempunyai ide jail kepada Kahfi dengan mengklitik klitikan Kahfi hingga gegelian. Hingga akhirnya Kia bisa lepas dari Kahfi dan Kia langsung berlari ke dalam kamar mandi.


" Awas ya tar kalau ke luar mas akan buat perhitungan!" Ledek Kahfi yang mulai duduk di tepian tempat tidur sambil tersenyum melihat istrinya yang lari dengan cepat dan langsung menutup pintu dengan keras.


******


Suara azan Isya pun berkumandang. Kia yang sudah ikut Kahfi ke masjid pondok. Sudah duduk di bagian shof belakang permpuan yang disebelahnya ada Farah dan Feby. Selesai sholat mereka memdengarkan kajian yang dibawakan oleh ustadz Mansur.


"Kia apa kau sudah dapat kabar tentang Brayen?" Tanya Feby


"Brayen, ada apa dengan Brayen? Jawab Kia balik bertanya karena penasaran


"Jadi kamu tidak tau? Brayen dan teman kerjamu itu akan menikah bulan besok. Kalian kan sabatan lama masa sahabat sendiri tidak diberi tahu?


"Aku gak ngerti deh. Karena mungkin mereka bingung mau menghubungiku karena semenjak aku ganti nomer banyak yang belum aku hubungi.


Ucap Kia yang sudah melipat rapih mukenanya dan sedikit bersiap untuk mendengarkan isi kajian malam ini.


Tiga puluh menit sudah berlalu. Kajian pun telah usai. Kia yang berjalan berdua dengan Feby lalu di susul Farah yang agak sedikit mengejar langkah mereka berdua.


"Kia, Feby. Tugggu aku!" Teriak Farah yang belum sejajar dengan mereka.


"Farah! aku kira kamu sudah pulang duluan tadi?


Ujar Feby.


"Aku tadi duduk di bagan depan karena ada Anisa yang minta di temani sambil membahas tentang tugas kuliah."


Jawab Farah menjelaskan


"Sepertinya sekarang kamu sibuk ya, Farah? Tanya Kia sambil mengulas senyum


"Tidak juga, Kia! Kebetulan akhir akhir ini sedang banyak tugas yang harus aku selesaikan. Ngomong ngomong udah ada kabar gembira belum nih. Tanda tanda keponakan untuk kita, ya gak, Feb?"


Tanya Farah sambil mengelus perut Kia yang masih datar.


"Do'akan saja, semoga Allah memberikannya diwaktu yang tepat untuk kami bedua dapat memiliki kepercayaan memiliki keturunan."


Jawab Kia yang sedikit memikirkan tamu bulanannya belum datang

__ADS_1


"Semoga Allah segerakan ya untuk kamu dan ustadz Kahfi memiliki anak anak yang sholeh serta sholihah." Ucap Feby yang langkahnya terhenti karena Adam sudah menunggunya di depan gerbang Masjid.


"Feby, liat tuh pangeran kamu sudah menunggu dengan kuda besinya. Siap menjemput sang bidadari." Ledek Farah sambil mencolek pinggang Feby.


"Kalain ini bisa aja. Kalau begitu aku duluan ya Kia, Farah! Assalamu'alaikum. Feby yang sudah berlalu dari mereka berdua.


"Wa'alaikum salam. Hati hati ya" Ucap Kia dan Farah bersamaan.


"Ustadz Adam hati hati bawa tuan putrinya jangan sampe lecet lecet." Teriak Farah hingga bebrapa orang menoleh ke arah Farah.


Adam hanya mengulas senyum mendengar ucapan Farah dan langsung tancap gas melajukan motor metiknya di ikuti salam dari mulutnya.


"Farah kamu pulang sendiri apa ada yang menjemput? Tanya Kia yang melihat keberadaan Kahfi di depannya.


"Aku sudah biasa pulang sendiri Kia. Lihat tuh pangean mu juga sudah datang. Hemm... kira kira kapan ya aku seperti kamu dan Feby? Tanyanya sambil menaruh telunjuk dipipinya.


"Semoga Allah segerakan dengan pilihan Allah. Aamiin. Ucap Kia yang mulai mendekati Kahfi


"Aamiin Yaa Allah." Jawab Farah.


"Assalamu'alaikum" Salam Kahfi kepada mereka berdua


"Wa'alaikum salam." jawab mereka kompak


"Sayang mau langsung pulang apa mau mampir dulu ke rumah abi Mansur?


Tanya Kahfi yang sudah menerima ciuman tangan Kia dan Kahfipun mencium kening Kia di depan Farah.


"Yaa Allah, mataku ini ternodai dengan melihat adegan barusan!"


Ledek Farah yang menutupi wajahnya dengan mukena yang ia bawa.


"Makanya cepet nikah biar bisa kaya kita." Jawab Kia sambil mengalungkan tangannya ke pinggang Kahfi.


"Baru tadi di do'ain sama kamu, Kia? Ya semoga aja nanti di jalan ada pangeran berkuda putih bersedia menikah denganku. Dari pada aku kaya obat nyamuk disini aku pamit pulang dulu ya Kia kakak ustadza. Ucap Farah berlalu dari Kahfi dan Kia.


"Aamiin. Hati hati kalau ketemu pangeran berkuda putih, takutnya bukan pangeran!" Canda Kia sambil melambaikan tanganya kepada Farah yang sudah sedikir berlari ketika melihat Anisa yang sudah melewati pintu gerbang Masjid.


"Sayang gimana? mau ke rumah abi dulu apa langsung pulang? dari tadi suaminya nanya belum di jawab" Ucap Kahfi sambil menyentuh hidung Kia.


"Ya sudah. Sekalian kita makan malem sama sama ya. Kebetulan kak Fatimah sedang ada di rumah. Baru tadi sore pulang.


Ucap Kahfi yang sudah memutar kunci motor dan langsung mengendarainya.


****


Susana meja makan malam pun sedikit lebih ramai malam ini. Karena ada kak Fatimah yang baru pulang. Keramaian canda dan tawa begitu terlukiskan di malam ini dengan godaan serta guyonan Yazid yang selalu melucu ketika sedang kumpul.


"Gimana Kia setelah menikah dengan Kahfi ada hal yang ane gak sama Kahfi apa dia udah berhasil membuat kamu hamil?" Tanya kak Fatimah


Kia yang baru menandaskan minumnya langsung terkejut dengan pertanyaan kak Fatimah.


"Uhuk"


"Uhuk"


"Uhuk"


Kia yang terbatuk. Kahfi yang sigap langsung memberikan elusan sayang pada pundaknya.


"Hati, hati sayang!" Ucap Kahfi yang keceplosan memanggil sayang di depan keluarganya.


"Cieeee, tau dah yang masih pengantin baru manggilnya pake sayang sayangan." Ledek Yazid sambil berdiri dan memundurkan kursinya hendak berlalu dari meja makan.


"Yaziddd" Ujar kiyai Mansur yang tau keusialan anak bungsunya yang selalu menggoda kakak angkatnya.


"Ya, bi. Yazid cuma seneng aja menggoda mas Kahfi. Sanggahnya menghidari lemparan sisa mentimun dari piring kiyai Mansur.


Suasanapun jadi ramai ketika Kahfi menggoda balik Yazid. Keduanya seolah tak mau kalah saling menggoda hingga membuat kiyai Mansur geleng geleng kepala sulit menghentikan keduanya.


Fatimah yang masih penasaran dengan jawaban Kia, hingga mengajak Kia untuk berbincang bincang di teras depan. Hingga keduanya menjalin ke akrban layaknya kakak dan adik yang saling bertukar cerita.


Tak terasa jam pun menunjukan pukul 22.00 wib, sehingga Kahfi mengajak Kia untuk pulang.


"Dek, sudah malam yuk kita pulang! Besok mas hendak ke kota untuk memberikan berkas ke paman Dito. Ucap Kahfi mengajak Kia pulang.


"Kak Fatimah, Kia pamit pulang ya. Insyaa Allah lain waktu kita sambung lagi." Pamitnya lalu bersalaman kepada Fatimah.

__ADS_1


"Baiklah, Kia. Hati hati di jalan. Awas jangan mau kalau Kahfi ngajak kamu muter muter jalanan nanti kamu masuk angin." Ucap kak Faimah meledek adik angkatnya itu.


"Jangan kahawatir kak, Kahfi gak akan ngajak istri Kahfi keling keling jalan tapi mau ajak Kia keling dunia. Aamiin. Jwab Kahfi yang sudah menyalahkan motornya.


Kini Kia pun sudah duduk menyamping di belakang Kahfi dengan tangan kanannya melingkar kepinggang Kahfi dan tangan kirinya memegang mukena. Angin malampun terasa dingin hingga mengurungkan niat Kahfi untuk melaju cepat kendaraanya, karena dia tau pasti Kia akan kedinginan.


"Sayang, malam ini terasa lebih dingin. Kalau dek kedinginan bisa peluk mas dari belakang! mas lupa gak bawa jaket. Ucap Kahfi sedikit mengeraskan suaranya.


"Gimana Kia mau peluk mas kan ada mukena yang Kia pegang!. Ini juga dek udah meluk mas walau satu tangan" jawab Kia datar.


Ditengah perjalanan, tiba-tiba hujan turun sangat deras. Kahfi sedikit agak mempercepat laju sepedah motornya. Kia yang mulai kedinginan sedikit mengeratkan pelukannya. Kahfi yang menyadari hal tersebut mengulurkan tanganya untuk mengusap lembut punggung tangan Kia yang ada di perutnya.


"Sabar ya sayang sedikit lagi kita sampai rumah. Teriak Kahfi menahan dinginnya hujan.


Lima menit kemudian mereka berdua akhirnya sampai di depan rumah. Kia langsung mengeluarkan kuci rumah dan membuka pintu. Kahfi yang sudah memasukan motornya ke garasi langsung menyusul sang istri yang sudah masuk duluan.


"Mas minum teh hangannya dulu terus langsung mandi biar gak masuk angin."


Ucap Kia yang sudah meletakan secangkir teh jahe di atas meja di ruang tv. Lalu Kia pun langsung masuk ke kamar untuk mandi dan menggati bajunya.


"Termakasih sayang!"


Ucap Kahfi yang duduk langsung menikmati teh jahe hangat dan masuk ke kamar untuk mandi.


Kia yang sudah menyelsaikan urusannya di kamar mandi. Lalu menuju lemari untuk mencari baju untuk sang suami.


Sepuluh menit kemudian Kahfi sudah selesai dan mengambil baju yang sudah di sediakan Kia di tepian tempat tidur. Kia yang sudah terbiasa dengan kebiasaan sang suami langsung menyiapkan sajadah. Keduanya melakukan sholat dua rokaat sebelum tidur.


"Dek, kok mas terasa dingin ya? malam ini bobonya gak usah pake AC dulu ya, tak apa kan?" Tanya Kahfi yang sudah menempati bagian dari tempat tidurnya.


"Ya, mas." Lagi pula malam ini kan hujan jadi udara jadi terasa dingin. Mas kelelahan juga mungkin jadi ketika badan mas kena air hujan timbul rasa gak nyaman. Ucap Kia yang sudah ada disamping Kahfi sambil mengecek kening Kahfi.


"Sudah, mas gak apa apa kok, sayang! sekarang kita istirahat ya? Ajak Kahfi yang merebahkan tubuhnya dan Kia secara bersamaan.


Kahfi yang mulai agak kedinginan meminta Kia untuk memeluknya padahal Kia sudah menyelimutinya dengan selimut yang agak tebal.


Tengah malam badan Kahfi terasa menggigil Kia yang menyadari itu terbangun dan mengecek kening Kahfi dengan termometer.


"Tiga puluh sembilan, mas Kahfi tinggi banget panasnya" Gumam Kia. Seketika Kia bangun dan mencoba untuk mengompres Kahfi dengan air hangat


"Sayang, mau kemana? dek sini aja jangan jauh-jauh dari, mas. Mas kedinginan, sayang! Oceh Kahfi melihat Kia membuka pintu kamar.


"Sebentar, sayang. Dek mau ambil air hangat agar bisa mengompres mas dan cari obat paracetamol untuk meredakan demam. Sebentar ya!"


Ucap Kia seolah sedang membujuk anak kecil yang sedang sakit.


Tanpa menunggu jawaban Kia menuju ke dapur dan ke tempat P3K untuk mencari obat yang ia perlukan. Akhirnya obat itupun ia dapatkan. Kia langsung menuju kamar sambil membawa alat yang ia butuhkan tadi.


"Masss. Minum obatanya dulu, biar mas tidak terlalu demam!"


Ucap Kia lembut sambil mengelus pipi Kahfi yang sudah memerah karena rasa panas ditubuhnya.


Kahfipl pun membuka matanya dan menerima obat yang Kia minumkan. Sambil mengopres kening Kahfi dan di kedua ketiak Kahfi. Kia malam ini sedikit terjaga karena merawat sang suami yang sakit.


Jam menunjukan pukul dua pagi. Kia masih belum bisa tidur karena harus mengganti kompresan setiap lima belas menit sekali. Seketika Kahfi membuka mata dilihatnya sang istri sedang memandanginya.


"Sayanggg, kok dek belom tidur? Tanya Kahfi sedikit serak.


Bukannya menjawab Kia malah balik tanya kepada Kahfi.


"Mas, kenapa bangun?" Ucap Kia sambil membantu Kahfi untuk duduk.


"Dek istirahatlah. Kalau dek gak istirahat tar dek ikutan sakit juga!"


Titah Kahfi sambil membelai rambut Kia dan merapihkannya.


"Ya dek akan istirahat kalau mas sudah tidur. Mas mau minum?


"Ya. Mas terasa haus banget, tapi mas juga mau ke kamar mandi dulu."


Ujar Kahfi yang sudah menarik selimutnya dan hendak menurunkan kakinya dari tempat tidur.


"Ya sudah dek papah ya?" Ucap Kia menawarkan.


"Gak usah sayang, mas bisa kok jalan sendiri. Tenaga mas masih kuat."


Dengan menunjukan cengir kudanya Kahfi menuju ke kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2