Diakah Jodoh Pilihan Allah?

Diakah Jodoh Pilihan Allah?
45. Kania Kecil


__ADS_3

Tak terasa Kia sudah hampir sebulan tinggal bersama nenek Rumi dan abah Dahlan di kampung x. Selama tinggal disana Kia selau membantu nek Rumi sampai-sampai nek Rumi tidak boleh memegang pekerjaan sedikitpun karena, semua pekrjaan rumah tangga Kia yang menghendelnya semua. Abah Dahlan dan nek Rumi senang karena wajah sedih Kia sudah tidak terlihat selama tinggal bersama mereka.


Setiap hari Kia mengikuti kajian di mesjid dekat asrama. Ia pun sudah mengajar anak-anak panti yang di bimbing oleh Adam anak ustadz Subekti. Yang ketika malam itu membicarakan tentang kesiapan Kia mengajar di panti dengan gaji yang tak bisa di harapkan seperti gaji dirinya waktu kerja di kantor Prama.


Seperti hari ini, Kia akan berpamitan sementara waktu untuk tidak bisa mengajar di panti karena, akan menghadiri pesta pernikahan kakak kandungnya bersama sahabat kerjanya.


" Alhamdulillah, anak-anakku yang sholih dan sholihah!" Pelajaran hari ini selesai sampai di sini. Sebelum kita 'membaca do'a' kak Aulia (panggilan Kia dari para anak-anak di panti) mau kasih tau, mungkin seminggu ke depan kak Aulia 'izin tidak mengajar' karena, ada urusan keluarga. Jadi nanti kak Adam atau kak Dora yang akan menggantikan kakak ngajar.


"Kenapa sampai seminggu, kak? itu terlalu lama buat kami bila kak Aulia tidak mengajar kami semua akan merindukan, kakak? Ucap anak permpuan yang mengenakan baju muslimah berwarna ungu.


" Ya benar, selain kak Aulia dan kak Kahfi disni tidak ada yang bercerita semenarik kalian berdua. Ucap anak laki-laki berkaos jingga yang berbicara sambil berdiri.


" Benar, apa lagi sekarang kak Khfi selalu sibuk jadi tidak pernah lagi bercerita untuk kami. Ucap anak laki-laki yang mejanya dekat di mana Kia berdiri.


" Baiklah, baiklah ... bila urusan kakak sudah selesai Inshaa Allah tidak sampai seminggu kakak akan pulang demi kalian semua!" Ucap Kia seraya memberi senyum sambil mengelus bocah yang ada di hadapannya.


" Hore ... hore ... !"


Sorak anak-anak kegirangan mendengar kata-kata Kia barusan.


" Tapi kalian janji ya!", ketika kakak sudah sampai kalian harus sudah hafal do'a naik kendaraannya, ya!" Ucap Kia seraya mengangkat jari telunjuknya dan memutar seisi ruangan tersebut.


" Baik, kak Aulia yang cantik!" Ucap anak gadis yang berjalan memeluk kaki Kia.


" Kania, anak sholihah sudah hafal belum do'a naik kendaraannya? Tanya Kia pada anak yang tingginya hanya diatas panggul Kia.


Seketika anak itu 'mengelengkan kepalanya dengan cepat'.


"Sekarang Kania duduk ya!" Perintah Kia lalu ia Kaniapun menurut.


Akhirnya mereka pun duduk tenang dan memulai do'a hendak pulang dengan tertib.


Satu persatu anak-anak itu menyalami tangan Kia dan berlalu dari pintu. Sosok laki-laki berkoko warna mocca sudah berdiri menunggu sang gadis berhijab jingga keluar dari ruangannya.


***


Kia yang tak sadar dirinya di tunggui seseorang, masih saja membereskan buku-buku cerita dan berkas yang masih ada di meja lalu ia masukan ke dalam lemari berukuran kecil yang berada di pojok ruangan tepat di area gambar-gambar kartun animasi.


Setelah semuanya rapi Kia meraih tas yang ada di meja dan melangkahkan kakinya untuk ke luar.


Ketika kaki kanan yang beralaskan sepatu berwarna hitam ke luar, seseorang yang matanya sedang memandang lorong gedung itu langsung tertuju pada wanita yang sudah menutup rapat ruangan yang sudah ia tinggalkan.


" Assalamualaikum, Kia!"


" Waalaikumsalam, eh akh Adam! ada yang bisa Kia bantu? Apa ada tugas yang harus Kia kerjakan?" tanya Kia yang kaget akan kehadiran Adam.


" Tidak, tidak. Ana hanya mau menitipkan buku ini untuk kado pernikahan kakakmu akh Razi. Ucapnya seraya berjalan mengikuti langkah Kia.


"Oooh, seperti itu!" Kia pikir ada perlu apa? Ucap Kia seraya meraih buku yang sudah di balut dengan kertas kado bermotif batik.


"Kia, bolehkah ana bertanya tentang calon istrinya kakak, mu? Tanya Adam sedikit menundukan kepalanya dan memasukan kedua tangannya ke dalam saku celananya.


" Masud akhi, Tari?" Ucap Kia singkat.


"Jadi benar kalau calon istri akh Razi itu Tari, jadi waktu aku mengkhitbah Tari. Tari sudah menerima khitbahan dari akh Razi? Batin Adam.


" Tari itu teman aku waktu berkerja di kantor calon suamiku ketika itu!"Jawab Kia melemah ketika mengatakan kata 'calon suami'


"Oooh, jadi Tari itu teman kamu waktu di kantor? Ucapnya kaget dan beroh ria.


" Memang akh Adam kenal dengan Tari sebelumnya? Tanya Kia penasaran.


" Tari itu adik kelas ana waktu di asrama. Waktu itu ana sempat mencari keberadaannya setelah ia lulus dari asrama. Tapi ana tak pernah bertemu lagi. Sampai suatu ketika Tari datang berkunjung ke asrama ini bersama ustadz Mahmud hanya untuk memberikan dana untuk pembangunan asrama ini yang sekarang sudah menjadi asrama wanita. Jelasnya seraya melewati 5 tangga yang mereka lewati untuk menuju pintu gerbang utama panti asuhan Al Amiin.


" Hmmm, Kia belum begitu banyak tau tentang Tari karena, ketika di kantor kami hanya membahas tentang kesehari-harian kami dan masalah yang kami hadapi di kantor. Ucap Kia menjelaskan.

__ADS_1


Dan ketika mereka berdua hendak ke luar dari pintu gerbang. Seorang wanita bergamis biru dan berhijab senadapun menghampiri mereka.


"Nakia ... !"


teriaknya seraya berjalan cepat ke hadapan Kia.


" Yaa Allah, Febby!" Ucap Kia langsung memeluk sahabat lama yang sudah hampir beberapa tahun tak ia lihat.


Yang ternyata sekarang penampilannya sudah jauh berbeda ketika mereka masih sekolah SMP. Ketika itu Febby masih belum berhijab dan sering mengenakan dres pendek ketika berpergian dengan Kia maka tak jarang Brayen sering menggoda Febby.


" Kamu sedang apa di sini, Kia? Bukanya kamu sudah jadi istri sang pengusaha muda di kota x? Tanya Febby yang tak tau kabar tentang Kia selama ini.


" Bila di bicarakan tidak akan bisa tuntas seharian, Febb!" Ucap Kia berat dengan senyum sedikit memaksakan.


Laki-laki berkoko itu yang tadinya hanya diam menyimak pembicaraan mereka berdua. Akhirnya angkat bicara.


" Kalian ini jadi satu almamater ketika sekolah? Tanya Adam.


" Ya, Kak!" Jawab Febby sedikit melirik calon kekasih halalnya.


" Aku dan Febby ini sangat dekat waktu sekolah, tapi setelah Febby memutuskan untuk kuliah sambil mondok, kami jadi kehilangan kabar berita antar sesama.


Jelas Kia pada laki-laki yang sudah mendekatkan tubuhnya dekat sepeda motor berwarna hitam yang akan ia naiki.


" Ya sudah, kalau begitu ana pamit ya karena, sebentar lagi akan mengajar di asrama. Ucapnya sambil mengucapkan salam dan menyalahkan kedaraan yang akan membawanya ke tempat yang akan ia tuju.


***


Akhirnya Kia dan Febby pun menepi di sebuah gubuk yang berjualan es kelapa. Mereka menikmati sebuah kelapa muda sambil menceritakan semua yang mereka lalui selama ini.


Febby sedikit terenyuh mendengar cerita Kia yang begitu memilukan hatinya. Yang belum tentu dirinya bisa setegar Kia bila mengalami hal tersebut.


"Jadi akhi Adam itu, calon suamimu, Febb? Tanya Kia setelah bergantian mendengarkan cerita sahabatnya.


" Aamiin, semoga lancar ya, Febb!" Setelah menikah apakah kalian akan menetap di sini? Tanya Kia sambil menatap Febby yang sedang membalas chat di benda pipihnya.


" Inshaa Allah, Kia. Karena kami berdua memang sama-sama mengajar di asrama ini dan kiyai besar sudah menyediakan rumah untuk kami tempati di sini. Ucap Febby.


" Syukur alhamdulillah, kalu begitu. Jadi aku disini tidak merasa kesepian karena sesekali bisa ketemuan dan berbincang-bincang denganmu, Febb." Ucap Kia sambil memegang kedua tangan Febby dengan bahagia bisa bersama sahabat lamanya.


" Kamu pasti betah di sini, apalagi anak-anak panti sudah akrab dengan kamu dan menyukai keberadaanmu disini, Kia" Ucap gadis bergamis biru itu sambil menatap sahabat lamanya.


"Alhamdulillah, Febb" Mereka begitu hangat ketika aku baru saja petama kali mengajar dan menatap mereka semua. Kenang Kia.


" Kia, aku mohon maaf ya, cerita kita nanti bisa kita sambung lain waktu karena, kiyai besar sedang mendungguku di kantor. Sepertinya ada hal penting yang akan beliau bicarakan kepadaku dan kak Adam. Tukas Febby yang kini sudah cipima-cipiki kepada Kia.


"Tak apa, Feb!" Aku senang akhirnya kita bisa berjumpa lagi setelah sekian tahun tak berjumpa. Balas Kia senang seraya merogoh uang dalam tasnya untuk membayar dua buah es kelapa yang mereka nikmati berdua.


***


Matahari semakin meredup Kia yang berjalan sendiri di tepian jalan raya yang tak jauh dari rumah abah Dahlan, seraya matanya tertuju pada Kania yang menangis dalam gendong seorang pria berkacamata.


" Yaa Allah" Kania kamu kenapa, sayang?. Tanya Kia tanpa menghiraukan pria yang mengendong gadis yang lututnya sudah ada bercak darah dalam tangan kekarnya.


" Kak Aulia!" hiks, hiks. Ucap anak mungil yang pipinya sudah banjir dengan air mata sambil menyosorkan kedua tangannya kepada Kia.


" Kamu habis jatuh ya, sayang? Tanya Kia khawatir ketika melihat darah yang membuatnya teringat kepada kejadian yang menimpa Prama yang begitu banyak mengeluarkan darah. Tangan Kia seolah berubah menjadi dingin wajahnya seketika memucat.


Pria berkacamata tersebut seolah tau bila wanita yang ada di hadapannya sedang mengalami rasa takut bila melihat darah sehingga ia mengurungkan agar gadis mungil itu tetap dalam gendongannya.


" Biarkan Kania dalam gendongan saya, anda bisa melanjutkan perjalanan anda. Kania akan saya obati di panti. Ucapnya tanpa ekspresi.


" Biarkan Kania saya yang mengobati karena rumah saya ada di depan sana. Tunjuk Kia pada rumah yang terbuat dari bahan kayu.


" Kania, mau di gendong sama kak Aulia!" Hiks ... hiks tangisnya yang seperti tertahan menahan rasa sakit.

__ADS_1


"Sini kakak gendong ya!" Ucap Kia seraya meraih tubuh mungil yang sudah lepas dari tangan kekar pria berkacamata tersebut.


Pria tersebutpun mengikuti langkah kaki Kia menuju rumah abah Dahlan. Akhirnya mereka sudah sampai di rumah tersebut. Kia pun berucap salam dan menawarkan agar pria itu duduk di bangku teras seraya ia masuk ke dalam untuk mengobati lutut gadis mungil tersebut. Nenek Rumi yang membalas salam Kia lalu melihat Kia yang masuk ke dalam sambil menggedong gadis yang masih menyisakan isakan tangis.


"Yaa Allah, nak wajahmu pucat dan siapa anak kecil yang kamu bawa kesini, Kia? Tanya nek Rumi yang sama khawatirnya melihat Kia dan Kania.


" Ini Kania, nek!" Anak panti yang Kia sering ceritakan kepada nenek minggu lalu. Jawab Kia yang sudah mendudukan Kania di kursi yang ada di dalam kamarnya.


" Nek, di luar ada seorang laki-laki yang awalnya tadi menggendong Kania. Ucap Kia agar nek Rumi melihat dan menemani pria itu berbincang-bincang.


" Ya sudah nenek buatkan minum untuknya, kalau Kia sudah selesai mengobati gadis mungil ini. Cepatlah minum teh manis yang nenek buatkan ya!" perintah nek Rumi.


" Baik, nek. Terimakasih ya, Nek!" Ucap Kia yang sudah membersihkan luka Kania dengan alkhol 70% lalu ia meneteskan obat berwarna coklat kepada lutut gadis mungil yang ada di hadapannya.


" Tahan sedikit ya, sayang!" Ini akan terasa perih sedikit tapi, setelah itu Kania akan membaik lagi, ya!" Ucapnya menjelaskan cara kerja obat yang ia teteskan.


"Awww." teriak gadis yang sudah melepaskan kerudung instannya.


Suara anak gadis mungil itu sampai terdengar ke luar, membuat pria yang sedang menunggu di luarpun berdiri seraya mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Dan matanya membulat ketika melihat sebuah foto pria yang menggunakan baju toga yang terpampang jelas, yang tak asing baginya. Samlai akhirnya ia teringat seseorang yang 2 bulan lalu pernah ia jumpai di sebuah kampus x.


" Nak, di minum tehnya selagi hangat!" Ucap nek Rumi yang sudah meletakan teh itu di meja.


" Ya terima kasih, nek!" Ucapnya yang langsung tersadar dari tatapan pada foto tersebut.


" Nak Kahfi, kenal dengan cucu nenek yang ada di foto itu? Tanya nek Rumi.


" Itu___"


Ucapannya terpotong ketika Kania sudah berjalan menghampirinya sedikit berlari.


" Alhamdulillah, lutut Kania sekarang sudah membaik berkat kak Aulia yang mengobatinya, Kak!" Celoteh gadis itu yang menatap wajah pria tersebut dengan elusan pada pipinya.


" Lain kali kalau jalan hati-hati ya, jangan lari-larian! karena di sini tidak ada seekor 'soang' pun yang akan mengejarmu, sayang!" Ucap Kia mengelus Kania yang sudah di pakaikan kerudungnya olehnya.


" Siap kakak cantik!" Ucapnya yang membuat Kia malu dan seketika wajahnya bersemu merah karena di puji di depan nenek dan pria yang belum ia kenal.


" Kakinya sudah tidak sakit lagi 'kan, sekarang? jadi kita bisa pulang ya! karena hari sudah mulai gelap. Bujuk Kahfi yang sudah memegang gadis mungil itu dalam pelukannya.


" Baiklah, kakak tampan!" Ucapnya sambil memainkan kacamata yang menyangkut di hidung mancung Kahfi.


" Kami pamit ya kakak cantik, dan ingat jangan lama-lama meninggalkan Kania dan teman-temanku, karena kami akan sangat merudukan di ajarkan dan diceritakan oleh, kakak cantik. Ucapnya sambil menangkupkan kedua tangannya seolah memohon.


" Insyaa Allah, sayangku!"


Jawab Kia yang memberikan boneka kecil yang selalu ia simpan di dalam tasnya.


.


.


.


.


.


.


**Bersambung-----


" Jangan lupa untuk Vote, komen yang bijak dan likenya ya, para pembaca setia novel DJPA."


Maafkan aku yang belum bisa up hingga beberapa episode. karena keterbatasan waktu aku untuk mengetik.


Salam sehat selalu untuk kaliam semua semoga kalian yang sudah sumbangsih dalam karyaku dilancarkan setiap urusan dan rezkinya. Aamiin Yaa Mujib**.

__ADS_1


__ADS_2