
" Bimbing Kia agar menjadi istri yang bisa membuat mas bahagia dan baik seperti yang mas harapkan!" Kia bukalah wanita yang sholihah seperti wanita-wanita yang pernah mas Kahfi kenal." ucapnya lirih sambil terisak.
Dengan sedikit keberanian Kahfi meraih tubuh ramping Kia seraya memeluknya dengan erat agar wanita itu tau bahwa dirinya menerima Kia apa adanya dan dengan pelan ia berucap pada wanita yang kini sudah halal menjadi istrinya.
" Semua manusia di dunia ini tidak ada yang sempurna!" kita semua mempunyai masalalu yang berbeda-beda, kita belajar bersama-sama, ya! Mas juga masih punya banyak, banyak sekali kekurangan jadi jangan ragu menegur mas ketika mas ada di jalan yang salah! Begitu juga dek, jangan marah bila mas menegurmu dengan setilan lembut pada perasaanmu, ya!" ucap Kahfi yang mengecup pucuk kepala Kia berkali-kali untuk menenangkan tangisan Kia.
" Mas ...!
" Hemmm ...!
"Boleh lepaskan pelukannya!" Kia susah bernapas bila mas Kahfi memeluk erat Kia sepeti ini!" ucap Kia malu yang merasa dirinya tak nyaman karena merasa bau keringat.
" Dek gak suka ya dengan pelukan, mas?
" Bukan begitu, mas!" tapi Kia belum mandi pasti tubuh Kia bau asam kan?"
Perlahan Kahfi melepaskan pelukannya dan menatap kembali bola mata yang sudah lama sekali ia rindukan sejak pertmuannya di toko buku itu.
" Perlu mas bantu untuk melepaskan jilbab dan gaunnya?" goda Kahfi yang membuat Kia menyemburstkan semu merah pada wajah cantiknya ketika mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Kahfi.
" Tidak usah, Kia bisa sendiri kok!" sekarang lebih baik mas yang mandi duluan Kia akan carikan baju ganti untuk mas, ya! Hindar Kia dari hadapan Kahfi. Baru saja Kia melangkah dua langkah dari hadapannya tangan Kahfi dengan cepat menarik tangan Kia sehingga Kia terjatuh menindih tubuh Kahfi yang jatuh di atas kasur empuk miliki Kia.
" Awww ... Teriak Kia yang langsung di tutup mulutnya oleh tangan Kahfi hingga kini wajah Kia berada di atas dada bidang milik Kahfi.
Kahfi yang melihat wajah Kia memerah karena malu. Tanganya seketika mencolek hidung Kia dan perlahan membenarkan jilbab Kia yang kini sudah berantakan.
" Masss ...!" ucap Kia yang langsung bangun dari tubuh Kahfi dan memperbaiki jibab yang berantakan karena tertarik oleh tangan Kahfi.
" Mas hanya ingin lihat wajah cantikmu ketika tidak memakai jilbab, dek! Boleh?" ucap Kahfi yang kini sudah duduk tegak di tepi tempat tidur.
Kia hanya menjawab dengan gelengan kepala tanda ia belum siap untuk memperlihatkan wajahnya tanpa jilbabnya selama ini. Dengan meraih handuk di dalam lemari Kia memberikannya kepada Kahfi.
" Kalau mas terus menggodaku, aku akan ke luar saja dan membiarkan mas di kamar sendiri!" ucap Kia sambil mendorong Kahfi untuk masuk ke dalam kamar mandi.
Kahfi yang mendapat SP satu dari Kia dengan senyum kecil ia menuruti kata-kata Kia dan masuk ke dalam kamar mandi.
💕💕💕
" Dasar ustadz genit, baru beberapa jam mengucapak ijab khobul sudah mau melihat aku tanpa jilbab! " gerutu Kia ketika Kahfi sudah menutup pintu kamar mandinya.
Yang kini ia meraih tas yang di bawa Kahfi yang berisi baju gantinya untuk malam ini saja karena Kahfi berniat kesokan harinya membawa Kia tinggal di rumahnya. Setelah ia rasa menemukan baju ganti untuk Kahfi ia meletakan baju itu di atas tempat tidur. Dan mencoba meletakan baju Kahfi yang lain ke dalam lemarinya.
Beberapa menit kahfi di dalam kamar mandi dengan handuk yang ia lilitkan di pingangnya ia ke luar dari kamar mandi. Kia yang melihat Kahfi seperti itu seketika ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya dimana ia sudah memegang baju ganti yang akan ia bawa ke dalam kamar mandi.
Kahfi yang melihat tingakah lucu Kia yang mematung di dekat tempat tidur dengan jahilnya ia menciprstkan air ke arah wajah Kia yang tertutup oleh tangannya dan dengan pelan ia membisikan ke telinga Kia.
" Berani ya, mengatakn mas Ustadz genit!" ucapnya pelan dan nyaris membuat Kia terkejut karena ia pikir Kahfi tak mendengarnya.
Sedikit membuka kedua tangannya Kia berjalan menuju pintu kamar mandi namaun kakinya tersandung kaki tempat tidur.
" Awww ... Teriaknya kesakitan dan mengelus lembut kakinya yang sakit.
Kahfi yang melihat itu hanya tersenyum kecil sambil memakai kaos dalam dan menggoda Kia.
" Makanya jangan bicara sembarangan sama suami, belum apa-apa Allah sudah menegurmu, dek!" ucap Kahfi hingga membuat Kia malu dan berfikir.
" Hemmm ... Apa ini balasan istri yang sudah berani mengatai suaminya? Ahhh ... Biarlah nanti aku minta maaf saja, sekarang aku ingin menyegarkan tubuhku yang sudah lengeket ini.
Baru beberapa detik Kia masukk ke dalam kamar mandi kini kepalanya sudah muncul dari balik pintu dan melihat Kahfi yang sudah rapih dengan kaos dan celana bahan yang sudah menempel di tubuhnya.
Kahfi yang tau akan hal yang akan kia lontarkan kepadanya dengan pura-pura mengecek ponselnya.
__ADS_1
" Masss ... !" ucap Kia pelan hingga ia memutuskan untuk memanggil Kahfi sekali lagi dengan nada yang sedikit ia taikan.
" Masss, ... Mas Kahfi! Ucapnya hingga panggilan ketiga Kahfi baru menoleh ke arah suara Kia.
" Hemmm ... Jawabnya singkat sambil terus memainkan ponselnya yang mendapat ucapan selamat dan do'a-do'a dari teman-teman dan rekan kerjanya yang sering bermberikan donasinya kepanti asuhan al Kautsar.
" Kia boleh minta tolong!" ucapnya malu.
" Tolong apa, dek? Jawab Kahfi yang belum bergeming dari duduk ternyamannya.
" Mas ke sini deh, sebentar aja! Bujuk Kia lembut walau dengan rasa malu ia harus minta tolong kepada Kahfi agar membantunya untuk membuka resleting pada punggungnya.
" Gak ahhh, mas kan udah mandi! Tar mas dikatain ustadz genit lagi sama dek kalau mas deket-deket dek di kamar mandi." ucap Kahfi menggoda.
" Ya maaf ... Kia gak lagi-lagi mengatai mas Kahfi seperti itu!" Kia boleh minta tolong gak, Kia ... Kia mau mandi, tapi ... Tapi...
" Tapi apa? Hem!"
" Tapi kia gak bisa buka gaun ini karena seletingnya ada di belakang punggung Kia, jadi Kia kesulitan untuk membukanya" ucap Kia sambil menahan malu dan menatap kahfi dengan melasnya.
Kahfi pun meletakan ponselnya di dekat bantal dan mencoba mendekatkan dirinya pada Kia yang masih ada di dalam kamar mandi yang mengenakan jilbab yang ia likitkan di lehernya tanp jarum pentul.
" Katanya tadi bisa melakukannya sendiri tanpa bantuan, mas!" ucap Kahfi yang sudah berada di dekat pintu kamar mandi dan seketika Kia membalikan badannya membelakangi Kahfi.
" Pelan-Pelan ya mas dan jangan terlalu sampai bawah!" ucap Kia memperingatkan.
" Ia, dek!"
Perlahan Kahfi menyetuh bagian seleting baju, dengan hati yang berdegup kencang ia memberanikan diri untuk membuka resleting pada punggung Kia, sedikit demi sedikit nampaklah kulit putih nan mulus Kia di depan matanya. Sambil menelan salvanya Kahfi terus beristigfar dalam hati dan perlahan memejamkan matanya. Aliaran darahnya seolah mengelitik di bagian perut dan dadanya.
Ketika Kahfi menahan sesuatu yang ia lihat sekarang seketika kata-kata kia menghentikan pergerakan tangannya yang akan menurunkan reseleting itu hingga panggul Kia. Namun dengan cepat ia membalikan badannya setelah Kia sedikit berteriak.
" Yaa Allah ini godaan terberatku ketimbang aku harus memilih menyebur di kali bersama bebek-bebek dari pada melakukan hal tadi yang menguji nafsuku sebagai lelaki normal!" Gumam Kahfi sambil mengelus lembut dadanya dan menjatuhkan bobot tubuhnya di atas kasur dan meminum air yang ada di atas meja.
Ritual Kia di dalam kamar mandipun selesai. kini Kia ke luar dengan baju yang berbeda. Baju tidur yang biasa ia pakai ketika hendak tidur namun kepalanya masih mengenakan jibab instan berwarna cream selaras dengan warna bunga pada baju tidurnya.
" Mas ke luar dulu ya, dek!" nemenin Yazid dan teman-teman, dek!" ucap Kahfi ketika melihat Kia keluar dengan rapihnya.
" Tunggu, mas! Kia juga ingin ke luar menemui mereka." Dengan cepat Kia menuju ke lemari baju untuk mengambil rok yang akan ia kenakan ketika ke luar kamar.
💕💕💕
Ketika Kia dan Kahfi sampai di ruang tamu. Disambut dengan godaan serta candaan dari mulut jail Brayen dan Yazid tak kalahnya juga Razi menggoda mereka berdua hingga Kia dan Kahfi tersipu malu mendapat godaan dari 3 lelaki yang duduk di bawah sambil menikmati jagung bakar yang sudah habis mereka santap.
" Kelamaan sih ke luarnya jadi gak kebagian deh jagung bakarnya! celetuk Yazid ketika Kahfi duduk di dekatnya.
" Orang tu ya, kalau pengantin baru itu kalau jalan sambil pegangan tangan!" ini malah jalan jauh-jauhan gitu!" protes Brayen yang tadi melihat Kahfi dan Kia berjalan menuju ruang tamu.
" Bang kapan kita balik ke hotel? kalau jam segini masih asik-asikan ngobrol!" ucap Naura yang sudah menahan ngatuk dan lelah karena seharian berada di acara Kahfi dan Kia.
Brayen yang mendapat protes dari sang adik akhirnya menoleh kepada Ulan yang ada di sebelah Naura. Seolah meminta izin untuk pamit pulang dengan isyarat mata kepada Ulan.
" Kak Ulan disini aja tidur dengan Rahma, ya kak?" bujuk Rahma yang rindu dengan kehadiran Ulan yang biasanya datang ke rumah.
" Iya, Rahma sang beruang madu!"
" Semuanya kita pamit ya!" maaf ya kak Kia, kalau Naura harus izin untuk pulang!" ucap Naura sambil memeluk Kia.
" Ya tak apa, besok sebelum pulang mampir kesini lagi ya!" balas Kia sambil memegang keuda tangan Naura dengan erat.
Jam menunjukan pukul 10 malam, sebagian keluarga sudah masuk ke dalam kamar karena merasa lelah dengan acara seharian ini. Yazid yang sudah pulang setelah Brayen dan Naura. Kia yang masih asik bertukar cerita dengan Ulan selama ia tinggal berjauhan seolah melepas rindu yang begitu mendalam hingga tak terasa Rahma yang ada di samping Ulan sudah tertidur pulas.
__ADS_1
Kia yang belum menyadari bahwa adiknya sudah tertidur pulas di atas bangku hingga mendapat oesan singkat dari Kahfi yang berada di ruang tv yang matanya tertuju pada obrolan dua sahabat yang sering melepas tawa dengan riangnya.
Kahfipun mengetik pesan singkat dan langsung ia tekan tombol kirim pada ponselnya.
" Dek, adikmu itu sudah tertidur apa kamu gak kasihan dengan Ulan yang pasti diapun lelah seharian ini!"
pesan pun diterima oleh Kia. Sesekali Ulan yang ada di dekatnya menguap menahan ngatuk. Kia menoleh pada bangku yang tadi Rahma duduki benar saja Rahma suda tertidur pulas dengn kedua tanggan sebagai tumpuan kepalanya.
" Lan kita istirahat yuk, lihat Rahma seolah kita dongengkan hingga tertidur pulas!" ucap Kia sambil membangunkan Rahma dengan tepukan pada lengannya.
" Dek ... dek, bangun pindah ke kamar sana!" orang-orang semua sudah masuk kekamar apa kamu mau tidur di luar sendirian?" ujar Kia yang mengoyangkan badan Rahma begitu kuat, namun Rahma tak bergeming sama sekali.
" Kia aku masuk kamar duluan ya! nungguin Rahma sampai 7 purnamapun dia gak akan bangun!"
Ketika Ulan sudah masuk ke dalam kamar, disusul Kahfi yang sudah ingin bangkit dari ruang tv dan melihat istrinya masih berusaha keras untuk membangunkan adiknya.
" Dek mas masuk kamar duluan ya!"
" Ya, mas!"
Kia masih berusaha membangunkan Rahma hingga ia tidak punya pilihan lain selain memberikan cipratan air pada wajah Rahma. Dengan kagetnya Rahma terbangun karena mengira ia terkena air bicoran dari atas genting.
" Bocor ... bocor ... ! teriak Rahma kaget.
Kahfi yang baru akan melangkahkan kakinya ke pintu kamar seketika membalikan badannya karena mendengar teriakan Rahma. Dirinya hanya bisa menggelengkan kepala ketika melihat tingah jahil yang di lakukan Kia terhada Rahma.
" Dasar beruang madu kalau udah tidur susah banget di banguninnya!" gerutu Kia yang langsung berlalu dari tempat duduknya.
" Ihhhh, kakak!" jahat banget sih bangunin aku pake siraman air kopi gt kan wajahku jadi lengket. Kesal Rahma yang mencium aroma kopi di bagian pipinya.
" Biarin, abis dari tadi dibangunin sudah banget sampe kak Ulan masuk duluan ke kamar tuh!" balasnya.
Ketika Kia akan menuju kamar ia lihat Kahfi yang sudah ke luar dari kamar mandi. Di lihatnya pria itu mencari sesuatu di sekeliling kamar.
" Mas cari apa?"
" Sajadah, dek!" ucap Kahfi yang langsung menoleh pada Kia.
" Sebentar ya mas, sajadahnya baru kemarin Kia setrika jadi masih ada di dalam lemari!" jawabnya langsung menuju pada lemari baju.
" Makasih ya, dek!"
" Sama-sama, mas!"
Kia ke kamar mandi dulu!"
" Iya! "
.
.
.
.
.
.
Bersambung-----
__ADS_1