
Haripun semakin sore. Aku dan Kia memutuskan untuk pulang. Dalam perjalanan tak henti-hentinya Kia selalu membuka suaranya. Aku bahagia hari ini dia lebih manja dari sebelum-sebelumnya. Sepanjang perjalanan tanganya tak lepas memeluk tubuhku dengan erat.
"Ayy, kamu kedinginan?, Ucapku ketika ku rasakan tanganya yang terasa dingin karena cuca disini ketika sore sudah mulai dingin dan menyejuk'kan.
Tak ada jawaban dari gadis di belakang punggungku. Ku berhentikan sejenak sepedah motorku, ku lihat dia ternyata sudah tertidur. Ku lajukan kendaraanku lebih pelan dari sebelumnya dan tangan kiriku memegang kedua tangannya agar ia tidak jatuh. Tidurnya terganggu ketika kami melewati jalan yang sedikit berlubang sehingga menimbulkan guncangan.
Ia mulai mengucak matanya dan menyesuaikan penglihatan yang kini berhenti di sebuah gubuk penjual susu jahe dan jagung bakar.
" Kamu bangun, ayy? Jawabku ketika ruhnya sudah kembali ke dalam jasadnya.
"Maaf aku ketiduran!", Ucapnya ketika ia sudah menatapku.
" Tak apa, pasti kamu capek ya, ayy? tanganmu serasa dingin, makanya aku memutuskan untuk menepi sejenak untuk menghangatkan tubuh kita. "Duduk sini, ayy!", susu jahe dan jagung bakar disini sangat enak, " aku yakin kamu bakalan suka!". Tuturku ketika ia mulai terasa kedinginan dan memeluk tangan kiriku erat.
"Aku tidak pakai jaket yang terlalu tebal jadi aku sangat kedinginan, kak!", Ucapnya ketika aku mulai mengelus ujung kepalanya yang tertutu kerudung hitamnya.
" Nanti kamu pake jaket aku aja ya, ayy!", biar badanmu tidak kedinginan. Usulku.
Kepalanya menggeleng menandakan ia tidak setuju dengan usulanku. "Aku tidak mau kamu kedinginan, sayang!". Kalau aku pake jaket kakak, terus kakak cuma pakos aja!". Bibirnya sudah mengerucut ketika menatapku. Ia sangat lucu dengan sikap manjanya saat ini, tapi aku suka itu.
" Tak mengapa!", aku sudah terbiasa dengan kedinginan karena dihati ini!, sudah ada yang menghangatkanku. Ucapku menggodanya. Sialnya dia malah memukul lenganku dengan keras.
"Kakak ini, aku ngomong serius jangan diajak becanda dengan gombalan garingmu!". Ucapnya lalu mengelus pukulan yang ia daratkan kelenganku tadi.
" Ya sudah nanti di jalan kita sambil lihat-lihat toko penjual switer?", sekarang habiskan susu jahe dan jagungnya!". Seketika ia tersenyum manis mendengar kata-kataku diiringi dengan anggukan.
"Kak...!". " Entah kenapa hari ini aku sangat-sangat takut kehilanganmu!". Jangan tinggalkan aku ya?, aku gak mau terluka dan kecewa lagi dan merasakan sakit di hati ini".
Deg...
Aku tersentak ketika kata-kata itu meluncur dari bibir pink 'nya. Bagaimana bisa ia berkata seperti itu? Apa sikap yang hari ini ia tunjukan benar-benar mengkhawatrikanku?". Dengan kata-kata manisku, ku coba untuk menghilangkan kegelisahannya.
" Kamu ini bicara apa si, ayy?", aku akan selalu ada untukmu dan tidak akan mengecewakan apa lagi membuat hatimu sakit!, dengar ya sayang!", aku akan selalu berusaha membahagiakanmu dan membuatmu tersenyum didekatku. Seraya aku memeluk dengan satu tanganku meyakinkannya.
Tangannya menpel di dadaku dan mengelus lembut, ia tempelkan pula kepalanya sambil memainkan resleting jaketku ke atas dan kebawah, ia berucap lagi.
"Aku tidak tau beberapa hari ini aku sering bermimpi kalau aku akan ditinggalkan kakak, kakak tau?". Setiap aku bangun dari mimpi itu!", aku selalu tak bisa tidur lagi. Kadang aku ingin bangun melaksanakan sholat malam, namun sayang aku sedang kedatangan tamu bulanan!", sehingga aku hanya bisa berdo'a agar mimpiku itu tidak jadi kenyataan dan aku berharap sampai kita menikah aku akan selalu ikut kemanapun kakak pergi, karena aku gak mau kehilanganmu!".
Kata-katanya membuat aku bahagia, aku bersyukur berkat mimpi itu ia bisa bersikap manja denganku walau aku tau dia wanita yang tak pernah menujukan kemanjannya selama aku mengenalnya. Namun sisi lain kini aku tau ternyata ia memiliki sikap manja yang aku suka.
" Sudah ya!", jangan di pikirkan masalah mimpi itu!". Aku janji bila kita menikah nanti aku akan bawa kemanapun kaki ini melangkah!", asal jangan ikuti aku ketika aku ke kamar mandi untuk BAB (Buang Air Besar). Selorohku hingga membuatnya tertawa kecil dan mencubit hidung mancungku".
__ADS_1
***
Akhirnya kamipun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kami yang masih memakan waktu satu jam untuk sampai ke rumah Kia. 15 menit kemudia kami berhenti disebuah toko, Kia memilih switer yang ia inginkan namun dari wajahnya aku tau, kalau yang ia inginkan tidak ada di toko tersebut, sehingga kami pindah ke toko sebelah.
Ku raih switer berwarna pink muda dan ku sodorkan kepadanya.
"Ayy... kamu suka dengan switer ini?. Ucapku menoel pungungnya yang sedang memilih-milih neraneka model switer.
" Hemm... aku suka modelnya yang besar dan agak panjang seperti ini, kakak tau aja seleraku?". Terimakasih sayang!". Ucapnya yang kegirangan melihat switer yang sudah ditanganku.
Setelah aku membayar switernya dan 3 switer untuk orang di rumhanya kami lanjutkan kembali perjalanan kami. Namun pelukan erat itu sudah tak ku rasakan lagi di tubuhku.
"Kamu udah gak terlalu kedinginan lagi, ayy? Ucapku membuatnya sedikit berteriak ketika tak mendengar ucapanku yang terlalu pelan.
" Aku gak denger kakak bilang apa?". Sedikit berteriak aku mengulang ucapanku. "Kamuuu udahhh gakkk kedinginannn lagiii...?", teriakku.
" Gakkk, Alhamdulillah switernya menghangatkanku, kak!". Balasnya sedikit membuka kaca helem agar suaranya terdengar di gendang telingaku.
Akhirnya sampailah kami di depan rumahnya. Ada pak Hasbi yang sedang berbincang-bincang dengan seorang yang tak asing bagiku. Wajah itu telah lama takku lihat 3 tahun lalu. Dengan satu tentengan papaer bag besar aku mengikuti langkahnya dari belakang. Dia sedikit berlari tak menghiraukanku.
"Aa... Aa Razi udah pulang?", ke napa gak kasih kabar sama Kia?". Teriaknya yang kini sudah dalam pelukan kakak kandung yang sangat ia rindukan, wajahnya begitu baghagia melihatnya tersenyum dengan merkah.
Pria itu bukan menjawab pertanyaan adiknya, tapi malah menatapku lekat setelah aku mencium punggung tangan Pak Hasbi yang ada di sebelahku.
"Kenapa kalian bisa pulang sampai malam begini?, dan bukankah elo udah punya tunangan?, kenapa elo deketin adek gue?. Gue gak mau ade gue deket sama laki-laki yang sering mempermainkan hati permpuan!". Apa lagi elo deket sama ade gue?.
Ucapanya menusuk hatiku, seolah aku akan membuat adiknya terluka. Aku tau mungkin dia masih kecewa kepadku, karena wanita yang pernah ia cintai aku rebut dari hatinya. Tapi bukan aku yang menginginkannya, namun wanita itu memang tidak mencintai Razi karena mungkin dia memilihku karena aku anak seorang pengusaha. Dengan tenang aku menjawab pertanyaannya.
"Gue cuma mau ajak Kia refreshing karena gue tau kalau kerja di kantor itu bikin penat!", dan gue udah lama gak ada hubungan lagi sama Delia, karena sekarang wanita itu berada di dalam penjara?!". Dan gue janji gak akan bikin adek loe kecewa sama gue, karena gue udah ngelamar dia kemarin malam.
Tatapanya tajam, seolah ingin mengintogasiku lebih lagi. Pak Hasbi yang ada di sebelahku terdiam ketika kata-kata yang aku lontarkan di hadapannya.
" Kia kamu masuk ke dalam!". Kalu aa bilang jangan temui dia lagi kamu harus nurut kata aa!". Ucapanya membuat aku gaget, aku tau hal itu pasti akan terjadi. Kia yang ada di sebelahnya menunjukan wajah yang sedikit sedih. Kia menatapku lekat seolah meminta pendapat kepadaku, dengan sedikit memejamkan mataku, mengisyaratkan agar Kia mematuhi perkataan Razi.
"Tapi a...?" Belum selesai Kia berbicara Razi sudah memotong perkataanya dan menyuruh Kia dengan sesikit intonasi lebih tinggi dari tadi.
"Aa bilang masuk, ya masuk Kia!". Seketika akupun memberikan paper bag yang ada si tanganku ketika Kia hendak masuk. Matanya susah mengeluarkan butiran bening ketika ia meraih paper bag yang aku berikan. Aku sedikit menundukan kepala, tangan pak Hsbi menyapa punggungku dan menyuruhku untuk duduk seolah ia ingin berlamaan untuk mengajakku bicara dengan Razi.
" Nak Prama ini anak yang baik Razi!!", ayah mengenal dia dan juga papahnya. Jagalah sikapmu!". Jangan bawa masalalumu dengan masalah Prama dan Kia adikmu!." Perkataan pak Hasbi seolah membuat hatiku lebih tenang beliau tau melihat kecemasan dari raut wajahku.
"Tapi yah...?", ayah belum tau banyak tentang Prama, Razi yang hampir 6 tahun mengenalnya semenjak kita SMA dan sampai kuliah, yah!". Perkataan Razi seolah mengulang masa-masa dimana aku dan dia selalu bersama ketika SMA, tapi keberaamaan itu tak begitu lama ketika Delia masuk dalam kehidupan persahabatan kami.
__ADS_1
" Ayah mengerti, nak.!". Kamu lebih lama mengenalnya di banding ayah!", tapi kamu tidak tau tiga tahun belakangan ini apa yang telah menimpa musibah pada Bu Melinda, seorang ibu yang ia cintai?. Ucapan pak Hasbi seolah membuat mataku membulat ketika mendengar nama mamahku beliau sebut.
"Bagaimana pak Hasbi bisa mengatan itu?", dan darimana beliau tau kejadian 3 tahun yang lalau?" Batinku.
"Memang apa yang terjadi dengan mamah loe, Pram?". Tanya Razi yang seolah aku berat mengatakannya padanya. Disela perbincangan kami bu Aisyah yang dari dalam datang membawakan secangkir teh untuk ku, karena dua cangkir teh yang sudah di meja telah ada pemiliknya.
" Nak, Prama di minum tehnya!", Ucap bu Aisyah memotong perbincangan kami dan ia mulai masuk kedalam dengan nampan yang ada di tangannya. "Terima kasih tante!". Ucpku seraya menganggukan kepala.
Ku atur nafasku perlahan membuangnya dengan kasar. Kutatap lekat mata Razi perlahan ku buka eposede yang membuat hatiku kembali dengan penyesala. itu.
" Mamahku meninggal tiga tahun yang lalau ketika aku dan Delia memutuskan untuk menikah!". Kejadian itu tepat di dalam rumahku, ketika aku sedang berdebat dengan Delia di balkon atas rumahku. Ketika itu aku sedang membahas tentang kehidupan setelah aku menikah denganya, aku memutuskan untuk tidak mengurus perusahaan papahku dan ingin membuka usaha baru dari hasilku sendiri. Namun Delia tidak setuju dengan pendapatku itu. Kami ribut dan beradu mulut sampai aku memutuskan untuk mengambil minum ke dapur dan meninggalkannya di atas dalam ke adaan marah. Dan ketika aku menghampirinya untuk ke atas lagi. Delia habis menelpon seseorang dan ketika aku tiba mamahku pun sudah ada di sana. Mamahku merebut handphone yang ada ditanganya dan menampar Delia. Aku tidak tau apa yang habis mamahku dengar dari perbincangan Delia dan seseorang di sebrang sana.
Mamahku menampar Delia dan mengumpatnya sebagai wanita matre yang hanya ingin harta milik papahku dan memanfaatkanmu selama ini, mamahku membuang ponsel milik Delia. Aku yang mendengar apa yang mamahku katakan menyaksikan mamahku dan Delia saling dorong mendorong dan sesekali ia menjambak baju mamahku. Aku yang melihat mamahku diperlakukan seperti itu oleh wanita yang bebrapa tahun aku kenal, aku tak tinggal diam. Aku lerai mereka dan meminta penjelasan kepada Delia, aku memeluk mamahku agar tidak melakukannya lagi. Tapi kemarahan mamah lebih besar dan akhirnya pelukanku terlepas. Mamah menampar Delia dengan keras dan membuatnya terjatuh. Ketika aku akan menarik mamahku untuk tidak memukul Delia, hal yang tak ku sangka di lakukan oleh Delia. Dia mendorong mamahku dengan kuat sampai mamahku terjatuh dari atas balkon tersebut. Papahku yang baru pulang melihat kejadian itu, beliau melihat mamahku terjun dari atas akibat dorongan dari calon menatunya. Aku tersontak kaget dan hanya bisa bertriak memangil mamahku!". Delia yang melakukan itu terpaku dan mematung.
Aku bangkit dari kakiku yang lemah melihat sosok yang paling aku sayangi bersimbah darah di bawah. Aku menampar Delia dan menariknya dengan kasar. Papahku yang melihat mamahku langsung menelpon ambulan untuk memberi pertolongan untuk mamaku. Sampai akhirnya kami di rumah sakit namun nyawa mamahku tak tertolong hanya kata-kata terkahir yang aku dengar beliau memintaku untuk bisa mengenal pelayan yang bekerja di butik langganannya, entah dia menyebutkan namaku atau nama mas Huda. Suaranya tak jelas di gendang telingaku, papah menangis dan menatap tajam ke arahku. Dan ketika kami ada di ruang IGD, Papahku sudah mengurus kasus ini kepada pihak berwajib dan aku menyaksikan dimana Delia seseorang yang aku cintai telah merenggut nyawa mamahku yang paling aku hormati dan aku sayangi. Sampai hal itu membuatku seseorang yang tak punya semangat hidup. Aku menyalahkan diriku sendiri akibat kematian mamahku, selama 2 tahun aku hidup dihantui rasa bersalah dan mimpi buruk yang sering menyerangku, sampai papahku memriksakan kewarasnku kepada dokter spesialis.
"Ku lihat titik bening yang menghiasi sudut mata Razi, dan ku dengar pula suara isak tangis di dalam rumah, walau aku tau ia menyembunyikan suara itu agar aku tak mendengarnya, aku mendengarnya pelan. Maafkan aku Kia mungkin engaku terlukan mendengar semua ini padahal aku berjanji akan menceritakan 'nya ketika kita telah menikah.
Perlahan pak Hasbi menepuk punggungku, ia lihat mataku yang sudah basah dengan ari mata ketika aku menceritakannya kepada Razi. Perlahan Razi mendekatiku dan hal yang pernah ia lalukan ketika aku merebut wanita yang ia cintai, ia tunjukan di hadapanku sekarang.
" Maaf... maafin gue udah membuka masa lalu elo yang udah buat elo sedih dengan menceritakan ini semua sama gue!", maafin gue ya Pram?". Udah berprasangka buruk sama elo!". Ucapnya dengan sebuah pelukan yang mendarat di tubuhku.
Perlahan ku dengar langkah kaki yang sedikit berlari, dan langkah kaki itu terhenti ketika suara bantingan pintu dari dalam. Aku tau Kia, kau merasakan sakit di hatimu. Maafkan aku yang mengingkari janji karena membuatmu kecewa dan sakit. Bathinku.
"Besok gue gak mau lagi liat elo sama Kia jalan bareng naik motor berdua-duaan. Hal itu di larang dalam Islam!", dan gak ada lagi kata-kata pacaran!", gue ngelarang elo buat nemuin ade gue kecuali elo bawa papah elo buat ngehitbah ade gue secara resmi bukan dengan cara ala-ala korea gitu. Ucapnya yang membuatku sontak kaget dengan perkataan Razi yang merestui hubunganku dengan Kia adiknya. Aku tersenyum menatap pak Hasbi dan si Raja minyak tersebut seraya memeluknya.
" Makasi... makasih, Zi?, gue akan bawa papah dan mas Huda kesini buat negelamar Kia secara resmi dan gue pastiin buat nikahin ade loe dalam waktu dekat. Ucapku sambil mencium pungung tanganya dengan senyum yang mengembang dan mengusap lembut sisa airmataku.
***
Aku pulang dalam keadaan bahagia, senyumku terukir di sepanjang jalan. Aku tak menyangka bila Razi akan merestui hubunganku dengan Kia.
"Gue janji, Zi. Gue gak bakalan buat elo kecewa gue pasti akan buat ade loe Nakia Rahmadhani Aulia bahagia bersama gue!". Gumamku dalam hati.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Maaf ya kemarin aku gak up... abis kurang semangat karena gak ada yang vote aku lagi... hiks... hiks...