
Malam ini malam ke tiga Kia menemani Kahfi. Dua hari lalu Kahfi sudah sadarkan diri dari komanya. Hati Kia luluh ketika semua orang menasehatinya dan memberikan masukan kepada Kia agar tidak jauh dari sisi Kahfi.
Awalnya Kia tidak ingin menemani Kahfi saat ia sudah membuka mata, karena di dalam hatinya masih ada rasa jijik pada dirinya sendiri karena ingatan sosok Rendy, dimalam dimana Rendy akan menodainya dengan nafsu yang buas.
Setelah Kahfi minum obat matanya terpejam kembali sambil terus memegang tangan Kia yang ada di sebelah kanannya, karena tangan kirinya masih ada jarum infusan yang membuatnya tak leluasa untuk bergerak.
Kia menatap wajah pucat Kahfi dengan mata yang terpejam sangat tenang, bulu mata yang lentik, bibir yang terlihat semakin mancung karena tubuh Kahfi semakin kurus, sudah seminggu di rumah sakit.
Tangan kanan Kia membelai lembut rambut Kahfi yang sudah mulai gondrong begitu pula dengan kumis dan jenggot yang semakin lebat. Jari jari Kia menyelusuri setiap wajah Kahfi dimana ada bebrapa goresan bekas luka yang mulai mengering.
"Luka luka ini semuanya salah dek, mas!" Dengan lirih Kia berkata dan terus mengelus lembut kedua pipi Kahfi. Air matanya mengalir begitu saja ketika melihat perban yang ada di bagian keningnya yang belum sembuh.
Perlahan ia mengusap lembut air mata yang membekas di kedua pipinya dengan punggung tangan kanannya, karena tangan kirinya tak bisa bergerak dalam genggaman Kahfi. Perlahan Kia mencium punggung tangan Kahfi dengan lembut hingga bekas air mata pun membasahi tangan Kahfi.
Sudah setengah jam tangan Kia dalam genggaman Kahfi namun belum juga di lepaskan oleh Kahfi. Perlahan Kia ingin melepaskan genggaman terebut namun suara ketukan pintu dari depan terdengar di kedua daun telinganya.
"Tok"
"Tok"
"Tok"
"Assalamu'alaikum!" Kepala Yazid muncul di pintu sambil membawa teng tengan di kedua tanganya yang berisi nasi rames dan minuman hangat pesanan Kia.
"Wa'alaikum salam!". Wajah Kia langsung menengok ke arah pintu. Dan bibirnya sekilas memberikan senyum ketika tubuh Yazid sudah masuk ke dalam.
"Ini pesenan kakak, Yazid belikan juga susu jahe untuk kak Kia biar stamina tetap terjaga." Sambil menyodorkan tentengan ke hadapan Kia, namun hal itu tak ia lanjutkan karena melihat tangan Kia yang di genggam oleh Kahfi walau dalam keadaan tidur.
"Barokallah ya, Zid. Makanannya nanti kakak makan."Sambil memperbaiki selimut Kahfi Kia mengatur posisi duduknya seperti semula.
"Ya udah, Yazid nunggu di luar ya kak. Kalau kakak perlu apa apa bisa telpon atau chat Yazid ya, kak!." Kaki Yazid yang hendak membuka jendela pintu untuk keluar. Namun mendengar Kia berbicara langkahnya sedikit terhenti.
"Kamu pulang saja, Zid. Istirahat di rumah biar mas Kahfi kakak yang jagain. Kamu udah hampir seminggu di rumah sakit, kakak khawatir nanti kamu yang ikutan sakit juga." Kia khawatir dengan kesehatan adik iparnya.
"Gak apa apa, kak. Aku mah kuat. Lagian kakak juga baru sembuh. Pokoknya kakak tenang aja, ok!" Ucap Yazid sambil tersenyum dan menutup pintu.
__ADS_1
"Barokallah fiikum ya, Zid!" Bibir Kia tersenyum kecil dan berniat ingin merebahkan kepalanya di sisi Kahfi.
Malam semakin larut, mata Kia pun tak bisa menahan ngatuk hingga kedua matanya terpejam di dekat Kahfi. Kepalanya ia sandarkan ke ranjang dimana Kahfi berbaring.
Nasi dan susu jahe yang di bawa oleh Yazid pun menjadi dingin karena belum tersentuh oleh Kia.
Tangan Kahfi bergerak. Matanya mulai menyesuaikan cahaya lampu di dalam ruangan tersebut. Perlahan ia merasakan bahwa telapak tangannya mulai berkeringat karena penyatuan dua suhu diantara dua jiwa.
Kahfi mencoba melepaskan genggaman tangan. Menarik perlahan agar tidak mengusik tidur lelapnya sang istri tercinta. Namun usahanya ternyata tetap mengusik mimpi indah Kia.
Kia tersadar dengan pergerakan kecil dari tangan Kahfi. Hingga ia mencoba untuk membuka matanya perlahan. Matanya langsung tertuju pada wajah pucat Kahfi yang sedang tersenyum manis kepadanya. Hati Kia merasakan kehangatan dari senyuman Kahfi.
Perlahan ia memperbaiki jilbabnya yang sedikit berantakan. Sura parau nya memecah suasana. "Mas mau ke kamar mandi, apa ada yang di rasa lagi?" Kia berdiri mendekat pada Kahfi.
Kahfi tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Maaf ya, mas jadi ganggu tidur lelap, dek!" Kahfi mengulurkan tanganya mencoba untuk meminta Kia agar membantunya duduk.
Kia menyadari hal demikian, lalu perlahan mencoba membantu Kahfi. Namun tubuh Kia terlalu mungil hingga membuatnya terjatuh dalam pelukan Kahfi.
Hati Kia dibuat tak karuan debarannya terdengar dan terasa oleh Kahfi. Kepala Kia mendongak dan dilihatnya Kahfi sedang tersenyum. Muka Kia memerah dan terlihat jelas oleh Kahfi.
Kia mencoba untuk memalingkan matanya. Namun lagi lagi tangan Kahfi begitu cepat meraih dagu sang istri untuk menatapnya lagi.
"Mas kangen sama, dek!" Kahfi tersenyum dan Kia pun menatap dalam ke arah mata sayu sang suami.
"Hem." Jawaban pelan dari bibir Kia. Kia bisa melihat jelas dari mata Kahfi rasa rindu yang telah lama ia simpan. Kia menatap dalam wajah sang suami yang sudah ia rindukan.
Mata mereka saling berpandangan dan menyelami perasaan masing masing. Kahfi mencoba mendekatkan kembali wajahnya, hidung mereka hampir bersentuhan.
Kia teringat kejadian kelam pada hari dimana ia diculik dan dikurung di dalam kamar. Wajah buas Rendy terlihat jelas diingatannya. Hati Kia merasa sakit, ketika ia memandang wajah sang suami namun kejadian itu menghantui pikirannya. Kia mencoba berontak dan menghindar ketika bibir Kahfi ingin menyentuh ceri merah sang istri. "Maaf, mas." Lirih Kia, ia pura pura ingin mengambil segelas air minum yang ada di dekatnya.
Kahfi hanya menatap heran. Dan perlahan tanganya melepas dengan lemah. Hatinya mulai bertanya tanya. Mengapa sikap Kia begitu aneh. Wajahnya berubah menjadi pucat ketika Kahfi hendak mencium ceri yang Kia miliki.
"Mas mau minum?" Kia mencoba mengembalikan situasi dalam dirinya agar Kahfi tak kecewa.
"Iya." Singkat Kahfi dengan suasana hati yang penuh dengan tanda tanya dan melihat ke arah Kia yang sedikit kikuk
__ADS_1
Kia mengulurkan satu gelas air minum. Dan Kahfi menerimanya dengan sambil menatap ke wajah Kia. Kia lagi lagi mencoba memalingkan wajahnya, menyadari Kahfi menatapnya dengan tatapan tak biasa.
Kahfi meminum air itu sampai tandas dengan mata sambil melihat kea arah Kia.
"Maafkan dek, mas! Dek merasa kotor dan tak pantas buat mas Kahfi" lirih Kia menyembunyikan rasa yang bergejolak dalam hatinya. Dadanya terasa sesak seperti ada batu yang menindih di hatinya. Ia tahu Kahfi sangat kecewa kepadanya.
Saat Kia bermain main dengan perasaanya diam diam Kahfi menatap dan mencoba untuk memahami situasi yang ia hadapi saat ini.
"Dek gak kangen sama mas, ya?" Kahfi menyodorkan gelas kosong kehadapan Kia. Hingga membuat Kia terkaget.
Kia meraih gelas kosong tersebut dari tangan Kahfi. Kini Kahfi meraih panggul Kia dengan cepat. Sontak membuat mata Kia membulat sempurna dan gelas yang hendak ia raih hampir jatuh, dengan cepat Kahfi menggenggamnya kembali.
Kia tidak menjawab pertanyaan Kahfi, ia hanya bisa menatap wajah Kahfi dengan mata yang sedikit berkaca kaca. Kia berusaha tersenyum menyesuaikan keadaan agar Kahfi tak begitu sedih dengan perubahan dirinya. Walau Kia sadar Kahfi pasti sangat menyadari perubahan sikap Kia kepadanya.
"Apa yang membuat dek ragu?" Lagi lagi pertanyaan Kahfi membuat hati Kia semakin sesak.
Kia menundukan kepalanya, menyembunyikan air mata yang hampir jatuh.
Tangan kekar Kahfi mengalung di pinggang Kia. Hingga membuat Kia tak berkutik. Kahfi memeluk erat tubuh sang istri. Ia merasakan getaran pada tubuh Kia.
Air mata Kia jatuh bersamaan dengan pelukan erat sang suami tercinta. Semakin Kahfi mengertakan pelukkannya semakin deras air mata yang Kia keluarkan.
Kahfi tak berkata sepatah kata pun. Hanya bisa merasakan getaran dari tangisan yang tertahan dari tubuh Kia. Ia mencoba memahami keadaan Kia. Kahfi merasakan kesedihan sang istri sekarang. Yang mungkin sulit untuk diungkapkan bagi Kia.
"Maafin mas, dek. Mas gak bisa melindungi dek malam itu. Dan mas merasa gagal menjadi suami karena tidak bisa menolong, dek" lirih Kahfi sambil mengelus lembut punggung Kia. Dan tak terasa air mata Kahfi pun terjatuh di bahu kiri Kia.
Suara isak tangis Kia makin terdengar. Getaran ditubuhnya semakin kuat. Kahfi mencoba mengendurkan pelukkannya. Seketika itu Kia pun berlari melepas pelukan Kahfi menuju kamar mandi yang ada di dalam ruangan tersebut.
Kahfi hanya pasrah dan membiarkan itu terjadi. Hatinya pilu melihat hal ini. Ia mencoba memahami segala sesuatu yang terjadi seminggu ini.
Kepala Kahfi mulai memberikan reaksi. Kepalanya serasa berat dan tubuhnya menjadi lemas. Ia tidak bisa bangkit dari ranjang tempat tidur rumah sakit untuk mengejar sang istri.
Kahfi mencoba membaringkan tubuhnya sekuat tenaga. Sesak dan pilu melihat sikap Kia kepadanya, namun di sisi lain ia juga harus bisa memahami dan memberikan ruang kepada Kia. Kedua jarinya mencoba memijit keningnya sambil ia menatap langit langit ruangan kamar tersebut.
Disi lain Kia menangis tersedu dengan tubuh yang ia sandarkan di balik pintu kamar mandi. Perlahan tubuhnya merosot sampai ia terduduk di lantai kamar mandi dengan kedua tanganya memeluk kedua kakinya. Buliran bening menetes dengan begitu deras, suara tangisan ia coba menahan nya.
__ADS_1
Setiap kali Kahfi ingin mendekat padanya maka kejadian malam itu selalu datang dalam benaknya hingga membuat ia menghindar pada Kahfi.