
Seminggu sudah Fatur dan Kania sudah tidak tinggal di panti. Rasa kehilangan seringkali menyimuti hati Kia. Betapa ia tidak kehilangan karena hampir setiap hari Kia selalu bercengkrama bersama Kania dan Fatur. Kia selalu memandangi tempat dimana sang gadis kecil itu sering duduki. Setiap selesai mengajar Kia pasti selalu mengusap lembut bangku dna menja tempat Kania, sekils ia terbayang wajah ceria Kania ketika seringkali bertanya pada dirinya. Kania anak yang begitu banyak keingin tahuannya, yang selalu memberikan warna di hati Kia.
"Sayang. Kenapa masih disini? Kangen ya sama Kania?" Tanya Kahfi yang sedari tadi memperhatikan tingkah laku Kia di dalam kelas.
Kia pun berdiri dan sedikit menghapus airmatanya. Lalu menghampiri sang suami dengan mengukirkan senyum semanis mungkin walau sedikit memaksakan.
"Mas sudah pulang dari pondok, bukannya ba'da dzuhur mas mengisi kajian di masjid?"
Tangan Kia yang sudah memyalami sang suami dan mencium punggung tangan suaminya dengan lembut. Lalu Kahfipun mencium kening sang istri dengan lembut dan penuh cinta.
"Memangnya mas gak boleh pulang makan nih?" Jawab Kahfi yang sambil menyentuh dagu sang istri.
"Bukan mas. Kan biasanya mas pulangnya ba'da kajian."
Mereka pun melangkah menuju rumah sambil berpegangan tangan. Tiba-tiba suara motor berhenti tepat di depan rumah mereka. Kahfi sudah hafal betul dengan orang yang mengendarainya.
"Ehem, ehem. Tau deh yang sekarang sudah punya istri. Jalan aja seolah milik berdua yang laen cuma numpang. Goda Yazid yang sudah menjatuhkan bobot badannya di kursi depan rumah Kahfi.
"Udah jangan sok usil sama kebahagiaan masmu sendiri, situ masih kecil kuliah aja dulu yang bener nanti baru mikirin akhwat mana yang bakalan jadi calon istrimu."
Timpal Kahfi yang sengaja mencium tangan Kia di depan Yazid untuk menggoda sang adik yang sering menguaili dirinya.
'Ya Allah, Ya Allah, Ya Allah. Mataku udah ternodai dengan melihat yang serharunya aku gak boleh lihat ini. Astagfirullah jiwa zomloku memberontak ini maseee!" Tingkah Yazid yang membuat Kia terkekeh karena melihat Yazid menutup mukanya dengan peci yang ia kenakan.
"Ada apa antum kemari? tanya Kahfi yang sudah mendekat kepada Yazid dan menyuruh Kia untuk masuk terlebih dahulu ke dalam rumah.
"Ada dua akhwat yang mencari antum di pondok, ana sudah bilang buat menemui antum ke panti. Tapi akhwat itu gak mau katanya ada perlu sama antum dan juga abi. Ana telepon antum gak taunya telepon antum ada di meja ruang tamu. Ya sudah mau tidak mau ana kesini."
Yazid yang sembari menyodorkan benda pipih itu kepada Kahfi.
Di dalam Kia seolah mendengar perbincangan adik abang tersebut. Hati nya seolah bertanya-tanya dengan apa yang barusan Yazid katakan.
"Dua akhwat, siap mereka? apakah teman kuliah mas Kahfi apa teman dari tempat kampus mas Kahfi?"
Bathin Kia yang seolah sedikit ada yang ingin tahu siapa dua wanita itu.
Setelah berpamitan kepada Kia, Kahfi dan Yazid langsung pergi ke pondok dengan membawa motor mereka masing-masing.
Dengan rasa berat hati Kahfi harus meninggalkan istrinya untuk makan siang sendiri di rumah.
****
"Assalamu'alaikum" ucap Kahfi dan Yazid ketika sampai di kantor pondok Al Aamiin.
"Wa'alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh." Jawab kedua akhwat yang menggunakan cadar tersebut dan diikuti Kiyai Mansur.
"Kahfi mereka ini katanya teman kamu waktu di kampus Xx. Mereka berniat ingin menjadi kakak asuh anak-anak di panti Al Kautsar.
" Maaf sebelumnya ukhti-ukhti ini siapa ya? maaf ana tidak terlalu mengenal ukhtina berdua. Tanya Kahfi yang tidak bisa mengenali mereka karena yang terlihat hanya dua bola mata mereka saja dan sudah lama pula mereka tak bertemu.
__ADS_1
"Maaf akh Kahfi, ana Susan dan ini Azizah. Kita dulu pernah satu kelompok ketika KKN waktu S1. Ana berdua kebetulan sekarang sudah tinggal menetap disini sedikit banyaknya tahu tentang panti asuhan yang antum dirikan dari ustadz Adam." Jelas Susan yang mulai angkat bicara tidak dengan Azizah yang sedari tadi diam ketika mendengar cerita dari Kiayi Mansur bahwa Kahfi telah menikah.
"Yaa Allah. Jadi ini ukhti Susan dan Azizah yang ketiak di kampus dulu aktif di dunia sosial kerelawanan. Masya Allah, Masyaa Allah." Kahfi yang mencoba mengingat akan sosok Susan dan Azizah ketika di kampus dulu.
Tiga puluh menit telah berlalu mereka membicarakan tentang kerjasama yang akan mereka bina kedepannya demi keberlangsungan panti asuhan dan juga anak-anak panti.
Azan dzuhurpun berkumandang dari masjid pondok, Kahfi, Yazid dan dua wanita tersebut pun langsung menuju ke masjid begitu juga Kiayi Mansur yang sudah terlebih dahulu pamit langsung ke masjid.
****
"Baik nek, Insyaa Allah sore Kia akan main ke rumah. Kia menunggu mas Kahfi yang belum pulang. Nenek mau dibelikan apa?"
Biaklah. Wa'alaikum salam.
Seketika Kiapun meletakan hand phonenya di meja Makan. Sambil memandangi jam dingding dan seketika bangkit dari kursi makan menuju ruang tamu untuk melihat ke arah pintu. Menunggu sang suami yang sudah hampir empat jam belum kembali ke rumah.
"Hemmm, mas Kahfi kok lama banget sih ngisi kajiannya. Apa masih mengobrol dengan kedua wanita yang tadi Yazid bilang?"
Gumamnya sambil mengusap perutnya yang sudah lapar dan melangkahkan kakinya ke kamar. Namun ketika ia hendak meraih hendel pintu kamar. Suara salam dari sang suami seketika menghentikan tanganya.
"Wa'alaikum salam warohmatullah wabarokatuh" jawabnya lembut.
"Sayang. Maafin mas ya dah bikin de lama nungguin mas?"
"Ya tidak apa-apa mas. Yuk kita makan de udah siapin makanan kesukan mas." Ajak Kia yang mendorong tubuh suaminya ke arah meja makan dengan hati senang.
"Dek dari tadi nunggu mas, jadi belom makan ya? Mas pikir sayangnya mas sudah makan!"
Dengan wajah sedikit lesu Kia mendundukan kepalanya ketika mendengar perkataan Kahfi barusan.
"Dek nungguin mas pulang, jadi bair bisa makan sama-sama. Ya sudah kalau mas sudah makan, dek makan sendiri aja." Dengan nada lesu dan kecewa Kia berbicara.
Kahfi yang tau mood istrinya yang sudah berubah, berinisiatif untuk duduk menemani sang istri dan berniat ingin menyuapinya. Namun hal itu ditolak oleh Kia, karena ada rasa kecewa dalam hatinya. Berharap bisa makan bersama dengan sang suami namun akhirnya kecewa yang ia dapatkan karena Kahfi sudah makan bersama keluarga Kiayi Mansur.
Suap demi suap makanan itu sudah masuk ke dalam mulut Kia dengan sedikit lesu. Kahfi yang menyadari hal itu langsung mendekatkan kursinya tepat di sisi kanan sang istri dengan tidak ada jarak lagi. Seketika Kia yang hendak memasukan suapan ke dalam mulutnya, tangan Kia langsung diraih oleh Kahafi sehingga makanan itu kini masuk ke dalam mulut Kahfi hingga membuat mata Kia membulat dengan sempurna.
"Ternyata cacing-casing di dalam perut mas belum merasa kenyang kalau belum menikmati masakan istri mas tercinta yang super duper wenak ini!"
Hibur Kahfi yang sudah mengunyah makanan yang sudah mulai masuk ke dalam tenggorokannya.
"Mas gak usah memaksakan diri bila perut mas sudah kenyang. Dek gak apa-apa kok makan sendiri. Tadi nenek telepon kangen katanya, setelah kita menikah kita belum main lagi ke rumah nenek. Ucap Kia yang sudah mulai menyelesaikan makannya.
"Kok makannya sudah selesai? mas baru makan satu sendok. Seketika Kahfi meraih tangan Kia yang sudah mulai bangkit dari duduknya. Dan mengalungkan kedua tanganya ke perut ramping Kia hingga Kia tak bisa berkutik untuk menjauh.
"Dek sudah kenyang mas." Jawabnya yang menatap wajah sang yang kelihatan rasa lelah di kedua matanya walau terhalang kaca mata Kia bisa melihat jelas wajah dan mata itu.
"Kita makan sama-sama ya, mas temenin de makan ya sayang!" Bujuk Kahfi kepada snag istri yang sudah merajuk.
Seketika Kia mengelengkan kepalanya, tanda ia menolak permintaan suaminya.
__ADS_1
Namun Kahfi mencoba untuk menghibur hati sang istri dengan bersikap lembut dan lebih berusaha agar sang istri mau makan bersama.
"Maafin mas ya sayang udah bikin de menunggu tapi pada akhirnya dek kecewa karena mas malah sudah makan dengan abi. Maaf ya sayang. Ciumanpun melayang di ke dua pipi Kia dengan kilatnya karena Kahfi sudah melangkah cepat ke dapur untuk menaruh lauk yang masih banyak tersisa.
***
Di kamar
"Tadi sipa dua akhwat yang mencari mas?" Ucap Kia yang mulai meraih remot AC dan menghidupkannya karena udara hari ini terasa sangat panas.
" Mereka itu teman mas waktu di kampus XX. Susan dan Azizah yang kebetulan sekarang mereka sudah tinggal di daerah ini di perumahan sebelah. Niat mereka akan menjalin kerja sama dengan mas untuk keberlangsungan panti dan anak-anak panti. Kebetulan mereka berdua itu seeing mengikuti kegiatan kampus berkaitan dengan kerelawanan jadi sedikit banyaknya mas sudah tau bagaimana mereka berdua." Jalas Kahfi yang sudah melepaskan kacamatanya dan menyimpannya di atas nakas.
Kia yang sudah mencoba membaringkan tubuhnya terhenti ketika Kahfi menggodanya dengan menarik tengkuk Kia hingga membuat Kia terkaget dan membulatkan matanya dan rasa jantuh yang berdetak capat.
"Masss!"
Kia yang mencoba berusaha untuk mengendalikan dirinya. Namun Kahfi menuntunya untuk segera menjatuhkan bobot tubuhnya di atas kasur. Sebuah ciuman dikening diterima Kia dengan kelembutan. Tangan Kahfi membelai rambut hitam Kia yang terurai indah. Sepuluh menit kemudia Kia sudah memejamkan matanya dan diikuti Kahfi setelahnya. Tangan Kahfi tak terlepas sambil memeluk sang istri. kedanya pun menikmati tidur siang dengan penuh kehangatam dan saling bertautan.
...****************...
Di rumah abah Dahlan.
"Mentang-mentang pengantin baru sampe lupa main kerumah nenek." Ucap nek Rumi yang baru mendapatkan ciuman dari sang cucu tersayang.
"Maafin Kia ya nek, bukanya lupa, nek. Setelah pulang dari rumah ibu, mas Kahfi sibuk ngurusin ini itu yang sudah seminggu terbengkalai." Ucap Kia sambil mencium dan memeluk erat sang nenek melepas kerinduanya.
Kahfipun langsung duduk di ruang tamu bersama abah Dahlan dan menceritakan kegiatannya selama di rumah pak Hasby. Dan ada hal yang sempat terdengar oleh abah Dahla mengenai Kia. Abah Dahlan hanya menasehati Kahfi agar bisa lebih bersabar dalam menyikapi Kia yang belum bisa seutuhnya meluoakan tentang masalalunya mengenai sosok Prama. Sedikit banyaknya Kahfi mendengarkan masukan-masukan yang diberikan abah Dahlan kepadanya. Ketika dua lelaki itu selesai Kia dan nek Rumi pun datang menghapiri keduanya dengan membawa dua piring berisi buah anggur dan buah mangga kesukaan abah Dahlan yang sengaja Kia dan Kahfi belikan untuk nenek dan kakeknya.
"Maa Syaa Allah manis banget nih sayang mangganya, Ucap abah Dahlan ketika menimati sepotong mangga yang sudah mengisi mulutnya.
"Ini mangga harumanis yang sengaja Kia pilihkan buat kakek tersayang. Biar kakek dan nenek tetap sehqt dan segar." Sahut Kia yang sudah duduk dekat dengan Kahfi.
"Aamiin..."
Jawab semuanya kompak dengan penuh senyuman.
Nek Rumi yang menikmati satu persatu buah anggur yang masuk kemulutnya seraya berkata kepada Kia.
"Nak Kahfi dan Kia menginap saja di sini, semenjak cucu nenek yang cantik ini menikah nenek dan abah Dahlan kesepian.
Biasanya kalau siang menjelang sore Kania sering main menemui Kia kesini! Ngomong-ngomong Kania kemana kok nenek dah beberapa hari ini gak liat Kania.
Seketika hati Kia merasa kaget dengan pertanyaan nek Rumi. Baru saja Kia hendak menjawab pertanyaan nek Rumi Kahfi langsung menanggapi.
"Alhamdulillah nek. Kania dan abangnya Fatur sudah di ambil kembali oleh mbanya. Sekarang perekonomian mereka sudah membaik." Jawab Kahfi sambil melirik ke arah Kia yang wajahnya sedikit berbeda saat ini.
"Oohh gt. Alhamdulillah kalau begitu. Nenek juga ikit seneng dengernya. Kania itu semenjak ada Kia disini nenek melihatnya senenh gitu nak Kahfi, sedikit banyaknya Kania itu sudah bisa menghibur Kia dengan kesedihannya kala itu. Gadis lucu itu bisa membuat Kia sedikit demi sedikit melupakan nak Prama." Ucap nek Rumi dengan mulusnya berbicara sepeti itu di depan Kahfi dan Kia, yang sudah membuat Kahafi merasa tak karuan dengan suasana hatinya.
"Maksud nenek disini Kia sudah lebih baik lagi dari sebelumnya, apalagi nak Kahfi juga mengajak Kia untuk bisa mengenal anak-anak panti disini." Bukan begitu maksud nenek kan nek?" Dalih abah Dahlan untuk menetralkan suasana. Seketika tangan abah Dahlan menyengol pelan tangan nek Rumi.
__ADS_1
"Iya, Iya, maksud nenek seperti itu nak Kahfi" Ucap nek Rumi gugup.