Diakah Jodoh Pilihan Allah?

Diakah Jodoh Pilihan Allah?
84. Dingin


__ADS_3

Setelah Kia melepaskan pelukannya. Kahfi langsung meraih handuk dan menuju ke kamar mandi. Ia merasa sangat sangat lelah sekali hari ini. Tubuhnya merasa lemas tak bertenaga melihat adegan yang ada di depan matanya. Suasana hatinya sedang tidak baik baik saja. Hingga ia membiarkan air membasahi tubuhnya dari ujung kepala sampai ujung kaki.


Dengan sedikit teratih Kia mencoba menyiapkan baju yang akan dipakai Kahfi untuk malam ini. Kia memilihkan kaos berwarna jingga dan celana sirwel berwana army yang terbiasa Kahfi kenakan bila hendak tidur.


Kahfipum telah usai dengan ritualnya di kamar mandi. Ia mendekati lemari dan mencoba memilih baju yang hendak ia gunakan. Kia hanya menatap penuh pilu degan apa yang ia lihat. Sang suami tak mau mengenakan pakain yang sudah ia pilihkan. Diama biasanya Kahfi sangat suka diperlakukan sepeti itu.


"Mas ini, dek sudah pilihkan baju untuk, mas.!" Ucap Kia sambil menujukan baju yang sudah ia letakan di atas kasur.


"Mas lagi kepingin pake kaos ini."Jawab Kahfi yang sudah memasukan baju betangan panjang berwarna biru.


"Mas kedinginan ya kok pake kaos tangan panjang?. Kalu mas kedinginan dek buatkan teh jahe madu ya!" Ucap Kia seraya hendak bangkit dari tepian tempat tidur.


Kahfi berusaha untuk tidak peduli dengans sang istri walau dia tau dia tidak tega melihat istrinya kesakitan sepeti itu. Mencoba pergi keluar untuk mencari obat yang bisaeringankan rasa sakit di kaki sang istri.


"Mas keluar dulu cari angin!" Ucap Kahfi berlalu dari Kia.


Kia hanya terdiam melihat sang suami begitu dingin kepadanya. Rasa sakit yanga ada di hatinya ketika melihat orang yang ia sayangi begitu angkuh dan dingin kepadanya. Biasanya setial hari Kahfi selalu perhatian dan memanjakan Kia. Tapi tidak dengan malam ini. Sang suami beruab serstus delapan puluh persen.


"Mas, sebegitu bencikah dirimu melihat kejadian tadi. Hingga kamu gak peduli sama aku dan bersikap dingin seperti ini. Aku lebih baik sakit badan daripada dicuwekim begini. Aku tau aku salah." Bathin Kia yang mencoba untuk berdiri dan berjalan ke kamar mandi. Namun kaki Kia tidak begitu kuat hingga membuat ia kesakitan lagi dan mengaduh hingga Rahma yang abru dari dapur mendengar suara Kia dan langsung menuju ke kamar Kia.


"Kak, kak Kia! Kakak gak apa apa, kan? Kok teriak kaya orang kesakitan gitu." Ucap Rahma yang sudah ada di depan pintu kamar Kia yang sudah mulai membuka pintu kamar yang tidak terkuci.


Kia yang tau itu suara adiknya ia langsung menyeka air matanya dengan punggung tangannya. Dan sebisa mungkin untuk bangkit dari duduknya di bawah lantai.


"Yaa Allah kak Kia? Kakak jatuh ya? Mas Kahfi kemana kok malah ninggalin kakak di kamar sendirian? Tanya Rahma samil memapah Kia untuk duduk di atas kasur.


"Tadi kakak kakinya terkilir waktu mau pulang setelah acara pesta pernikahan Ulan dan Brayen." Ucap Kia yang sudah duduk di tepian tempat tidur di temani Rahma.


"Kakak mau minum? Kebetulan Rahma baru nuangin nih." ucapnya sambil menyodorkan air yang sudah tinggal setengah.


"Apaan baru ngabil. Ini tinggal setengah." jawab Kia sambil menujukan gelas panjang yang Rahma berikan barusan.


Tiba tiba Kahfi muncul sambil membawa satubuah keresek putih yang ada tulisa apotik. Seketika Rahma keluar dari kamar Kia ketika tau kakak iparnya ternyata keluar membelikan obat untuk sang kakak.


"Mas dari apotik, ya? Tanya Kia melihat Kahfi bungkusan pelastik yang ada merek nama apotik tersebut.


Kahfi tanpa jawaban dan seketika ia membuka sebuah botol yang tercium bau kencur dan memberikan obat paracetamol untuk penahan rasa sakit pada kaki Kia. Kahfi membalurkan ramuan jamu tersebut pada bagian kaki Kia yang sudah membengkak.

__ADS_1


Kia mencoba menahan sakit ketika tangan Kahfi menyentuh kakinya yang sedikit memerah dan bengak.


"Jangan lupa minum obatnya agar malam tidak demam. Dan kalau sudah sedikit membaik berusahalah untuk mengganti pakaian." Ucap Kahfi yang kini sudah mengatur poaisi tidurnya dengan tidak biasanya ia membelakangi bagian dari Kia


"Terimakasih ya, mas. Udah ngobatin kaki, dek!" Ucap Kia sedikit ragu. Kahfi hanya menjawab dengan angukan saja.


Lima belas menit kemudia Kia sudah merasa sedikit membaik ia mencoba untuk mengikuti saran sang suami. Dengan tertatih ia mencoba ke kamar mandi sambil membawa baju ganti yang akan ia gunakan. Setelah beberapa menit kekemduian ia selai. Kia dapati sang sumi sudah tidur pulas dengan membelakangi punggung Kia.


Kia mencoba mendekat kepada tubuh Kahfi. Ia mencoba mengusap selimbut yang sudah menutup sebagian dari tubuh Kahfi. Pergerakan Kia terbatas ketika ia ingin melihat wajah sang suami. Namun sayang Kahfi tetap saja pada posisi membelakangi Kia.


"Mas. Semarah ini kah kamu sama aku, mas!" hingga membuat aku bingung harus melakukan apa agar kamu seperti kamu yang biasanya. Yang setiap mau tidur membaca doa berdua, mencium keningku, membelai kepalaki, dan memeluk tubuh ini ketika tidur? Dek kangen dengan kebiasaan itu. Ini baru hari ini mas tidak melakukannya sama, dek. Gimana kalu marahnya mas bisa berhari hari. Dek pasti sangat tersiksa, mas."


Ucap Kia sambil mengelus bagain punggung Kahfi dengan deraian air mata. Namun sang pemilik tubuh tak bergeming sedikitpun karena ia sudah ada di alam mimpinya.


********


Pagi pagi sekali Kahfi sudah rapih dengan kemeja biru dan jas warna hitamnya tak lupa dasi yang ia kenakan. Pak Hasby dan bu Aisah pun sedikit terheran dengan Kahfi yang sudah rapih sepagi ini tanpa kehadiran Kia sang istri yang biasanya melayaninya.


"Nak Kahfi mau kemana sudah rapih sepagi ini? Tanya Pak Hasby. Yang celingak celingukan mencari Kia


"Loh, gak nunggu Kia bangun dulu. Apa Kia udah tau kalau nak Kahfi gak pulang kesini?. Sarpan dulu, nak Kahfi Tanya Bu Aisyah.


"Kahfi sudah bilang semalam dan Kahfi juga udah ninggalin surat buat Kia. Kahfi bisa sarpan nanti di jalan karena mengejar waktu, bu." Ucap Kahfi berlalu setelah ia mengucapkan salam kepada bu Aisah dan pak Hasby.


Rahma yang sudah rapih dengan seragam sekolahnya langsung duduk di kursi keabadainnya. Sambil menikmati sepotong roti bakar coklat.


"Kayanya kak Kia sama bang Kahfi lagi ada masalah loch, bu!" Ucap Rahma yang memasukan roti itu kedalam mulutnya


"Sok tau kamu. Orang semalem kakak dan bang Kahfi pulang sama sama. Malah nak Kahfi mengendong kakakmu sampai kamar." Ucap bu Aisah yang masih sibuk di dalam dapur membuatkan susu kopi untuk pak Hasby.


"Kak Kia kayanya masih tidur, jadi gak tau dong kalau kak Kahfi udah berangkat?" Ucap Rahma yang kini sudah memasukan beberapa lembar roti yang sudah ia beri selai ke kotak bekalnya.


"Nak Kahfi itu sudah bilang sama kakak mu semalam dan dia juga sudah menulis pesan untuk kakakmu. Kahfi gak tega kali mau bangunin Kia yang kecapean dan kurang tidur karena rasa sakit di kakinya.


Tiba tiba Kia dengan tertaih tatih mendekat pada ibu dan juga ayahnya yang masih duduk di meja makan. Sedangkan Rahma sudah hendak keluar dari ruangan tersebut karena sahabatnya sudah menunggu di depan jalan.


"Rahma berangkat ya ibu, yah! Ehhh kak Kia udah bangun? Rahma berangkat ya kak!" Ucap Rahma sambil mencium tangan kakaknya setelah emncium tangan kedua orangtuanya dan berlalu dari hadapan Kia.

__ADS_1


"Kaki kamu udah baikan, nak?" Pak Hasby yang baru saja menikmati segelas kopi susu buatan bu Aisyah


"Alhamdulillah lebih baim dari semalam, yah. Mas Kahfi udah ngebalurin jamu yang baunya kaya beras kencur gitu ke kakai Kia dan Kia juga minum obat Paracetamol untuk meredakan rasa sakitnya.


Mas Kahfi kemana ya yah, bu?" Kia yang baru saja mendudukan bobot tubuhnya.


"Masa kamu gak tau, kata nak Kahfi dia semalam udah kasih tau ke kamu kalau pagi pagi akan pergi keseminar?" Ucap bu Aisyah yang sedikit bingung dengan Kia


"Sepertinya Kia dan Kahfi sedang ada masalah, gak biasanya Kia bersikap sepeti ini dan gak tau Kahfi ada acara seminar!" Bathin pak Hasby.


"Kamu sedang kenapa sama nak Kahfi, gak biasa biasanya kamu gak kegiatan suamimu sendiri dan ayah juga liat tadi nak Kahfi merapihkan diirinya sendiri. Ucap Pak Hasby.


Ada apa sebenarnya, Kia. Cerita sama ayah ibu, Nak! Tambah bu Aisyah


Kia yang baru saja minum air langsung tersedak mendengar pertanyaan dari kedua orangtuanya. Namun ia tidak bisa menceritakan apapun yang bersangutan dengan rumah tangganya kepada ayah dan ibunya. Senatural mungkin Kia mencoba menangkan diri untuk bisa menjawab pertanyaan tersebut.


"Kia sama mas Kahfi gak ada apa apa, ayah, ibu! Kia cuma lupa karena semalam Kia gak bisa tidur karena kaki Kia terasa sakit. Dan Kia juga belum sempat pegang hp lihat pesan mas Kahfi. Kalu gitu Kia ke kamar dulu ya, Yah, Bu." Ucap Kia berlalu meninggalkan kedua orangtuanya di meja makan.


Bu Aisyah dan pak Hasby hanya bisa menatap berlalunya Kia di hadapannya dengan pikiran mereka masing masing.


*****


Kia langsung meraih hp yang ada di atas meja dia lihat secara seksama pesan yang masuk. Tak ada pesan dari sang suami. Hati Kia makin tak karuan ketika tak ada pesan yang masuk dari sang suami.


"Sebegini marahkah kamu mas sama aku, hingga tak memberitahuku tentang kegiatanmu dihari ini!" Bathin Kia.


Kia meletakan benda pipih itu dengan lesu. Ia baringkan tubuhnya dan ia raih bantal yang biasa Kahfi gunakan ia peluk bantal tersebut ia ciumi bau dari ciri khas sang suami tak terasa air matanya membasahi bantal tersebut. Kia tidak menyadari ada sehelai kertas yang ada di atas bantal yang biasa ia gunakan.


"Mas kenapa kamu bisa sedingin ini sama aku mas. Sakit hati ini pilu rasanya. Aku tau aku salah tapi gak seperti ini juga mas!" Ocehan Kia yang kesal hingga melampiaskan pada bantal yang ada di hadapanya.


Perlahan Kia mengedarkan penglihatannya ketika ia akan membereskan tempat tidurnya ia temukan sehelai kertas dimana ada tulisan dari sang suami.


"Assalamy'alikum, dek. ***Mas berangkat pagi pagi tanpa ngebangunin, dek. Seminggu ini mas ada seminar di kota B. Jadi dek tinggal dulu di rumah ayah dan ibu. Jangan lupa jaga hati dan padangan. Maaf belum bisa melupakan kejadian semalam jadi jangan buat mas kecewa lagi ya.


Dari suamimu


Kahfi***

__ADS_1


__ADS_2