Diakah Jodoh Pilihan Allah?

Diakah Jodoh Pilihan Allah?
60. Mie Instan Spesial


__ADS_3

Awan hitam sudah menghiasi suasana sore ini tepat pukul 3 sore Kahfi menurunkan Adam dan Febby di depan pintu gerbang asrama. Tinggalah Kia dan Kahfi di dalam mobil di mana Kia duduk di belakang sendirian. Pandangan Kia kini hanya menundukan kepalanya engan menatap ke arah depan kepada sang pengemudi.


Mobil Kahfi pun melaju dengan sedikit kecepatan berharap hujan tak menguyur mereka sebelum sampai ke rumah abah Dahlan. Namun di tengah jalan Kahfi harus menekan pedal remnya dengan kuat dan menghentikannya secara tiba-tiba karena, seeokor kambing yang datang mendadak dari sebelah kiri mobilnya mengakibatkan guncangan yang sedikit kuat di dalam mobil.


Bruk ... Bruk ...


Sura kening Kia yang terbentur bangku mobil yang ada di depannya dan kepala bagian sampingnya terbentur kaca mobil.


" Awww ... Teriaknya kesakitan.


Seketika Kahfi menoleh ke arah suara Kia yang kesakitan di lihatnya Kia sedang memegang bagian kepalanya yang sakit. Dengan paniknya Kahfi bertanya.


" Apa kamu tidak apa-apa? Mana yang sakit? Kita ke klinik, ya? Pertanyaan itu melesat tanpa koma dari mulut Kahfi yang mengkhawatirkan ke adaan Kia.


Seketika Kia hanya tersenyum manis dengan pertanyaan yang betubi-tubui dari Kahfi walau menahan pening pada kepalanya. Kahfi yang melihat itu hanya menyeringitkan kening menatap Kia aneh.


"Ana mengkhawatirkan, ukhti!" tapi kenapa ukhti malah tertawa? Apa itu lucu? Ucapnya lalu berbalik badan.


" Maaf ... Maaf ... Habis kak Kahfi lucu, Kia cuma terjeduk jadi gak perlu bawa Kia ke klinik, kak!" jawab Kia sambil menutupi senyumnya dengan tangannya.


" Ana cuma replek mendengar ukhti berteriak dengan kuat. Kalau ukhti kenapa-kenapa kan nanti ana yang akan kena pertanyaan dari abah dan nek Rumi!" jawabnya sekilas melihat wajah Kia dari kaca sepion yang ada di depannya di lihatnya kening Kia sedikit membiru.


" Lihatlah kening ukhti membiru, pasti itu akan jadi bahan pertanyaan abah Dahlan. ' kenapa cucunya sampai seperti itu!'. Apa itu lucu, Hem?" Ujarnya seraya menjalankan mobilnya kembali namun hujan sudah mulai menetes dan terlihatnya air pada kaca depan.


" Ya maaf!" nanti biar Kia yang akan menjelaskannya kepada, abah!" jadi kakak gak perlu repot-repot mencari rangkaian kata untuk menejelaskanya kepada abah."


🌻🌻🌻


Malam hari. Ketika semua orang sibuk berbincang-bincang membahas tentang pernikahan Kia dan Kahfi Rahma sibuk dengan benda pipihnya di kamar Kia. Ia videokan semua perlengkapan untuk pernikahan Kia menunjukan kepada Nisa sang sepupu. Rahma dengan bahagianya mengabsen sesuatu yang ada di kamar Kia tanpa ada yang terlewat.


Di ruangan lain bu Aisyah dan Tari sibuk di dapur merapihkan sisa-sisa hidangan yang baru saja habis di santap keluarga besar abah Dahlan. Kia yang ingin membantupun di larang oleh Tari sang kakak ipar karena melihat pelester kecil yang menghias jari telunjuk kanan Kia belum lagi ia melihat kening Kia yang membiru akibat kejadian tadi sore.


" Sudah kamu istirahat saja, Kia! " biar ini aku dan ibu yang melakukannya, ya!" kalau gak kamu telponan dech sama calon imammu biar lebih akrab gt! Hihihi


Kia terdiam ketika tanganya disingkirkan oleh Tari karena hendak meraih piring kotor dan berniat akan membawanya ke dapur.


" Kalau semuanya ini di lakukan sama ibu dan Tari, aku ngapain dong?" kan bete dari tadi gak boleh ngapa-ngapain!" ucapnya kesal dengan sedikit mengerucutkan bibirnya dan menaruh kedua tanganya di atas pingang.


Bu Aisyah yang melihat tingkah lucu kia hanya bisa tersenyum manis sambil meraih gelas-gelas yang akan ia cuci.


" Sudah lebih baik kamu banyak-banyak baca buku tentang tugas seorang istri yang sholihah, biar nanti gak cangung lagi sama nak Kahfi!" ledek bu Aisyah.


" Ibuuu ... Sama aja kaya Tari sukanya ngeledekin aku! Huh!"


Decak Kia kesal dan berlalu dari Tari dan bu Aisyah.


Melihat Kia berlalu dari mereka berdua Tari langsung beriyes ria bersama bu Aisyah, seolah senang sekali menggoda Kia sampai wajahnya memerah karena malu.

__ADS_1


" Tari seneng deh bu liat Kia sekarang bisa seperti dulu lagi, tanpa mengingat Prama!" semoga Kahfi bisa memberi warna baru dalam hidup Kia ya, bu?" ucap Tari seraya memeluk bu Aisyah yang merasa sudah seperti ibunya sendiri.


" Aamiin yaa Allah." Alhamdulillah, ya! Ibu juga senang bisa secepat ini Kia menata hidupnya kembali di sini, walau sempat ada rasa khawatir ketika ibu memyetujui keputusan ayah membawa Kia kesini, tapi setelah meilihat apa yang terjadi sekarang ibu malah merasa bersyukur.


🌻🌻🌻


Di tempat lain. Selesai mengisi kajian seperti biasanya Kahfi selalu singgah untuk menemui kiyai Mansur sekedar untuk menanyakan kabar atau membahas tentang asrama. Tapi tidak di malam ini justru kiyai menanyakan prihal persiapan Kahfi dalam pernikahannya.


Kiyai yang sudah mengganti baju kokonya dengan kaos duduk di ruang tamu ditemani dengan Yazid dan juga Kahfi yang baru mendudukan bobot tubuhnya di atas sofa berwarna coklat.


" Sudah sejauh mana semua persiapan pernikahanmu dengan Nakia, nak?"


Sambil meletakan buku catatan kajiannya Kahfi menoleh kepada kiyai Mansur dan menjawab pertanyaannya.


" Alhamdulillah, bi. sudah hampir 80%." Siang tadi Kahfi, Adam, beserta istrinya menamani Aulia untuk memilih gaun pengantin yang akan dikenakan setelah akad."


" Lalu bagaimana dengan pestanya mas, Bro!" apa mas bro tidak kelelahan habis akad langsung pesta?"


Kali ini Yazid ikut angkat bicara mengenai pesta yang langsung di gelar selang 2 jam setelah akad nikah. Karena Kahfi dan Kia sudah mensetujui semuanya agar tidak menghambat kegiatan yang akan di lalukan Kahfi setelahnya.


" Inshaa Allah tidak, dek!" karena minggu setelah pernikahan ana harus pergi ke luar kota untuk mengurus pabrik yang pernah papah miliki walau sebenarnya ana tidak tertarik untuk mengurus pabrik itu!" jawabanya berat.


Kiyai Mansur yang tau akan karakter Kahfi yang lebih senang mengurus hasil jeripayahnya sendiri dibandingkan dengan mengurusi parbrik bekas peninggalan orang tuanya yang kini jarang sekali ia kontrol karena jarknya yang begitu jauh dari daerah x ke daerah A.


" Bila kamu tidak mau mengurusi pabrik mebel tersebut sebaiknya kamu bisa menjualnya dan uangnya bisa kamu pakai untuk membangun asrama atau masjid di sana, agar amal jariyah untuk kedua orangtuamu terus mengalir!" tapi apakah kamu tega membiarkan orang-orang yang akan putus kerja ketika pabrik itu tak beroprasi lagi?"


" Apa Kahfi minta tolong paman Dito ya, bi untuk mengurus pabrik mebel itu?"


" Itu lebih baik, karena abi yakin pamanmu itu lebih amanah seperti halnya beliau pernah mencarimu untuk menyerahkan aset-aset peninggalan orang tuamu." cobalah bila urusanmu sudah selesai semua kamu temui pamanmu dan kenalkan juga Kia kepada keluarga pamanmu!"


"Inshaa Allah iya, bi!"


Selesai membahas semuanya Kahfipun berpamitan untuk pulang ke rumahnya diikuti Yazid yang tidak mau melewati masa-masa bersama Kahfi saat ini karena setelah menikah pasti dirinya tidak lagi bisa tidur dan tinggal bersama Kahfi di rumah Kahfi karena akan ada Kia yang mengurus Kahfi ke depannya.


" Bi, Yazid ikut mas Bro ya!" karena setelah menikah pasti Yazid tidak bisa lagi menginap dan tidur bersama mas Bro Kahfi karena, seminggu lagi bobonya mas bro akan di temani sang bidadari yang sudah lama ia tunggu-tunggu!" iya gak, mas Bro?" goda Yazid ketika Kahfi hendak ke luar memakai sendalnya.


" Kamu ini paling seneng godain masmu?" ujar kiyai Mansur.


Kahfi yang mendapat kodaan dari Yazid hanya tersenyum tipis sambil menggeleng-gelengkan kepala. Dan menuju motor yang akan membawanya bersama Yazid sampai ke rumah.


🌻🌻🌻


Yazid dan Kahfipun langsung masuk ke dalam rumah setelah mengecek apakah ada anak panti yang belum tertidur. Hal itu selalu Kahfi lakukan setiap harinya agar mengetahui keadaan anak-anak setiap harinya.


" Mas bro kok ana lapar ya!" rasanya cacing dalam perut ana ingin sekali memakan mie instan buatan mas bro yang spesial itu loh!"


ucap Yazid sambil menyalahkan tv mencari canel tv yang sedikit menarik namun ia tak menemukannya.

__ADS_1


" Anta itu bukannya laper tapi emang modus ingin mengerjai ana, iya akan?" nah cocoknya anta nonton sinetron azab yang judulnya " azab seorang adik sering memerintah kakaknya hingga mati tersedak mie instan" hahaha!" ucap Kahfi yang sudah masuk ke dapur untuk memasak mie instan permintaan Yazid.


" Ngeri kali itu judulnya udah kaya jalan tol pulang kampung pake panjang banget!" ana kan cuma ingin menyicipi masakan mas bro yang pasti akan jarang ana nikmati setelah mas bro menikah nanti." ujar Yazid sambil meraih buah apel di dalam kulkas lalu mencucinya dan langsung ia makan sambil duduk di meja dekat dapur.


" Siapa bilang setelah ana menikah anta tidak dapat menikmati masakan ana?" ana akan masakan mie instan ini setiap hari untuk anta supaya bandan anta tidak lagi sekurus ini!" ujar Kahfi sambil memasukan sosis, bakso dan daun sawi kedalam rebusan mienya.


" Ana gak mau gemuk-gemuk seperti calon adik ipar antum yang siapa namanya?"


" Rahma!"


" Ia Rahma, pantas saja ukhti Aulia menyebutnya beruang madu!" dia memang seperti beruang madu dan tubuhnya lebih tua dari umurnya!" Ujar Yazid sambil tertawa kecil memamerkan gigi putinya yang rapih.


" Anta jangan mengatainya seperti itu, nanti repot dah kalau udah ada rasa suka di hati anta?" Ucap Kahfi sambil mengangkat mie yang sudah matang itu ke dalam mangkok.


" Gak mungkinlah dia itu bukan tipe ana, dan Rahma itu masih anak SMP yang bau kencur!"


Wanginya mie instan yang Kahfi buat menyeruak di penciuman Yazid hingga ia tak tahan ingin menyantap mie buatan Kahfi.


"Masyaa Allah wanginya bikin cacing dalam perut ana meronta-ronta ini!" Ucapnya sambil meraih satu mangkok mie yang sudah Kahfi sajikan dan menambahkan sebungkus boncabe ke dalam mangkoknya.


Kahfi dan Yazidpun menikmati mie instan spesial buatan Kahfi dengan nikmatnya. Mereka bersyukur karena walaupun mereka berdua bukanlah saudara kandung tapi kedekatan mereka melebihi saudara kandung karena Yazid dan Kahfi sedari kecil memang selalu bersama dan melewati suka dan duka berdua.


Setelah selesai menikmati mie buatan Kahfi Yazid langsung masuk ke dalam kamar Kahfi yang sekarang suasananya sudah ia ganti dengan tempat tidur yang baru dan lemari pakaian yang 4 pintu karena Kahfi berfikir setelah ia dan Kia menikah mereka akan berbagi lemari jadi Kahfi memutuskan untuk membeli lemari pakaian yang agak besar dan tempat tidur yang sedikit nyaman untuk mereka tiduri berdua kelak.


" Ck ck ck ... mas broku ini sepertinya sangat semangat benar menyambut bidadari sang pujaan hati sampai kamarnya pun di ganti dengan yang baru!" Masyaa Allah ... Masya Allah!" Kagum Yazid melihat sekeliling kamar Kahfi yang berubah 99% dari biasanya.


" Ana hanya ingin ukhti Kia nyaman tinggal di ruamh ini!" jadi ana sengaja menganti semuanya ini dengan yang baru, tidak mungkin kan ana dan ukhti Aulia tidur di tempat tidur yang sempit?"


" Justru itu malah enak mas bro!” setiap malam mas bro bisa memeluk ukhti Aulia dengan kehangatan!" ucap Yazid dengan tawa yang menggema di kamar tersebut.


" Anta ini kalau sudah ngebahas hal seperti itu pasti paling jago!" ucap Kahfi sambil melepar bantal kepada Yazid namun dengan cepatnya Yazid menangkap bantal itu.


" Malam ini ana gak mau tidur disinilah, biar ana tidur di kamar sebelah aja!" gak enak kalau ana mendahului tempat tidur yang dipersebahkan untuk bidadari mas broku!" nanti ana kena azab lagi!" Ucap Yazid yang berlalu dari kamar Kahfi menuju kamar sebelah dimana Kahfi meletakan barang-barangnya ke ruangan sebelah dan menatanya dengan rapih.


" Yakin anta akan tidur di kamar itu?" tanya Kahfi yang biasanya Yazid selalu tidur berdua dengannya ketika menginap."


"Yakinlah, ana akan membiasakan diri untuk bisa tidur terpisah dengan anta bila di rumah ini!" karena sebentar lagi juga ana sudah tidak bisa lagi tidur disini dengan mas bro tertampan seasrama." Ucapnya sambil merebahkan tubuhnya pada tempat tidur Kahfi yang dulu ada dikamarnya.


" Ya sudah selamat istirahat dan ingat jangan membayangkan Rahma adiknya ukhti Aulia, ya!" Teriak Kahfi dari kamarnya dan mulai mematikan lampu dan menyalakan lampu tidur.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung----


__ADS_2