
Dua hari kemudian
Kia lupa bahwa hari ini adalah hari dimana Huda dan Naura menikah. Pestanya di adakan di gedung serbaguna perusahan milik keluarga pak Prayoga.
Tari, Razi, Bu Aisyah, Pak Hasibby dan Rahma sudah rapih dan segera menuju tempat pernikahan Huda dan Naura. Rahma diperintahkan Bu Aisyah untuk memberi tahu Kia bahwa semua orang sudah siap dan tinggal menunggu Kia dan Kahfi.
Langkah kaki Rahma menuju kamar Kia yang masih tertutup. Diketoknya pintu tersebut dan diringi salam. "Kak, kakak mau barengan sama kita-kita apa kakak mau pesan taxsi online?"
Beberapa detik langkah kaki dari dalam terdengar. Kia membuka handel pintu. "Kalian duluan aja, Kakak sama mas Kahfi belum rapih, dek." Kia masih menggunakan baju biasa.
"Ooh gitu." Rahma melihat Kia dari atas sampe bawah. "Dari tadi kakak ngapain aja baju aja smape belum ganti kak?" Kia langsung menutup mulut Rahma dengan satu jari.
Sedikit berbisik Kia menarik Rahma agak menjauh dari kamarnya. " Kakak bingung mau pake baju yang mana, setiap yang kakak mau pake disuruh ganti sama mas Kahfi. Katanya itu terlalu bagus!" Kia mengebuskan nafas dengan berat.
"Oooh jadi ada yang cemburu nih ceritanya!" Rahma mengecilkan suaranya. "Ya susah kita duluan ya kak. selamat berpusing-pusing ria menghadapi kecemburuan sang suami tercintahhh" Ledeknya sambil berlari.
Kia hendak melepar sendal tidurnya ke Rahma. namun Kahfi manggilnya. "Ya mas."
Semua mata tertuju pada Rahma yang sedang tertawa geli. Hingga membuat Tari bertanya. "Ada apa dek? kok kamu sampe lari-lari gitu sambil cekikikan?"
Pak Hasbby dan Razi yang menggendong Mineral ke luar duluan, sedangkan kedua wanita di dalam masih penasaran dengan cerita Rahma.
"Gimana kakakmu mau ikut sama-sama kita apa bagaimana?"
"Kasihan tuh kak Kia Bu, katanya udah beberapa kali ganti baju. Tapi kata mas Kahfi baju yang kak Kia pakai terlalu bangus. Sepertinya Rahma mencium bau-bau cemburu nih sama mas Kahfi."
Tari hanya tersenyum geli mendengar ucapan Rahma barusan.
"Laki-laki memang gitu kalau tau siapa yang pernah suka sama kita!" Celetuk Bu Aisyah sambil berlalu meninggalkan Rahma dan menantunya.
"Oohh ibu juga pernah dong ngerasain kaya gitu sama ayah, ya Bu?"
Bu Aisyah hanya menjawab dengan satu jempol diangkatnya. Kini ketiganya kini sudah memasuki mobil menyusul pak Hasbby dan Razi. Razi menyerahkan Mounera. Mesin pun dinyalakan. Mobil telah meninggalkan rumah.
Kia yang masih masih disibukan dengan baju-baju yang bekas dipilihnya tadi. Kahfi membantu. Sedikit cemberut Kia akhirnya memilih baju gamis yang sangat biasa yang pernah ia gunakan ketika di pulau Dewata ketika itu. Gamis warna purple dengan sedikit hiasan manik-manik di bagian pergelangan tangannya ia padukan dengan warna jilbab yang agak tua sedikit.
Kahfi melirik dan melihat wajah Kia yang tidak semangat karena ia sudah berencana akan pergi bersama dengan keluarganya. Kahfi mendekat dan menyentuh dagu Kia hingga wajah Kia kini menatap wajah Kahfi.
"Kenapa, kok gak semangat gitu." Kahfi merangkul Kia dan mencium pucuk kepalanya. Ia sandarkan dagunya di atas kepala Kia. "Maafin mas ya. Kalau bikin kecewa, dek. Dan bikin dek sibuk dan lelah dengan segala kemauan mas.
Kia meneteskan air mata, Kahfi menyadari karena kemejanya sedikit basah karena air mata Kia. "Kenapa mas masih cemburu sama mas Huda. Kan mas tau, dek udah gak pernah lagi ketemu sama mas Huda. Dan chat dari mas Huda aja selalu dek kasih tau. Sekarang mas malah bikin dek serba salah dengan pakaian-pakaian yang dek hendak pakai mas malah suruh dek ganti dan ganti lagi." Dengan tangan yang memeras-meras kemeja Kahfi.
Kahfi melonggarkan pelukannya dan menatap wajah sang istri. "Ya mas akui mas salah. Cemburu mas mungkin berlebihan, tapi mas melakukan semua ini semata-mata karena mas gak mau pandangan Huda tertuju sama dek, karena mas tahu mungkin dalam hati Huda dek itu masih seseorang yang begitu berarti. Kahfi duduk di tepian tempat tidur ketika Kia sudah ingin terlepas dari pelukkannya.
__ADS_1
"Ya sudah kalau gitu, gak usah datang aja ke pernikahan mereka." Kia membuka jilbabnya dan berbaring membelakangi Kahfi.
Kahfi memijat pelipisnya yang tak pusing. " Ya susah kalau keputusan dek begitu. Mas gak akan memaksa, dek." Kahfi bangkit dan menuju ke luar meninggalkan Kia yang menutupi tubuhnya dengan selimut.
Suara telepon berdering disaku celana Kahfi, dimana Kahfi kini sedang menghirup udara di luar rumah. Diangkatnya telepon dari Razi. Dia hanya menjawab sekedarnya dan memberi tahu bahwa Kia tidak jadi datang ke acar pernikahan Huda dan Naura. Razi yang tau suara berat dari Kahfi, yang menandakan ada sesuatu antara ia dan adiknya. Telepon pun berkahir.
Kahfi menatap pada langit yang gelap ada beberapa bintang di atas. Matanya ia pejamkan perlahan dan mencerna setiap kata yang Kia ucapkan. Sambil memijit keningnya seraya melepaskan kacamata yang menempel pada hidungnya. Ia hembuskan napas berat sambil terus beristigfar. Ia mengingat sedikit pertemuan pertama kalinya dengan Kia dan mengingat ungkapan hati Huda ketika di rumah abah Dahlan. Semuanya menari dalam otaknya.
Satu pesan chat masuk di ponselnya. ia buka dan itu dari Brayen, memberi tahu bahwa ada rumah yang hendak dijual didekat rumahnya. Tiba-tiba Brayen menelpon.
Brayen tahu kenapa Kahfi ingin mempunyai rumah di kota B. Maka dari itu Brayen langsung mencari informasi ke teman-temannya yang tinggal dekat dengan rumahnya sekarang. karena Brayen tak ingin sahabat masa kecilnya menderita lagi atas perbuatan Rendy. Brayen hendak membuat perhitungan dengan Rendy bila Rendy berbuat ulah lagi kepada Kia. Informasi Rendy ia dapat dari Ulan yang dua hari lalu Kia ceritakan kejadiannya.
Kahfi berterimakasih kepada Brayen. Sedikit banyaknya Brayen tau kebusukan Rendy dibelakang mertuanya di perusahaan maupun tentang cintanya.
"Ya sudah besok kita ketemuan di lokasi, asal jangan lupa share lock ya!"
Telpon diakhiri dengan salam dari keduanya.
Kahfi menatap jam di teleponnya menunjukan pukul 10 malam. Tak terasa hampir setengah jam ia berbicara kepada Brayen yang membahas tentang Rendy dan rencananya besok untuk melihat rumah yang akan dijual. Kahfi meminta agar Brayen tidak menceritakan rencananya membeli rumah kepada Kia maupun Ulan istinya.
***
Dibukanya daun pintu kamar. Kahfi menuju kamar mandi ketika ia sudah masuk ke dalam. Mengganti pakaiannya dengan baju tidur yang sudah Kia siapkan di atas kursi meja riasnya. Melirik sekilas ke atas kasur sang istri sudah tidur dengan pulas dengan wajah tanpa riasan dan bajunya kini sudah berganti dengan baju tidur.
Suara mobil terdengar. Rombongan keluarga pak Hasbby baru pulang dari acara pernikahan Huda. Mounera yang tertidur pulas langsung di bawa ke kamar oleh Tari. Rahma dan Bu Aisyah langsung merapihkan kamar Tari.
N
Rahma berceloteh dan Kahfi sedikit mendengar perkataan Rahma karena kamar Kia dan Rahma berdekatan. Rahma sedang bercerita kepada Bu Aisyah tentang pernikahan Huda yang begitu mewah dan Naura yang begitu cantik dengan riasan seperti putri kerjaan. "Sayang ya Bu, kak Kia gak datang. Padahal kak Naura ngarep banget kakak dateng."
"Kakakmu sedang tidak enak badan, sayang. Ya gak bisa dipaksakan-lah!"
"Waktu kita mau berangkat tadi kan kakak gak kenapa-kenapa, Bu. Ibu lihat kan Kakak sehat walafiat. Makanya Rahma kaget pas ada Razi bilang kakak gak jadi dateng karena lagi sakit. Celoteh Rahma yang penasaran sebenarnya apa yang terjadi dengan kakak nya dan Kahfi.
"Sudah-susah, besok saja di bahasanya. Sekarang sudah malam lebih baik kamu bersih-bersih dan langsung tidur." Pak Hasbby yang menarik tangan Bu Aisyah untuk masuk ke kamar agar Rahma tidak ada teman mengobrol lagi.
"Iihh ayahhh, orang Rahma masih mau ngobrol sama ibu!" Mulut Rahma sedikit dimajukan sambil melangkah ke kamar.
Dari dalam Kahfi mendengar ucapan Rahma. Dirinya semakin merasa bersalah kepada Kia. Perlahan ia mendekat kepada Kia dan mencium kening Kia dengan lembut. Tangannya bergerak memasukan anak rambut ke bagian belakang telinga Kia. Kia bergerak mencari guling untuk dipeluknya, namun matanya masih terpejam. Tangan Kahfi menuntun tangan Kia agar memeluk tubuhnya.
Kini Kia tertidur sambil memeluk tubuh Kahfi. Kahfi mengelus-elus punggung Kia dan sesekali ke kepalanya. Perlahan mata Kahfi pun terpejam dengan tangannya yang memeluk tubuh Kia.
***
__ADS_1
Udara agak sedikit dingin pagi ini. Kahfi yang sedang ada di dapur sedang membuat susu jahe untuk dia dan Kia. Bu Aisyah melihat Kahfi yang sedang sibuk mengirisi jahe.
"Nak Kahfi Lang ngapain di dapur? sini biar ibu aja yang buatkan minumannya.!" perlahan Bu Aisyah hendak mengambil pisau yang ada di tangan Kahfi.
Kahfi dengan sopan melarang dan menyelesaikan urusan terkahirnya. "Ini sudah selesi, Bu. Kahfi cuma mau bikin susu jahe buat Kia, kok!" air yang Kahfi masak susah mendidih ia masukan air tersebut kedalam gelas yang sudah berisi susu dan jahe.
Bu Aisyah mengambil satu bungkus roti sobek yang hendak ia berikan kepada Kahfi. "Kalau Kia lagi gak enak badan biasnya ia suka sarapan sama roti ini." ibu baru membelinya kemarin. Karena ibu tau Kia suka makan roti ini kalau dia lagi males makan nasi."
Kahfi mengambil roti pemberian sang mertua. Berpamitan masuk ke kamar sambil membawa roti dan susu jahe dengan nampan yang Bu Aisyah berikan.
Diletakkannya nampan yang berisi sarapan untuk Kia di meja yang tak jauh dari tempat tidur. Kia melirik dan hendak bangkit dari tempat tidur. Kahfi menghentikannya. "Dek sarapan dulu, semalam dek kan gak makan! Mas suapin ya. Tangan Kahfi hendak menyuapi roti ke dalam mulut Kia.
Kia menolaknya dan mengambil segelas air putih yang ada di atas nakas.
"Dek masih marah ya sama, mas?" Kahfi memeluk Kia yang terdiam.
Tanpa respon Kahfi mengelus tangan Kia dan menciumnya ambil mengucapkan maaf beberapa kali kepada Kia. Kahfi bangkit dan menuju ke lemari baju. Ia memilih baju kaos berwana abu-abu dan celana semi jeans berwana senada. "Hari ini mas dan bang Razi ada urusan sebentar ya, sayang kemungkinan mas pulang sore." Sambil mengikat tali sepatu melihat ke arah Kia yang menjawab dengan anggukan kepala.
Kahfi mencium tangan Kia berpamitan dan tak lupa mencium keningnya. Kia membalas mencium tangan Kahfi. "Dek mau dibelikan apa?.
Dengan gelengan kepala Kia menjawab.
"Ya sudah mas pamit ya. Dek jangan lupa makan. Susunya di habiskan ya, sayang!" Kahfi hendak mencium bibir Kia namun ia ragu. Ia berlalu dari hadapan Kia dan menutup pintu kamar seraya melambaikan tangannya.
Kia tetap terdiam melihat sang suami yang sudah tak terlihat di depan matanya. Perlahan ia mendekat pada jendela kamar yang tertuju pada halaman rumah. Dibalik jendela ia melihat sang suami pergi dengan sang kakak menggunakan mobil. Hati kecil Kia sebenarnya ingin mengatakan bahwa ia telah memaafkan sang suami. Namun bibirnya berat untuk berucap. Ia meminum susu jahe buatan Kahfi. Tapi tak menyentuh roti yang ada di dekat gelas susu.
Ketukan pintu terdengar. Kia mempersilahkan masuk. Bu Aisyah menghampiri hendak melihat kondisi Kia. "Kamu kenapa Kia? kalau mau ke dokter yuk ibu antar!"
Kepala Kia bersandar pada tubuh Bu Aisyah. "Kia gak kenapa-kenapa, Bu?" Gimana acara semalam, Bu?' Kia mengalihkan pembicaraan
"Hemmm... pesatanya megah dan Naura cantikkk banget. Dia nanyain kamu terus. Ibu bilang mungkin kamu kena macet. Ehhh gak taunya kamu gak jadi dateng?" tangan Bu Aisyah mengelus pipi Kia.
"Ya semalam Kia sempet chat Naura akan datang tapiii... " Kia tidak berani melanjutkan karena ia tak mau Bu Aisyah berfikiran yang tidak-tidak antara dia dan Kahfi.
"Ia semalam banyak yang nanyain kamu. Makanya ibu suruh aja mu nelpon kamu tapi kata aa kamu gak angkat jadi Razi telepon Kahfi. Tadi pagi ibu liat Kahfi udah buatin susu jahe buat kamu, udah diminum belum?"
"Udah, Bu. Ini susah habis" Kia memperlihatkan gelas yang sudah tak bersisa.
"Jangan mendiamkan suami lama-lama, gak baik, sayang. Nak Kahfi mungkin sangat sayang sama kamu, makanya dia gak mau kamu itu jadi pusat perhatian laki-laki lain." Bu Aisyah menjelaskan dengan nanda lembut sambil di isi guyonan agar Kia tidak terlihat sedih.
Kia hanya tersenyum dan sesekali mencubit tangan ibunya pelan. Keduanya kini meninggalkan kamar dan menuju ruang tv yang sudah ada Mounera dan Tari yang asyik menyuapi anaknya. Kia mengajaki Mounera berceloteh sambil menyembur-nyemburkan bubur yang ada di mulutnya Mounera tertawa geli. Melihat muka Kia yang terkena bubur.
Tari tertawa, begitu juga dengan Rahma yang abru datang menghampiri. Kia bangkit dan langsung ke wastafel untuk membersihkan wajahnya. Diluar terdengar suara salam. Kia merasa tak asing dengan suara tersebut lalu menuju pintu depan rumah.
__ADS_1