
Setelah Kia selesai dengan urusannya di toilet, Kia begegas untuk ke luar dan menemui keluarganya yang mungkin sudah menunggunya di pelaminan untuk berfoto keluarga. Langkah kakinya terhenti ketika melihat pria yang tadi sudah membantunya.
" Mas Huda" sengaja menungguku di sini, apa sedang menunggu seseorang.
Pertanyaan itu melasat begitu saja ketika matanya melihat pria berjas coklat berdiri dengan kaki sebelah kananya ia tempelkan ke dingding seraya mendekap kedua tanganya ke dada bidangnya.
" Aku menunggumu, Kia" bagaimana kabarmu setelah sebulan tinggal bersama nenek dan kakekmu di kampung? Jawabnya sambil mengajukan sebuah pertanyaan yang membuat Kia mengurungkan kakinya untuk melangkah lebih jauh.
" Alhamdulillah, seperti yang mas Huda lihat, aku baik-baik saja, 'kan?. Jawab Kia sambil melangkah pelan yang diikuti Huda di belakangnya.
" Terima kasih ya, kamu sudah memakai benda pemberian dariku." Ucapnya yang senang karena Kia menggunakan bros angsa yang terdapat permata di mata angsa itu.
" Aku menyukainya makanya aku memakainya. Tutur Kia yang meraih ponsel dalam tasnya yang berdering menandakan sebuah panggilan untuknya.
" Ya, dek. Kakak akan segera kesana. Ucap Kia mengakhiri panggilan yang ia terima dari adiknya.
" Ada apa?" Tanya Huda singkat.
" Maaf ya mas Huda, obrolannya bisa kita sambung setelah Kia selesai dari foto bersama keluarga. Ucap Kia yang langsung berlalu tanpa menunggu jawaban dari Huda.
***
Sesi foto keluargapun selesai. Rahma yang sedang asik mengobrol dengan Kholid serta merta mengulas tawa yang lepas seperti dua orang yang sudah mengenal lama.
" Ngobrolin apaan sih, kayanya seru bener? Tanya Fany yang ingin gabung bersama mereka berdua.
" Sini, Fan! Seru loh ngobrol sama kak Kholid ternyata dia seorang Youtober yang udah banyak pengikut setianya. Ajak Rahma yang menarik tangan Fany untuk ikut gabung bersama mereka berdua.
" Rahma, kamu liat kakakmu Kia, ada dimana? Ucap nek Rumi ketika hendak mengambil sebuah minuman pada meja yang ada di sebelah mereka mengobrol.
" Rahma belum liat kak Kia, nek! Mungkin kak Kia sedang mengobrol dengan kak Ulan di depan sana, nek. Jawab Rahma sambil memberikan minum yang diinginkan nek Rumi.
" Oooh, gitu" nenek senang melihatnya ikut bahagia dengan pernikahan aa mu ini, Rahma. Nenek nemenin abah dulu ya!. Ucap nek Rumi.
" Ya, nek" ucap mereka kompak lalu melanjutkan obrolan ala ABG kekinian.
***
Kia yang asyik berbincang-bincang menceritakan selama ia tinggal dengan neneknya. Bersama dua sahabatnya yaitu Bryen dan Ulan langsung terhenti ketika seseorang menghampiri mereka.
" Assalamu'alaikum, maaf bila saya mengganggu pembincaraan kalian" Bisakah saya bertemu dengan ustadz Mamhmud? Ucap pria berkacamata yang memakai kemeja berwarna hitam dengan motif garis samar bertanya pada mereka bertiga dan matanya tertuju pada Kia yang sudah beberapa kali bertemu dengannya.
" Wa'alaikumsalam", jawab mereka bersamaan.
" Saya bisa mengantarkan anda untuk menemuinya. Jawab Kia yang langsung melangkah.
Kia dan pria berkacamata itupun melangkah melewati beberapa orang yang ada di pinggir luar aula untuk menunggu giliran masuk ke dalam ruangan tersebut karena tamu begitu banyak di dalam.
" Panggil saya Kahfi saja, ukh!" Dan saya mohon maaf atas kejadian di terminal waktu kemarin. Ucapnya mengenalkan diri.
" Saya Nakia, akhi bisa panggil saya Kia? Ucap Kia singkat mengenalkan dirinya pada Kahfi yang mengekor padanya.
" Nama ukhti bukanya Aulia? Itu yang saya dengar dari Kania." Ujar Kahfi yang merasa Kia berbohong nama aslinya.
" Nama saya Nakia Rahmadhani Aulia, dan anak-anak panti memang memanggil saya dengan sebutan Aulia karena mereka semua menyukai nama itu. Jawab Kia menjelaskan agar Kahfi tidak salah prsepsi dengan nama yang ia kenalkan.
" Ooo, begitu saya pikir ukhti mau___"
__ADS_1
Kata-kata itu terpotong ketika Kia sudah menunjukan keberadaan ustadz Mahmud yang sedang duduk di atas pelaminan sebelah Tari.
" Bukanya itu Razi? Jadi menantu yang sering di bicara kan ustadz Mahmud itu Razi? Yaa Allah dunia ini memang tak selebar daun jati. Ucapnya memelesetkan pribahasa.
" Daun kelor, akhi!" Ucap Kia membenarkan.
" Ya seperti itulah, jawabanya singkat. Terimakasih sudah mau mengantarkan saya sampai sini, ya ukh Aulia. Ucap Kahfi yang mengikuti anak-anak panti memanggil nama Kia.
" Sama-sama, akh Kahfi!" Balas Kia seraya memberi senyum senatural mungkin lalu menundukan kepalanya.
Tanpa di sadari sepasang mata menatap keakraban Kia dengan pria yang asing baginya dengan begitu akrabnya seolah pikirnya pria berkacamata itu akan menjadi pengganti adiknya di hati Kia.
Kia yang serasa sudah selesai dengan tugas mengantar tamu ustadz Mahmud ia berlalu, berniat untuk mengambil satu gelas jus jeruk untuk melonggarkan tenggorokannya.
Huda menghampiri dan berniat untuk melanjutkan perbincangan yang tadi terputus ketika di toilet tadi.
" Kia, boleh kita bicara sebentar?!" pinta Huda. Ketika Kia habis meneguk jus di tangganya dan duduk di sebelah kursi yang kosong di dekat Kia.
" Uhuk ... ukhuk ... kaget Kia ketika mendengar suara Huda yang tiba-tiba sudah duduk di dekat kursinya.
" Mas Huda? ....
" Maaf bila kehadiranku mengagetkanmu dan membuatmu jadi tersedak!"
" Gak apa-apa kok, mas!" Kia hanya sedikit kaget tiba-tiba mas Huda sudah ada di samping Kia.
" Kamu tau Kia!", pelaku penabrakan pada Prama sudah ditangkap oleh polisi yang ada di Singapor! Waktu itu aku ingin secepatnya memberitahu ini kepadamu namun, nomer ponselmu sudah tidak aktif? apa kamu sengaja menonaktifkan nomer itu, huh?
" Alhamdulillah, kalau mereka sudah tertangkap semoga dengan ini Mawar dan Delia merasa jera atas tindakannya dan bisa menjadi orang yang lebih baik lagi.
" Oooh, seperi itu!" aku pikir kamu udah gak mau lagi berkomunikasi dengan ku?
Apa besok kamu akan ke makam adikku? apa jangan-jangan sudah ada pria pengganti dari adikku Prama?
" Inshaa Allah, sebelum pulang ke kampung Kia akan singgah ke makam kak Prama. Maksud mas Huda bicara seperti itu apa? Tak semudah itu bagi Kia melupakan seseorang yang sudah mengisi hati Kia, Mas?
"Maaf-maaf bukan maksud aku membuatmu marah? aku tidak sengaja tadi melihatmu dengan pria berkacamata itu. Tunjuk Huda pada Kahfi yang sudah tertawa lebar dengan Razi setelah urusannya selesai dengan ustadz Mahmud.
" Maksud mas Huda, akhi Kahfi?
Kia hanya mengantarkannya ke ustadz Mamhmud karena, beliau tidak tau keberadaan ustadz Mahmud, dan Kiapun baru mengenal namanya di tempat ini walau, beberapa kali kami sempat bertemu.
" Maaf, maafkan aku yang terlalu curiga kepadanya."
"Hmmm. seharusnya aku tidak menanyakan hal itu kepada Kia. Apa stelah ini ia akan marah kepadaku? huhhh... Huda ... Huda baru saja kamu bertemu lagi dengannya kenapa harus merusak suasana hati Kia dengan kecemburuanmu ini?" Batin Huda.
" Sudahlah mas!" Kia tidak suka kalau mas Huda terlalu mencurigai Kia seperti ini!" Ucap Kia yang mulai jengkel denga hal yang selalu di curigai Huda.
Raut wajah Kia sudah tak bersahabat seperti tadi, karena Huda yang selalu salah paham dengannya.
" Di hatiku ini masih ada nama Kak Prama jadi gak semudah itu Kia berpaling kepada laki-laki lain. Tandasnya yang meninggalkan Huda sendiri di meja dengan wajah penuh penyesalan.
Hati Kia merasa sakit, atas perkataan Huda yang menurutnya tak pantas ia mencurigai Kia seperti itu karena, bagaimana pun Huda tau akan 'cinta Kia' terhadap adiknya. Kedua mata Kia sudah semakin panas buliran bening mulai berjatuhan tanpa permisi atas kata-kata Huda. Dengan langkah kaki sedikit cepat Kia menuju pintu luar gedung sambil menunduk kan wajahnya lalu datang menghampiri Ulan yang ada di luar.
" Kia elo kenapa?" tanya Brayen ketika melihat Kia ke luar dengan air mata, tak sedikit orang yang memandang Kia.
Seketika Ulan memeluk erat tubuh Kia, dan mengisyaratkan kepada Brayen agar membawa Kia pulang dan mengambil mobilnya.
__ADS_1
Brayenpun melangkah ke arah parkiran mobil dan menghampiri Kia dan Ulan yang berdiri dekat di pintu utama gedung tersebut.
Mobil silver itu berlalu dari gedung tempat resepsi Tari dan Razi yang masih ramai dengan orang-orang
Sepanjang jalan Ulan terus saja berusaha untuk menenangkan Kia dari tangisnya sambil terus mengelus tubuh yang berbalut gamis berukat.
" Ada apa Kia, coba kamu kasih tau aku!" siapa tau kalau kamu cerita itu akan mengurangi bebanmu. Bujuk Ulan yang meraih wajah yang sudah sembab oleh airmata dan membuat make up natural tadi menghilang begitu saja, ke dua tangan Ulan belum lepas dari wajah pink milik Kia.
" Hal inilah yang membuat aku enggan untuk kesini lagi, Lan. Hiks ... Hiks
"Hatiku sakit ketika seseorang mengatakan bahwa aku sudah mendapatkan 'pengganti' dari Kak Prama. Ingatanku akan sosoknya membuat hatiku bagai tersayat semilu. Sakit ... sakit, Lan." Ucap Kia sambil memukul-mukul pada bagian dimana hati itu berada.
" Sudah ya, kamu jangan ingat-ingat itu lagi. Prama tau kok kalau kamu masih sangat mencintainya, tapi kamu juga harus bisa mengkhilaskan cinta itu kembali untuk orang lain. Jadi jangan hiraukan ucapan itu lagi. Ingat sekarang orangtua kamu sudah bisa melihat perkembanganmu yang semakin membaik dengan tidak banyak membuat mereka khawatri denganmu, Kia."
Ucap Ulan yang berusaha untuk membujuk Kia agar tidak menangis lagi.
Brayen yang sedari tadi diam dan khusu dengan benda bulat yang ia gerakan kenanan dan kekiri seolah mencerna apa yang dibicarakan dua gadis yang ada dibelakangnya.
Untuk memecah suasana sendu Brayen berinisiatif menyalahkan siaran radio yang sedang mendendangkan lagu 'Hanya Rindu' yang di populerkan oleh 'Andmesh Kamaleng' yang berharap sahabatnya itu merasa terhibur, sualnya hal itu malah membuat Kia semakin mengingat Prama, yang begitu menyukai lagu itu ketika ia rindu dengan mamahnya, yang setiap kali Kia jalan dengannya ia selalu memutar MP3 tersebut dalam mobilnya.
" Bryen" ... ganti siaran itu dengan siaran radio yang lain!" Perintah Kia yang semakin deras airmatanya.
Sebuah pukulan kecil dari gulungan koran nyaris mendarat ke kepala Brayen dengan begitu cepatnya.
" Tau sahabatnya lagi sedih, kamu malah memutar lagu itu disini!" Omel Ulan yang membuat Bryen mengelus kasar rambut bagian belakang kepalanya.
" Sakit tau, yang!" Ucap Brayen yang keceplosan di depan Kia.
" Jadi kalian ini sudah jadi sepasang kekasih? Tanya Kia yang suaranya masih terasa berat akibat tangisan yang begitu dalam yang ia alami.
"Haduhhh, Ulan bisa ngomel dah nih. Gegara mulut gak bisa di kontrol jadi keceplosan gini dech." Batin Brayen.
" Brayen emang suka gitu, kalau sama aku, Kia. Mungkin itu kebiasaan yang gak bisa lepas kalau sama cewek. Elak bibir merah Ulan menjawab kecurigaan Kia akan hubungan dirinya dengan Brayen.
.
.
.
.
.
**Bersambung-----
🍃 🍃🍃 🍃 Author ucapkan "BANYAK-BANYAK TERIMAKASIH" kepada para pembaca setia 'Diakah Jodoh Pilihan Allah' yang selalu meluangkan jari-jemarinya untuk meLIKE, dan KOMEN di setiap episodenya. Kalu boleh author minta jangan LUPA UNTUK MeVOTE karya author agar bisa tetap semangat dalam mengUP setiap harinya. karena author sering lemes ketika melihat area VOTE tak pernah bertambah. Hiks... hiks
~(Lebay dikit nih author)~
Biarin dah, meluapakn isi hati aja hihihi... karna menulis dan merangkai kata-kata itu tak semudah memakan cabe yang lgs pedas
~(apa hubungannya coba thor)~
wkakaka..
@edisiauthorlebay 🍃🍃 🍃🍃**🍃🍃
__ADS_1