
Dua insan sudah terbangun sebelum suara adzan berkumandang di masjid-masjid. Kahfi yang sudah rapih dengan Koko warna marun dan sarung dengan motif batik yang senada dengan warna Kokok yang ia kenakan. Minyak wangi yang sudah menjadi ciri khasnya sudah Kia pakaikan. Kia mencium punggung tangan Kahfi ketika sang suami hendak ke masjid.
Kia menutup pintu setelah mengantarkan sang suami tercinta sampai ke depan pintu. Sampai di satu ruangan yang dibuat khusus untuk ibadah Kia menuju tempat wudhu untuk melaksanakan sholat shubuh.
25 menit telah berlalu Kahfi kembali dengan satu tentengan plastik yang ia terima dari Abah Dahlan yang berisi jagung rebus dan singkong goreng titipan nenek Rumi untuk cucu tercintanya.
Kia mencium tangan Kahfi setelah ia menjawab salam dan membukakan pintu untuk sang suami. Kia menerima bungkusan tersebut dan tahu siapa pemberinya.
"Pasti ini dari nenek ya, mas!? Kia meletakannya si atas meja lalu mencari piring di dapur.
Kahfi duduk di meja makan yang sudah tersedia teh jahe madu buatan sang istri. Kia menata rebusan jagung dan singkong goreng ke piring dan menyodorkannya ke hadapan Kahfi.
"Dek baru mau nawarin mas sarapan apa! Alhamdulillah rezki yang gak disangka-sangka datang." Kia menarik satu bangku di samping kanan Kahfi
Kahfi yang sudah menyesap teh buatan Kia dan meraih satu potong goreng singkong lalu memasukannya ke mulut. Matanya melirik ke arah Kia dengan perlahan iapun menyuapi Kia satu potong goreng singkong yang sudah ia gigit tadi. Kia menerima dan menatap mata Kahfi dengan senyum manis yang ia suguhkan.
"Enak! satu kata yang keluar dari bibir Kia setelah menelan goreng singkong.
Kahfi tersenyum dan menyodorkan tangannya kembali menyuapi Kia. "Hari ini dek harus banyak makan karena perjalan kita setiap harinya memakan waktu kurang lebih dua jam!" Kahfi melihat di hadapan Kia belum ada satu gelas susu hingga akhirnya ia memutuskan untuk ke dapur dan membuatkan Kia susu.
"Mas mau ngapain?" Mata Kia yang melihat Kahfi berdiri dari hadapannya dan menuju ke dapur.
"Mau buatin susu buat istri mas tersayang, pokoknya dek duduk aja di situ ya! perintah Kahfi yang sudah memasukan susu ke dalam gelas.
Kia hanya menatap punggung Kahfi yang tangannya sibuk memutar-mutar sendok di dalam gelas. Segelas susu pun tersaji di hadapan Kia. Kia berdiri dan memeluk Kahfi dengan senyum mengembang di kedua sudut bibirnya. "Terimakasih suamiku sayang."
__ADS_1
Kahfi membalas pelukan Kia yang kini menyelusupkan kepalanya ke dada Kahfi. Kahfi meraih dagu Kia hingga wajah Kia mendongak dan menatap wajah tampan Kahfi. Kahfi mencium bibir Kia dengan lembut.
Mata Kia membulat sempurna dengan sentuhan bibir basah Kahfi dan Kia hendak membalas namun ia ragu. Karena takut-takut sang suami meminta lebih. Akhirnya Kia mengigit bibir bawah Kahfi sehingga Kahfi melepaskan.
"Auuu.." Kahfi menatap Kia yang tersenyum setelah ia menyudahi ciuman itu.
Perlahan tangan Kia menyentuh bibir Kahfi yang tadi ia gigit ada sedikit tanda darah yang memerah. "Maaf ya mas, abis kalau dek gak gituin takut mas meminta lebih." Kia tersenyum
Kahfi hanya menatap perbuatan sang istri dan mengelus kepala Kia yang tanpa kerudung dengan lembut.
"Ya susah sekarang kita habiskan dulu sarapan kita dan rapih-rapih untuk ke kampus ya!" Kahfi mendorong Kia untuk duduk kembali ke meja makan dan memberikan segelas susu itu ke hadapan Kia.
Dua puluh menit mereka menyibukkan diri di kamar untuk bersiap-siap berangkat ke kampus. Kia sudah menggunakan Rok tempel berwarna coklat dipadukan dengan tunik berwarna cream dan jilbab Senanda dengan warna atasannya dengan paduan bunga-bunga kecil di pinggiran jilbab. Sedangkan Kahfi memakai kemeja berwarna biru garis kecil dengan celana bahan berwarna hitam senada dengan jas yang ia kenakan.
****
"Ingat ya, dek gak boleh terlalu akrab sama cowok lain. Nanti pas istirahat kita cari makan bareng ya." Kahfi mencium kening Kia setelah Kia mencium punggung tangannya. Kahfi meraup wajah Kia hendak mencium bibirnya namun tangan Kia dengan cepat menutup wajah Kahfi. "Kok gitu sih!"
"Di sini aja ya mas!" Kia menunjukan pipi kanan dan kiri Kia. Dek takut ada yang lihat kita nanti mereka berpikiran yang bukan-bukan tentang kita!" Kia tersenyum menghibur Kahfi yang memanyunkan bibirnya.
"Ya sudah iya, iya dech." Kahfi membuka kunci pada mobilnya dan Kia pun ke luar memastikan tidak ada mahasiswa yang melihatnya keluar dari mobil Kahfi.
Tangannya melambai-lambai setelah Kahfi melewati dirinya. Baru bebrapa langkah Kia menuju pintu gerbang seseorang memanggil namanya. Kia menoleh dan menunggu wanita yang baru kemarin mereka berkenalan.
"Nakia!" Sambil berlari ia menghampiri Kia. "hoshh... hoshhh" Anya mengatur nafasnya setelah berlari mengejar langkah Kia. "Assalamu'aikum, Nakia"
__ADS_1
"Wa'alikum salam, Ya ampun Anya kamu sampe lari-lari gitu!"
"Abis tadi aku sempet manggil-manggil kamu waktu kamu turun dari mobil, tapi kamu gak denger. Jadi aku sedikit berlari biar bisa bareng sama kamu, Kia. Tadi kok kamu di anternya cuma sampe depan toko buku itu, kenapa gak sekalian ikut masuk? itu pacar kamu ya?" Tanya Anya penasaran karena melihat Kia namun ia tidak melihat sosok Kahfi di dalam mobil.
Langkah Kia sedikit terhenti melihat ke arah wajah Anya. "Maksud kamu tadi kamu liat aku waktu di dalam mobil?" Kia takut Anya melihat ketika Kahfi menciumnya di dalam mobil.
"Gak aku cuma liat pugung kamu ketika turun dan aku juga gak liat kamu sama siapa. Cuma aku liat mobil itu masuk ke gerbang kampus. Makanya aku bingung kenapa kamu harus turun jauh dari gerbang kampus kan lebih enak kalau kamu langsung ikut sama mobil itu dari pada harus jalan kaki gini?"
"Ooh gitu. Gak aku kebetulan tadi lagi bareng aja sama dosen disini. Abis aku takut di gosipin yang gak-gak kalau ada yang liat aku sama dosen itu?" Hati Kia sedikit tenang karena Anya tidak melihat ia dan Kahfi di dalam mobil.
"Siapa dosen yang bareng kamu tadi? emang rumah kamu deketan sama beliau?" Anya dan Kia sudah melewati pintu gerbang dan sedikit berlari ketika mendengar suara pengeras suara.
"Ayoo kita harus cepetan masuk biar gak telat DNA kena hukum lagi!" Teriak Kia yang sedikit mengangkat roknya agak memudahkan ia untuk berlari sedangkan Anya dengan leluasa berlari karena ia menggunakan celana jeans.
***
Anya dan Kia ikut barisan paling belakang. "Alhamdulillah ya kita gak telat!" Di belakang mereka ada bebrapa mahasiswa yang baru berdatangan dan mengekor di barisan Kia dan Anya.
Suara Bima terdengar setelah semua baris dengan tertib. Aba-aba untuk membuat kelompok ditentukan oleh panitia.
"Hari ini kita akan melihat kekompakan kalian, namun sebelum di mulai kalian bisa saling berkenalan dengan kelompok-kelompok kalian agar tidak ada kecangungan dalam melakukan tugas yang akan saya berikan." Bima yang menguasai panggung orientasi.
Suara riuh para mahasiswa begitu terdengar dan dari kejauhan ada sepasang mata yang melihat Kia dari lantai dua. Kahfi memperhatikan kelompok Kia. Dimana ada 3 laki-laki dan 6 teman wanita Kia satu-satunya wanita yang memakai jilbab di kelompoknya. Ia terpisah dari Anya.
Bersyukurlah..
__ADS_1
Jika Allah masih menghadirkan sahabat-sahabat yang selalu mengingatkan kita dalam kebaikan. Itu tandanya, Allah sangat menyayangi kita. Tak ada hal yang ''kebetulan" di dunia ini, begitupun dengan orang-orang yang kita kenal saat ini, semua sudah Allah atur..