Diakah Jodoh Pilihan Allah?

Diakah Jodoh Pilihan Allah?
58. Bolu atau Brownis


__ADS_3

Lima hari setelah Huda mengirim chat terakhirnya kepada Kia, kini ia jalani hidup tanpa lagi berharap akan cintanya terbalaskan. Ia merasa terlalu memaksakan agar cintanya kepada Kia akan berakhir di pelaminan namun takdir berkata lain untuk masalah cintanya kali ini.


" Biarlah orang yang ku cintai bahagia dengan orang lain!" tak perlu menunggu kayu yang basah untuk di bakar bila ada kayu yang kering siap untuk menghangatkan tubuh ini." batin Huda.


Matanya kini hanya bisa menatap wajah cantik Kia dalam foto di ponselnya. Bulir bening tak lagi menghiasi mata tajamnya seperti kali pertama ia melihat foto Kia yang bertunangan dengan lelaki yang pernah berbincang-bincang dengannya kala itu. Perlahan ia sandarkan tubuhnya yang kini sedikit bertenaga pada singgasana meja kerjanya. Baru saja ia hendak memejamkan matanya sejenak, suara langkah kaki dengan sepatu berhak tinggi membuyarkan lamunannya.


Huda yang kenal betul akan langkah kaki itu bisa mengetahui siapa yang datang keruangannya yang beberapa bulan sudah sering sekali mendatanginya tanpa ketukan pintu ataupun salam dari mulut wanita yang berpenampilan ala model tersebut.


Ya dia adalah Melisa mantan kekasih Huda. Anak dari sang pengusaha dari perusahaan X yang sedang bekerja sama dengan perusahaan yang di pegang oleh Huda bernama Anton Saksono.


" Mas, makan siang bareng yuk, di restoran yang dulu sering kita kunjungi!" ajaknya sambil meletakan tas yang ia jinjing di atas meja kerja Huda.


" Aku sudah pesan makan siangku kepada Brayen, jadi kau cari saja teman yang lain untuk makan bersamamu!" elak Huda yang hendak berlalu dari meja kerjanya namun tangan Melisa mencegahnya dengan cepat.


" Lepas!" ucap Huda dingin tanpa menoleh pada Melisa.


" Kenapa sih kamu gak mau kasih kesempatan buat aku memperbaiki hubungan kita seperti dulu lagi!" aku janji akan setia kepadamu, mas!" lirih Melisa yang kini sudah mendekatkan tubuhnya pada dada bidang Huda seraya hendak memeluk Huda.


Hudapun sudah cukup geram dengan tingkah laku Melisa yang sudah berani memeluk tubuhnya. Ia angkat kedua tanganya berusaha mendorong tubuh ramping Melisa dari hadapannya, hingga akhirnya Melisa jatuh tersungkur ke bawah sambil berderai air mata.


" Mas, aku memang pernah menghianatimu dengan sahabatmu sendiri tapi, itu dulu!" setelah aku tau kalau mas begitu bisa mengharagiku, dan memperlakukanku sebagi wanita yang paling istimewa di kehidupanmu. Aku baru tahu betapa hidung belangnya Erik kepada semua wanita. Aku menyesal, aku menyesal, mas!" rungkuh Melisa sambil bangkit dan menatap mata pria yang kini sangat dingin terhadapnya.


" Kau tau betapa sakitnya hati ini ketika ku tau alasanmu memutuskanku!" kau hanya mencari lelaki kaya agar bisa memuaskan gaya hidupmu!" sudahlah lebih baik kau cari saja lelaki yang lebih kaya dariku yang dapat menopang gaya hidupmu yang kini jauh berbeda dengan diri mu yang dulu aku kenal, Melisa!" Tukas Huda yang kini sudah berlaku meninggalkan Melisa yang terdiam di dalam ruang kerjanya.


***


Tibalah Brayen sambil membawa makan siang untuk Huda di depan pintu lift yang akan ia masuki namun langkahnya terhenti ketika Huda memanggilnya.


" Brayen, tunggu!" panggilnya


" Ehhh, mas!" baru aja saya mau bawakan makan siang mas Huda ke atas, ternyata mas Huda sudah ada di bawah.


" Berikan itu kepada saya!" saya akan makan di ruang bawah saja!" pintanya sambil meraih kotak makan siang dari tangan Brayen.


Bryaen yang hanya diam ketika Huda meraih kotak nasi tersebut dalam hatinya seolah penuh tanda tanya akan tingkah Huda yang mau-maunya makan siang di ruang bawah dimana ruang itu biasa di pakai untuk Prama beristirahat.


" Kok tumben mas Huda mau makan siang di ruang bawah?" padahal selama ini dia paling anti banget makan di ruangan istirahat Prama!" apa jangan-jangan di atas ada Melisa? Cewe cantik yang selalu mengejar-ngejar, mas Huda?" Ahh ... Sudahlah dia mau makan dimana juga bukan urusanku.


Ketika Huda hendak mendekati pintu ruangan tersebut, tak disangka ada seorang wanita yang setengah berlari hendak mendekati Brayen yang tak jauh dari Huda

__ADS_1


Bruk ...


Wanita itu menabrak kotak nasi yang sedang di pegang Huda hingga berserakan di bawah. Mata wanita itu terbelalak ketika tahu ia menabrak kotak nasi sang pemilik perusahaan.


" Yaa Allah, maaf ... Maafkan saya, pak!" saya tidak sengaja menabrak bapak!, maafkan saya sudah membuat makan siang bapak berantakan!" ucapnya sambil ketakutan karena ia tau pria yang kalem itu selalu memberikan wajah tak bersahabat kepada kariyawqan-kariyawannya.


Brayen yang kaget akan kejadian itu seketika menghampiri mereka berdua dia tau siapa wanita yang sudah membuat makan siang Huda berantakan.


" Naura sedang apa kamu, disini?" tanya Brayaen kepada adiknya bernama Naura Azahra.


Naur adalah adik satu-satunya Brayen yang baru lulus kuliah dari negri tetangga. Penampilan Naura terlihat jauh dari kepribadian kakaknya Brayen. Ia seorang wanita lulusan pesantren ketika SMA dan memutuskan kuliah di negri tetangga karena kemauan kedua orangtua Brayen, yang kini ikut bekrja di perushaan yang Huda pegang.


" Kamu kenal dengan wanita ini? Tanya Huda dingin dengan tatapan penuh arti ketika melihat penampilan Naura.


" Dia ini adik saya, mas!" yang baru beberapa bulan bekerja di kantor pak Handoko mengantikan posisi Tari istri mas Razi." jelas Brayen sambil membereskan kotak makan siang Huda.


" Maaf, pak. Biar saya belikan lagi makan siang untuk bapak!" ucapnya sambil memegang paper bag berisi kue bolu kesukaan Brayen.


" Tidak usah!" jawab Huda singkat.


" Kalau begitu ini saja buat bapak. pengganti dari kotak nasi yang sudah saya buat berantakan!" ucapnya sambil menjulurkan papare bag yang seharusnya untuk Brayen.


Brayen yang tau kue kesukaanya akan di berikan kepada Huda hanya bisa membuang nafas pasrah akan angan-angan menikmati bolu kesukaanya di berikan kepada pria yang belum bisa ia candai seperti Prama.


" Isinya itu bolu kesukaan saya, mas!" mas akan menyesal bila menolak bolu buatan adik saya, kalau mas tidak mau ya sudah akan saya ambil karena adik saya kesini hanya untuk memberikan bolu kesukaan saya itu untuk saya." ucap Brayen yang akan merebut paper bag itu dari tangan Naura.


Namun Huda lebih cepat meraih paper bag itu dari tangan Naura hingga membuat Brayen dan Naura ingin tersenyum namun ia tahan karena takut Huda menatap mereka dengan tatapan elangnya.


" Ya sudah saya akan mengganjal perut saya dengan bolu ini, tapi tolong kalian bereskan apa yang sudah berantakan disini! Ucapnya sambil masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Semoga bapak suka bolu buatan saya itu dan akan membuat perut bapak terasa kenyang bila menghabiskannya!" Ucap Naura sambil menaikan kedua bahunya kepada Brayen yang sudah memberikan isyarat dengan mengelus dada.


***


Huda meletakan paper bag tersebut ke atas meja yang terdapat kursi panjang di dekatnya. Perlahan ia buka paper bag itu terdapat kotak berwarna hitam bermerkkan brand plastik ternama di negara tetangga dan indonesia.


" Dari baunya sepertinya brownis ini sangat enak!" ucap Huda ketika tanganya sudah mengambil sepotong brownis dari tempat tersebut.


Perlahan brownis itu masuk ke dalam mulutnya ia nikmati setiap potongnya dengan kenangan sang mamah yang pernah membuatkanya brownis ketika ia pulang ke indonesia.

__ADS_1


" Brwonisnya enak, tapi lebih enak brownis buatan mamah!" Batin Huda.


Tak terasa Huda sudah menghabiskan bolu berasa brownis itu hingga tak tersisa hingga membuatnya kekenyangan dan menghabiskan satu botol air mineral dalam kemasan kecil.


Jam istirahatpun selesai Brayen yang matanya tak pernah lepas dari tatapan ke ruang kerja Huda seolah mencari pemilik ruangan itu hingga tak kunjung memasukinya.


Ia menghampiri sang sekretaris bernama Vera yang mungkin tau keberadaan sang pemilik perusahaan. Setelah ditanyakan Verapun tak tau dimana sang tuan memilik ruangan tersebut berada. Otak Brayen berputar dimana terakhir Huda berada. Ingatannya seketika melesat pada ruang dimana Prama sering mengistirahatkan tubuhnya dari kelelahan atau rasa tak ingin di ganggu.


Brayen tiba di ruangan tersebut ia mencoba membuka pintu ruangan itu dengan perlahan, tak ia temukan keberadaan sang tuan di ruangan yang hanya tersisa sebuah kotak bekas bolu pemberian Naura. sekian menit mata Brayen berkelana di ruangan itu matanya tertuju apa ranjang berukuran hanya muat 1 orang yang biasa Prama tiduri.


Brayen masuk dan benar saja Huda sedang terlelap dalam mimpi indahnya.


" Astaga kirain gue kemana itu si beruang kutub, ternyata dia malah tidur di sini pada hal 10 menit lagi mau ada meeting penting." Gerutu Brayen yang melihat Huda yang sedang tertidur dan di bawahnya masih ada sajadah yang masih terhampar dan sebuah buku bacaan islami yang pernah Prama beli untuk bacaannya.


Dengan sedikit rasa ragu Brayen membangunkan sang tuan yang masih terlelap tidur siang.


" Mas, mas, mas Huda bangun sebentar lagi kita akan ada meeting dengan pemegam saham!"


Hudapun menggelat ketika mendengar kata meeting. Perlahan ia buka matanya sedikit demi sedikit hingga ia bisa melihat siapa yang ada di dekatnya.


" Kamu duluan ke ruang meeting, nanti saya akan menyusul!" ucap Huda sambil mendudukan bobot badannya hingga bersandar di tumpukan bantal yang ia sandarkan ke dipan tempat tidur.


Brayen pun melangkah ke luar ketika mendengar perintah dari Huda.


" Terima kasih ya, Bayen karena sudah membangunkan saya!"


" Sama-sama, mas Huda. sudah jadi kewajiban saya sebagai asisten mas Huda!" tandasnya sambil berlalu dari ruangan tersebut.


.


.


.


.


.


...Bersambung----...

__ADS_1


"Sedih itu ketika tukisanku beberapa hari i i gak ada yang vote atau beri tip." tapi aku tetep berusaha untuk menulis setiap episodenya berharap kalian semua memberikan poin atau koinnya untuk menghargai tukisanku, hiks."


Jangan lupa like, komen, vote, Tip dan reatnya untuk author. Jazakallahu khoir untuk para pembaca setia "DIAKAH JODOH PILIHAN ALLAH?"


__ADS_2