
Kantin sudah mulai di padati dengan mahasiswa-mahasiswa ada yang sibuk membicarakan tentang kegiatan hari ini, ada yang sibuk memilih-milih makanan yang akan dipesannya dan ada juga yang sibuk melihat seseorang dari kejauhan.
Pria berkacamata duduk di kantin dengan segelas jus alpukat mix buah mangga sambil mengobrol dengan teman seperjuangannya Kahfi sambil terus memperhatikan sang istri yang sedang asyik mengobrol dengan teman barunya. Anya duduk di sebelah kanan kursi Kia, dan gadis berambut panjang sedikit ikal duduk berhadapan dengan Kia. Ketiganya mengulas senyum ketika menceritakan kegiatan yang sudah setengah hari membuat mereka merasa lelah namun menyenangkan.
Kia melihat ke arah depan pria yang menatapnya dari ke jauhan. Ia rogoh ponsel yang ada dalam tasnya. Kia mengetik beberapa kata di ponselnya lalu mengirimnya ke kontak sang suami. Bibirnya membuat lengkungan sesekali menatap ke ponselnya. Kia kembali mengulas senyum ketika Kahfi membalas chatnya. Hingga membuat Anya dan Lusi mengangkat kedua bahunya ketika mata mereka melihat Kia yang asyik senyum-senyum sendiri dengan ponselnya.
"Asyik bener yang lagi chatan sama pacarnya?" Suara itu tidak asing di telinga Kia. Hingga membuat matanya terbelalak ketika melihat Bima yang sudah ada di kiri kursi Kia.
Anya dan Lusi hanya diam dengan kedatangan sang senior yang tiba-tiba muncul dengan membawa satu botol minuman instan rasa jeruk ditangannya.
Kia dengan cepat menghentikan tangannya dan menggeser sedikit kursi yang terbuat dari kayu tersebut memberi jarak antara dia dan Bima yang terlalu dekat.
"Ehhh, kak Bima!" Anya menyapa dan melanjutkan menyedot jus yang ada di hadapannya.
Bima hanya tersenyum sekilas kepada Anya dan juga Lusi.
Bima meletakan botol minuman di atas meja dan mencoba menatap Kia yang ada di sampingnya. "Nakia boleh gak aku minta nomernya?" Bima menyodorkan ponsel di hadapan Kia.
Kia terdiam dan menatap kedatangan Kahfi yang tiba-tiba ada di hadapan mereka bertiga. Dan Bima pun langsung melihat ke arah Kahfi.
Kahfi meletakan saputangan di atas meja berpura-pura untuk memastikan kepada Kia bahwa di kampus ini ada sang suami yang melihatnya dari kejauhan. Dengan dingin Kahfi berkata sambil berlalu. "Maaf tadi saya melihat saputangan kamu jatuh di dekat meja kasir".
Kia menyadari wajah Kahfi yang sedang cemburu. Hingga melakukan hal demikian agar Kia sadar bahwa keberadaan Bima di sampingnya telah membuat Kahfi berinisiatif melakukan hal demikian. Lusi, Anya dan Bima terdiam melihat sang dosen yang dikenal sedikit kiler melakukan hal demikian.
"Terimakasih, pak!" ucap Kia menatap berlalunya Kahfi dari hadapan mereka.
Ketika Kahfi sudah tak terlihat Bima langsung angkat bicara. "Beliau itu pak Kahfi dosen yang terkenal kiler juga di kampus ini! kok dia bisa tau itu saputangan kamu, Nakia?"
"Saya gak tau, kak Bima. Mungkin beliau liat saputangan itu pas jatuhnya."
"Ooh, gitu!" gimana Kia aku boleh gak minta nomer kamu?" Ucapan Bima bersamaan dengan Kia yang berdiri hendak meninggalkan mereka bertiga.
"Maaf kak Bima saya belum bisa memberikan nomer saya, saya harus ke toilet dulu." Tolak Kia karena ia masih menjaga perasaan sang suami karena tak mau menyimpan nomer pria yang belum lama ia kenal.
__ADS_1
"Perlu aku anter gak, Kia? Anya menawarkan diri namun dengan cepat Kia menggelengkan kepalanya dan berlalu dari mereka.
Sesampainya di toilet Kia langsung membuka ponselnya dan hendak menelpon Kahfi namun jari jemarinya terhenti ketika melihat banyak notifikasi chat yang masuk dari hapenya. Ada lima baris chat yang dikirim oleh Kahfi dan beberapa chat dari temannya. Kia membaca pesan dari Kahfi yang memperingati Kia agar bisa menjaga hati sang suami dari lelaki lain.
Kia hendak menelpon Kahfi namun ponsel Kia sudah berdering terlebih dahulu karena ada telepon dari nomer yang tak dikenalnya. Kia tidak menghiraukan panggilan dari nomer tak di kenal sampai orang tersebut mematikannya. Kia mencoba mengetik membalas chat dari Kahfi. Lagi-lagi nomer tak di kenal tersebut menelepon kembali. Kia mengacuhkannya sampai ke 5 kali panggilan.
"Maafin dek ya, mas! dek selalu menghindar ketika Bima mencoba mendekati dek, tapi tadi dek juga kaget pas tau-tau kak Bima udah ada disebelah, dek!" Kia membalas isi chat Kahfi.
Kahfi hanya membalas dengan icon hati yang patah. Beberapa detik kemudian memberitahukan Kia agar pulang menunggunya di parkiran bawah tanah. Kia menjawab dengan gambar emoji hati dan sepasang kekasih yang berpelukan.
****
Kia sudah menunggu Kahfi di parkiran bawah tanah kampus. Tinggal beberapa mobil yang tersisa disana karena jam sudah menunjukan pukul 3 sore. Karena parkiran tersebut sangat jarang digunakan oleh mahasiswa kecuali para dosen-dosen.
Mata Kia panjang menatap pintu kaca yang besar di hadapannya menanti seseorang yang ia cintai tak kunjung tiba. Dua orang wanita ke luar dengan penuh tawa ketika pintu besar itu terbuka. Wanita satunya memanggil Kia ketika kedua wanita itu hendak menuju mobil putih yang terparkir 3 mobil dari mobil Kahfi.
"Kia"! teriaknya sambil mendekat pada Kia. Yang hatinya sempat heran mengapa Kia ada di kampus ini.
"Ia, belum lama mba ngajar disini?" sambil bercepaka cepiki Messi mengelus bahu Kia.
Kia tersenyum dan mengulurkan tangan kepada teman disebelah Messi. "Nakia!" Kia memperkenalkan diri kepada Kiki teman Messi
"Kamu ngapain disini!" Tanya Messi. Tiba Kahfi datang dari arah belakang Messi.
"Dia sedang menunggu saya disini!" Ucap Kahfi yang membuat Messi menoleh ke arah belakang dan melangkah dua langkah kesamping ketika Kahfi melangkah mendekati Kia.
"Kita duluan ya, mba Messi Mba Kiki? ucap Kia sambil menundukkan kepalanya dan tersenyum kepada kedua wanita tersebut.
Kahfi memegang bahu Kia lalu menekan kunci mobil yang ada di tangannya kanannya sedangkan tangan kirinya memeluk Kia sebelah lalu membuka pintu mobil untuk Kia.
"Hati-hati ya Kia!" Ucap Messi sambil melambaikan tangan dan hatinya sedikit iri dengan Kia karena Kahfi memperlakukan Kia dengan begitu baik. Rasa di hatinya untuk Kahfi belum sepenuhnya luntur.
Messi terbengong melihat mobil Kahfi yang sudah jauh sampai-sampai sentuhan tangan Kiki menyadarkan lamunannya.
__ADS_1
"Udah jangan diliatin aja tuh mobil, ayo udah sore kita pulang!" ajak Kiki yang sudah melangkah ke arah sebelah kanan pintu mobil.
Diperjalanan Kahfi diam tak membuka suara dan fokus pandanganya ke depan tanpa melirik Kia sedikitpun. Kia menggigit jari telunjuknya bingung hendak mengatakan apa ketika melihat sang suami yang terdiam selama setengah jam perjalanan. Bersedia dengan ketika ada Messi ketika di parkiran tadi. Kia menoleh ke arah kanannya, Kahfi masih dengan sikap yang sama. Lalu ia melirik ke arah kiri jendela sambil menikmati pepohonan yang hijau dan ada beberapa tiang lampu penerang jalan.
Satu jam tiga puluh menit Kahfi mengendarai mobil dan tibalah ia di rumah yang akan mengantarkan tubuhnya untuk beristirahat. Kia hendak membuka sabuk pengaman namun beberapa kali ia coba tidak juga bisa terbuka. Sampai Kahfi yang hendak masuk ke rumah menengok ke belakang melihat Kia yang belum turun dari mobil. Ia melihat tangan Kia yang masih berusaha melepas sabuk pengaman di pinggangnya. Hingga membuat Kahfi menghampiri mobilnya kembali.
Pintu terbuka, Kia menatap wajah dingin Kahfi dan tangan kekarnya mencoba hendak melepaskan Kia menatap wajah Kahfi, tangan Kahfi menyentuh bagian tengah dari tubuh Kia. Dalam hitungan detik sabuk tersebut terlepas dari tubuh Kia. Wajah Kahfi tak melirik pada sang istri, ia hendak menarik tangannya namun dengan cepat Kia menahannya ke perutnya dan mencium kening Kahfi dengan lembut.
Kahfi diam tak berkutik dengan perbuatan Kia, wajahnya masih dingin. Ketika bibir lembut sudah menjauh, Kahfi dengan cepat menarik tangannya dari perut Kia dan melangkah meninggalkan Kia yang mematung melihat sang suami pergi.
Kia bergerak cepat, kakinya turun dari mobil dan mengejar langkah kaki Kahfi yang sudah masuk ke dalam rumah. Kahfi menlepas kedua sepatunya dari kaki kanan dan kiri nya ketika masuk ke dalam rumah. Tangan Kia melingkar di perut Kahfi ketika ia sudah menutup pintu. Wajahnya ia benamkan di atas punggung Kahfi dan mencium aroma minyak wangi Kahfi yang masih menempel di kemejanya.
"Maafin dek ya, mas. Dek gak kasih nomer dek kok ke kak Bim...!" Kata-kata Kia terhenti ketika tangan Kahfi melepaskan tangan Kia yang melingkar di perutnya. Seketika Kia melonggarkan pelukan tersebut dan membuat hatinya sakit. Namun hal tak di duga dilakukan oleh Kahfi tubuhnya dengan cepat berbalik ke hadapan Kia, dengan cepat tangan kirinya memeluk tubuh Kia dan tangan kanannya ia letakan di belakang tengkuk Kia. Kahfi me lu mat bi bir bawah Kia dengan penuh gairah. Gemuruh di hatinya yang ia rasakan dari tadi siang kini berubah menjadi kerinduan yang belum terobati.
Mata Kia membulat dengan sempurna jantungnya berdegup kencang ada rasa yang sulit ia ungkapkan di hatinya. Ia merasakan jantung Kahfi yang tak beraturan, nafas Kahfi yang sedikit bergemuruh. Bi bir Kia menyambut dengan tenang. Tanganya bergerak membelai tu buh Kahfi. Keduanya menikmati sampai Kia kehabisan nafas barulah Kahfi melepaskannya.
Kahfi melepaskan kedua tanganya dan menangkupkan keduanya di pipi Kia. Kia sedikit mendongak melihat Kahfi yang menatapnya dengan ekspresi yang tak bisa di baca oleh Kia. "Jangan membuat hati mas sakit seperti ini ya, dek!" Kahfi menatap sendu wajah Kia dan kini ia memeluk erat tubuh mungil sang istri.
Kia menggerakkan kepalanya tanda setuju. Sambil terus mengelus lembut punggung Kahfi dan membenamkan wajahnya di dada Kahfi dimana Kahfi membenamkan wajahnya di bahu kiri Kia.
"Dek gak bermaksud membuat hati masa sakit, mas. Dek juga gak mau di diemin mas kaya tadi waktu di jalan, dek sedih" rengek Kia sambil memukul dada Kahfi dan sedikit mencubit samping kiri perut Kahfi.
"Awwww" Kahfi mengaduh kesakitan karena cubitan kecil Kia. Hingga Kahfi mengkelitiki Kia membuat Kia tertawa geli dan menjatuhkan tubuhnya ke tas sofa diruang tamu, Kahfi menindih tubuh Kia mata mereka bertemu dengan saling menatap dengan penuh kehangatan.
Kahfi mencium sekilas bibir Kia dan mencubit hidung mungil Kia hingga memerah. Kia hanya tersenyum dan membalas mencubit hidung mancung Kahfi dan melepaskan kacamata Kahfi dan menaruhnya sembarang di meja samping kiri Kia.
Kahfi membuka jilbab Kia dan menata rapih anak rambut Kia yang sedikit berantakan. Kahfi hendak mencium leher Kia namun ditahan oleh tangan Kia. "Bau asem mas! dek belum bersih-bersih." Ucap Kia hingga membuat Kahfi berdiri dan membungkuk kembali meletakan tangan kirinya ke bawah tengkuk Kia dan tangan kanannya ke kaki Kia. Tangan Kia mengalungkan di leher Kahfi, Kahfi mengendong Kia, Kia terdiam melihat senyum Kahfi yang penuh dengan tanda tanya.
Kahfi membawa masuk Kia ke dalam kamar dan membawanya kembali masuk ke dalam kamar mandi. "Massa...? Mata Kia memicing ketika Kahfi memberikan senyum sumringah.
"Kita melaksanakan Sunnah Rasul di kamar mandi dulu ya, dek." ucap kahfi yang sudah menurunkan Kia di bawah shower.
Keduanya menikmati nuansa romantis di kamar mandi. Dengan diiringi canda dan tawa dari dalam. hingga menghabiskan waktu 30 menit.
__ADS_1