
Tidak dengan pria yang baru saja memarkirakan mobilnya tepat di garasi rumah pribadinya yang tak jauh dari panti asuhan. Rumah yang hanya tersedia 3 ruang kamar tidur, ruang tamu, ruang tv dan dapur. Pria berkaca mata itu mengedarkan pandangannya ke arah dalam mobil memastikan barang bawaannya tidak ada yang tertingal. Seketika matanya fokus pada buku catatan berwarna coklat yang ada di bangku dimana dua wanita tadi mendudukinya.
"Punya siapa ini?" ucapnya ketika meraih buku catatan berseleting warna silver dan terdapat satu gantungan kunci boneka kecil. Dan pertanyaan itu seolah dapat ia jawab sendiri ketika melihat gantungan kunci yang pernah ia lihat di stasiun kereta.
" Sepertinya ini punya Aulia? Ia ini pasti buku catatan milik Aulia karena, aku yang pernah merusak boneka gantungan konci ini! Ucapnya seorang diri sambil menutup pintu mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah.
Ia letakan -barang-barang bawaannya ke atas meja dan ia simpan buku catatan Kia tepat di lemari ruang tv. Seketika ia bergegas untuk masuk ke dalam kamarnya namun pikirannya tetap tertuju pada buku coklat milik Kia, lalu ia kembali lagi dan mengambil buku yang tadi ia letakan di lemari dekat tv dan mengambilnya untuk ia simpan di atas meja tepat di samping tempat tidurnya berharap esok ia tidak lupa untuk mengembalikan buku itu kepada empunya.
Jam menunjukan puku 10 malam Kahfi belum juga memejamkan matanya karena, setiap kali ia akan tidur tak lupa ia sempatkan untuk membaca buku-buku yang menambah pengetahuannya. Ketika asik-asiknya membaca, benda pipih berwarna hitam yang ada di sampingnya berdering menandakan panggilan masuk.
" Wa'alaikumsalam, ada apa penganti baru nelpon jam segini? Ucapnya ketika menjawab salam dari sebrang sana.
.....
" Ia, Inshaa Allah, ana akan membantunya. Siap... siap... nanti ana akan sampaikan kepadanya, bila esok ana bertemu dengan adik antum, ya!" Ucapnya sambil mengakhiri panggilan tersebut dengan ucapan salam.
Ia letakan benda persis di samping buku catatan milik Kia, dalam hati kecilnya Kahfi ingin sekali mengetahui isi dalam buku itu. Tapi pikiran itu ia tepis ketika hal itu tidak baik di lakukan tanpa seizin sang pemilik buku.
Buku yang ia baca barusan masih terjepit dalam gengaman tangannya. Bayang-bayang waja Kia menari dalam pikiranya. Ia baru teringat akan kejadian ketika pertama kali ia pernah bertemu dengan Kia di sebuah perpustakaan di kota x. Yang kala itu Kia tak sengaja menabrak dirinya ketika sedang membawa beberapa buku di tangannya.
" Ya, sekarang aku baru ingat kenapa sepertinya aku tak asing dengan waja Aulia. Dia wanita yang waktu itu menabrakku ketika itu, yang mengulurkan tangannya untuk meminta maaf kepadaku." Gumamnya dalam hati.
Kahfi baru tersadar akan wajah Kia yang tak asing baginya ketika tadi ia sedikit memperhatikan wajah pucat Kia ketika di klinik. Waktu seolah begitu lama untuk mengingatkan akan pemilik wajah yang pernah mengganggu pikirannya beberapa bulan yang lalu.
" Kenapa ia bisa mempunyai trauma ketika melihat darah? Aku lihat wajah itu juga ketika ia melihat darah pada lutut Kania. Dan apa lagi ketika tadi, ia seperti orang yang sangat menahan rasa takut ketika melihat darah yang ada di tangangannya. Ucapnya sambil mengusap lembut buku catatan berwarna coklat yang ada di atas meja.
" Astagfirullahaladzim ... kenapa aku harus memikirkannya, setelah apa yang Razi katakan kepadaku?" elaknya menghindari akan perasaan aneh yang ia rasakan pada hatinya ketika wajah Kia menari-nari dalam benaknya.
Kakinya menuruni tempat tidur berniat untuk ke kamar mandi dan berwudu. Setelah selesai wudhu ia gelarkan sajadah dan melaksanakan shalat tobat sebelum tidur. Selesai dengan ritual kebiasaanya ia membawa tubuhnya untuk beristirahat setelah seharian sibuk dengan rutinitas yang ia kerjakan di panti dan asrama.
****
Pagi hari. Setelah selesai sholat subuh dan tilawah setelah sholat subuh Kia bergegas ke arah dapur untuk menyiapkan sarapan pagi. Walau tangan kirinya terluka Kia tetap berusaha untuk membantu nek Rumi di dapur walau nek Rumi sudah mencegahnya untuk melakukan hal itu.
" Loh kok kamu bukan istirahat saja, nak? Ucap abah Dahlan yang baru pulang dari masjid selesai sholat subuh dan mendengarkan kultum setelah sholat.
" Ia, nh bah!" Nenek udah mencegahnya dari tadi, dia tetep keukuh bikinin nasi goreng buat sarapan!" Ucap nek Rumi sekilas melirik ke arah cucunya yang sedang asik mengaduk-aduk kopi untuk abah Dahlan.
" Tangan Kia udah baikkan kok, ... nek ... abah!" Jawabnya sambil meletakan secangkir kopi ke hadapan abah Dahlan.
" Makasih ya, cucuku sayang." Duduk sini, sayang!" perintah abah Dahlan sambil menepuk-nepuk kursi yang ada di sebelah kirinya.
Kia pun menurut, dan langsung duduk di samping kursi abah Dahlan. Seolah matanya bisa menebak akan sesuatu yang ingin abahnya bicarakan.
" Kia!"
" Iya, bah." Sahutnya sambil memutar-mutar kedua jempolnya yang kiri masih terasa sakit.
" Kia kan hampir 2 bulan tinggal di sini, dan abah lihat sudah banyak perubahan yang Kia tunjukan disini. Cucu abah seolah sudah bisa menjalani hidup yang baru.
Di sini cucu abah lebih periang, tambah solihah pula. Abah benar-benar senang melihatnya." Ucap abah Dahla sedikit melirik ke pada nek Rumi yang kini duduk bersebrangan.
" Alhamdulillah, ini semua berkat dorongan abah dan nenek. Kia gak mungkin bisa secepat ini kalau bukan bantuan, do'a dari abah dan nenek. Ujarnya sambil melihat ke arah lawan bicaranya.
" Semoga secepatnya juga cucu abah mendapatkan pendamping hidup yang sholeh yang bisa membimbing cucu abah lebih baik lagi."
__ADS_1
Deg ...
"Aaa___ Aamiin yaa Allah" Ucap Kia dengan sedikit gugup karena kaget akan ucapan abah Dahlan yang membahas tentang pendamping hidup.
" Kalau seandainya ada yang mau mengkhitbah cucu abah yang satu ini, kira-kira Kia akan menerimanya tidak?
Pertanyaan abah Dahlan yang satu ini nyaris membuat Kia semakin kaget dan membulatkan kedua matanya dengan sempurna, hatinya berdegup kencang seperti gendrang mau perang. Perlahan dengan rasa gugup, kaget dan tak percaya Kia menjawab.
" Iii___ Inshaa Allah, bah!" Ucapnya gugup.
" Hmmm, kenapa gak yakin gitu sayang? masih belum bisa melupakan Prama, ya? Tanya abah Dahlan melirik cucunya yang ada di sebelahnya.
" Bukan... bukan gitu abah?" Kia rasa ini terlalu cepat, Kia belum begitu banyak mengenal orang-orang di sekitar. Mana ada yang akan mengkhitbah Kia begitu cepat? Ucapnya sambil tertunduk dan mengetuk-ngetuk meja dengan jari telunjuknya.
" Itu menurutmu, sayang? Nenek yakin di luar sana sebenarnya sudah banyak yang mengenal Kia, kamunya saja yang tidak menyadarinya. Sahut nek Rumi menanggapi pertanyaan Kia.
" Kalau memang ada, Kia pasti meminta restu dan ridho ayah dan ibu dulu, nek?
" Waktu sore hari abah sudah menelpon ayahmu, membicarakan masalah ini!" Ayahmu menyerahkan hal ini kepadamu dulu. Bila Kia cocok dengan pria tersebut makan akan dilangsungkan khitbah di kediaman orangtuamu, sayang. Tegas abah Dahlan menjelaskan kepada kia prihal ini.
" Kenapa ikhwan itu minta langsung khitbah bukanya dia belum mengenal Kia, seharusnya kami menjalani ta'aruf dulu kan, bah?
" Yang meminta khitbah langsung bukan ikhwannya tapi ini keputusan kiyai Mansur yang meminta. Beberapa kali melihat kamu di kajian rutinnya. Seolah ia yakin kalau kamu akan jadi menantunya yang baik dan sholihah. Padahal abah sudah menjelaskan kepada beliau tentang dirimu apa adanya, cucuku sayang.
Ucap abah Dahlan mengelus punggung belakang Kia. Seraya berjalan ke kamar untuk melapas baju kokoknya.
" Berikan Kia waktu ya bah untuk memikirkan semua ini, Kia butuh petunjuk dari Allah untuk masalah hati ini!"
" Ia sayang, beliau tidak meminta cepat jawabanmu, cucuku sayang!"
" Kalau begitu Kia izin masuk ke dalam ya bah, nek!" Kia mau ganti baju karena jam 7 Kia harus mengajar di panti.
Jawab nek Rumi yang masih terdiam di meja makan sambil memikirkan ekspresi dari wajah Kia yang sepertinya belum siap untuk melangkah ke arah serius tersebut.
🍀🍀
Kiapun masuk ke dalam kamarnya sambil terus memikirkan pembicaraan yang tadi di sampaikan abahnya.
Perlahan ia menuju lemari mencari baju yang akan ia kenakan hari ini. Namun kegitan itu terhenti ketika ponselnya berdering.
Ia raih ponselnya dan menjawab salam dari sebrang sana.
" Alhamdulillah kabar Kia baik-baik saja mas!"
Ada apa mas Huda telpon Kia sepagi ini?
..... ?
" Baiklah nanti Kia kirim alamat rumah abah. Ia maaf, Kia lupa mau membalasnya semalam.
..... ?
" Wa'alaikumsalam.
Ucapnya sambil meletakan benda pipih itu ke atas meja tempat dimana benda itu berada tadi.
__ADS_1
Pikirannya kini bertambah ruwet ketika mengetahui Huda akan datang ke rumah abah Dahlan. Belum selesai ia memikirkan obrolan dengan abah Dahlan sekarang datang kabar akan kedatangan Huda ke rumah abah Dahlan. Yang alasnya Huda kebetulan sedang ada perjalanan ke daerah tersebut.
15 menit kemudian Kia, sudah selesai dengan dandanan sederhananya tanpa polesan make up sama sekali kecuali vitamin bibir yang tak pernah ia lupakan untuk menutupi bibir pucatnya.
🍀🍀 🍀🍀
Tibalah Kia di panti asuhan milik Kahfi. Kania kecil sedang menunggu kehadiranya di sebuah taman sebalah halaman kelas yang akan Kia masuki. Mata Kia langsung berbinar ketika melihat gadis kecil itu tersenyum bahagia kepadanya.
"Assalamu'alaikum, bidadari cantik kakak!" Ucapnya seraya mencium pipi gembil Kania.
" Wa'alaikumsalam, kakaku yang cantik dan sholihah. Jawabnya seraya memeluk tubuh Kia yang sudah berjongkok di hadapannya.
Mata Kania membulat ketika melihat perban pada tangan kiri Kia.
" Tangan kakak cantik kenapa? kok di bungkus begini?" tanyanya penasaran.
" Ooh, ini?" semalam kakak kena musibah, telapak tangan kak Aulia terkena akar yang tajam jadi dibungkus seperti ini dech. Jawab Kia.
Lalu Kania mengelus lembut tangan Kia yang masih di balut dengan kain kasa yang sudah ia ganti tadi pagi. Mata Kania seolah memancarkan kesedihan ketika mengetahui tangan Kia terluka.
" Pasti ini sakit ya, kakak cantik? Tanya lembut sambil terus memeluk Kia layaknya seorang anak memeluk ibu kandungnya.
" Tidak sayang, awalnya saja sakit. Tapi sekarang udah gak sakit lagi karena dokter sudah mengobatinya semalam. Jadi kamu gak usah sedih gitu ya!" Jawab ya sambil mencubit gemas hidung mancung Kania yang menatapnya pernuh arti.
Di jendela sebrang sana terlihat seseorang sedang menikmati adegan yang ada di depan matanya. Seoalah ia melihat seperti adegan seorang ibu dengan anaknya.
" Sekarang kita masuk ya sayang. Kasian teman-teman sudah menunggu kak Aulia datang. Ajaknya sambil menggenggam tangan mungkil Kania menuju ruangan kelas tempat Kia akan mengajar anak-anak panti.
.
.
.
.
.
**Bersambung---
🍀🍀 🍀🍀**
Maaf ya kemarin author gak up. Karena satu dan lain hal yang menjadikan author istirahat sejenak.
Semoga para raeders suka dengan ceritanya dan jangan lupa tinggalkan jejak
LIKE
KOMEN
VOTE
Reat bintang 5
dan TIP yang banyak untuk author biar tambah semangat.
__ADS_1
Terimakasih, berkah terus buat kalian semuanya. Salam sukses dan sehat selalu.
🍀🍀 🍀🍀