Diakah Jodoh Pilihan Allah?

Diakah Jodoh Pilihan Allah?
30. Impian Kita


__ADS_3

Matahari telah menampakan sinarnya. Memasuki setiap pentilasi rumah sehingga suhu ruang kamar terasa hangat, sang pemilik kamar  tersadar ketika matanya mulai terbuka dengan sempurna. Baju yang semalam ia kenak ‘kan masih menempel di badannya.


“Yaa… Ampun!”, semalam kan aku pulang bersama si Jerapah Cungkring?, kok sekarang aku udah ada di kamar?. Siapa yang membawaku sampai ke kamar?”. Pertanyaan itu terus muncul dalam benaknya. Suara ketuk ‘kan pintu pun terdengar di telingganya. Perlahan ia menurunkan kakinya dari tempat tidur dan membuka pintu dengan perlahan.


“Kamu sudah bangun, nak?, sepertinya kamu lelah sekali ya?. Tanya bu Aisyah yang datang untuk mengambil baju kotor dalam kamar putrinya.


Perlahan Kia dudukan bobot tubuhnya di kursi meja rias. Biarlah, bu. Hari ini aku yang mencuci baju, kan hari ini hari minggu. “Buuu…!  “Apa ibu tau siapa yang membawa Kia sampai ke kamar semalam?. Tanyanya bingung.


Perlahan bu Aisyahpun duduk di di tepi kasur dengan sedikit pengetahuannya ia menjawab. “sepertinya nak Prama yang membawa kamu ke dalam, karena semalam ibu mendengar suara nak Prama di kamar bersama ayah, selebihnya ibu gak tau lagi"!. Karena ayah ketika ibu Tanya dia malah meninggalkan ibu tidur.


“Jadi dia yang mengangkat aku sampai ke sini?, Yaa… ampun!” malunya aku sampe gak sadar kalu semalam aku tertidur pulas!, dia mengangkatku sampai sini aja aku gak terasa!". Dasar kamu Kia kalu udah tidur suka gak nyadar diri?. Gumamnya dalam hati. Ketika Kia saik dengan lamunannya benda pipihnya berdering. Seketika bu Aisyahpun melangkahkan kakinya untuk pergi menginggalkan kamar tersebut.


“Ya sudah kalau kamu mau cuci baju sendiri !", ibu lanjutin masaknya ya?. Jangan lupa mandi dan sarapan  karena ibu, ayah dan adikmu sudah selesai sarpan!”.


Mendengar ponselnya berderig Kiapun langsung mengangatnya.  Tertera nama kesayangan yang ia sematkan di nomer kontak tersebut. Jerapah cungring.


***


Kia: Wa ‘alaykum salam… terimakasih ya semalam sudah membawaku sampai ke kamar!", maaf jadi merepotkan kakak!. Ucapnya sebelum seseorang menanyakan kabar.


Prama : Sama-sama, ayy!, aku gak ngerasa di repotin kok!". Aku baru tahu kalu kamu udah tidur hal apapun yang terjadi kamu tetap dengan mimpi indahmu. hehe!"


Kia: Wah, jangan-jang semalam kakak udah menggoda aku ya? awas ya!", memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan!


Prama: Tuhkan!", bawaan'nya mau sudzon aja sama aku!", sunggu aku gak ngapa-ngapain kamu kok. Aku cuma mandangin wajah cantik kamu kalau lagi tidur ternyata lucu. hihi!". Nanti siang aku jemput ya? pokoknya aku pengen manfaatin waktu liburku cuma sama kamu!", oke !"


Kia:  Aku gak sudzon kok, tapi benerkan?, kakak manfaatin kesempatain itu? buktinya tadi kakak bilang mandang-mandangin wajah aku terus!,. "Ya, Inshaa Allah, udahan dulu ya!", aku mau beres-beres dulu dan mau mandi. he!"


Prama: ihhh...!" jorok banget si kamu, ayy?, jam segini belum mandi?. pantes baunya sampai kesini!". Perlu aku mandiin gak? Candanya menggoda Kia.


Kia:  "Ogah... dah...!" Wassalamu 'alaykum!".


belum juga Prama membalas salamnya Kia sudah mematikan ponselnya, karena malu mendengar  perkataan yang baru saja Prama lontarkan.


****


Siang itupun tiba. Prama sudah datang menjemput Kia dengan sepedah motor yang biasa ia pakai waktu sering ke butik tempat Kia dahulu bekerja. Motor Ninja merah itupun sudah terpakir di depan rumah Kia. Prama yang asik mengobrol dengan bu Aisyah di depan teras terhenti ketika Kia datang dengan penampilan sederhan'nya.


"Ibu aku pamit ya?!". Ucapnya dengan sedikit melirik ke arah Prama.


" Ayy, kamu gak salah pakai sepatukan? Ucap Prama menyadarkan Kia yang memakai sepatu beda warna.


Pandangan Kia kini tertuju pada apa yang di katakan Prama barusan. "Yaa ampun...!" dengan sedikit berlari ia masuk ke dalam.


"Begitulah Nakia, kalau sesuatu yang ia lalukan dengan sedikit terburu-buru. Ucap Bu Aisyah sedikit tertawa melihat tingkah anaknya.


" Lucu ya, tante?", Prama pikir Kia orang yang tidak mempunyai kekurangan sedikitpun!", tapi ternyata ia sangat kikuk bila bertingkah. Ucap Prama di ikuti senyum manis yang mengembang.


"Bu ayah kemana?". Rahma mau izin mengerjakan tugas kelompok di rumah Sania!. Ucap Rahma yang tak mengetahui keberadaan Prama.


" Ayahmu sedang kerja bakti si kampung sebelah!". Kamu dijemput apa naik ojek ke rumah Sania?".


"Ehh...!, ada kak Prama? Kak terimakasih ya untuk boneka  'nya waktu itu. Sebenarnya Rahma sudah lama ingin mengatakan ini tapi baru bertemu kak Prama hari ini!"


"Ya sama-sama Rahma...!"  ya, maaf kakak baru sempat mampir lagi karena sekarang kakak sudah fokus urus perusahaan. Lain waktu kakak coba ajak kamu dan ibu, ayah liburan, ya!?. Ucap Prama yang sudah melirik ke hadiran Kia kembali.


Akhirnya Rahma pun pergi bersama dengan temannya Izza yang sudah datang menjemput. Dan Kia serta Prama 'pun berpamitan kepada bu Aisyah.


****


Sedikit kecepatan Prama mengendarai motornya yang membuat tangan Kia memegang erat pada jaket pria tampan di hadapannya.

__ADS_1


" Kenapa kamu takut, ayy?. Sini tangan kamu pegangan yang erat ya!". Ucap Prama yang meraih kedua tangan Kia ke arah depan pingangnya. Sehingga Kia kini memeluk erat tubuh sang kekasih hati.


Setiap perjalanan pun mereka nikmati dengan pemandangan hamparan kebun teh dan udara yang sejuk. Perlahan Kia pun menyandarkan kepalanya pada punggung Prama. Setengah jam kemudian tibalah mereka si sebuah vila yang cukup besar dengan tanman yang luas di hiasi berbagi macam bunga angrek.


Setelah membuka helem yang ia kenakan Kia berhambur ke taman yang sudah dipenuhi bunga-bunga tersebut sedikit berlari ia menarik tangan Prama yang baru saja meletakan helemnya di motor.


"Masyaa Allah, ini indah sekali kak...!". Udaranya sejuk dan pemandangan yang indah, aku  bakalan betah banget kalau tinggal di sini!". Ucapnya sambil menggoyang-goyangkan tangan Prama yang telah ia pegang erat.


" Alhamdulillah, kalu kamu suka. "Suatu saat kita akan tinggal di sini bersama-sama dengan malaikat-malaikat kecil kita. Mereka akan senang berlari-larian di sini dan bermain bola di taman ini di temani aku dan kamu, yang akan mereka panggil ayah dan bunda... "hemmm... indah ya rasanya?". Ucap Prama yang kini telah memeluk wanita berparas cantik.


"Ngehayal'nya udah kejauhan, sayang?, menikah aja belum udah menghayal punya anak!". Ucap Kia sambil merangkum wajah Prama dengan kedua tangannya.


Prama yang mendengar kata sayang dari mulut mungil Kia terpancar wajah bahagianya dan mengecup kepala Kia yang tertutup kerudung. " Apa kamu bilang tadi?, coba bilang sekali lagi, ayy? Aku pengen denger!"..


Sedikit mendongakkan kepalanya Kia tersenyum tersipu malu dan mencoba melepasan pelukan dari pria tinggi yang sudah menunggu jawaban darinya. Kia berlari dengan sedikit teriak ia bersuara.


"Aku sayanggg...!" dan cintaaa...!" kepadamu Jerapah Cungkingkuuu...!".


Melihat Kia yang berlari menjauhinya Prama berusaha mengejar serta ingin rasanya ia meraih Kia dalam pelukannya kembali. Sayangnya Kia malah mengajaknya bermain lari-larian layaknya seperti filem-filem india. Senyum dan tawa kebahgiaan menghiasi dua sejoli yang sedang di mabuk cinta.


Tepatlah mereka di sebuah ketinggian dengan pagar besi di belakangnya mereka memanfaatkan untuk berfoto bersama karena selama bersama-sam mereka jarang sekali berfoto berdu.



Dan ketika mereka sedang berfoto berdua. Terdengar suara riukan dari perut Kia, Kia yang sadar cacing-cacing dalam perutnya sudah berteriak sedikit malu, ia menundukan wajahnya dalam pelukan Prama.


"Kamu sudah lapar ya, ayy?. Kita makan di rumah makan yang ada bawah sini, ayy?".Ucap Prama yang mulai menatap indah bola mata Kia.


" Aku gak makan nasi, aku mau makan bakso yang di pertigaan tadi, wanginya mengoda si robeth dalam pertutku, kak? boleh ya?". Ucapnya seraya memaerkan gigi dan memainkan bola matanya yang bulat.


"Si robeth?". Sebutan apa lagi itu?. Tanya Prama aneh.


Dua tangan yang ia dekapkan ke dada dan memajukan sedikit bibirnya Kia protes karena Prama lama untuk melangkah hanya terdiam di tempat itu.


"Yanggg...!", ayooo cepat...!" aku udah pengen mencicipi bakso pak kumis!".


"Ya tunggu sebentar...!" gak sabar banget, pengen ketemu sama abang tukang baksonya. " Awas ya kalau sampe tertarik sama abang baksonya!".


"Gak bakalan 'lah!"... kan aku udah punya abang jembros yang lebih tampan dan lebih keren dari abang tukang bakso. Selorohnya.


***


Akhirnya merekapun menikmati bakso tersebut dengan lahap. Setelah mereka makan bakaso mereka memutuskan untuk kembali ke vila.


Sedikit melepas lelah Kia menaikan kakinya ke atas sofa yang ada di balkon vila itu.


Sesorang sudah menyiapkan jus jeruk untuknya di meja.


" Yaa ampun mang gak usah repot-repot saya kan bisa buat sendiri dan ambil sendiri ke dapur. Ucapnya yang lalu menurnkan kakinya dari sofa tersebut.


"Gak apa-apa atuh, neng?!". Si neng juga gak sering-seing mampir ke sini. Biasanya den Prama kalau ke selalu sendiri kalau si aden lagi pusing di rumah. Ucap mang Ikin pengurus vila tersebut yang tinggal bersama istrinya bu Tinah.


" Nama saya Nakia, biasa kak Prama panggil saya Kia aja, mang!". "Si mamang udah lama ngurusin vila ini?". Biasanya siapa aja yang sering ke sini, mang?. Selidik Kia.


" Saya mang Ikin, neng!". Sudah hampir 5 tahun saya tinggal di sini sama istri mamang.!", paling yang suka ke sini mah, cuma den Prama aja!, Kan emang vila ini punya den Prama. Den Prama bilang kalau vila ini dibikin khusus buat nanti calon istrinya dia. Makanya mamang tau pasti si neng Kia teh calonnya den Prama?. Ya kan, neng?".


Ketika mereka sedang asik berbincang-bincang Prama yang dari lantai bawahpun memghampiri dan duduk bersama.


"Do'akan saja ya mang, biar nanti saya sama Kia bisa nempatin rumah ini dengan suara-suara bahagia dari anak-anak saya dan Kia. Ucap Prama melirik Kia dengan penuh arti.


" Aamiin... aamiin... pasti atuh, mamang selalu do'ain biar den Prama gak kesepian lagi!". Bersyukur punya istri segeulis neng Kia teh, mani alus pisan!?" mun ceuk orang sunda mah. Ucap mang Ikin yang membuat mereka berdua tidak mengerti akan kata-kata mang Ikin ucapkan.

__ADS_1


"Apa itu artinya mang? ucap mereka bersamaan dengan saling memandang dan mengangkat bahu.


" Bersyukur punya istri yang cantik dan lembut sekali, kalau kata orang sunda mah. Gitu den neng artinya.


"Oooh....!". Ohhh...!" gitu artinya saya baru ngerti. Ucap mereka bergantian.


"Ya sudah kalau gitu mamang lanjutin ke belakang lagi atuh, yah!". Kalu ada apa-apa kasih tau mamang, mamang ada di belakang sambil beresi kebun.


"Ya, mang Ikin. Hatur nuhun nyak. Ucap Prama walau sediki kaku.


****


Dengan sedikit mana Kia mendekati Prama yang khusu menatap handphone nya. Liatin apaan sih, sampe khusu banget gitu?".


"Gak kok, kakak cuma lagi liat foto-foto kebersamaan kita aja. Hemmm, aku seneng liat kamu tersenyum bahagia di foto ini, berharap semua ini akan terus seperti ini sampai kapanpun. "Kamu tau, ayy?, kalu selama ini aku selalu menceritakan tentangmu kepada mas Huda. Dan ternyata semalam mas Huda datang loh ke acara itu?, kamu tau apa yang dikatakan mas Huda?"


"Apa memang? Jawab Kia sambil menopangkan kedua tanganya di bawah dagunya sambil memandang wajah laki-laki yang ada si sebelahnya.


"Mas Huda bilang, "aku beruntung sekali mengenal kamu terlebih dahulu!". Bila saja mas Huda tau wanita yang sering di bicarakan mamah kepadanya adalah kamu, pasti tahun lalu mas Huda sudah pulang ke Indonesia lebih awal. Karena mamah kalau cerita gak pernah kasih liat foto kamu, sekali mamah pernah mengirimkanya fotomu itu pun tak jelas, jadi mas Huda tidak terlalu penasaran dengan sosokmu. "Aku gak tau jadinya seperti apa kalu aku dan mas Huda jatuh cinta dengan wanita yang sama, pasti hubungan kakak berdik kami akan sedikit rengang. Karena akupun tak rela harus membagi hati dengan mas Huda, ayy!"


Kamu janji ya?, bila suatu saat nanti aku terlebih dulu pulang meninggalkanmu, kamu jangan pernah bagi hati kamu dengan yang lain. Karna aku akan sangat bersedih dengan hal itu.


"Kakak kok ngomong gitu sih?, masalah jodoh, rezki dan umur kita tidak pernah tau!", sayang?". Bisa jadi aku duluan yang akan meninggalkan kakak?". "Bila aku yang pergih duluan, aku gak akan seperti kakak, tapi aku akan sangat berharap ada wanita lain yang akan memberikan kebahgiaan itu lebih dari aku, dan aku rela asalkan kakak bahagia dengan dirinya?". Asaaalll...!, kakak jangan pernah lupakan tempat peristirahtanku, kalian harus selalu bercerita kepadaku apapun yang terjadi. Jadi aku takan menjadi wanita yang egois untuk kebahagiaan orang yang aku sayang. Ucapnya seraya menggengam erat kedua tangan Prama dan mencium pungung tangannya.


"Aku gak akan bisa bayangin, ayy!". Kalu kamu duluan yang ninggalin  aku, pasti aku akan sangat bersedih dan tidak punya semangat hidup karena kamulah yang telah membuatku hidup kembali. "Terima kasih ya, ayy!", Sudah mampir dan mengisi hidupku.


"Semenjak kejadian itu rasanya aku sudah tidak punya semangat hidup, tapi setelah aku melupakan wanita itu, dan melihat atas apa yang ia lakukan  kepada mamahku aku merasa takan mampu hati ini untuk jatuh cinta lagi dengan wanita.


Tapi setelah aku sering datang ke tempat kerjamu waktu itu aku seperti punya penilaian lain, bahwa tidak semua wanita sepertinya. Ucap Prama mengenang masalalunya.


"Sebenarnya siapa wanita yang kakak sembunyikan itu, kakak tidak pernah memberi tahu aku, akan wanita itu dan tentang kenapa tante Melinda lebih cepat berpulang. Tanyanya seraya meraih Prama yang tengah menghadap ke luar.


"Suatu saat kakak janji akan menceritakan itu semua kepadamu, ayy!", untuk saat ini aku belum mampu mengatak 'kannya, sayang. Aku janji bila kamu sudah menjadi yang halal untukku aku akan menceritakannya semua, percayalah, sayang!".


"Baiklah, aku akan tagih janji kakak sampai kapanpun!", sudah ya jang bersedih lagi, aku gak suka liat kakak sedih.


.


.


.


.


.


**Bersambung----


Maaf ya aku cuma kasih satu foto... karena bingung mau kasih foto-foto pemerannya. karena takut gak sesuai dengan ke inginan kalian...


jangan lupa


Like


Komen


Share


dan terutama Votenya


Terima kasih**

__ADS_1


__ADS_2