
Tiga bulan kemudian.
KIA yang masih sibuk dengan urusannya di dapur menyiapkan sarapan untuk sang suami tercinta. Sedangkan Kahfi masih bergelut dengan laptop di pangkuannya, sesekali ia mendorong kaca matanya sambil terus menatap tulisan yang baru ia ketik. Pergerakannya terhenti ketika suara merdu sang istri cinta memanggilnya.
"Mas, sarapannya sudah siap. Yukk kita sarapan dulu. Dengan melangkahkan kakinya menuju kamar mencari keberadaan sang suami tercinta.
"Ya sayang, sedikit lagi mas akan ke luar. Baru saja Kahfi menuntaskan ucapannya Kia sudah ada di hadapannya sambil menatap sang suami yang tak sadar akan keberadaan sang istri tercinta.
Dengan lembut Kia mengusap tangan Kahfi yang masih di atas keyboard.
"Ya ampun, ternyata bidadari mas sudah ada di sini. Maaf mas gak sadar dengan kehadiran, dek. Maaf ya sayang. Secepat mungkin Kahfi menggengam tangan mungil Kia kemudian meletakan laptop nya ke kasur sedangkan tangan kirinya menarik tubuh Kia dan memeluknya.
"Saking khusuknya sampe gak sadar sama, dek ya! Satu jari telunjuk Kia langsung menyentuh hidung mancung Kahfi dan tubuhnya mencoba berbalik untuk mengajak Kahfi bangkit dari tempat tidur menuju ruang makan. "Hayukk mas kita sarapan dulu."
***
Sarapan di meja makan pun sudah tertata rapih. Dengan dua gelas jus alpukat dan nasi goreng sea food kesukaan Kahfi. Tak lupa Kia menaruh dua kotak bekal di meja tersebut.
"Masyaa Allah harumnya masakan bidadari mas ini." Ketika Kahfi mendekat pada meja makan. "Kok kotak bekalnya sampe dua gini, dek?" Dengan cepat Kahfi duduk sambil memegang kotak bekal yang akan di bawanya nanti.
"Kotak bekal yang berwarna hijau untuk mas makan siang dan kotak bekal warna biru untuk mas makan sore. Karena dek tau mas pasti akan pulang malam sampe rumah." Sambil menuangkan nasi goreng ke piring Kahfi Kia menjawab pertanyaan sang suami.
Dengan cepat Kahfi memegang tangan Kia seketika pergerakan Kia pun terhenti. Kahfi mengucapkan terimakasih atas perhatian sang istri kepadanya. Ia tau pasti Kia kewalahan untuk memasak semua itu dan rasa lelah yang dirasakan sang istri.
Kahfi menarik satu bangku didekatnya dan ia berdiri seraya memberikan aba-aba kepada Kia untuk duduk di hadapannya, dan menepuk-nepuk kursi tersebut. Dengan sedikit aneh Kia tetap menuruti aba-aba sang suami dan melihat ke arah Kahfi dengan mata berbinar dan senyum manis yang tersungging dari bibirnya. Satu tangan Kahfi langsung memberikan segelas jus alpukat ke hadapan bibir Kia, lalu Kia pun menyesapnya sambil terus melihat ke arah Kahfi. Dua tegukan Kia langsung mendorong tangan Kahfi dengan pelan. Lalu Kahfi pun menyodorkan satu sendok nasi goreng sea food ke Kia.
"Jazakillah ya sayang untuk sarapan dan bekalnya. Maafin mas, tadi gak bisa bantuin dek. Sekarang biarkan mas yang suapin dek makan ya!". Dengan lembut Kahfi menyuapi Kia lalu dengan bergantian sendok itu masuk juga ke mulutnya. Keduanya mengulas senyum bahagia walau sesekali Kahfi menggida Kia layaknya ia sedang menyuapi anak bayi.
***
Lima belas menit kemudian sarapan itupun sudah terselesaikan. Kia yang hari ini ada jadwal untuk ke toko buku karena pegawai yang di toko buku tersebut sedang mengambil cuti jadi mau tak mau ia yang menggantikannya.
Pintu rumah pun di kunci setelah Kahfi berpamitan untuk pergi ke kampus. Sebelum berangkat Kia menyempatkan untuk pergi ke panti yang jaraknya tak jauh dari rumahnya.
Saat ia akan mengendarai motor metiknya Farah memanggilnya dari pintu kelas.
"Kia tunggu sebentar!" Teriaknya sambil sedikit berlari menghampiri Kia. Sudah hampir genap dua bulan Farah mengajar di panti untuk menggantikan Kia mengisi mata pelajaran seni.
Dengan cepat Kia menoleh dan mematikan motor metiknya.
__ADS_1
"Ada apa Farah?" tanyanya dan membuka helem yang sudah ia gunakan.
"Maaf Kia aku menunda kepergian mu. Aku mau memberitahu kamu, kalau Ahad depan aku akan di wisuda aku berharap kamu dan ustadz Kahfi bisa datang. Karena kalau bukan atas bantuan kamu dan mas Kahfi aku gak mungkin bisa menuntaskan kuliahku." Sambil memegang tangan Kia, Farah berharap sahabatnya ini dapat hadir.
"Masyaa Allah, kamu udah mau wisuda ya Farah. Selamat ya. Nanti kalau mas Kahfi pulang aku akan kasih tau hal ini, semoga aja Ahad beliau tidak ada jadwal jadi aku bisa datang ke wisuda kamu dengan mas Kahfi. Tapi kalaupun mas Kahfi gak bisa insyaa Allah aku akan tetep datang, Farah!" Dengan senyum yang sumringah Kia langsung memeluk Farah.
Setelah berbincang-bincang sebentar Kia langsung berpamitan untuk berangkat. Dan Farah pun bergegas ke kelas kembali.
***
Kahfi sudah sampai di Kampus. Berkas-berkas yang ia kerjakan dari semalam sampai pagi tadi langsung ia periksa kembali ketika ia sudah sampai di dalam ruangannya. Setelah semuanya ia rasa sudah siap dan rapih ia hendak bergegas ke ruangan dimana mahasiswanya sudah menanti akan kehadirannya. Sebelum ia melangkah tak lupa ia memberikan kabar kepada sang istri. Setelah menunggu balasan chat dari Kia tak kunjung datang akhirnya ia memutuskan untuk langsung ke fakultas tempatnya mengajar.
"Mungkin Kia masih dalam perjalanan menuju toko jadi belum sempat membalas chat nya. Gumamnya ketika ia melangkahkan kaki meninggalkan ruangan tersebut.
"Pak Kahfi, teriak salah satu dosen yang sedang menuju ke arahnya." seketika kaki Kahfi terhenti oleh suara tersebut.
"Ooh pak Bambang! ya kenapa pak? Jawabnya sambil menyeimbangi langkah kaki pak Bambang.
"Ahad kalau tidak ada acara datang ya ke acara tasyakuran aqiqah anak ke 3 saya, sekalian bawa istri pak Kahfi dan beberapa anak-anak panti."
"Insyaa Allah pak, kebetulan saya belum ada jadwal kemana-mana Ahad ini. Tapi sepertinya anak-anak panti tidak bisa datang pak, karena mereka semua sudah ada undangan dari perusahaan teman saya. Coba pak Bambang sebelumnya memberitahu saya pas seminggu yang lalu pasti mereka akan saya bagi dua tempat agar bisa datang juga ke acara pak Bambang.
"Tidak apa-apa pak Kahfi bila sudah ada jadwal. Alhamdulillah kalau mereka ada undangan dari perusahaan. Tapi kalau pak Kahfi bisa kan datang sama istri?" Ucapnya yang menghentikan langkahnya karena hendak masuk ke ruangan tempat ia mengajar.
***
Jam menunjukan pukul satu siang. Kia masih sibuk dengan buku-buku yang baru datang, ia rapihkan dan dipajang di setiap rak-rak buku. Tangannya terhenti ketika ia mendengar suara ketukan sepatu dan suara anak kecil yang menarik-narik baju gamisnya. Seketika Kia menoleh dan ia merasa tak asing dengan anak kecil tersebut yang diperkirakan usianya kurang lebih dua tahun. Sambil terus mengingat siapa anak tersebut Kia melangkah menoleh kepadanya.
Anak tersebut bersuara. "Ante, ante." sambil terus memegangi gamis Kia. Sepontan Kia langsung menggendong anak laki-laki tersebut dan membawanya ke salah satu kursi panjang. Kia mendudukkan anak tersebut dan ia melihat bekas es krim di mulut dan mukanya penuh dengan coklat serta tangannya pun sudah lengket dengan bekas es krim. Kia mengambil tisu basah yang ia letakan di meja kasir. Sambil menuju meja kasih Kia sambil berbicara pada anak laki-laki itu agar tetap duduk di tempatnya.
Dengan langkah cepat Kia menuju kursi, sambil memegang anak tersebut Kia mengelap setiap bekas coklat di bagian wajah dan tangannya. Anak laki-laki itu hanya diam sambil memandangi wajah Kia yang selalu mengulas senyum kepadanya. Sesekali anak itu hendak merebut tisu Yanga ada di tangan Kia.
"Ante, ma acih" ucapnya dengan membelai wajah Kia sambil terus memandangi wajah Kia.
Kia tersenyum menatapnya sambil mencerna ucapan dari anak laki-laki itu. beberapa detik Kia baru mengerti akan ucapannya. "Sama-sama anak baik. Kenapa dedek pergi sendirian, mana papah dan mamahmu?." Dengan pelan-pelan Kia mengucapkan kata demi kata agar anak tersebut mengerti.
"Papah ada, mamah pelgi! Jawabnya sambil menunjuk ke arah depan ketika ia melihat sosok papahnya yang ia tunjuk. Dimana Kia membelakangi sosok tersebut karena laki-laki itu datang dari pintu depan dan Kia pun seketika menoleh ke belakang ketika anak itu menunjuk ke arah belakang Kia.
Dengan kagetnya Kia melihat laki-laki yang pernah menjadi bagian dari masa lalunya.
__ADS_1
Detak jantung Kia berdetak kencang ketika ia melihat laki-laki di hadapannya. Tangannya menjadi dingin, wajahnya berubah menjadi pucat. Ia berdiri mematung dengan apa yang ia lihat sekarang. Pikirannya berkelana mengingat kejadian yang pernah membuatnya takut dengan perbuatan yang pernah laki-laki tersebut lakukan di restoran beberapa waktu yang silam. Ya laki-laki di hadapannya adalah Rendy. Laki-laki yang pernah membuatnya patah hati karena memutuskan untuk tidak jadi menikah ketika semua persiapan yang sudah dipersiapkan oleh orang tuanya gagal.
"Terima kasih Kia, kamu sudah menjaga anakku. Aku mencarinya dan tak taunya anak ini masuk ke toko buku ini. Dan aku tak tau kalau toko buku di mall ini milikmu!" Ucapnya sambil melangkah maju ke hadapan Kia. Dengan cepat Kia mundur dan tak sadar ketika ia mundur ia malah terjatuh ke kursi hingga membuatnya hendak jatuh kelantai. Tangan Rendy sudah dengan siap menangkap tumbuh Kia. Tapi dengan cepat Kia mendorong tangan Rendy hingga tangan Rendy menyentuh kepala anaknya sendiri dan terjatuh dari atas kursi ke lantai. Dan anak itu pun menangis karena merasa sakit. Kia tidak berbuat apa-apa. Matanya terbelalak ketika melihat anak Rendy jatuh.
Kia kaget dengan tangisan anak laki-laki itu dan menghindar dari Rendy dan anaknya sambil berteriak. "Pergi, pergi dari sini, cepat bawa anakmu" dengan histeris Kia tanpa memperdulikan beberapa pengunjung yang ada di tokonya dengan tatapan penuh tanda tanya.
Rendy menggendong anaknya sambil memeluknya, kemudian mendekat pada Kia. Sambil berbisik "Aku akan datang kembali bila sesuatu terjadi pada anakku, dan aku akan berusaha agar kamu bisa menjadi milikku lagi." Kakinya melangkah dan langsung keluar dari toko Kia.
" Aku tidak melukai anakmu, tanganmu sendiri yang membuatnya terjatuh. Jangan harap suamiku tak akan membiarkanmu menggangguku." Teriak Kia sambil menangis karena ketakutan akan kehadiran Rendy dan melihat anak laki-laki itu terjatuh dari kursinya.
Seorang pengunjung yang merupakan pelanggan toko buku Kia menghampiri dan memberikan sebotol air mineral kepada Kia. "Mba Kia gak apa-apa kan? minum dulu mba biar mba tenang"
Kia menerima botol tersebut sebelum ia meminumnya ia berucap "Terima kasih!"
"Sama-sama, mba. Apakah laki-laki tersebut mantan mba Kia? Sambil memapah Kia ke kursi wanita tersebut seolah tau siapa Rendy. "Saya tau itu Rendy, pak Rendy itu baru dua bulan ini ia tinggal di sini. Kebetulan rumah saya tidak jauh dari rumahnya." ucapnya sambil mencoba memapah Kia untuk duduk.
"Itu tidak penting, " Jawab Kia yang seolah tak mau membahas tentang Rendy. Dengan tangan yang masih bergemetar Kia mencoba untuk meminum kembali air tersebut, namun tangannya terhenti ketika suara nada dering di hand phone nya berdering. Badannya masih lemas hingga ia kesusahan untuk bangkit dan mencari keberadaan benda terebut. Kiren pelanggan toko tersebut membantu Kia untuk berdiri.
"Kalau mba masih lemas, mba bilang saja dimana terakhir mba meletakan hp mba Kia, saya akan mencoba mencari sumber suaranya. Tapi sepertinya di hand phone mba masih di dalam tas ya, karena suaranya tidak terlalu nyaring. Sambil melangkah kemeja kasir Kiren mencari tas Kia.
"Ya Kiren sepertinya hp saya masih di dalam tas. Dan tas saya masih di dalam laci kasir. "Ucap Kia sambil mengingat jelas ketika ia mulai masuk ke toko bukunya. Karena semenjak ia sampai di toko ia belum membuka hand phone nya karena ia tertuju pada kardus besar yang berisi buku-buku baru yang baru datang ke toko sehari yang lalu. Karena pegawainya belum sempat merapihkan. Hingga Kia lupa dengan benda pipihnya yang sudah hampir setengah hari belum ia pegang.
"Ini mba tas, mba. Saya melihat buku-buku dulu ya mba. Bila mba Kia masih lemas dan butuh apa-apa mba bisa panggil saya di samping sana. Tunjuknya ke arah arah depan Kia.
Sambil mengucapkan terimakasih Kia meraih tasnya dan dengan cepat ia membuka tasnya namun ia lupa belum menutup botol minumannya hingga air di dalam botol tersebut tumpah ke lantai, dan dering di benda pipihnya pun berhenti.
"Yaa Allah, bodoh banget si kamu Kia. Air aja sampe tumpah gini. Cuma gara-gara orang tersebut kamu sampe kaya gak berdaya gini. Gumamnya dalam hati. Perlahan ia mencoba berdiri tak lupa ia meletakan tasnya di atas kursi. Namun keseimbangan tubuhnya belum stabil ditambah lagi lantai licin karena genangan air karena ulahnya.
Bruk. Bobot tubuh Kia pun terjatuh kelantai. Hingga membuat Kiren berbalik kembali ke arah Kia berada. "Yaa ampun mba Kia! teriaknya." Dengan sedikit berlari Kiren menghampiri Kia yang sudah meringis kesakitan karena bokongnya terkena kayu bagian kursi.
Dengan cepat Kiren memapah Kia dan mendudukkannya ke kursi. Satu titik bening jatuh dari sudut mata Kia. Kiren yang tau pasti rasa sakit yang Kia tahan menjadikan air mata Kia keluar.
"Mba lebih baik pulang aja mba. Tutup... Kata-kata Kiren terpotong ketika dering telepon itu terdengar kembali. Dengan cepat Kia merogoh tasnya untuk mendapatkan benda pipih tersebut. dilihatnya nama Kahfi.
Kia menarik nafasnya sebisa mungkin Kia mencoba untuk mengatur nafasnya agar tak membuat sang suami tercinta khawatir. Namun nada berat bercampur sendu Kia tidak bisa di tutupi ketika ia menjawab salam Kahfi. Kahfi yang sudah hafal benar dengan suara sang istri menjadi sangat khawatir. namun Kia mencoba menjelaskan bahwa tak terjadi apa-apa padanya ketika Kahfi bersikeras menanyakan kepada Kia.
Hingga akhirnya Kahfi mengakhiri telponnya.
Sejenak Kia terdiam. Dia akan mencari alasan apa untuk menutupi semua ini dari sang suami. Dan ia pun berpikir untuk bisa pulang cepat agar bisa tiba di rumah sebelum Kahfi sampai terlebih dahulu.
__ADS_1
Ia memutar nomer telpon dan memanggil Yazid untuk menjemputnya di mall Rembulan. Namun rencananya tak berjalan karena Yazid sedang mengantar kiyai Mansur mengisi ceramah ke kota.
Tubuh Kia merasa sakit. Kiren yang menawarkan diri untuk mengantarnya dengan motor namun ditolak Kia karena khawatir kena tilang karena Kiren belum mempunyai SIM.