
Kia pun selesai dengan aktifitas mengajarnya. Berharap ia bisa bertemu Kahfi untuk mengambil buku catatan yang semalam tertinggal dalam mobilnya. Harapan Kia pun terkabul ketika melihat Kahfi yang berjalan menuju taman dimana Kania dan kakaknya Kania bernama Fatur sedang asik bercanda ria bersama Kia. Candaan mereka terhenti ketika Kahfi menghampiri mereka sambil membawa buku berwarna coklat dan menyodorkannya pada Kia.
" Apa ini milik ukhti?" semalam tertinggal di dalam mobil ana!" Ucapnya sambil melirik ke arah Kia sekilas, lalu mengelus kepala Kania dan Fatur.
" Ia, terima kasih karena sudah menyimpannya." Balas Kia sambil menunduk.
" Sama-sama."
" Kenapa mas Kahfi mengetahui buku ini milik saya? Tanya Kia melirik pada pria berkaca mata yang kini sedang berjongkok mendekati Kania yang sedang memetik bunga.
" Ana melihat gantungan konci yang pernah ana injak sehingga boneka gantungan kuci itu rusak." Jawabnya mengingatkan kejadian ketika di stasiun kereta.
Seketika Kia hanya tersenyum dan memanggutkan kepalanya. Ketika pandangan mata mereka bertemu sama dengan yang lainnya. Kania kecil memberikan bunga melati kepada Kahfi.
" Bunga ini cantik kan kak Kahfi? secantik kak Aulia 'kan?"
Ucap Kania yang membuat pandangan mereka terhenti karena, lontran pertanyaan Kania. Dan membuat wajah Kia merah seperti tomat yang matang.
Kahfi hanya terdiam tanpa menjawab pertanyaan Kania kecil sambil mengulas ssnyuman kepada Kania.
" Kania, ayoo kesini abang liat banyak belalang di rumput ini!" Teriak Fatur yang membuat Kania kecil berlari menghampiri abangnya.
Kia dan Kahfi pun kini hanya dia seribu bahasa karena bingung akan hal apa yang akan mereka bahas ketika Kania menjauh dari mereka.
Beberapa menit kemudian akhirnya Kia membuka suara.
" Kalu begitu saya izin untuk pamit ya, Ustadz." Ucap Kia yang memecah keheningan.
" Hmmm ... silahkan ukhti, dan maaf jangan panggil ana ustadz? seperti tadi saja kamu panggil ana dengan mas atau kakak seperti orang-orang sekitar sini!" Pinta Kahfi yang tak mau dirinya dipanggil ustadz yang terlalu formal.
" Tapi mas eh, kak Kahfi 'kan biasa mengisi kajian juga di mesjid jadi, wajar bila saya memanggil atau menyebut anda dengan panggilan ustadz." Elak Kia yang tak mempetimbangkan permintaan Kahfi. Seketika memberikan salam lalu berpamitan untuk pulang kepada Kahfi.
" Wa'alaikum salam, jawab Kahfi sambil terus memandangi langkah Kia yang kini sudah berada tepat di pintu gerbang.
Mata Kahfi ikut terhenti ketika melihat sebuah mobil berhenti di depan Kia. Lalu terlihatlah sosok pria berbadan tegap dengan penampilan cool dengan jas berwarna abu-abu.
" Siapa laki-laki itu?" Sepertinya aku belum pernah melihatnya? Apa dia adiknya Razi. Tapi setauku adiknya Razi perempuan dua-duanya. Apa jangan-jangan dia calonnya Aulia? Tapi Razi pernah cerita kepadaku, kalau adiknya itu belum lama calonya meninggal akibat kecelakaan. Batin Kahfi.
🍀🍀
" Kok mas Huda tau kalau aku ada di sini? Tanya Kia penasaran pada pria yang kini ada di hadapannya dengan sebuah mobil yang pernah Prama pakai ketika ke kantor.
" Aku tadi datang ke alamat yang kamu sharelock padaku?" tapi selama 2 jam aku menunggu kedatanganmu, kamu belum pulang juga jadi aku berniat untuk menjemputmu, Kia? Jawabnya sambil memandang wajah Kia yang sekarang sedikit berisi tidak seperti sebulan yang lalu ketika ia temui di acara Razi dan Tari.
" Aku pulang jalan kaki saja mas!" karena dari sini ke rumah abah itu tidak jauh, kok!" Tolaknya yang tak mau berdua-duaan di dalam mobil bersama Huda.
" Tapi Kia, disini cuacanya sedang terik-teriknya jam segini. Nanti kamu kepanasan? Bujuk Huda ketika melihat Kia melangkah menjauhi mobilinya.
" Aku sudah terbiasa, mas?" hal ini akan membuatku merasa dekat dengan orang-orang sekitar agar aku bisa menyapa mereka. Tolak Kia lembut, yang kini sudah melangkah ke arah rumah.
Huda pun akhirnya memasuki mobilnya dan mencoba putar balik untuk mengikuti langkah Kia dari belakang. Hela'an nafas rasa kecewa ia buang begitu saja.
" Aku berharap bisa sambil mengobrol dengan mu di mobil, Kia!" tapi kamu malah lebih memilih untuk berjalan kaki. Batin Huda sambil menyetir mobil.
Ketika di tengah perjalanan langkah Kia terhenti ketika sebuah motor milik Adam berhenti berlawanan.
__ADS_1
" Assalamu'alaikum, Kia!" Sapa Adam ketika membuka helem.
" Wa'alaykum salam, eh akhi Adam! mau kemana? bukankah tak ada jam mengajar hari ini? Tanya Kia.
" Ahhh, aku hanya ingin menanyakan apa tadi di panti ada akhi Kahfi? Tanya Adam.
" Kak Kahfi ada kok di panti, tadi saya melihat dan bertemu dengannya." Jawab Kia sekilas melihat mobil Huda yg terhenti.
Mobil Huda pun ikut berhenti ketika melihat Kia sedang berbincang-bincang dengan pria berkoko yang tak ia kenal. Baru beberapa menit ia memberhentikan mobilnya, di belakang sudah ada beberapa mobil membunyikan kelakson agar mobil Huda tak menghalangi jalan mereka. Karena jalan raya di daerah tersebut tak mampu dilewati dua mobil bergandengan.
Mobil Hudapun berlalu dari hadapan Kia.
" Siapa laki-laki yang berbicara dengan Kia, apakah semenjak Kia tinggal disini banyak laki-laki yang mendekatinya?" Oceh Huda yang sudah sampai di rumah abah Dahlan.
Beberapa menit kemudian di susulah Kia yang sudah masuk kepekarangan rumah abah Dahlan dengan tentengan pelastik putih di tangan kanannya.
Kini Huda pun sudah duduk di depan teras yang di temani abah Dahlan. Sambil menjawab salam yang di ucapkan Kia. Mata Huda langsung tertuju pada tangan kiri Kia yang dibalut kain kasa dan tangan kanan Kia yang tadinya ia melihat Kia tidak menenteng kantong putih itu, yang membuatnya penuh tanda tanya.
" Tanganmu terluka, Kia? Pertanyaan itu lolos dari bibir Huda.
" Hmmm ... Ini hanya luka sedikit kok, dan semalam sudah di obati!" Ucap Kia yang sudah mencium punggung tangan abah Dahlan.
" Nak, Huda tidak usah khawatri seperti itu!" Disini cucu abah banyak yang memperdulikannya dan ia pun sudah memiliki banyak teman yang akan menjaganya." Tutur abah Dahla yang tau kalu Huda ingin meraih tangan Kia yang terluka namun Kia sudah lebih dahlu menariknya agar tidak terpegang oleh Huda.
" Oooh, seperti itu. Pantas saja tadi saya melihatnya begitu akrab dengan seorang ustadz yang bertemunya di tengah jalan." Ucap Huda yang membuat abah Dahlan memainkan bola matanya kepada Kia.
"Sepertinya anak ini menyukai cucuku, bukankah dia kakak dari Prama, wajahnya pasti akan selalu mengingatkan Kia terhadap adiknya. Batin abah Dahlan.
" Oooh itu?" beliau itu teman ngajar Kia di panti namanya Kak Adam, mas Huda ... ?
Nek Rumi yang dari dapur pun melihat Kia yang baru pulang dengan membawa sepiring goreng pisang dan kukusan singkong yang akan ia hidangkan untuk Huda dan abah Dahlan.
" Kamu sudah pulang, sayang? di jemput nak Huda ya?" Tanya nek Rumi yang melihat Kia.
" Ya, alhamdulillah, nek!" tapi Kia tadi jalan kaki kok kebetulan tadi ketemu kak Adam yang memberikan buku-buku yang Kia pinjam kepadanya. Jawab Kia sambil memperlihatkan tengtengan itu kepada nek Rumi.
Ya sudah cepat ganti baju dan temani nak Huda mengobrol di depan, kasihan sudah jauh-jauh dia ke sini, pasti ada hal penting yang ingin ia sampaiakan hingga membawnya datang ke sini. Uajar nek Rumi berlalu dari hadapan Kia menuju teras.
" Disini masih sangat asri sekali ya, kek?" karena masih banyak sawah-sawah dan tanah yang luas yang masih bisa di pakai cocok tanam. Tanya Huda yang matanya mengelilingi perkebunan dan sawah-sawah yang masih hijau.
" Masyarakat di sini memang sebagian besar penghasilannya dari berkebun dan bertani, nak Huda?"
" Bila harga tanah disini pasti masih murah ya?" alangkah indahnya bila membuat vila di sekitaran sini.
Ketika mereka berdua sedang asyik mengobrol datanglah nek Rumi dan meletakan dua piring yang berisi sepiring pisang goreng dan sepiring kukusan singkong yang sudah nek Rumi lerakan di meja.
" Maaf kalau di sini hidangannya seperti ini, lain dengan di kota tempat nak Huda tinggal. Ucap nek Rumi.
" Terimakasih ... !" saya lebih suka makan-makanan seperti ini, nek" Ucap Huda sambil menoleh ke arah nek Rumi berharap Kia ke luar berasama nek Rumi.
" Bila nak Huda ingin membeli tanah di sini, abah bisa mengatarkan kepada teman abah yang kebetulan dia ingin menjual tanahnya untuk membiayai anaknya kuliah."
" Boleh itu, bah!" siapa tahu papah lebih semangat lagi bila kami membuat rumah atau vila di sini. Karena papah akhir-akhir ini sering sakit-sakitan semenjak adik saya meninggal. Lirih Huda.
" Nak Huda berapa hari ada di sini? biar abah hubungi teman abah dan kita main ke rumahnya untuk menanyakannya.
__ADS_1
" Saya hanya dua hari di sini, karena saya harus segera kembali untuk mengurus perusahaan yang pernah dipegang oleh almarhum adik saya.
Kia yang akan ke luar pun terhenti dengan kata-kata Huda. Dan mencoba untuk menepis pikirannya akan sosok sesorang yang sudah lama meninggalkan nya.
" Sekarang ke adaan om Prayoga gimana, mas? kalau mas Huda ada di sini berarti om Prayoga hanya di temani bi Ani, dong? Tanya Kia.
" Tidak, papah ada yang menemani. Kebetukan tante Meta dan anaknya sedang menginap di rumah. Jawab Huda melirik gadis yang kini duduk di samping abah Dahlan.
" Kalau begitu abah lanjutkan ke kebun dulu ya, kalian bisa mengobrol berdua agar leluas!" tukas abah Dahla seraya menepuk bahu nek Rumi untuk masuk ke dalam.
" Tidak usah bah, abah dan nenk di sini aja biar tau obrolan yang akan kita berdua bahas." cegah Kia.
" Tidak cucu abah, sayang." nak Huda pasti ada hal penting yang ingin ia bicarakan denganmu, lagian abah belum selesai di kebun dan nenekmu juga masih ada kerjaan di belakang. Tukas abah Dahlan seraya meninggalkan Kia dan Huda. Padahal nek Rumi pun ikut ke kebun bersama abah Dahlan
" Maksih ya, bah!" jawab Kia singkat.
Kia dan Huda pun saling diam ketika abah dan nenknya berlalu dari mereka berdua. Kia hanya tertunduk sambil memutar-mutar ujung jilbabnya. Sedang Huda hanya menatap tingkah Kia di hadapannya. Ia memperhatikan Kia yang seolah tak ingin menatap wajahnya.
" Ehmmm ... Deheman Huda seketika menegakan wajah Kia yang tertunduk.
" Baru beberapa bulan di sini sepertinya banyak orang yang menyukaimu, Kia? Akan kah ada tempat untukku di hatimu?" Pertanyaan itu nyaris lolos dengan mudah dari mulut Huda.
Pertanyaan itu membuat Kia tercengang dan kaget dengan ekspresi Huda mentapnya tajam kali ini, pria yang ada di hadapan Kia seolah tak bisa menahan akan perasaannya. Dengan begitu mudahnya ia melontarkan pertannyaan itu kepada Kia.
" Orang-orang disini sebagian Kia sudah mengenalnya karena orang yang tadi mas Huda lihat, dia adalah kak Adam anak ustadz Subekti guru dari ayah."
"Di sini juga ada sahabatku Febbry, yang kebetulan akan menikah dengan kak Adam bulan depan."
"Untuk masalah hati, Kia belum bisa mengetahuinya, mas. Rasanya sulit untuk memastikan adakah celah untuk mas Huda." Karena setiap melihat mas Huda itu menginggatkan Kia akan sosok almarhum kak Prama.
" Jadi apa, jawabanmu? tanya Huda penasaran.
.
.
.
.
.
**Bersambung----
Jangan lupa
LIKE
KOMEN
TIP
VOTE
dan Reat nya ya!
__ADS_1
Salam semangat dan sukses selalu untuk kita semua**.